#30 tag 24jam
Dulu Terbuang, Pinang di Musi Rawas Kini Jadi Sumber Uang
Dengan adanya upaya mendorong pasar ke level internasional ini, warga bisa mendapatkan harga lebih hingga sebesar Rp 6.000. Halaman all [1,075] url asal
#csr #umkm #enterpreneuer #ekspor #pertamina-ep #musi-rawas #pertamina #pinang #csr-pertamina #sumatera-selatan
(Kompas.com) 17/09/24 05:10
v/15117753/
MUSI RAWAS, KOMPAS.com - Sebuah mobil bak terbuka masuk ke halaman rumah, saat Kompas.com sedang menikmati sajian makan siang yang disajikan Suhartini warga Desa Sukakarya, Kecamatan STL Ulu Terawas, Kabupaten Musi Rawas, Sumatera Selatan, Jumat (13/9/2024).
"Sebentar mas, kayaknya ini mau menjual pinang," kata Suhartini sembari beranjak.
Tidak lama dua orang pria keluar dari mobil, kemudian menurunkan karung yang ada di dalam mobil.
Benar saja karung besar tersebut berisikan pinang kering. Suhartini cekatan mengambil timbangan dan mencatat beratnya.
KOMPAS.com/RODERICK ADRIAN Suhartini (kiri), Ketua Kelompok Wanita Tani Melati, mencatat berat biji pinang kiriman warga, di Desa Sukakarya, Kecamatan STL Ulu Terawas, Kabupaten Musi Rawas, Sumatera Selatan, Jumat (13/9/2024). Kelompok Wanita tani melati merupakan kelompok binaan PT Pertamina EP Pendopo Field yang memanfaatkan pinang untuk produk turunan seperti minuman bandrek, korosi inhibitor, hingga memiliki nilai jual ekspor."Di Desa Sukakarya ini, pinang dijual ke saya, dan nantinya akan kumpulkan untuk kemudian dijual atau dieskpor ke luar negeri," kata Suhartini yang juga merupakan Ketua Kelompok Wanita Tani di Desa Sukakarya.
Aktivitas ini sudah menjadi keseharian Suhartini dalam beberapa tahun terakhir. Pinang naik daun dan memiliki nilai jual.
"Dulu itu pinang enggak ada harganya, pohonnya banyak, tapi hanya dicari pas acara lomba 17 agustus, selebihnya gak dicari lagi," kenang Suhartini.
Mitra binaan Pertamina EP Pendopo Field
Namun hal itu berubah saat covid-19 melanda. Ibu-ibu di Desa Sukakarya mencoba mencari penghasilan tambahan karena banyak pemutusan hubungan kerja.
Gayung bersambut, Pertamina EP (PEP) Pendopo Field memberikan pendampingan untuk menganalisa potensi apa yang ada di Desa Sukakarya.
KOMPAS.com/RODERICK ADRIAN Anggota Kelompok Wanita Tani Melati, mengemas bandrek ekstrak pinang, di Desa Sukakarya, Kecamatan STL Ulu Terawas, Kabupaten Musi Rawas, Sumatera Selatan, Jumat (13/9/2024). Kelompok Wanita tani melati merupakan kelompok binaan PT Pertamina EP Pendopo Field yang memanfaatkan pinang untuk produk turunan seperti minuman bandrek, korosi inhibitor, hingga memiliki nilai jual ekspor.Pinang kemudian dilihat memiliki potensi, lalu dikembangkan oleh warga desa. Pada awalnya pinang dibuat ekstraknya untuk bahan campuran untuk kopi hingga bandrek.
Kini, melangkah dengan inovasi baru yaitu penggunaan ekstrak buah pinang sebagai korosi inhibitor, dan mendorong ekspor pinang.
Senior Manager Pendopo Field, I Wayan Sumerta, mengungkapkan pemanfaatan ekstrak buah pinang sebagai korosi inhibitor merupakan bagian dari Creating Shared Value (CSV) atau menciptakan nilai bersama. Berkolaborasi dengan Fakultas MIPA Universitas Gadjah Mada (UGM), PEP Pendopo Field berhasil memformulasikan korosi inhibitor alami.
“Korosi inhibitor alami ini tidak hanya lebih ekonomis, tetapi juga lebih ramah lingkungan dan aman bagi kesehatan,” ungkap Wayan.
Berdasarkan kajian Fakultas MIPA UGM, biaya produksi cairan antikorosi dari biji pinang tua berkisar antara Rp 27.268 hingga Rp 37.555 per liter, jauh lebih murah dibandingkan dengan cairan inhibitor berbasis bahan kimia yang harganya mencapai Rp 34.000 hingga Rp 51.750 per liter. Oleh sebab itu, penggunaan korosi inhibitor alami dapat menghemat biaya sebesar 13 persen hingga 27 persen.
