Hitungan Indef: Kemasan Rokok Polos Potensi Turunkan Penerimaan Negara Rp 27,7 T

Hitungan Indef: Kemasan Rokok Polos Potensi Turunkan Penerimaan Negara Rp 27,7 T

Kemasan rokok polos alias plain packaging berpotensi menurunkan penerimaan negara sebesar Rp 27,7 triliun secara tahunan atau year on year. Halaman all

(Kompas.com) 19/09/24 18:01 15240293

JAKARTA, KOMPAS.com - Ekonom senior senior Institute for Development of Economics and Finance (Indef) Tauhid Ahmad mengatakan, kemasan rokok polos alias plain packaging berpotensi menurunkan penerimaan negara sebesar Rp 27,7 triliun secara tahunan atau year on year.

“Bukan hanya plain packaging saja, itu akan menurunkan penerimaan negara, terutama dari cukai, sebesar Rp 27,7 triliun. Jadi, akan luar biasa dampaknya terhadap penerimaan negara,” kata Tauhid saat ditemui di Senayan Park, Jakarta Pusat, Kamis (19/9/2024).

Berdasarkan perhitungan Indef, kemasan rokok polos juga akan menurunkan pertumbuhan ekonomi menjadi minus 0,53 persen jika dilihat dari skenario jumlah kemasan, pemajangan produk, dan iklan tembakau.

FREEPIK/ATLASCOMPANY Ilustrasi rokok.

“Hasil hitungan kami, terutama untuk skenario jumlah kemasan, pemajangan produk, dan iklan tembakau itu akan menurunkan pertumbuhan ekonomi minus 0,53 persen. Kemudian penerimaan perpajakan 52,8 persen. Dan tentu saja tenaga kerja di industri rokok berkurang 10,08 persen, tembakau olahan 2,38 persen, petani tembakau 17,16 persen, dan petani cengkeh 3,73 persen,” tutur dia.

Tauhid juga mengingatkan bahwa kemasan rokok polos telah diterapkan di beberapa negara.

Di Skotlandia, para konsumen kebingungan saat memilih produk rokok.

“Karena lebih disebabkan para konsumen bingung untuk memilih varian merek dari industri tembakau. Karena penampilan kemasan itu saja berubah,” kata Tauhid.

Di Selandia Baru, berdasarkan penelitian tahun 2023, brand awareness turun dari 28 persen menjadi 13 persen.

Tauhid juga mengingatkan bahwa pemerintahan di bawah presiden terpilih Prabowo Subianto akan menargetkan pertumbuhan ekonomi 8 persen.

WIKIMEDIA COMMONS/SANTERI VIINAMAKI Ilustrasi rokok, cukai rokok.

“Jadi, kalau industri ini nanti kena, ya mungkin sedikit challenge lebih besar bagaimana menggantikan potensi pertumbuhan ekonomi,” ujar Tauhid.

Sementara itu, Direktur Industri Minuman, Hasil Tembakau dan Bahan Penyegar Kementerian Perindustrian, Merrijanti Punguan mengatakan, ada potensi pemutusan hubungan kerja jika kemasan rokok polos diterapkan.

“Kalau memang pasar kita berkurang, penjualan berkurang, pasti dari sisi produksi kan dikurangi. Pengurangan produksi ini akan membuat satu kebijakan khusus di industri masing-masing untuk melakukan efisiensi. Pada akhirnya juga akan melakukan efisiensi tenaga kerja. Baik itu perumahan maupun pemutusan hubungan kerja (PHK). Ada potensi ke sana. Nah itu yang tidak kita harapkan,” kata Merrijanti.

“Karena selama pandemi pun sektor industri hasil tembakau tidak ada PHK,” tutur dia.

Seperti diketahui sebelumnya, Kementerian Kesehatan RI sedang membahas Rencana Peraturan Menteri Kesehatan (RPMK) tentang pengamanan produk tembakau dan rokok elektronik.

RPMK tersebut merupakan turunan dari PP 28 Tahun 2024 terkait standardisasi kemasan berupa kemasan polos (plain packaging).

Aturan tersebut menyeragamkan kemasan produk tembakau dan rokok elektronik serta melarang pencantuman logo atau desain kemasan produk.

#kemasan-rokok #pertumbuhan-ekonomi #penerimaan-negara #produk-rokok #kemasan-rokok-polos

https://money.kompas.com/read/2024/09/19/180114526/hitungan-indef-kemasan-rokok-polos-potensi-turunkan-penerimaan-negara-rp-277-t