Potensi Penurunan Suku Bunga The Fed Jadi

Potensi Penurunan Suku Bunga The Fed Jadi "Angin Segar" bagi Perbankan Tanah Air

Bank sentral AS tersebut akan mulai menurunkan suku bunga acuannya untuk pertama kali sejak 2020 pada pertemuan 18 September 2024. Halaman all

(Kompas.com) 17/09/24 18:35 15165167

JAKARTA, KOMPAS.com - Potensi penurunan tingkat suku bunga acuan bank sentral Amerika Serikat, The Federal Reserve (The Fed) bakal memberikan sejumlah dampak positif kepada industri perbankan nasional.

Sejumlah data teranyar dan sinyal dari pejabat The Fed memang mengindikasikan, bank sentral AS tersebut akan mulai menurunkan suku bunga acuannya untuk pertama kali sejak 2020 pada pertemuan 18 September 2024.

Kepala Eksekutif Pengawas Perbankan OJK Dian Ediana Rae mengatakan, penurunan suku bunga acuan The Fed biasanya akan diikuti oleh bank sentral negara-negara lain, tidak terkecuali Bank Indonesia (BI).

KOMPAS.com/ AGUSTINUS RANGGA RESPATI Kepala Eksekutif Pengawas Perbankan OJK Dian Ediana Rae dalam acara Peluncuran Panduan Resiliensi Digital, Selasa (20/8/2024).

Bila suku bunga acuan BI turun, maka tingkat suku bunga kredit perbankan akan mengikuti, sehingga penyaluran kredit berpotensi meningkat, seiring dengan turunnya beban penyaluran kredit bank.

"Dengan demikian penurunan FFR juga dapat berdampak pada menurunnya suku bunga di dalam negeri yang tentu juga mendorong meningkatnya pertumbuhan kredit perbankan Indonesia," tutur dia, dalam keterangannya, dikutip Selasa (17/9/2024).

Selain itu, Dian bilang, penurunan tingkat suku bunga acuan The Fed bakal mendorong aliran modal asing masuk ke pasar keuangan negara berkembang, termasuk Indonesia.

Aliran modal asing masuk pada akhirnya memperkuat nilai tukar serta menigkatkan ketersediaan likuiditas perbankan, sehingga dapat mendukung fungsi intermediasi perbankan.

"Selanjutnya, penurunan suku bunga domestik yang merupakan cerminan menurunnya biaya dana (cost of fund) bagi bank juga maupun bagi debitur akan berpengaruh positif bagi profitabilitas perbankan," ujar dia.

SHUTTERSTOCK/ANTON_AV Ilustrasi bank.
"Dan sekaligus menurunkan risiko kredit perbankan," sambungnya.

Berdasarkan hasil Survei Orientasi Bisnis Perbankan OJK (SBPO) Triwulan II-2024, secara umum bank juga menyatakan bahwa penurunan suku bunga acuan The Fed dapat berdampak positif dan menstimulus pertumbuhan ekonomi global termasuk Indonesia.

Dari sisi likuiditas, penurunan suku bunga The Fed dan BI-Rate bakal menarik ke bawah suku bunga simpanan perbankan, sehingga biaya dana dapat ditekan.

"Tentunya kebijakan suku bunga masing-masing bank berbeda dan sangat bergantung pada model bisnis, kondisi likuiditas dan toleransi risiko (risk tolerance) masing-masing bank," kata Dian.

Dian mengakui, kondisi likuditas perbankan saat ini cenderung menurun, dengan rasio alat likuid/non core deposit (AL/NCD) sebesar 113,49 persen dan rasio alat likuid/dana pihak ketiga (AL/DPK) sebesar 25,66 persen.

Akan tetapi, seiring dengan adanya sentimen penurunan suku bunga The Fed dan BI, perbankan optimis, likuiditas perbankan bakal meningkat hingga pengujung 2024.

"Berdasarkan hasil Survei Orientasi Bisnis Perbankan OJK (SBPO) Triwulan III-2024 jumlah alat likuid pada akhir tahun 2024 diproyeksikan meningkat sehingga likuiditas perbankan juga tetap terjaga," ucap Dian.

#suku-bunga #the-fed #kredit-perbankan #suku-bunga-acuan-bi #suku-bunga-acuan #penyaluran-kredit

http://money.kompas.com/read/2024/09/17/183526226/potensi-penurunan-suku-bunga-the-fed-jadi-angin-segar-bagi-perbankan-tanah-air