KOMPAS.com/RODERICK ADRIAN Anggota Kelompok Wanita Tani Melati, menunjukkan biji pinang kering, di Desa Sukakarya, Kecamatan STL Ulu Terawas, Kabupaten Musi Rawas, Sumatera Selatan, Jumat (13/9/2024). Kelompok Wanita tani melati merupakan kelompok binaan PT Pertamina EP Pendopo Field yang memanfaatkan pinang untuk produk turunan seperti minuman bandrek, korosi inhibitor, hingga memiliki nilai jual ekspor.Tidak berhenti di situ saja, PEP Pendopo Field bekerja sama dengan Pemda Kabupaten Musi Rawas, Pemerintah Kecamatan STL Ulu Terawas, dan sejumlah pemerintah desa mendorong agar pinang juga diekspor.
Community Development Officer PEP Pendopo Field, Erwinton Simatupang, menyatakan upaya mendorong ekspor pinang dengan melibatkan warga dan pemerintah daerah masih mencerminkan pendekatan CSV.
“Mendorong ekspor pinang, pasar yang adil dan terbuka memungkinkan ada bagi masyarakat, dan pada akhirnya mendorong peningkatan kualitas dan efisiensi produksi pinang. Terlebih, akses ke pasar yang lebih besar dapat meningkatkan pendapatan masyarakat dan daya saing produk lokal di pasar global,” kata Erwinton.
Tanam pinang, tidak untuk ditebang
Suhartini menjelaskan, harga pinang tua satu kilogram di pasar lokal sekitar Rp 4.000. Dengan adanya upaya mendorong pasar ke level internasional ini, warga bisa mendapatkan harga lebih tinggi, yakni Rp 6.000 per kg.
Itulah sebabnya saat ini di Kecamatan STL Ulu Terawas sudah melarang penebangan pohon pinang. Saat ini mereka gencar menanam pohon pinang untuk meningkatkan produksi pinang.
"Dari menanam, tumbuh, dan berbuah itu pinang butuh Waktu sekitar 4 tahun. Kalau sudah berbuah itu bisa panen 2 kali," jelas Suhartini.
KOMPAS.com/RODERICK ADRIAN Suhartini, Ketua Kelompok Wanita Tani Melati, berpose di depan bibit pohon pinang, di Desa Sukakarya, Kecamatan STL Ulu Terawas, Kabupaten Musi Rawas, Sumatera Selatan, Jumat (13/9/2024). Kelompok Wanita tani melati merupakan kelompok binaan PT Pertamina EP Pendopo Field yang memanfaatkan pinang untuk produk turunan seperti minuman bandrek, korosi inhibitor, hingga memiliki nilai jual ekspor.Bibit yang digunakan pun bibit unggul pinang batara yang cepat besar dan memiliki kualitas pinang yang baik.
"Total sekarang ada 13.000 pohon pinang di wilayah ini. Harapan kedepannyanya Ketika sudah tumbuh dan besar, kampung kami bisa menjadi tujuan wisata pinang, di mana pengunjung bisa melihat pohon pinang, membeli produk turunannya, dan melihat bagaimana cara produksinya," kata Suhartini.
Sejalan dengan harapan Suhartini, Camat STL Ulu Terawas, Muhammad Pahip, turut serta dalam kegiatan menanam pinang di depan kantor Kecamatan STL Ulu Terawas.
KOMPAS.com/RODERICK ADRIAN Junior Officer Communication Relations Regional 1 Pertamina, Fajar Adha Zulmawan (tengah), didampingi oleh Camat STL Ulu Terawas Muhammad Pahip (kanan), menaman pohon pinang di kantor Kecamatan STL Ulu Terawas, Kabupaten Musi Rawas, Sumatera Selatan, Jumat (13/9/2024). Setelah dibina oleh Pertamina EP Pendopo Field, warga Kecamatan STL Ulu terawas menjadikan pinang sebagai primadona, karena memiliki nilai jual baik lokal maupun global"Ini adalah salah satu wujud mengapresiasi apa yang telah dilakukan warga dan dibantu oleh PEP Pendopo Field. Bahkan saat ini dari Desa Sukakarya sudah mulai menyebar ke desa-desa di kecamatan STL Ulu Terawas," kata Pahip.
