Penyebab Saham Sawit Terbang Terungkap
Saham emiten kelapa sawit kompak terbang pada perdagangan Jumat (6/9/2024). Apa penyebabnya? Simak di sini... - Halaman all
(InvestorID) 06/09/24 15:11 14907860
JAKARTA, investor.id – Saham emiten kelapa sawit kompak terbang pada perdagangan Jumat (6/9/2024). Penyebab hal ini salah satunya rencana pemerintah memangkas pungutan ekspor minyak sawit mentah (CPO).
Berdasarkan data RTI, saat berita ini ditilis, saham JARR naik 10,2%, TAPG 7,48%, LSIP 7,3%, BWPT 7,27%, SSMS 5,6%, AALI 3,53%, STAA 2,44%, dan GZCO 2,17%.
Merujuk laporan The Edge yang mengutio Reuters, Dida Gardera, pejabat senior Kementerian Koordinator Bidang Perekonomian, menegaskan, pemerintah berencana menurunkan pungutan ekspor sawit agar daya saing produk Indonesia meningkat di pasar global kala menghadapi minyak nabati lain. Selain itu, langkah ini bisa meningkatkan kesejahteraan petani.
Biasanya, harga CPO lebih murah dari minyak nabati lain. Namun, belakangan ini, harga CPO mirip minyak kedelai dan bunga matahari, seiring cukupnya masokan. Keadaan ini menyurutkan minat pembeli dari India dan Cina terhadap CPO Indonesia.
Selama ini, petani kerap mengeluhkan TBS ditawar rendah oleh perusahaan perkebunan untuk mengompensasi tingginya pajak ekspor.
Saat ini, pungutan ekspor CPO berkisar US$ 55-240 per ton, tergantung harga. Tarif terendah ketika harga CPO berada di level US$ 680 per ton, sedangkan tertinggi US$ 1.430 per ton.
“Skema pungutan ekspor baru akan lebih sederhana ketimbang yang berlaku saat ini,” kata Dida.
Kementerian Perdagangan (Kemendag) menetapkan harga referensi (HR) CPO untuk penetapan bea keluar (BK) dan tarif Badan Layanan Umum Badan Pengelola Dana Perkebunan Kelapa Sawit (BLU BPDP-KS) atau pungutan ekspor (PE) periode 1—31 Agustus 2024 sebesar US$ 820,11 per ton.
Oleh sebab itu, merujuk Peraturan Menteri Keuangan (PMK) yang berlaku saat ini, pemerintah mengenakan BK CPO sebesar USD 33 per ton dan PE US$ 85 per ton selama 1—31 Agustus 2024.
Pengaruh ke Saham
BCA Sekuritas mencatat, median PE CPO saat ini 10,8%. Para pemain CPO akan diuntungkan jika median PE CPO dipangkas di bawah 10%.
Sementara itu, harga kontrak CPO di Bursa Malaysia Derivatives (BMD) rebound pada Kamis (5/9/2024). Ini mengakhiri pelemahan yang terjadi dalam tiga hari beruntun. Hal itu seiring penguatan harga minyak kedelai.
Berdasarkan data BMD pada penutupan Kamis (5/9/2024), kontrak berjangka CPO untuk September 2024 naik 29 Ringgit Malaysia menjadi 4.021 Ringgit Malaysia per ton. Untuk kontrak berjangka CPO Oktober 2024 terkerek 29 Ringgit Malaysia menjadi 3.953 Ringgit Malaysia per ton.
Sementara itu, kontrak berjangka CPO November 2024 meningkat 31 Ringgit Malaysia menjadi 3.917 Ringgit Malaysia per ton. Kontrak berjangka CPO Desember 2024 bertambah 31 Ringgit Malaysia menjadi 3.891 Ringgit Malaysia per ton.
Editor: Harso Kurniawan (harso@investor.co.id)
Follow Channel Telegram Official kami untuk update artikel-artikel investor.id
Baca Berita Lainnya di Google News
#berita-terkini #berita-hari-ini #saham-sawit #jarr #tapg #ssms #lsip #pungutan-ekspor-sawit #harga-cpo #bca-sekuritas #berita-ekonomi-terkini
https://investor.id/market/372650/penyebab-saham-sawit-terbang-terungkap