Meski Daya Beli Turun, Kredit Motor dan Mobil Tetap Ngegas
Kredit motor dan mobil tetap ngegas kendati daya beli masyarakat menurun. - Halaman all
(InvestorID) 22/09/24 21:58 15405152
JAKARTA, investor.id – Daya beli masyarakat dihantam bertubi-tubi beberapa waktu belakangan ini. Kendati begitu, pembiayaan motor dan mobil via leasing atau multifinance tetap melaju kencang.
Pada Agustus 2024, deflasi kembali terjadi yakni sebesar 0,03%, melanjutkan tren tiga bulan sebelumnya. Beberapa ekonom menyebut ini merupakan penanda daya beli melemah, kendati Badan Pusat Statistik (BPS) menilai deflasi dipicu suplai berlebih komoditas pangan.
Selanjutnya, kinerja industri manufaktur melemah, terlihat pada penurunan indeks manajer pembelian (purchasing managers’ index/PMI) ke level 48,9 pada Agustus 2024, turun dari bulan sebelumnya sebesar 49,3. PMI di bawah 50 menandakan manufaktur kontraksi, sedangkan di atas 50 berarti ekspansi.
Belum lama ini, BPS juga merilis data soal perkembangan jumlah kelas menengah. Intinya, jumlah kelas menengah turun sekitar 10 juta, dari 57,33 juta (21,45%) pada 2019 menjadi 47,85 juta (17,13%) pada Maret 2024.
Riset Penyelidikan Ekonomi dan Masyarakat (LPEM) Fakultas Ekonomi dan Bisnis Universitas Indonesia (FEB UI) mencatat, porsi konsumsi kelas menengah turun dari 42,4% pada 2018 menjadi 41,9% pada 2023. Hal ini menunjukkan pengurangan konsumsi kelas menengah, yang mencerminkan kontraksi daya beli.
Meski sejumlah indikator menunjukkan terjadi pelemahan daya beli, masyarakat tetap memanfaatkan layanan pembiayaan kendaraan bermotor, baik mobil baru atau bekas maupun motor baik atau bekas.
Berdasarkan statistik Otoritas Jasa Keuangan (OJK), piutang pembiayaan multifinance meningkat 10,52% year on year (yoy) menjadi Rp 494,09 triliun pada Juli 2024. Salah satu yang menopang adalah pembiayaan dengan objek kendaraan bermotor yang naik 13,11% (yoy) menjadi Rp 345,57 triliun.
Mobil Bekas Jadi Primadona
Pembiayaan kendaraan bermotor dari multifinance masih cukup signifikan dari segi kontribusi, sehingga mampu menopang perkembangan piutang pembiayaan secara keseluruhan. Kontribusinya tercatat mencapai 69,94% pada Juli 2024, bahkan lebih tinggi dari Juli 2023 yang sebesar 68,34%.
Secara rinci, pembiayaan motor baru naik 15,16% (yoy) menjadi Rp 84,83 triliun. Sedangkan pembiayaan motor bekas naik tipis 3,85% (yoy) menjadi Rp 22,02 triliun.
Berlanjut ke segmen mobil, pembiayaan mobil baru dari multifinance masih jadi penyokong utama dengan pertumbuhan 9,08% (yoy) menjadi Rp 151,74 triliun. Sedangkan pembiayaan mobil bekas merangsek tumbuh 21,58% (yoy) menjadi Rp 21,58 triliun.
Ketua Dewan Komisioner OJK, Mahendra Siregar tak memungkiri ada indikasi penurunan daya beli dari masyarakat dalam beberapa waktu belakangan. Namun ia yakin bahwa pertumbuhan ekonomi RI pada kuartal III-2024 masih akan berada di atas 5%. Ini merupakan pencapaian tersendiri di tengah gejolak pelambatan ekonomi dan ketidakpastian global.
“Dalam konteks itu, tingkat pertumbuhan tadi merupakan berita baik buat Indonesia karena tetap terjaga,” ujar Mahendra dalam konferensi pers secara daring pada Jumat (6/9/2024).
Editor: Prisma Ardianto (ardiantoprisma@gmail.com)
Follow Channel Telegram Official kami untuk update artikel-artikel investor.id
Baca Berita Lainnya di Google News
#berita-terkini #berita-hari-ini #multifinance #pembiayaan-multifinance #kredit-motor #kredit-mobil #daya-beli-masyarakat #berita-ekonomi-terkini
https://investor.id/finance/374224/meski-daya-beli-turun-kredit-motor-dan-mobil-tetap-ngegas