#30 tag 24jam
[POPULER JABODETABEK] Kesimpulan Akhir Kasus 7 Jenazah di Kali Bekasi | Ahok Sebut Megawati Calonkan Pramono Anung karena Situasi Sedang Genting
Berita populer Jabodetabek dimulai dari kesimpulan akhir kasus 7 jenazah di Kali Bekasi sampai Pramono sebut Kalijodo kembali remang-remang. Halaman all [588] url asal
#ahok #pramono-anung #megawati #berita-populer-jabodetabek #7-mayat-di-kali-bekasi #penemuan-mayat-di-kali-bekasi
(Kompas.com) 06/10/24 05:30
v/16046229/
JAKARTA, KOMPAS.com - Sejumlah berita di Jabodetabek mewarnai pemberitaan Kompas.com sepanjang Sabtu (5/10/2024).
Artikel tentang kesimpulan akhir kasus 7 jenazah di Kali Bekasi menjadi berita yang paling ramai dibaca oleh pembaca Kompas.com.
Kemudian, artikel mengenai Ahok sebut Megawati calonkan Pramono Anung karena situasi sedang genting juga ramai dibaca.
Sementara itu, berita tentang Pramono Anung sebut Kalijodo kembali remang-remang sejak ganti kepemimpinan turut menarik perhatian dan banyak dibaca.
Ketiga berita di atas masuk dalam deretan berita populer Jabodetabek, berikut paparannya:
1. Kesimpulan akhir kasus 7 remaja di Kali Bekasi, polisi pastikan tak ada pelanggaran
Teka-teki penyebab kematian tujuh remaja yang jasadnya ditemukan mengapung di Kali Bekasi, Kota Bekasi, Minggu (22/9/2024) pagi, akhirnya terungkap.
Polisi menyimpulkan, ketujuh remaja ini tewas karena tenggelam usai menceburkan diri ke Kali Bekasi.
Mereka meloncat ke sungai tak lama setelah Tim Perintis Patroli Presisi Polres Metro Bekasi Kota mendatangi sebuah gubuk atau warung yang berada di bantaran Kali Bekasi, Jalan Satopati, Kelurahan Bojong Menteng, Kecamatan Rawalumbu, Sabtu (21/9/2024) dini hari.
Gubuk ini menjadi tempat sekitar 60-90 remaja berkumpul dalam rangka merayakan ulang tahun kelompok gengster Cikunir All Stars yang hendak mencari lawan aksi tawuran. Baca selengkapnya di sini.
2. Ahok: Megawati calonkan Pramono Anung karena situasi sedang genting
Ketua DPP PDI Perjuangan Basuki Tjahaja Purnama alias Ahok menyebut, keputusan Ketua Umum PDI-P Megawati Soekarnoputri mencalonkan Pramono Anung pada Pilkada Jakarta karena situasi pada saat itu sedang genting.
Hal tersebut Ahok sampaikan di depan ratusan Ahokers yang mendeklarasikan diri mendukung pasangan calon nomor urut 3, Pramono Anung dan Rano Karno "Si Doel".
“Hari ini, banyak saya tahu, bapak dan ibu kecewa, kenapa tidak saya? Ibu Megawati itu persis ibu saya, umurnya, sampai tahi lalatnya, mirip ibu saya. Umurnya sama persis ibu saya,” kata Ahok di Gelora, Tanah Abang, Jakarta Pusat, Sabtu (5/10/2024).
“Ketika saya bicara sama ibu, saya mendapatkan kesimpulan, situasi ini, peperangan kita ini lagi genting sebetulnya,” imbuh dia. Baca selengkapnya di sini.
3. Pramono Anung: sejak ganti kepemimpinan, Kalijodo kembali remang-remang
Calon Gubernur Jakarta nomor urut 3, Pramono Anung menyebut Ruang Terbuka Hijau (RTH) Kalijodo, Pejagalan, Penjaringan, Jakarta Utara, kembali menjadi remang-remang sejak berganti kepemimpinan.
Hal tersebut diungkapkan saat Pramono menyinggung soal kawasan Kalijodo merupakan tempat lokalisasi tetapi diubah oleh eks Gubernur Jakarta Basuki Tjahaja Purnama alias Ahok.
Mulanya, Pramono mengaku mendapat banyak pertanyaan dari sejumlah pihak mengenai nasib program peninggalan Anies Baswedan dan Ahok.
“Menurut saya, harus dilanjutkan (program Anies dan Ahok yang baik-baik). Contoh, tahu Kalijodo kan? Yang dulu haram jadah, sama Pak Ahok diubah menjadi tempat bermain anak-anak, ruang terbuka hijau dan bagus,” kata Pramono saat berkampanye di Cengkareng Barat, Cengkareng, Jakarta Barat, Sabtu (5/1/2024). Baca selengkapnya di sini.
Kesimpulan Akhir Kasus 7 Remaja di Kali Bekasi, Polisi Pastikan Tak Ada Pelanggaran
Teka-teki penyebab kematian tujuh remaja yang jasadnya ditemukan mengapung di Kali Bekasi akhirnya terungkap. Bagaimana kejadiannya? Halaman all [993] url asal
#7-jasad-kali-bekasi-teridentifikasi #mayat-di-kali-bekasi #kali-bekasi-7-mayat #7-mayat-di-kali-bekasi #penemuan-7-mayat-di-kali-bekasi
(Kompas.com) 05/10/24 11:36
v/16010000/
BEKASI, KOMPAS.com - Teka-teki penyebab kematian tujuh remaja yang jasadnya ditemukan mengapung di Kali Bekasi, Kota Bekasi, Minggu (22/9/2024) pagi, akhirnya terungkap.
