Misteri Penyebab 7 Remaja Loncat ke Kali Bekasi Usai Tepergok Polisi
Berdasarkan keterangan polisi, ketujuh orang ini tepergok tim Patroli Perintis Presisi saat sedang berpesta minuman keras. Halaman all
(Kompas.com) 24/09/24 09:00 15476695
BEKASI, KOMPAS.com - Penyebab kematian tujuh remaja yang jasadnya ditemukan mengapung di Kali Bekasi, Jatiasih, Kota Bekasi, pada Minggu (22/9/2024) pagi, hingga kini masih menjadi misteri.
Berdasarkan keterangan polisi, ketujuh orang ini merupakan bagian dari 60 remaja yang sebelumnya tepergok tim Patroli Perintis Presisi saat sedang berpesta minuman keras.
Polisi menyebut mereka berkumpul untuk melancarkan aksi tawuran, namun urung dilakukan lantaran keburu tepergok.
Mereka kemudian panik dan berusaha melarikan diri ke dua arah, menuju perumahan warga dan Kali Bekasi.
Mereka yang melarikan diri dengan cara meloncat ke sungai justru bernasib nahas. Pada Minggu pagi, warga menemukan tujuh jasad remaja di Kali Bekasi.
Setelah penemuan tersebut, penyebab mereka memilih meloncat ke Kali Bekasi usai tepergok polisi menjadi tanda tanya.
Kronologi
Polisi menyebut tujuh remaja ini semula hendak melakukan aksi tawuran, tetapi kocar-kacir melarikan diri lantaran digerebek tim Patroli Perintis Presisi.
Kasat Reskrim Polres Metro Kota Bekasi, Komisaris Audy Joize Oroh, mengungkapkan bahwa ketujuh remaja itu merupakan bagian dari sekitar 60 remaja yang sedang berkumpul di gubuk di Jalan Cipendawa, Sabtu (21/9/2024) pukul 03.00 WIB.
Gubuk atau bedeng itu terletak di Jalan Cipendawa, tepatnya di depan PT Gudang Semen Merah Putih, Jatiasih.
Mereka menggunakan sekitar 30 unit motor yang diparkir di dekat gubuk.
"Berdasarkan keterangan saksi, diperoleh fakta bahwa di tempat tersebut mereka ini melakukan aktivitas minum-minuman keras beralkohol," ujar Audy dalam konferensi pers di kantornya, Senin (23/9/2024).
Diduga, aktivitas itu dilakukan sebelum aksi tawuran, karena mereka juga membawa aneka jenis senjata tajam.
Sekitar pukul 03.30 WIB, tim Patroli Perintis Presisi melintasi jalan tersebut. Melihat kehadiran polisi, para remaja takut serta melarikan diri ke berbagai arah.
"Dari keterangan para saksi, ada beberapa orang yang meloncat ke Kali Bekasi dan ada beberapa yang memang tidak berani untuk meloncat karena melihat kondisi tempat yang tidak memungkinkan dan gelap," ungkap Audy.
Polisi hanya bisa meringkus para remaja yang tidak berani menceburkan diri ke Kali Bekasi dan beberapa remaja yang kabur ke perumahan warga.
Sementara itu, para remaja yang nekat terjun ke Kali Bekasi tidak dihiraukan lagi.
Secara keseluruhan, polisi mengamankan 22 remaja pada dini hari itu. Tiga orang remaja di antaranya kedapatan membawa aneka senjata tajam.
Barang bukti yang diperoleh mencakup 21 bilah senjata tajam, 30 unit sepeda motor, dan 8 unit ponsel.
Nasib nahas menimpa para remaja yang nekat melarikan diri dengan cara menceburkan diri ke kali. Pada Minggu pagi, warga menemukan tujuh jasad remaja mengapung di Kali Bekasi.
Ketujuh jasad remaja itu kini masih disimpan di RS Bhayangkara Kramat Jati, Jakarta Timur, untuk dilakukan identifikasi.