Dulu Terbuang, Pinang di Musi Rawas Kini Jadi Sumber Uang Halaman all
Dengan adanya upaya mendorong pasar ke level internasional ini, warga bisa mendapatkan harga lebih hingga sebesar Rp 6.000. Halaman all [1,075] url asal
#csr #umkm #enterpreneuer #ekspor #pertamina-ep #musi-rawas #pertamina #pinang #csr-pertamina #sumatera-selatan
(Kompas.com) 17/09/24 05:10
v/15117748/
MUSI RAWAS, KOMPAS.com - Sebuah mobil bak terbuka masuk ke halaman rumah, saat Kompas.com sedang menikmati sajian makan siang yang disajikan Suhartini warga Desa Sukakarya, Kecamatan STL Ulu Terawas, Kabupaten Musi Rawas, Sumatera Selatan, Jumat (13/9/2024).
"Sebentar mas, kayaknya ini mau menjual pinang," kata Suhartini sembari beranjak.
Tidak lama dua orang pria keluar dari mobil, kemudian menurunkan karung yang ada di dalam mobil.
Benar saja karung besar tersebut berisikan pinang kering. Suhartini cekatan mengambil timbangan dan mencatat beratnya.
KOMPAS.com/RODERICK ADRIAN Suhartini (kiri), Ketua Kelompok Wanita Tani Melati, mencatat berat biji pinang kiriman warga, di Desa Sukakarya, Kecamatan STL Ulu Terawas, Kabupaten Musi Rawas, Sumatera Selatan, Jumat (13/9/2024). Kelompok Wanita tani melati merupakan kelompok binaan PT Pertamina EP Pendopo Field yang memanfaatkan pinang untuk produk turunan seperti minuman bandrek, korosi inhibitor, hingga memiliki nilai jual ekspor."Di Desa Sukakarya ini, pinang dijual ke saya, dan nantinya akan kumpulkan untuk kemudian dijual atau dieskpor ke luar negeri," kata Suhartini yang juga merupakan Ketua Kelompok Wanita Tani di Desa Sukakarya.
Aktivitas ini sudah menjadi keseharian Suhartini dalam beberapa tahun terakhir. Pinang naik daun dan memiliki nilai jual.
"Dulu itu pinang enggak ada harganya, pohonnya banyak, tapi hanya dicari pas acara lomba 17 agustus, selebihnya gak dicari lagi," kenang Suhartini.
Mitra binaan Pertamina EP Pendopo Field
Namun hal itu berubah saat covid-19 melanda. Ibu-ibu di Desa Sukakarya mencoba mencari penghasilan tambahan karena banyak pemutusan hubungan kerja.
Gayung bersambut, Pertamina EP (PEP) Pendopo Field memberikan pendampingan untuk menganalisa potensi apa yang ada di Desa Sukakarya.
KOMPAS.com/RODERICK ADRIAN Anggota Kelompok Wanita Tani Melati, mengemas bandrek ekstrak pinang, di Desa Sukakarya, Kecamatan STL Ulu Terawas, Kabupaten Musi Rawas, Sumatera Selatan, Jumat (13/9/2024). Kelompok Wanita tani melati merupakan kelompok binaan PT Pertamina EP Pendopo Field yang memanfaatkan pinang untuk produk turunan seperti minuman bandrek, korosi inhibitor, hingga memiliki nilai jual ekspor.Pinang kemudian dilihat memiliki potensi, lalu dikembangkan oleh warga desa. Pada awalnya pinang dibuat ekstraknya untuk bahan campuran untuk kopi hingga bandrek.
Kini, melangkah dengan inovasi baru yaitu penggunaan ekstrak buah pinang sebagai korosi inhibitor, dan mendorong ekspor pinang.
Senior Manager Pendopo Field, I Wayan Sumerta, mengungkapkan pemanfaatan ekstrak buah pinang sebagai korosi inhibitor merupakan bagian dari Creating Shared Value (CSV) atau menciptakan nilai bersama. Berkolaborasi dengan Fakultas MIPA Universitas Gadjah Mada (UGM), PEP Pendopo Field berhasil memformulasikan korosi inhibitor alami.
“Korosi inhibitor alami ini tidak hanya lebih ekonomis, tetapi juga lebih ramah lingkungan dan aman bagi kesehatan,” ungkap Wayan.
Berdasarkan kajian Fakultas MIPA UGM, biaya produksi cairan antikorosi dari biji pinang tua berkisar antara Rp 27.268 hingga Rp 37.555 per liter, jauh lebih murah dibandingkan dengan cairan inhibitor berbasis bahan kimia yang harganya mencapai Rp 34.000 hingga Rp 51.750 per liter. Oleh sebab itu, penggunaan korosi inhibitor alami dapat menghemat biaya sebesar 13 persen hingga 27 persen.
