Dulu Terbuang, Pinang di Musi Rawas Kini Jadi Sumber Uang Halaman all

Dulu Terbuang, Pinang di Musi Rawas Kini Jadi Sumber Uang Halaman all

Dengan adanya upaya mendorong pasar ke level internasional ini, warga bisa mendapatkan harga lebih hingga sebesar Rp 6.000. Halaman all

(Kompas.com) 17/09/24 05:10 15117748

MUSI RAWAS, KOMPAS.com - Sebuah mobil bak terbuka masuk ke halaman rumah, saat Kompas.com sedang menikmati sajian makan siang yang disajikan Suhartini warga Desa Sukakarya, Kecamatan STL Ulu Terawas, Kabupaten Musi Rawas, Sumatera Selatan, Jumat (13/9/2024).

"Sebentar mas, kayaknya ini mau menjual pinang," kata Suhartini sembari beranjak.

Tidak lama dua orang pria keluar dari mobil, kemudian menurunkan karung yang ada di dalam mobil.

Benar saja karung besar tersebut berisikan pinang kering. Suhartini cekatan mengambil timbangan dan mencatat beratnya.

KOMPAS.com/RODERICK ADRIAN Suhartini (kiri), Ketua Kelompok Wanita Tani Melati, mencatat berat biji pinang kiriman warga, di Desa Sukakarya, Kecamatan STL Ulu Terawas, Kabupaten Musi Rawas, Sumatera Selatan, Jumat (13/9/2024). Kelompok Wanita tani melati merupakan kelompok binaan PT Pertamina EP Pendopo Field yang memanfaatkan pinang untuk produk turunan seperti minuman bandrek, korosi inhibitor, hingga memiliki nilai jual ekspor.

"Di Desa Sukakarya ini, pinang dijual ke saya, dan nantinya akan kumpulkan untuk kemudian dijual atau dieskpor ke luar negeri," kata Suhartini yang juga merupakan Ketua Kelompok Wanita Tani di Desa Sukakarya.

Aktivitas ini sudah menjadi keseharian Suhartini dalam beberapa tahun terakhir. Pinang naik daun dan memiliki nilai jual.

"Dulu itu pinang enggak ada harganya, pohonnya banyak, tapi hanya dicari pas acara lomba 17 agustus, selebihnya gak dicari lagi," kenang Suhartini.

Mitra binaan Pertamina EP Pendopo Field

Namun hal itu berubah saat covid-19 melanda. Ibu-ibu di Desa Sukakarya mencoba mencari penghasilan tambahan karena banyak pemutusan hubungan kerja.

Gayung bersambut, Pertamina EP (PEP) Pendopo Field memberikan pendampingan untuk menganalisa potensi apa yang ada di Desa Sukakarya.

KOMPAS.com/RODERICK ADRIAN Anggota Kelompok Wanita Tani Melati, mengemas bandrek ekstrak pinang, di Desa Sukakarya, Kecamatan STL Ulu Terawas, Kabupaten Musi Rawas, Sumatera Selatan, Jumat (13/9/2024). Kelompok Wanita tani melati merupakan kelompok binaan PT Pertamina EP Pendopo Field yang memanfaatkan pinang untuk produk turunan seperti minuman bandrek, korosi inhibitor, hingga memiliki nilai jual ekspor.

Pinang kemudian dilihat memiliki potensi, lalu dikembangkan oleh warga desa. Pada awalnya pinang dibuat ekstraknya untuk bahan campuran untuk kopi hingga bandrek.

Kini, melangkah dengan inovasi baru yaitu penggunaan ekstrak buah pinang sebagai korosi inhibitor, dan mendorong ekspor pinang.

Senior Manager Pendopo Field, I Wayan Sumerta, mengungkapkan pemanfaatan ekstrak buah pinang sebagai korosi inhibitor merupakan bagian dari Creating Shared Value (CSV) atau menciptakan nilai bersama. Berkolaborasi dengan Fakultas MIPA Universitas Gadjah Mada (UGM), PEP Pendopo Field berhasil memformulasikan korosi inhibitor alami.

“Korosi inhibitor alami ini tidak hanya lebih ekonomis, tetapi juga lebih ramah lingkungan dan aman bagi kesehatan,” ungkap Wayan.

Berdasarkan kajian Fakultas MIPA UGM, biaya produksi cairan antikorosi dari biji pinang tua berkisar antara Rp 27.268 hingga Rp 37.555 per liter, jauh lebih murah dibandingkan dengan cairan inhibitor berbasis bahan kimia yang harganya mencapai Rp 34.000 hingga Rp 51.750 per liter. Oleh sebab itu, penggunaan korosi inhibitor alami dapat menghemat biaya sebesar 13 persen hingga 27 persen.