Polisi menyimpulkan, ketujuh remaja ini tewas karena tenggelam usai menceburkan diri ke Kali Bekasi.
Mereka meloncat ke sungai tak lama setelah Tim Perintis Patroli Presisi Polres Metro Bekasi Kota mendatangi sebuah gubuk atau warung yang berada di bantaran Kali Bekasi, Jalan Satopati, Kelurahan Bojong Menteng, Kecamatan Rawalumbu, Sabtu (21/9/2024) dini hari.
Gubuk ini menjadi tempat sekitar 60-90 remaja berkumpul dalam rangka merayakan ulang tahun kelompok gengster Cikunir All Stars yang hendak mencari lawan aksi tawuran.
Adapun mereka yang tewas tenggelam di Kali Bekasi yakni, Muhamad Farhan (20), Rizki Ramadan (15), Ridho Darmawan (15), Rezky Dwi Cahyo (16), Ahmad Davi (16), Muhammad Rizky (19), dan Vino Satriani (15).
Tewas tenggelam
Dari hasil penyidikan, Polres Metro Bekasi Kota menyimpulkan tujuh remaja tewas karena tenggelam usai menceburkan diri ke sungai.
Para remaja ini meloncat ke sungai setelah digerebek Tim Perintis Patroli Presisi Polres Metro Bekasi Kota.
"Dari ketujuh jenazah, dapat disimpulkan dari hasil luar, otopsi dan toksikologi meninggal karena tenggelam," kata Kasat Reskrim Polres Metro Kota Bekasi Komisaris Audy Joize Oroh dalam konferensi pers di Markas Polres Metro Bekasi Kota, Jumat (4/10/2024) siang.
Kesimpulan lainnya, tujuh korban dan puluhan remaja lainnya berkumpul di gubuk bantaran Kali Bekasi dalam rangka merayakan ulang tahun kelompok gengster Cikunir All Stars.
Selain perayaan ulang tahun ini, para remaja ini juga disebut akan menggelar aksi tawuran dengan mencari calon lawan secara acak.
"Perkumpulan gengster dalam rangka ulang tahun geng Cikunir All Stars," terang dia.
Berhamburan sebelum polisi tiba di gubuk
Audy mengatakan bahwa para remaja sudah berhamburan melarikan diri sebelum Tim Perintis Patroli Presisi tiba di gubuk bantaran Kali Bekasi.
"Jadi, tim patroli belum sampai di lokasi tersebut, sekumpulan anak muda itu sudah berlarian berhamburan," ujar Audy dalam konferensi pers di Markas Polres Metro Bekasi Kota, Jumat (4/10/2024).
Audy bilang, saat tim patroli tiba di gubuk, para remaja tersebut melarikan diri ke berbagai arah. Salah satunya meloncat ke Kali Bekasi yang berada tepat di belakang gubuk tempat mereka berkumpul.
Ada pula beberapa remaja yang tetap berdiam diri di gubuk dan akhirnya pasrah ditangkap petugas.
Sedangkan mereka yang meloncat ke Kali Bekasi, empat remaja di antaranya kembali ke daratan setelah ditolong oleh Tim Perintis Patroli Presisi.
Namun mereka yang tetap nekat mengarungi Kali Bekasi ditemukan tewas.
"Ada sekitar empat orang (yang kembali ke daratan). Ini yang diketahui oleh tim patroli, sehingga tim patroli memberikan pertolongan kepada empat orang tersebut," ungkap dia.
Tak ada tembakan
Polisi juga memastikan Tim Perintis Patroli Presisi tak melakukan penembakan saat membubarkan puluhan remaja.
Hal ini didasari pengakuan dari 23 saksi mata di lokasi yang menyatakan tak mendengar adanya suara tembakan dari anggota polisi.
"Dari keterangan 23 saksi yang ada di tempat kejadian, itu tidak ada satu pun yang mendengar adanya suara tembakan," tegas Audy.
Selain merujuk keterangan 23 saksi, polisi juga telah meminta klarifikasi kepada sembilan anggota Tim Perintis Patroli Presisi.
Dalam klarifikasi ini, seluruh anggota Tim Perintis Patroli Presisi menyatakan sama sekali tidak melakukan penembakan untuk membubarkan massa.
"Dari tim patroli sendiri tidak ada yang mengeluarkan tembakan. Jadi dipertegas kembali tidak ada yang mendengar tembakan dan mengeluarkan tembakan," imbuh dia.
Ditemukan kadar alkohol dan pasir di jasad korban
Pusat Laboratorium Forensik (Puslabfor) Bareskrim Mabes Polri menyatakan jasad tujuh remaja tewas tersebut positif mengandung alkohol.
Hal itu disimpulkan Tim Pemeriksa Toksikologi Puslabfor Bareskrim Polri usai memeriksa organ hati, lambung, dan usus dari masing-masing jasad korban.