KOMPAS.com/RODERICK ADRIAN Anggota Kelompok Wanita Tani Melati, menunjukkan biji pinang kering, di Desa Sukakarya, Kecamatan STL Ulu Terawas, Kabupaten Musi Rawas, Sumatera Selatan, Jumat (13/9/2024). Kelompok Wanita tani melati merupakan kelompok binaan PT Pertamina EP Pendopo Field yang memanfaatkan pinang untuk produk turunan seperti minuman bandrek, korosi inhibitor, hingga memiliki nilai jual ekspor.Tidak berhenti di situ saja, PEP Pendopo Field bekerja sama dengan Pemda Kabupaten Musi Rawas, Pemerintah Kecamatan STL Ulu Terawas, dan sejumlah pemerintah desa mendorong agar pinang juga diekspor.
Community Development Officer PEP Pendopo Field, Erwinton Simatupang, menyatakan upaya mendorong ekspor pinang dengan melibatkan warga dan pemerintah daerah masih mencerminkan pendekatan CSV.
“Mendorong ekspor pinang, pasar yang adil dan terbuka memungkinkan ada bagi masyarakat, dan pada akhirnya mendorong peningkatan kualitas dan efisiensi produksi pinang. Terlebih, akses ke pasar yang lebih besar dapat meningkatkan pendapatan masyarakat dan daya saing produk lokal di pasar global,” kata Erwinton.
Tanam pinang, tidak untuk ditebang
Suhartini menjelaskan, harga pinang tua satu kilogram di pasar lokal sekitar Rp 4.000. Dengan adanya upaya mendorong pasar ke level internasional ini, warga bisa mendapatkan harga lebih tinggi, yakni Rp 6.000 per kg.
Itulah sebabnya saat ini di Kecamatan STL Ulu Terawas sudah melarang penebangan pohon pinang. Saat ini mereka gencar menanam pohon pinang untuk meningkatkan produksi pinang.
"Dari menanam, tumbuh, dan berbuah itu pinang butuh Waktu sekitar 4 tahun. Kalau sudah berbuah itu bisa panen 2 kali," jelas Suhartini.
KOMPAS.com/RODERICK ADRIAN Suhartini, Ketua Kelompok Wanita Tani Melati, berpose di depan bibit pohon pinang, di Desa Sukakarya, Kecamatan STL Ulu Terawas, Kabupaten Musi Rawas, Sumatera Selatan, Jumat (13/9/2024). Kelompok Wanita tani melati merupakan kelompok binaan PT Pertamina EP Pendopo Field yang memanfaatkan pinang untuk produk turunan seperti minuman bandrek, korosi inhibitor, hingga memiliki nilai jual ekspor.Bibit yang digunakan pun bibit unggul pinang batara yang cepat besar dan memiliki kualitas pinang yang baik.
"Total sekarang ada 13.000 pohon pinang di wilayah ini. Harapan kedepannyanya Ketika sudah tumbuh dan besar, kampung kami bisa menjadi tujuan wisata pinang, di mana pengunjung bisa melihat pohon pinang, membeli produk turunannya, dan melihat bagaimana cara produksinya," kata Suhartini.
Sejalan dengan harapan Suhartini, Camat STL Ulu Terawas, Muhammad Pahip, turut serta dalam kegiatan menanam pinang di depan kantor Kecamatan STL Ulu Terawas.
KOMPAS.com/RODERICK ADRIAN Junior Officer Communication Relations Regional 1 Pertamina, Fajar Adha Zulmawan (tengah), didampingi oleh Camat STL Ulu Terawas Muhammad Pahip (kanan), menaman pohon pinang di kantor Kecamatan STL Ulu Terawas, Kabupaten Musi Rawas, Sumatera Selatan, Jumat (13/9/2024). Setelah dibina oleh Pertamina EP Pendopo Field, warga Kecamatan STL Ulu terawas menjadikan pinang sebagai primadona, karena memiliki nilai jual baik lokal maupun global"Ini adalah salah satu wujud mengapresiasi apa yang telah dilakukan warga dan dibantu oleh PEP Pendopo Field. Bahkan saat ini dari Desa Sukakarya sudah mulai menyebar ke desa-desa di kecamatan STL Ulu Terawas," kata Pahip.
Pertanian Tahan Iklim di PALI, Tingkatkan Produksi dengan Teknologi
Teknologi itu dinamakan Automatic Drip Irrigation System for Climate Resilient Agriculture yang berbasis android. Halaman all [846] url asal
#android #csr #teknologi #pertanian #sawah #padi #pertamina-ep #pertamina #subur #csr-pertamina #sumatera-selatan
(Kompas.com - Money) 16/09/24 16:17
v/15095118/
KAB. PALI, KOMPAS.com - Indah Yani tampak sibuk mengutak-atik hape androidnya di depan sebuah instalasi bertenaga surya yang dipasang di tengah sawah miliknya, di Desa Pengabuan, Kecamatan Abab, Kabupaten Penukal Abab Lematang Ilir (PALI), Sumatera Selatan, Kamis (12/9/2024).
