1 dari 7 Pekerja di Jepang adalah Lansia, Capai Rekor Tertinggi

1 dari 7 Pekerja di Jepang adalah Lansia, Capai Rekor Tertinggi

Warga Jepang yang berusia 65 tahun atau lebih kini mencakup hampir sepertiga dari populasi Jepang, menurut data pemerintah. Halaman all

(Kompas.com) 18/09/24 17:46 15187878

TOKYO, KOMPAS.com - Populasi lansia di Jepang telah mencapai rekor tertinggi, yakni sebanyak 36,25 juta orang.

Warga Jepang yang berusia 65 tahun atau lebih kini mencakup hampir sepertiga dari populasi Jepang, menurut data pemerintah, dikutip dari Al Jazeera, Rabu (18/9/2024).

Kementerian Dalam Negeri dan Komunikasi Jepang mengatakan, jumlah lansia diperkirakan mencapai 29,3 persen dari populasi, proporsi yang lebih tinggi daripada di negara atau wilayah lain dengan lebih dari 100.000 orang.

UNSPLASH/JASE BLOOR Ilustrasi suasana di kota Tokyo, Jepang.

Sekitar 20,53 juta dari warga Jepang yang berusia 65 tahun atau lebih adalah perempuan, sementara sebanyak 15,72 juta adalah laki-laki, kata kementerian tersebut.

Data tersebut juga menunjukkan bahwa terjadi jumlah rekor 9,14 juta lansia bekerja tahun lalu, setara satu dari tujuh pekerja di Jepang.

Jepang berjibaku dengan krisis demografi yang kian memburuk karena semakin sedikitnya jumlah orang usia kerja yang menghadapi beban biaya perawatan kesehatan dan kesejahteraan yang meningkat untuk para lansia.

Populasi Jepang turun sebanyak 595.000 jiwa pada tahun hingga 1 Oktober 2023, menandai penurunan jumlah penduduk Jepang selama 13 tahun berturut-turut.

Lembaga Penelitian Kependudukan dan Jaminan Sosial Nasional yang berpusat di Tokyo telah memproyeksikan bahwa warga lanjut usia Jepang akan mencapai 34,8 persen dari populasi negara tersebut pada tahun 2040.

Sebuah studi yang diterbitkan tahun lalu oleh Recruit Works Institute, lembaga think tank di Tokyo, mengatakan Jepang dapat menghadapi kekurangan lebih dari 11 juta pekerja pada tahun 2040 karena populasinya yang menyusut.

UNSPLASH/JEZAEL MELGOZA Ilustrasi suasana di kota Tokyo, Jepang.

Sementara itu, dikutip dari CNBC, menurut Robert Feldman, kepala ekonom Morgan Stanley MUFG Securities, data tersebut memicu kekhawatiran lebih lanjut tentang pergeseran demografi dan krisis tenaga kerja di Jepang.

Sebuah survei dari Teikoku Databank bulan lalu menunjukkan bahwa 51 persen perusahaan di seluruh sektor di Jepang merasa ada kekurangan karyawan yang bekerja full time.

"Kelangkaan tenaga kerja sama buruknya seperti sebelumnya," kata Feldman.

Dia menyatakan, hal itu terutama dirasakan di industri padat karya seperti layanan makanan.

Feldman memperingatkan, saat para pekerja lansia ini mulai pensiun dari dunia kerja, tidak akan ada jumlah pekerja muda yang sama yang menggantikan mereka.

Sementara itu, penelitian terbaru Morgan Stanley memperkirakan bahwa berdasarkan tren demografi masa lalu, total angkatan kerja dapat turun dari sekitar 69,3 juta pada tahun 2023 menjadi sekitar 49,1 juta pada tahun 2050.

Pemerintah Jepang telah menyadari kerugian ekonomi dan sosial yang dapat diakibatkan oleh tren ini dan telah mengambil langkah-langkah untuk mengatasinya.

Beberapa langkah telah ditujukan untuk membalikkan penurunan angka kelahiran di Jepang, dengan kantor Perdana Menteri Fumio Kishida meluncurkan kebijakan seperti menyediakan lebih banyak dana untuk membesarkan anak dan mendukung lebih banyak fasilitas penitipan anak di negara tersebut.

Pemerintah daerah telah mengambil langkah untuk mendukung aplikasi kencan publik yang ditujukan untuk mengajak orang Jepang bergaul, menikah, dan memiliki anak.

Namun, meningkatkan angka kelahiran tidak akan banyak membantu mengatasi kekurangan tenaga kerja dalam jangka pendek.

Jadi, Jepang telah terus membuka diri terhadap lebih banyak migrasi selama beberapa tahun terakhir, mencapai rekor 2 juta pekerja asing pada tahun 2024 dan mengincar hingga 800.000 lebih banyak selama lima tahun ke depan, menurut laporan media lokal.

Mengganti kerugian demografi selama beberapa dekade mendatang akan mengharuskan negara tersebut untuk menambah pekerja asing dengan kecepatan yang jauh lebih cepat, dalam jumlah puluhan juta, menurut Feldman.

"Saya tidak yakin hal itu akan terjadi, yang berarti bahwa sebagian besar penurunan tenaga kerja domestik harus diimbangi oleh peningkatan produktivitas kaum muda yang akan tetap bekerja," kata Feldman.

"Menciptakan pertumbuhan produktivitas di antara para pekerja akan membutuhkan lebih banyak modal untuk diinvestasikan ke dalam produktivitas pekerja dan penerapan teknologi baru seperti AI dan otomatisasi," imbuh dia.

#jepang #lansia #warga-jepang #jumlah-penduduk-jepang #lansia-di-jepang

https://money.kompas.com/read/2024/09/18/174601326/1-dari-7-pekerja-di-jepang-adalah-lansia-capai-rekor-tertinggi