"Untuk pemeriksaan alkohol, kami temukan di semua organ tubuh dari ketujuh korban itu positif alkohol jenis etanol dengan berbagai variasi kadar atau konsentrasi," ujar anggota Puslabfor Bareskrim Mabes Polri AKP Helmiady.
Adapun Puslabfor Bareskrim Mabes Polri memeriksa toksikologi terhadap tiga organ dari ketujuh jasad korban di Laboratorium Toksikologi Forensik Puslabfor Bareskrim Mabes Polri pada 23 September 2024.
Dalam pemeriksaan tersebut, petugas menggunakan lima parameter pemeriksaan terhadap organ hati, lambung, dan usus dari masing-masing jasad korban.
Kelima parameter pemeriksaan tersebut mencakup pemeriksaan dugaan racun pestisida, racun arsenik, racun sianida, alkohol, dan bahan kimia lainnya.
Hasilnya, tiga jenis organ tubuh dari masing-masing jasad korban tidak ditemukan kandungan racun pestisida, racun arsenik, dan racun sianida.
"Kemudian untuk bahan kimia lainnya, kami temukan di semua organ tubuh. Kami melakukan identifikasi, terdeteksi bahan kimia kafein...," kata Helmiady.
Sementara hasil pemeriksaan Rumah Sakit Polri pada bagian dalam jasad menemukan adanya kandungan pasir, lumpur, dan tumbuhan air yang tersebar di beberapa organ tubuh korban.
"Pemeriksaan dalam kami temukan pasir, lumpur di saluran pencernaan dan pernapasannya. Kemudian kami ambil sampel getah paru dan di sumsum kami temukan ganggang atau tumbuhan air," ujar Dokter Spesialis Forensik dan Medikolegal RS Polri, Farah.
Sedangkan dari pemeriksaan pada bagian luar tubuh ketujuh korban menunjukkan kondisi jasad sudah membusuk lanjut dan masih berpakaian yang basah.
"Jadi pakaiannya basah, tangannya keriput terendam dalam air," imbuh dia.
Tak ada pelangggaran anggota
Bidang Profesi dan Pengamanan (Propam) Polda Metro Jaya menyebut, tidak ada pelanggaran disiplin maupun kode etik anggota dalam kasus tewasnya tujuh remaja di Kali Bekasi.
"Hasilnya adalah tidak ditemukan adanya pelanggaran disiplin dan atau tidak ditemukan adanya pelanggaran kode etik," ujar Kabid Humas Polda Metro Jaya Kombes Ade Ary Syam Indradi.
Keluarga Tunggu Penjelasan Polisi soal Penyebab Kematian 7 Remaja di Kali Bekasi
Keluarga saat ini memerlukan penjelasan langsung dari Polres Metro Bekasi Kota perihal tindakan Tim Perintis Presisi ketika membubarkan para remaja. Halaman all [456] url asal
#7-mayat-di-kali-bekasi-pelaku-tawuran #penemuan-7-mayat-di-kali-bekasi #kematian-remaja-bekasi
(Kompas.com) 30/09/24 22:12
v/15789470/
BEKASI, KOMPAS.com - Keluarga VS (15), satu dari tujuh remaja yang ditemukan tewas di Kali Bekasi menantikan itikad polisi untuk menjelaskan penyebab kematian remaja itu.
"Kami masih menunggu itikad baik dari Kapolres atau tidak Kasat Reskrim datang menemui kami," kata kuasa hukum keluarga VS, Victor Christian, Senin (30/9/2024).
Keluarga saat ini memerlukan penjelasan langsung dari Polres Metro Bekasi Kota perihal tindakan Tim Perintis Presisi ketika membubarkan para remaja.
"Butuh kejelasan kepastian kenapa anaknya bisa meninggal tidak wajar terus kami tidak tahu sudah sampai mana tahapannya," ujar dia.
Victor mengaku mendapatkan informasi ada petugas yang menyelamatkan salah satu remaja yang meloncat ke Kali Bekasi karena tak kuat berenang.
Oleh sebab itu, dia mempertanyakan apakah ada faktor pembiaran sehingga remaja lain akhirnya tidak diselamatkan.
"Apakah polisi itu melihat atau pura-pura tidak melihat, soalnya kan saya dapat info ada yang diselamatkan karena tidak kuat berenang," imbuh dia.
Diberitakan, warga dibuat geger dengan penemuan tujuh jasad remaja yang mengapung di Kali Bekasi, Jatiasih, Minggu (22/9/2024) pagi.
Mereka adalah remaja yang semula hendak melakukan aksi tawuran, tetapi kocar-kacir melarikan diri lantaran digerebek Patroli Perintis Presisi.
Kasat Reskrim Polres Metro Kota Bekasi Komisaris Audy Joize Oroh mengungkapkan, ketujuh remaja itu merupakan bagian dari sekitar 60 remaja yang sedang berkumpul di gubuk di Jalan Satopati pada Sabtu (21/9/2024) pukul 03.00 WIB.
Gubuk atau bedeng itu terletak di Jalan Satopati, tepatnya di depan PT Gudang Semen Merah Putih, Bojong Menteng, Rawalumbu.
Mereka menggunakan sekitar 30 unit motor yang diparkir di dekat gubuk.
"Berdasarkan keterangan saksi, diperoleh fakta bahwa di tempat tersebut mereka ini melakukan aktivitas minum-minuman keras beralkohol," ujar Audy dalam konferensi pers di kantornya, Senin.