"Oke Google nyalakan mesin air," perintah Indah.
Tidak lama mesin air menyala dan menyiram lahan sawah.
KOMPAS.com/RODERICK ADRIAN Petani binaan Pertamina EP Adera Field, Indah Yani, melihat kerja alat Automatic Drip Irrigation, di Desa Pengabuan, Kecamatan Adab, Kabupaten PALI, Sumatera Selatan, Kamis (12/9/2024). Mesin ini menjadi inovasi yang diberikan PT Pertamina EP Adera Field agar masyarakat dapat mengatur debit dan waktu pengairan sesuai kebutuhan melalui aplikasi di sistem android.Indah adalah salah satu anggota Kelompok Tani Serut Satu. Kelompok ini merupakan salah satu kelompok binaan PT Pertamina EP Adera Field.
Indah bercerita, lahan sawah yang merupakan gambut ini, membuat hasil pertanian masyarakat tidak maksimal. Karena ketika musim kemarau akan kering sekali, dan ketika musim hujan akan banjir.
Pada tahun 2021, PT Pertamina EP Adera Field mengusung inovasi teknologi sebagai media penyiraman tanaman yang terintegrasi dengan pupuk organik cair buatan masyarakat binaan.
Teknologi itu dinamakan Automatic Drip Irrigation System for Climate Resilient Agriculture yang berbasis android. Melalui teknologi ini, masyarakat dapat mengatur debit dan waktu pengairan sesuai kebutuhan melalui aplikasi di sistem android.
KOMPAS.com/RODERICK ADRIAN Proses kerja alat Automatic Drip Irrigation, di Desa Pengabuan, Kecamatan Adab, Kabupaten PALI, Sumatera Selatan, Kamis (12/9/2024). Mesin ini menjadi inovasi yang diberikan PT Pertamina EP Adera Field agar masyarakat dapat mengatur debit dan waktu pengairan sesuai kebutuhan melalui aplikasi di sistem android.Alat itulah yang diaktifkan Indah Yani tadi.
Manager Adera Field, Adam S. Nasution, menjelaskan bahwa program ini bertujuan untuk memberdayakan masyarakat desa, khususnya kelompok perempuan dan petani, sekaligus mengembangkan varietas padi unggul tahan iklim jilid dua serta mengintegrasikan teknologi pertanian modern dengan sistem yang berkelanjutan.
"Kami bekerja sama dengan multistakeholder dan praktisi pertanian untuk memastikan bahwa metode yang diterapkan dalam program Permata efektif dan mudah diadaptasi oleh masyarakat," ujar Adam saat ditemui Kompas.com.
Adam juga menambahkan, program ini dirancang sedemikian rupa untuk mendorong masyarakat lebih mandiri dalam memproduksi pangan, mengelola limbah pertanian, dan mengelola sumber daya lokal secara optimal sehingga terwujud tujuan kami yaitu pertanian yang mandiri, modern, dan zero waste.
Produksi meningkat
Hasilnya tidak kaleng-kaleng, monitoring program menunjukkan bahwa penerapan hasil pengembangan varietas unggul padi mentik susu dan ngaos jilid dua di Desa Pengabuan mampu meningkatkan produksi padi hingga 86 persen. Biaya produksi pun lebih rendah sekitar 69 persen dibandingkan bibit lokal yang biasa dipakai oleh anggota kelompok tani serut satu.
Indah Yani mengatakan, selain berkontribusi pada kelestarian lingkungan, menggunakan jenis bibit ini juga mampu beradaptasi terhadap perubahan iklim. Sebelumnya hasil panen hanya 500 kg kini mencapai 1,2 ton dalam sekali panen.
"Dulu kami hanya bisa satu kali panen dalam setahun. Dengan teknologi pengairan modern dan bibit padi tahan iklim ini, kami jadi bisa panen dua kali dalam setahun," tambah Indah Yani.
Produksi yang meningkat juga membuat produksi jerami semakin banyak. Limbah jerami ini kemudian pada akhir 2023, oleh PT Pertamina EP Adera Field diperkenalkan sebagai inovasi terbaru dalam memanfaatkan limbah jerami sebagai briket sumber energi alternatif dry house.
Dry house ini dapat mempercepat proses pengeringan padi dan juga tanaman obat keluarga dengan efisiensi waktu tiga kali dari pengeringan biasanya yang menggunakan panas matahari.
Untuk tanaman obat sendiri dibudidaya oleh Kelompok Selaras Alam. Kelompok ini fokus pada tanaman-tanaman obat dan membuat produk turunan dari tanaman tersebut.