KOMPAS.com/RODERICK ADRIAN Anggota Kelompok Wanita Tani Melati, menunjukkan biji pinang kering, di Desa Sukakarya, Kecamatan STL Ulu Terawas, Kabupaten Musi Rawas, Sumatera Selatan, Jumat (13/9/2024). Kelompok Wanita tani melati merupakan kelompok binaan PT Pertamina EP Pendopo Field yang memanfaatkan pinang untuk produk turunan seperti minuman bandrek, korosi inhibitor, hingga memiliki nilai jual ekspor.

Tidak berhenti di situ saja, PEP Pendopo Field bekerja sama dengan Pemda Kabupaten Musi Rawas, Pemerintah Kecamatan STL Ulu Terawas, dan sejumlah pemerintah desa mendorong agar pinang juga diekspor.

Community Development Officer PEP Pendopo Field, Erwinton Simatupang, menyatakan upaya mendorong ekspor pinang dengan melibatkan warga dan pemerintah daerah masih mencerminkan pendekatan CSV.

“Mendorong ekspor pinang, pasar yang adil dan terbuka memungkinkan ada bagi masyarakat, dan pada akhirnya mendorong peningkatan kualitas dan efisiensi produksi pinang. Terlebih, akses ke pasar yang lebih besar dapat meningkatkan pendapatan masyarakat dan daya saing produk lokal di pasar global,” kata Erwinton.

Tanam pinang, tidak untuk ditebang

Suhartini menjelaskan, harga pinang tua satu kilogram di pasar lokal sekitar Rp 4.000. Dengan adanya upaya mendorong pasar ke level internasional ini, warga bisa mendapatkan harga lebih tinggi, yakni Rp 6.000 per kg.

Itulah sebabnya saat ini di Kecamatan STL Ulu Terawas sudah melarang penebangan pohon pinang. Saat ini mereka gencar menanam pohon pinang untuk meningkatkan produksi pinang.

"Dari menanam, tumbuh, dan berbuah itu pinang butuh Waktu sekitar 4 tahun. Kalau sudah berbuah itu bisa panen 2 kali," jelas Suhartini.

KOMPAS.com/RODERICK ADRIAN Suhartini, Ketua Kelompok Wanita Tani Melati, berpose di depan bibit pohon pinang, di Desa Sukakarya, Kecamatan STL Ulu Terawas, Kabupaten Musi Rawas, Sumatera Selatan, Jumat (13/9/2024). Kelompok Wanita tani melati merupakan kelompok binaan PT Pertamina EP Pendopo Field yang memanfaatkan pinang untuk produk turunan seperti minuman bandrek, korosi inhibitor, hingga memiliki nilai jual ekspor.

Bibit yang digunakan pun bibit unggul pinang batara yang cepat besar dan memiliki kualitas pinang yang baik.

"Total sekarang ada 13.000 pohon pinang di wilayah ini. Harapan kedepannyanya Ketika sudah tumbuh dan besar, kampung kami bisa menjadi tujuan wisata pinang, di mana pengunjung bisa melihat pohon pinang, membeli produk turunannya, dan melihat bagaimana cara produksinya," kata Suhartini.

Sejalan dengan harapan Suhartini, Camat STL Ulu Terawas, Muhammad Pahip, turut serta dalam kegiatan menanam pinang di depan kantor Kecamatan STL Ulu Terawas.

KOMPAS.com/RODERICK ADRIAN Junior Officer Communication Relations Regional 1 Pertamina, Fajar Adha Zulmawan (tengah), didampingi oleh Camat STL Ulu Terawas Muhammad Pahip (kanan), menaman pohon pinang di kantor Kecamatan STL Ulu Terawas, Kabupaten Musi Rawas, Sumatera Selatan, Jumat (13/9/2024). Setelah dibina oleh Pertamina EP Pendopo Field, warga Kecamatan STL Ulu terawas menjadikan pinang sebagai primadona, karena memiliki nilai jual baik lokal maupun global

"Ini adalah salah satu wujud mengapresiasi apa yang telah dilakukan warga dan dibantu oleh PEP Pendopo Field. Bahkan saat ini dari Desa Sukakarya sudah mulai menyebar ke desa-desa di kecamatan STL Ulu Terawas," kata Pahip.

#csr #umkm #enterpreneuer #ekspor #pertamina-ep #musi-rawas #pertamina #pinang #csr-pertamina #sumatera-selatan

https://money.kompas.com/read/2024/09/17/051000826/dulu-terbuang-pinang-di-musi-rawas-kini-jadi-sumber-uang?page=all&utm_source=Google&utm_medium=Newstand&utm_campaign=partner