Diduga, aktivitas itu dilakukan sebelum aksi tawuran. Sebab, mereka juga membawa aneka jenis senjata tajam.
Total, polisi mengamankan 22 remaja pada dini hari itu. Tiga orang remaja di antaranya kedapatan membawa aneka senjata tajam.
Barang bukti yang diperoleh, yakni 21 bilah senjata tajam, 30 unit sepeda motor, dan 8 unit telepon genggam.
7 Mayat di Kali Bekasi: Patroli Berujung Tragedi - kumparan.com
Tujuh jasad remaja ditemukan mengapung di Kali Bekasi. Mereka tenggelam saat diduga melarikan diri dari patroli polisi. Mengapa pencegahan tawuran sampai berujung tragedi? #kumparanNEWS [2,424] url asal
#kali-bekasi #polisi #tawuran #bekasi
(Kumparan.com) 30/09/24 18:47
v/15776753/
Warga yang tinggal di sepanjang tanggulKali Bekasitidak hanya sekali itu saja menemukan mayat mengapung di air. Tapi belum pernah sampai 5 atau7 mayatseperti akhir pekan itu. Jumlah yang menggemparkan.
***
Eko Santoso yang kerap disapa Mbah Jambrong menyambut pagi seperti hari-hari sebelumnya. Ia penjaga sungai Bekasi. Usai ibadah subuh, ia olahraga dan memberi makan ternak ayamnya yang dikandang di kaki tanggul.
Hari itu, Minggu (22/9), Eko mengulang aktivitas paginya, meski kemudian ternyata berjalan berbeda dari sekadar memantau sungai. Sekitar pukul 06.00, seorang ibu, warga lain yang rumahnya hanya selemparan batu dari pos pantau Eko, memanggil-manggil minta tolong.
Ia dan ibu-ibu lain dari komunitas pecinta kucing sedang beraktivitas di sekitar tanggul kali. Mereka memberi makan kucing, kegiatan rutin sebelum matahari terbit terang. Namun dari atas tanggul pembatas, ibu-ibu itu melihat onggokan hitam mengapung di sungai. Mereka lalu meminta tolong kepada Eko dan bapak-bapak lain untuk mengecek.
Kecurigaan ibu-ibu tadi benar. Onggokan hitam mengapung dan terpencar-pencar itu adalah mayat. Jasad manusia. Tidak hanya satu, tapi lima. Tiga berjejer di area dangkal, lainnya terseret ke pinggiran kali.
Eko langsung melaporkan penemuan mayat itu ke Bimaspol Jatiasih. Sekitar pukul 07.00, Tim Polres Kota Bekasi pun tiba di lokasi. Lima mayat dievakuasi—yang kemudian bertambah jadi enam mayat karena mayat yang ada di pinggir kali ternyata bertumpuk dua.
Jasad-jasad itu dinaikkan ke darat dan dimasukkan ke kantong jenazah. Evakuasi oleh kepolisian itu dibantu Basarnas. Tak disangka, dalam proses evakuasi itu, mayat bertambah lagi.
“Waktu nunggu Basarnas, muncul lagi mayat di depan Pos Pemantau Sungai [dekat telemetri ketinggian air]. Jadinya total 7 mayat,” kata Eko sambil menunjukkan posisi penemuan mayat kepada kumparan, Rabu (25/9).
Setelah mengevakuasi 7 mayat, petugas kepolisian dan Basarnas melanjutkan pencarian. Mereka menyisir sungai dan mengobok-obok genangan di pertemuan Sungai Cileungsi dan Sungai Cikeas yang kedalamannya diperkirakan mencapai 6–7 meter kala air surut.
Penyisiran dilakukan hingga sore hari. Pukul 17.00, pencarian dihentikan. Tujuh mayat yang ditemukan dibawa ke RS Polri Kramat Jati untuk diidentifikasi. Mayat-mayat ditemukan dalam kondisi tanpa kartu identitas atau tanda pengenal. Yang diketahui saat evakuasi hanyalah bahwa mereka masih remaja.
“Kondisinya agak membengkak, cuma belum membusuk,” imbuh Eko.
Tujuh mayat remaja itu ditemukan di hulu Sungai Bekasi, pertemuan Kali Cileungsi dan Cikeas, persis di samping Masjid Al Ikhlas Perumahan Pondok Gede Permai, Jatisari, Kota Bekasi.
Berdasarkan penyelidikan awal kepolisian, 7 remaja yang tewas mengambang itu diduga berkaitan dengan pembubaran kelompok pemuda yang hendak menjalankan aksi tawuran sehari sebelumnya, Sabtu dini hari (21/9).
“Jadi ada dua peristiwa: (1) temuan jenazah [pada Minggu pagi]; setelah kami lakukan penyelidikan, ternyata ada benang merahnya dengan (2) rencana tawuran pada Sabtu dini hari,” kata Kasat Reskrim Polres Metro Bekasi Kota Kompol Audy Joize Oroh kepada kumparan di kantornya, Jumat (27/9).
Tujuh mayat remaja itu diperkirakan merupakan bagian dari 50–60 anak muda yang lari kocar-kacir dari Tim Patroli Presisi Polresta Bekasi pada Sabtu dini hari. Dari puluhan orang itu, belasan di antaranya diduga lompat ke sungai. Tujuh dari mereka kemudian mati, diduga karena tenggelam.
