Lewat Single Stock Futures, Investor Bisa Nikmati Saham "Mahal" dengan Harga Lebih Murah
Investor akan bisa menikmati pergerakan saham 'mahal' dengan harga beli murah, lewat instrumen single stock futures (SSF). Halaman all
(Kompas.com) 17/09/24 14:59 15132323
JAKARTA, KOMPAS.com - Investor akan bisa menikmati pergerakan saham "mahal" dengan harga beli murah, lewat instrumen single stock futures (SSF).
Sebagai informasi, SSF adalah perjanjian atau kontrak antara dua belah pihak untuk menjual atau membeli suatu saham, yang mana nantinya saham akan menjadi underlying dari produk SSF.
Direktur Pengembangan Bursa Efek Indonesia (BEI) Jeffrey Hendrik mengatakan, produk SSF dapat dimanfaatkan investor untuk mendapatkan peluang keuntungan atau eksposur yang sama dengan saham-saham perusahaan terbesar dan paling likuid dengan modal yang jauh lebih kecil.
Dok. Shutterstock Yield adalah persentase dari pendapatan atau keuntungan yang dihasilkan dari suatu investasi dalam jangka waktu tertentu.
Sebagai contoh, apabila saham memiliki harga per lembarnya Rp 10.000, maka untuk 1 lot atau setara 100 lembar saham tersebut investor perlu mengeluarkan modal Rp 1 juta.
"Sedangkan untuk SSF saham tersebut, investor hanya perlu mengeluarkan modal senilai 4 persen dari nilai transaksi saham tersebut, atau senilai Rp 40.000," kata Jeffrey, dalam keterangannya, Selasa (17/9/2024).
Lebih lanjut Jeffrey bilang, BEI akan menerbitkan SSF dengan underlying saham-saham yang berasal dari indeks LQ45.
Pada tahap awal, lanjut dia, BEI akan menerbitkan SSF dengan underlying saham PT Bank Central Asia Tbk (BBCA), PT Bank Rakyat Indonesia (Persero) Tbk (BBRI), PT Merdeka Copperg Gold Tbk (MDKA), PT Telkom Indonesia (Persero) Tbk (TLKM), dan PT Astra International Tbk (ASII).
"Hal ini tentunya memberikan peluang yang menarik bagi investor atau trader karena dengan modal yang jauh lebih kecil investor bisa mendapat exposure dari saham-saham perusahaan terbesar dan paling likuid di Indonesia," tutur Jeffrey.
SHUTTERSTOCK/JIRAPONG MANUSTRONG Ilustrasi saham, pasar saham, transaksi saham.Adapun perbedaan mendasar antara saham dan SSF dalam konteks instrumen keuangan, ialah saham memberikan investor hak kepemilikan dalam suatu perusahaan, termasuk hak atas dividen serta suara dalam rapat umum pemegang saham.
Di sisi lain, SSF merupakan kontrak yang memungkinkan investor berspekulasi atau melakukan lindung nilai terhadap pergerakan harga saham tanpa harus memiliki saham tersebut secara langsung.
Dalam hal modal, saham membutuhkan pembayaran penuh sesuai harga pasar, dengan risiko utama penurunan nilai saham itu sendiri.
Sedangkan SSF, di sisi lain, menggunakan leverage, sehingga modal yang diperlukan lebih kecil, namun risikonya juga lebih besar karena potensi keuntungan maupun kerugiannya tetap setara dengan memiliki saham secara langsung.
"Secara umum, saham lebih cocok untuk investasi jangka panjang dengan fokus pada kepemilikan dan pendapatan pasif," kata Jeffrey.
"SSF lebih sering digunakan oleh investor yang berpengalaman untuk trading secara jangka pendek maupun untuk strategi lindung nilai atas portofolio saham yang dimilikinya,” sambungnya.
Untuk dapat mengenali dan memulai untuk berinvestasi pada produk SSF, Jeffrey menyebutkan, investor dapat melihat kode yang tertera pada halaman Online Trading.
Berbeda dengan saham yang memiliki ticker code berupa 4 huruf, SSF terdiri dari 4 huruf saham underlying-nya ditambah 2 kode yang mewakili bulan dan tahun jatuh tempo kontrak sehingga akan dengan mudah diidentifikasi oleh investor.
"Sebagai contoh apabila SSF memiliki underlying saham TLKM dan jatuh tempo pada bulan Oktober 2024, maka SSF tersebut akan memiliki kode TLKMV4. “V” merupakan kode untuk bulan Oktober dan “4” merupakan kode untuk tahun 2024," ucap Jeffrey.
Sebagai informasi, investor dapat mulai berinvestasi SSF maupun produk derivatif lainnya yang tersedia di BEI dengan membuka rekening efek derivatif pada Anggota Bursa (AB) yang terdaftar sebagai AB Derivatif.
#investasi #pergerakan-saham #investasi-jangka-panjang #saham