KOMPAS.com/RODERICK ADRIAN Anggota Kelompok Selaras Alam menunjukkan produk turunan dari hasil pertanian di Desa Pengabuan, Kecamatan Adab, Kabupaten PALI, Sumatera Selatan, Kamis (12/9/2024). Kelompok binaan dari PT Pertamina EP Adera Field ini, berhasil memanfaatkan produk turunan dari hasil pertanian mereka, seperti VCO, aneka seduhan dari bawang dayak, bunga rosella, hingga daun kelor."Pendapatan keluarga meningkat dari yang hanya Rp 401.512/bulan kini menjadi Rp 3.456.874/bulannya melalui program ini, sekaligus memberikan akses yang lebih luas terhadap produk pangan sehat dan pasar," ujar Herawati, Ketua Kelompok Selaras Alam Desa Pengabuan.
PT Pertamina EP Adera Field berharap bahwa melalui inisiatif dan inovasi ini dapat meningkatkan taraf hidup masyarakat melalui praktik pengembangan pertanian berkelanjutan melalui pengembangan varietas padi tahan iklim yang didukung dengan sentuhan teknologi menggantikan energi listrik menjadi sumber energi alternatif yang diolah dari limbah jerami padi untuk Dry House serta mendukung terciptanya kemandirian pangan di wilayah Kabupaten PALI.
Ibu-ibu Ini Sulap Tanaman Obat Jadi Produk Herbal, Cuan Jutaan Per Bulan
Pertamina EP Adera Field masuk membawa teknologi untuk perubahan sistem pertanian masyarakat modern. [488] url asal
#produk-herbal #tanaman-obat #pemberdayaan-perempuan #csr-pertamina #desa-pengabuan
(detikFinance - SolusiUKM) 13/09/24 14:00
v/14979645/
Jakarta - Pernahkah Anda membayangkan bagaimana sirup hingga pempek terbuat dari tanaman herbal yang memiliki khasiat untuk kesehatan? Para ibu-ibu di Desa Pengabuan, Kecamatan Abab, Kabupaten Pali, Sumatera Selatan mengolahnya dengan tangan mereka.
Ketua Kelompok Pemberdayaan dan Kesejahteraan Keluarga (PKK) Desa Pengabuan, Herawati mengatakan ide ini muncul setelah PT Pertamina EP Adera Field melakukan program pengembangan masyarakat melalui program Corporate Social Responsibility (CSR) mulai 2019.
"Digali masalah terbanyak di sini tuh apa, ternyata masalah kesehatan banyak di sini, ekonomi juga masih terbilang rendah di sini, jadi kalau mau beli obat-obatan mahal. Jadi kita manfaatkan apa yang ada di sini," kata Herawati di Desa Pengabuan, Sumatera Selatan, Jumat (13/9/2024).
Sebagai informasi, pertanian merupakan salah satu mata pencaharian utama bagi masyarakat di Kabupaten Pali. Akan tetapi, kondisi lahan gambut dengan iklim yang tak menentu membuat hasil pertanian masyarakat tidak maksimal.
Nah Pertamina EP Adera Field masuk membawa teknologi untuk perubahan sistem pertanian masyarakat modern yakni media penyiraman tanaman yang terintegrasi dengan pupuk organik cair buatan masyarakat binaan yang dikenal sebagai Automatic Drip Irrigation System for Climate Resilient Agriculture Berbasis Android. Melalui teknologi ini, masyarakat dapat mengatur debit dan waktu pengairan sesuai kebutuhan melalui aplikasi di sistem android.
Hasil panen tanaman herbal kemudian dikembangkan menjadi produk turunan seperti pempek dengan campuran bawang dayak, sirup rosella, serta minyak kelapa, bubuk instant temulawak, centella asiatica, hingga tisane daun kelor yang dijual mulai dari Rp 30-50 ribu/pcs. Adapun manfaatnya untuk berbagai kesehatan keluarga.
"Pendapatan keluarga meningkat dari yang hanya Rp 401.512/bulan kini menjadi Rp 3.456.874/bulannya melalui program ini, sekaligus memberikan akses yang lebih luas terhadap produk pangan sehat dan pasar," ujar Herawati.
Pertamina EP Adera Field masuk membawa teknologi untuk perubahan sistem pertanian masyarakat modern. Foto: detikcom/Anisa Indraini |
Meski pasar penjualannya saat ini belum luas, ibu-ibu di Desa Pengabuan yang terdiri dari 15-30 orang berencana untuk mengembangkannya dengan menitipkan produk-produk ke pusat oleh-oleh dan marketplace.
"Saat ini kita terus memperbaiki packaging dan foto produk yang menarik agar lebih pede untuk menjualnya," ucapnya.