Dugaan awal polisi tersebut disimpulkan setelah petugas memeriksa 22 anak muda yang diamankan Polsek Rawalumbu pada Sabtu dini hari. Anak-anak remaja itu dimintai keterangan, konfirmasi, dan klarifikasi atas foto-foto jenazah yang ditemukan di Kali Bekasi.
“Setelah diperlihatkan satu-satu foto [jenazah], ternyata benar ada satu orang yang mengenal karena itu merupakan kerabatnya,” ujar Audy.
Pembubaran rencana tawuran oleh Tim Patroli Polresta Bekasi dilakukan di sebuah warung berupa gubuk di Jalan Cipendawa Baru, Bojong Menteng, Kecamatan Rawalumbu, persis di seberang Masjid Al Ikhlas Pondok Gede Permai.
Lokasi itu hanya ramai pada siang hari, sebab warung cuma buka sampai pukul 15.00 dan di sekitarnya tidak ada rumah-rumah warga; hanya ada pabrik.
Warung gubuk yang terbuat dari bambu dan tripleks itu berada di samping Kali Bekasi. Di sana terdapat lahan yang ditanami pisang sebagai pembatas warung dan kali. Inilah tempat berkumpul puluhan pemuda pada Sabtu dini hari yang didatangi patroli polisi.
Kabid Humas Polda Metro Jaya Kombes Ade Ary Syam Indradi menerangkan, pada pukul 03.30 Sabtu dini hari, 21 September itu, anggota Tim 1 Presisi Polresta Bekasi, Bripda B yang bertugas memantau melalui Instagram Live, mendapati kelompok yang menamakan diri geng per3an_bojong berencana tawuran dengan geng CikunirAllStar.
Bripda B kemudian melapor ke Ketua Tim 1 Presisi terkait rencana tawuran di Cipendawa, Bojong Menteng, Kecamatan Rawalumbu, Kota Bekasi itu. Tim Patroli Presisi lalu bergerak menuju lokasi.
Mereka sempat salah titik dan menyusuri jalan dari Pom Bensin Shell Cipendawa, PT. MGM Bosco Logistics, sampai gudang semen, lalu belok kiri 500 meter. Di sisi kanan, terlihat warung yang sudah tutup.
“Di sana, Tim Presisi melihat kurang lebih 50 remaja yang sedang nongkrong. Kemudian saat Tim 1 Presisi mendekati lokasi berkumpul itu, orang-orang yang berada di sana langsung berhamburan dan berlarian,” kata Ade kepada kumparan, Jumat (27/9).
“Ada beberapa yang kabur dengan cara melompat ke sungai,” tambah Ade.
Beberapa di antaranya selamat dan berhasil berenang ke seberang sungai, di Perumahan Pondok Gede.
Penjelasan Ade ini selaras dengan cerita Ketua RT 4 Perumahan Pondok Gede Permai, Dasrial. Ia membenarkan bahwa pada Sabtu dini hari, sekitar jam 03.00, ada sejumlah anak muda yang berlari-lari di depan rumahnya yang hanya berjarak 2–4 rumah dari sungai.
“Saat itu kelihatan ada yang basah kuyup,” kata Dasrial kepada kumparan.
Selain anak muda lari-lari basah kuyup yang ia saksikan langsung, menurut Dasrial ada pula satu anak muda—juga basah kuyup—yang diselamatkan seorang petugas keamanan di samping Masjid Al Ikhlas. Anak-anak muda itu kemudian diamankan polisi. Mereka termasuk dalam 22 remaja yang ditangkap.
“Namanya orang nyeberang kali pasti basah, dong. Itu yang selamat terus ditangkap polisi,” tutur Dasrial.
Kompol Audy mengatakan, Tim Patroli yang turun Sabtu dini hari berjumlah 9 orang, sedangkan di warung gubuk berkumpul sekitar 50–60 orang. Jumlah tersebut merupakan perkiraan berdasarkan motor yang diamankan polisi sebanyak 30 unit (satu motor diduga untuk dua orang berboncengan).
Ketika itu, aksi tawuran belum terjadi. Menurut Audy, “Mereka kumpul [di warung] itu belum aksi. Jadi mereka baru live Instagram, mengajak rekan-rekannya untuk berkumpul di situ.”
Meski begitu, kepolisian mengamankan 22 orang. Tiga diantaranya ditetapkan sebagai tersangka dengan sangkaan membawa senjata tajam di tempat umum (merujuk ke Pasal 2 ayat 1 Undang-Undang Darurat No. 12 Tahun 1951) sebab ketiganya tertangkap tangan di gubuk tersebut membawa senjata tajam.
“Tim berhasil mengamankan 21 orang laki-laki dan 1 orang perempuan, dan 21 bilah senjata tajam. Terdapat 3 orang yang tertangkap tangan membawa senjata tajam,” jelas Ade.
Menurut polisi, kumpul-kumpul di gubuk tersebut adalah untuk perencanaan aksi. Polisi menyebut anak-anak muda tersebut menggunakan kode “pesta” guna menyamarkan rencana aksi tawuran.
“Mereka menyampaikan [lewat IG Live] akan pesta. Setelah kami dalami lebih lanjut, ‘pesta’ ini merupakan ajakan mereka untuk tawuran,” ujar Audy.