Perwakilan keluarga yang kehilangan anggotanya berdatangan untuk mengecek apakah salah satu di antaranya adalah anggota keluarganya atau bukan.
"Hari ini akan dilakukan otopsi terhadap tujuh jenazah di RS Polri yang hasilnya akan diinformasikan lebih lanjut," ujar Audy.
Pihak kepolisian berjanji menuntaskan kasus ini secara profesional. Salah satunya, yakni dengan menerapkan scientific crime identification dalam penyelidikannya serta melibatkan wadah profesi terkait lainnya.
"Proses ini akan dilakukan secara akuntabel untuk mengungkap waktu-waktu yang terjadi," ujar Audy.
3 tersangka
Dalam proses penyelidikan 22 orang yang ditangkap, polisi menetapkan tiga remaja di antaranya sebagai tersangka karena membawa senjata tajam ketika digerebek tim Patroli Perintis Presisi.
"Tiga orang ditetapkan tersangka karena membawa sajam tanpa hak," ujar Kabid Humas Polda Metro Jaya Kombes Ade Ary Syam Indradi.
Masih kata Ade, ketiga tersangka kini telah ditahan. "Tiga-tiganya ditahan di Polres Metro Bekasi Kota."
Sementara itu, 19 remaja lainnya masih diperiksa terkait kasus ini.
"Mungkin masih ada yang diperiksa, yang jelas tidak ditetapkan tersangka," imbuhnya.
5 anak di bawah umur
Dari 22 remaja yang ditangkap, lima di antaranya masih di bawah umur. Dalam pemeriksaannya, kelima anak ini mendapat pendampingan langsung dari KPAD Kota Bekasi.
"Iya ada lima, tiga pelajar, dua sudah tidak sekolah," ujar Wakil Ketua KPAD Kota Bekasi Novrian.
Novrian mengapresiasi inisiatif Kapolda Metro Jaya Irjen Karyoto agar penyelidikan kasus penemuan tujuh mayat di Kali Bekasi mengedepankan profesionalisme dan akuntabilitas.
"Sangat apresiasi dengan Pak Kapolda karena hari ini berbicara mengenai penanganan harus profesional, akuntabel, dan ini polres melibatkan kita," terangnya.
Masih misteri
Setelah penemuan tujuh jasad tersebut, misteri penyebab mereka memilih meloncat ke Kali Bekasi usai tepergok polisi menjadi tanda tanya besar masyarakat.
Kriminolog dari Universitas Indonesia, Haniva Hasna, mengingatkan pentingnya menemukan saksi dan bukti guna mengungkap kronologi apakah para korban terjatuh ke sungai, diceburkan, atau sengaja menceburkan diri.
"Apakah anak-anak ini jatuh ke sungai, diceburkan, atau menceburkan diri belum terang. Jadi kita membutuhkan saksi dan bukti untuk menentukan sebetulnya apa yang terjadi," ujar Haniva seperti dikutip dari tayangan kanal YouTube KompasTV, Senin (23/9/2024).
Haniva menjelaskan bahwa anak-anak cenderung memiliki keberanian saat berkelompok, tetapi fakta di balik kejadian ini masih belum jelas.
"Kepolisian memiliki tugas untuk membubarkan kerumunan (upaya tawuran) dan itu sudah menjadi bagian dari penegakan hukum," lanjutnya.
Dengan mengumpulkan saksi dan bukti yang kuat, menurut Haniva, kasus kematian tujuh remaja bisa terungkap secara terang benderang.
#kali-bekasi #7-mayat-kali-bekasi #3-orang-tersangka-terkait-7-jasad-di-kali-bekasi #polisi-tangkap-22-remaja-terkait-jasad-kali-bekasi #7-jasad-di-kali-bekasi-membusuk #7-orang-meninggal-di-kali-bekas