Manager Pertamina EP Adera Field, Adam S. Nasution mengatakan program ini bertujuan untuk memberdayakan masyarakat desa, khususnya kelompok perempuan dan petani, sekaligus mengembangkan varietas padi unggul tahan iklim jilid dua serta mengintegrasikan teknologi pertanian modern dengan sistem yang berkelanjutan.
"Kami bekerja sama dengan multistakeholder dan praktisi pertanian untuk memastikan bahwa metode yang diterapkan dalam program Permata efektif dan mudah diadaptasi oleh masyarakat," ujar Adam.
Selain itu, program ini dirancang sedemikian rupa untuk mendorong masyarakat lebih mandiri dalam memproduksi pangan, mengelola limbah pertanian dan sumber daya lokal secara optimal sehingga terwujud pertanian yang mandiri, modern dan zero waste.
"Selain berkontribusi pada kelestarian lingkungan, menggunakan jenis bibit ini juga mampu beradaptasi terhadap perubahan iklim. Sebelumnya hasil panen hanya 500 kg, kini mencapai 1,2 ton dalam sekali panen. Dulu kami hanya bisa satu kali panen dalam setahun, kini kami jadi bisa panen dua kali dalam setahun," ucap Herawati.
Sanggar Tari Topeng Mimi Rasinah: Lestarikan Tradisi, Berdayakan Ekonomi
Mimi Rasinah adalah maestro tari topeng asal Kabupaten Indramayu. [914] url asal
#tari-topeng #tari-topeng-indramayu #pertamina #csr-pertamina #kesenian-indramayu #sanggar-tari-topeng-mimi-rasinah
(Republika - News) 25/08/24 16:04
v/14709096/
REPUBLIKA.CO.ID, Oleh Lilis Sri Handayani / Wartawan Republika.co.id
Sesosok wajah perempuan tua terbingkai dalam pigura foto yang tergantung di dinding bilik bambu. Separuh wajahnya ditutupi oleh topeng kayu berwarna merah merona, yang dipegang oleh tangannya, hingga menutupi bagian hidung kebawah hingga lehernya.
Topeng dengan karakter mata yang melotot dan kumis hitam tebal di atas gigi putih yang menyeringai itu, praktis hanya menyisakan hidung bagian atas dan mata dari wajah perempuan tua tersebut. Karena di atas kepalanya, bertengger penutup kepala yang disebut sobra, lengkap dengan roncean manik-maniknya, yang merupakan bagian dari aksesoris tari topeng.
Perempuan tua itu tak lain adalah Mimi Rasinah, sang maestro tari topeng asal Kabupaten Indramayu. Fotonya terpajang di salah satu bagian dinding Sanggar Tari Topeng Mimi Rasinah, di Desa Pekandangan, Kecamatan Indramayu, Kabupaten Indramayu.
Nama aslinya adalah Rasinah. Kata ‘Mimi’ di depan namanya, menunjukkan panggilan ‘Ibu’ dalam bahasa Indramayu.
Sosok Mimi Rasinah memang tak bisa lepas dari sejarah perkembangan tari topeng. Pasalnya, dia lah perempuan pertama yang menjadi penari topeng. Di masa lalu, tari topeng hanya dibawakan oleh laki-laki.
Mimi Rasinah diajari oleh ayahnya menari topeng sejak masih kanak-kanak. Di masa itu, penari perempuan umumnya menjadi penari ronggeng, sama seperti ibunda Mimi Rasinah.
Namun, sang ayah ingin melindungi kehormatan putrinya sebagai seorang perempuan. Pasalnya, penari ronggeng identik sebagai penggoda laki-laki. Karena itu, jadilah Rasinah muda sebagai penari topeng.
Mimi Rasinah yang lahir di Indramayu pada 3 Februari 1930, menjadi generasi kesembilan di keluarganya yang menjadi penari topeng. Sang ayah, Lastra, merupakan generasi ke delapan.
‘’Akhirnya sampai sekarang, penari topeng itu kebanyakan perempuan. Makanya saya ngomong ke murid-murid, kita tuh nari topeng bukan nari perempuan lho, tapi nari laki-laki. Makanya narinya harus gagah (dalam gerakannya),’’ kata Aerli Rasinah, cucu Mimi Rasinah, saat ditemui Republika.co.id di Sanggar Tari Topeng Mimi Rasinah Desa Pekandangan, Ahad (25/8/2024).
Aerli merupakan generasi ke-11 di keluarganya yang menjadi penari topeng. Sedangkan ibunya, Wacih, merupakan generasi kesepuluh.
Sama seperti Mimi Rasinah, termasuk Aerli, sejumlah murid Aerli pun telah dikirim untuk berpentas di berbagai ajang, baik tingkat nasional maupun internasional. Selain itu, banyak pula anak didik Aerli yang kini melatih tari secara mandiri bahkan membuka sanggar tari sehingga menjadi pemberdayaan ekonomi bagi mereka.