Di sisi lain, dari keterangan keluarga korban, Sofyan yang merupakan kakak almarhum Ahmad Davi, menyebutkan bahwa di warung gubuk yang tutup itu belum sempat terjadi apa-apa. Korban disebut tak menjumpai aksi apa pun.
Menurut Sofyan, berdasarkan keterangan teman Davi yang selamat, anak-anak muda itu ke gubuk tersebut untuk mampir ngopi-ngopi. Tujuan utamanya untuk menghadiri acara ulang tahun di daerah Cikunir.
“Posisi mereka pun baru sampai parkiran, karena sampai di situ sudah ada [rombongan] yang lain di gubuk itu lagi pada duduk di situ. Sampai di parkiran, turun [motor] sebentar. Ngobrol di parkiran saja, enggak sampai duduk di gubuk itu. Kurang lebih 10 menitan, ada polisi, ada Tim Perintis Presisi. Langsung menyergap, mereka lari kocar-kacir,” kata Sofyan kepada kumparan, Kamis (26/9).
Di gubuk dekat gudang semen tersebut, anak-anak muda itu disebut hanya nongkrong, tak ada tawuran. Tapi mereka berlarian tak keruan setelah patroli polisi menghampiri, yang diduga diiringi letusan yang makin membuat mereka kocar-kacir dan nekat melompat ke sungai.
“Saksi yang selamat bilang, katanya terdengar suara tembakan. Kan ada statement juga dari Kapolres Kota Bekasi, ada suara tembakan. Ya sudah, akhirnya mereka lari ke mana saja karena panik, termasuk yang mencebur ke kali,” kata Sofyan.
Sofyan mengatakan, berdasarkan keterangan teman Davi yang selamat, setidaknya ada 15 orang yang nekat menceburkan diri ke Sungai Bekasi dalam kondisi panik, termasuk Davi, adiknya yang berakhir mengapung tak bernyawa.
Meski Kombes Dani sebelumnya tak menampik ada tembakan untuk membubarkan para remaja yang diduga hendak tawuran, Kasat Reskrim Komisaris Audy di kemudian hari membantah adanya lepasan tembakan saat membubarkan anak-anak muda itu.
Menurut Audy, dari 22 remaja yang diamankan dan dimintai keterangan, tidak ada yang mendengar ledakan atau letusan.
“Keterangan dari saksi yang kami amankan dengan tim patroli, juga ada kesesuaian kalau memang tidak ada suara tembakan atau letusan,” tegas Audy.
Sebanyak 17 anggota Tim Patroli memang sempat diperiksa Propam Polri usai penemuan mayat yang diduga berawal dari patroli Sabtu dini hari. Mereka yang diperiksa adalah 10 anggota dari Polres Bekasi Kota, 3 anggota Polsek Jatiasih, dan 4 Polsek Rawalumbu.
Pemeriksaan terhadap 17 anggota itu dilakukan Propam bersama auditor eksternal, yakni Kompolnas dan Komisi III DPR. Mereka menggali apakah penanganan dan pencegahan tawuran dilakukan sesuai prosedur.
Hasilnya, disimpulkan tidak ada tembakan saat pembubaran massa di gubuk di tepi Kali Bekasi seberang Masjid Al Ikhlas.
Komisioner Kompolnas Poengky Indarti menegaskan hal serupa. Dari pemantauan ke TKP, penjelasan dari Polresta Bekasi dan para tersangka, Kompolnas menyimpulkan tak ada tembakan peringatan pada pembubaran rencana tawuran Sabtu dini hari tersebut.
Misteri tembakan dianggap krusial sebab dikaitkan dengan dugaan kelalaian anggota kepolisian dalam menjalankan tugas. Tembakan peringatan menyangkut SOP patroli dan pembubaran massa.
Pengamat kepolisian dari Institute for Security and Strategic Studies (ISESS) Bambang Rukminto menerangkan, tidak ada SOP khusus dalam penanganan tawuran, sebab menjadi satu kesatuan dengan aturan terkait penanganan aksi huru-hara.
Dalam aturannya, lanjut Bambang, tembakan peringatan bisa dilepas bila ada ancaman yang membahayakan, baik untuk polisi maupun masyarakat sekitar, misalnya bila pelaku aksi tawuran mengacungkan senjata tajam.
“... membawa celurit di tengah jalan, kemudian mengacung-acungkannya ke kiri dan kanan, itu membahayakan. Kalau seperti itu polisi berhak melakukan tembakan untuk menghentikan perilaku mereka; tentunya harus dimulai dengan tembakan peringatan lebih dulu,” papar Bambang.
Namun, bila ada suara letusan di Tragedi Kali Bekasi seperti cerita yang didapat keluarga korban, hal itu janggal karena para remaja tersebut belum tawuran.
Pasal 8 Peraturan Kepala Kepolisian Negara Republik Indonesia Nomor 1 Tahun 2009 tentang Penggunaan Kekuatan dalam Tindakan Kepolisian menyebutkan bahwa penggunaan senjata adalah yang terakhir.
Bedil dipakai pada tahap akhir dan dalam kondisi memaksa.
Berikut bunyi Pasal 8 tersebut:
(1) Penggunaan kekuatan dengan kendali senjata api atau alat lain sebagaimana dimaksud dalam Pasal 7 ayat (2) huruf d dilakukan ketika:
a. tindakan pelaku kejahatan atau tersangka dapat secara segera menimbulkan luka parah atau kematian bagi anggota Polri atau masyarakat;
b. anggota Polri tidak memiliki alternatif lain yang beralasan dan masuk akal untuk menghentikan tindakan/perbuatan pelaku kejahatan atau tersangka tersebut;
c. anggota Polri sedang mencegah larinya pelaku kejahatan atau tersangka yang merupakan ancaman segera terhadap jiwa anggota Polri atau masyarakat.
(2) Penggunaan kekuatan dengan senjata api atau alat lain sebagaimana dimaksud pada ayat (1) merupakan upaya terakhir untuk menghentikan tindakan pelaku kejahatan atau tersangka.
(3) Untuk menghentikan tindakan pelaku kejahatan atau tersangka yang merupakan ancaman segera terhadap jiwa anggota Polri atau masyarakat sebagaimana dimaksud pada ayat (1), dapat dilakukan penggunaan kendali senjata api dengan atau tanpa harus diawali peringatan atau perintah lisan.
Wakil Ketua Komisi III DPR Ahmad Sahroni meminta kepolisian objektif dan transparan mengusut Tragedi Kali Bekasi. Ia mendorong Polri selalu mengedepankan prinsip-prinsip HAM dalam menjalankan tugas, termasuk ketika melakukan patroli.
“Dalam kasus di Bekasi kemarin, info yang saya dapat memang para remaja sedang kumpul-kumpul dan polisi melakukan patroli. Jika selanjutnya ada yang kabur hingga meloncat ke sungai dan meninggal, kita perlu dalami lagi satu per satu kejadiannya, yaitu kenapa mereka sampai harus loncat? Apakah benar akibat disulut oleh tembakan peringatan itu?” kata Sahroni.
Politisi NasDem itu yakin kepolisian sudah memiliki SOP dalam menjalankan patroli, dan itu wajib tetap diterapkan seiring ditingkatkannya giat patroli.
“Patrolinya menurut saya sudah tepat karena sesuai dengan tugas Polri untuk melindungi dan melayani masyarakat. Apalagi tawuran dan kejahatan jalanan kini kian marak. Kita harus memastikan juga warga merasa aman dan terlindungi,” tambah Sahroni.
Anggota Komisi III dari PDIP, I Wayan Sudirta, mengatakan bahwa penyebab Tragedi Kali Bekasi belum bisa disimpulkan.
“Kita belum menyimpulkan ada kelalaian [polisi] atau tidak. Belum pada posisi itu. Kita baru temukan info awal untuk konfirmasi. Ini harus terang-benderang karena menyangkut 7 nyawa manusia,” kata Wayan.
Bambang juga menilai, kepolisian tak bisa ujug-ujug disalahkan dalam kasus ini, sebab pencegahan tawuran juga perlu untuk menjamin ketertiban masyarakat.
Namun, Bambang meminta polisi menggunakan cara-cara humanis dalam mendekati masyarakat, terutama remaja, misalnya bagaimana agar sirene dan patroli pencegahan tak jadi momok.
“Kalau dulu ada polisi sahabat anak, sekarang polisi jadi sahabat remajalah. Dibikin seperti itu…” imbuhnya.
Ade Ary menyebut anggota kepolisian yang berpatroli Sabtu dini hari itu sudah sesuai SOP, yakni mengedepankan cara preventif sebagaimana pesan Kapolda Metro Jaya.
Terkait keluarga korban yang menyebut korban diduga ditabrak tim patroli, hal ini dibantah Komisaris Audy. Menurutnya, polisi memang menemukan kata-kata “polisi tabrak” dari beberapa saksi, namun itu bukan secara harfiah, melainkan istilah atau kode yang digunakan para remaja itu untuk mengabari bahwa mereka didatangi patroli polisi.
“Maksudnya ‘tabrakan’ itu adalah anggota polisi datang ke tempat itu. Jadi bukan seperti menabrakkan mobil ke motor, atau mobil ke orang. Enggak seperti itu,” jelas Audy.
Sementara itu, Kombes Ade mengatakan, berdasarkan data Biro Operasi Polda Metro Jaya, sepanjang Januari sampai September 2024 dilakukan 101.122 kali operasi pencegahan tawuran. Adapun data tawuran di wilayah hukum Polda Metro Jaya pada 29 Juli–22 September 2024 mencapai 111 kali dengan 24 korban meninggal dunia.
Tujuh jasad Tragedi Kali Bekasi kini telah teridentifikasi dan sudah diserahkan ke keluarga masing-masing. Mereka adalah Muhammad Rizki (19), Ahmad Dafi (16), Muhamad Farhan (20), Rizki Ramadan (15), Ridho Darmawan (15), Resky Dwi Cahyo (16), dan Vino Satriani (15).
Ketujuhnya berhasil diidentifikasi lewat pencocokan data postmortem dan antemortem. Identifikasi dilakukan lewat pencocokan DNA, sidik jari, dan properti korban dengan data keluarga.
Saat ini jenazah korban sudah diterima keluarga meski polisi belum mengungkap penyebab kematian mereka.
“Diharapkan dalam waktu dekat kita sudah dapat memperoleh hasil autopsi dari ketujuh jenazah tersebut,” ujar Ade.