‘’Ya banyak yang merasakan manfaatnya. Kita bersyukur. Kita tidak merasa tersaingi. Alhamdulillah mereka bisa maju, bisa berkembang,’’ tutur Aerli.
Langkah pelestarian tari topeng oleh Aerli pun terus berjalan, meski di tengah pandemi Covid-19. Dengan difasilitasi oleh Pertamina EP, dia menggelar pertunjukan secara daring bertema ‘Geliat Seni Bersama Pertamina EP di Masa Pandemi Covid-19’. Pagelaran yang disiarkan melalui media sosial itu berlangsung selama sepuluh pekan.
Masyarakat yang terkungkung akibat pandemi, bisa menikmati pagelaran tari topeng secara live di rumah masing-masing setiap malam Minggu. Tak hanya pagelaran, ditampilkan pula tutorial tari topeng sehingga masyarakat bisa belajar tarian tersebut.
Tak hanya tari topeng, program pelatihan gamelan juga berjalan. Begitu pula pembinaan perajin topeng.
Khusus untuk pengrajin topeng, Aerli kini tak kesulitan untuk memproduksi topeng dan berbagai aksesori tari topeng lainnya. Ada sekitar 30 pengrajin yang kini membantunya. Selain membuat topeng, juga membuat aksesori tari topeng lainnya, termasuk souvenir.
Produk-produk itu dijualnya setiap kali dia pentas ke berbagai kota dan negara. Ada juga yang dijual di sanggarnya.
‘’Ya hasilnya lumayan. Waktu saya pentas ke Jepang, pulangnya bisa beli satu mobil. Ya kan karena sambil jualan topeng, souvenir dan lain-lain,’’ ucapnya.
Hingga kini, Aerli pun memberdayakan masyarakat sekitar untuk membuat topeng dan aksesoris tari topeng lainnya. Apalagi jika ada pagelaran yang melibatkan banyak penari topeng. Produk itu akan dibeli olehnya dan dijualnya kembali di sanggar atau setiap kali ada pementasan ke luar kota atau luar negeri.
Selain itu, pesanan topeng dan aksesoris tari topeng lainnya juga berdatangan secara daring dari berbagai kota.
Aerli mengakui, program binaan dari Pertamina EP kepada sanggarnya kini telah berakhir. Meski demikian, jejak binaan itu terus dirasakannya sampai sekarang.
‘’Ibarat (tumbuh kembang) manusia, dulu kami masih merangkak, dan setelah jadi mitra binaan, kami bisa berkembang bahkan berlari. Dan imbasnya bukan hanya di sanggar kami, tapi juga pada anak-anak didik dan sekolah-sekolah. Yang tadinya tidak tahu tari topeng, jadi tahu,’’ ucap Aerli.
Manfaat pelestarian tari topeng itu salah satunya dirasakan oleh anak didik Aerli, yang bernama Vika Nurul Ain (17 tahun). Saat masih duduk di bangku kelas tiga sekolah dasar (SD), dia belajar tari topeng di Sanggar Tari Mimi Rasinah.
Pelajar SMAN 1 Indramayu itupun kini telah menguasai seluruh jenis tari topeng. Dia juga sering mementaskan tari topeng di berbagai kota di Indonesia.
Bahkan, gadis yang biasa disapa Ain itu juga membuka pelatihan tari topeng di rumahnya di Kelurahan Margadadi, Kecamatan Indramayu, Kabupaten Indramayu, sejak setahun terakhir. Hampir setiap hari, murid-muridnya datang berlatih, namun tetap disesuaikan dengan jadwal sekolahnya.
‘’Sekarang ada lima yang lagi belajar tari ke sini,’’ ucap Ain, saat ditemui Republika.co.id di rumahnya, Ahad (25/8/2024).
Dari melatih tari itu, Ain pun menerima honor. Sebagian honor itu diberikannya untuk membantu orang tuanya, dan sebagian lagi menjadi uang jajannya.
Dihubungi terpisah, Head of Commrel & CID-CSR Pertamina EP Zona 7, Wazirul Luthfi, mengatakan, meski bergerak di usaha migas, namun pihaknya tertarik memberikan CSR di bidang seni budaya sebagai wujud komitmen pelaksanaan program pemberdayaan masyarakat dalam pilar pendidikan.
‘’Kami membantu masyarakat untuk menghargai kearifan lokal yang tak ternilai dan mengangkat potensi daerah yang baik, sebagai sarana edukasi yang berfokus pada keberlanjutan generasi masa depan,’’ kata Luthfi.
Luthfi menambahkan, hal itupun sesuai dengan SDGs tujuan 11.4. Yakni, konservasi cagar alam dan budaya bagi masyarakat.