Pemeriksaan lab kini masih dilakukan tim kedokteran forensik dan DVI RS Polri Soekanto. Para ahli yang diturunkan meliputi tim gabungan dari internal Polri, yakni Pusdokkes, RS Polri, Puslabfor, Pusinafis, serta dari eksternal yaitu RSCM FK Universitas Indonesia.
Kepala Bidang Pelayanan Kedokteran RS Bhayangkara Polri Kombes Hery Wijatmoko menyatakan, pemeriksaan penyebab kematian tujuh korban di Kali Bekasi masih berlangsung, dan ia tak bisa memastikan berapa lama waktu yang dibutuhkan untuk menyelesaikannya.
“Tergantung labfor dan lab PA (patologi anatomi),” tutup Hery.
Polda Metro: Tak Ada Tembakan saat Polisi Bubarkan Tawuran Dekat Kali Bekasi - kumparan.com
Keluarga korban tewas di Kali Bekasi sempat menyebut ada yang mendengar tembakan saat pembubaran tawuran berlangsung. Apa yang terjadi di malam mencekam itu? #kumparanNEWS [1,602] url asal
(Kumparan.com) 30/09/24 18:24
v/15776763/
Tujuh mayat ditemukan mengambang di Kali Bekasi pada Minggu (22/9). Jasad tujuh remaja yang sempat menghebohkan warga itu memunculkan misteri: apa gerangan yang menyebabkan mereka tewas di sana.
Peristiwa ini rupanya berkelindan dengan operasi Tim Patroli Perintis Presisi Polresta Bekasi pada hari sebelumnya, Sabtu (21/9) dinihari. Anggota kepolisian berupaya menindak para remaja yang nongkrong dan diduga hendak melakukan tawuran.
Saat polisi tiba, remaja yang tengah nongkrong di gubuk dekat Gudang Semen Merah Putih Jatiasih itu lari kocar-kacir, sebagian bahkan nekat lompat ke Kali Bekasi yang berjarak 50 meter dari sungai. Mereka yang nahas ditemukan tewas.
Keluarga korban Kali Bekasi sempat menyebut ada yang mendengar tembakan saat pembubaran tawuran berlangsung? Apa yang terjadi di malam mencekam itu? Bagaimana patroli polisi bisa berujung tewasnya korban jiwa?
Simak wawancara kumparan dengan Kabid Humas Polda Metro Jaya Kombes Pol. Ade Ary Syam Indradi.
Pada hari Sabtu, 21 September 2024, jam 03.30 WIB, anggota Tim 1 Presisi atas nama BRIPDA BP bertugas melakukan pemantauan melalui Live Instagram. Didapati kelompok yang menamakan diri Geng per3an_bojong berencana melakukan tawuran melawan Geng CikunirAllStar.
Selanjutnya, anggota Presisi tersebut, BRIPDA BP, melaporkan kepada Kepala Tim 1 Presisi terkait adanya rencana tawuran oleh dua geng tersebut di Cipendawa, Bojong Menteng, Kecamatan Rawalumbu.
Selanjutnya, Tim Presisi bergerak menuju ke lokasi, namun sempat terjadi mislokasi… Akhirnya Tim Presisi menyisir mulai dari Pom Bensin Shell Cipendawa sampai PT. MGM Bosco, lalu pabrik (gudang) semen, belok kiri 500 meter di sebelah kanan terdapat warung yang sudah tutup.
Di sana Tim Presisi melihat kurang lebih 50 remaja yang sedang nongkrong. Kemudian saat Tim 1 Presisi mendekati lokasi berkumpul itu, orang-orang yang berada di lokasi tersebut langsung berhamburan dan berlarian. Beberapa orang diamankan, namun ada beberapa yang kabur dengan cara melompat ke sungai.
Beberapa orang yang melompat ke sungai berhasil diselamatkan atas nama F dan AF. Berdasarkan keterangan F dan AF, memang benar ada beberapa orang yang kabur dengan cara melompat ke sungai. Berdasarkan keterangan orang-orang yang diamankan, mereka mengikuti kegiatan [kumpul-kumpul] tersebut karena diundang temannya, sehingga mereka tidak saling kenal satu dengan yang lain.
Tim Presisi mengumpulkan berapa orang yang berhasil diamankan beserta barang bukti senjata tajam. Tim berhasil mengamankan 21 orang laki-laki dan 1 orang perempuan, juga 21 bilah senjata tajam, di mana terdapat 3 orang yang tertangkap tangan membawa senjata tajam.
Kemudian pada hari Minggu, 22 September 2024, pukul 06.00, saksi atas nama US menerangkan sebagai berikut:
Awalnya pada saat akan memberi makan kucing, kucing saya ternyata nggak ada, kemudian saya cari ke pinggir kali. Pada saat saya memperhatikan di tengah-tengah kali, saya melihat ada dua mayat saling berpelukan menggunakan kaos hitam.
Selanjutnya saya memanggil bapak-bapak yang sedang lewat untuk memastikan apakah itu mayat atau bukan. Saat dicek ke tengah kali, diberitahukan ke saya bahwa benar itu mayat. Ada 5 orang (jasad) dan 3 berpelukan. Setelah saya mengetahui itu mayat, saya langsung pulang karena syok, namun ada beberapa warga yang ramai pada saat itu.
Kemudian beberapa warga bertemu mantan ketua RW yang bernama MS yang berjalan di dekat Masjid Al-Ikhlas [di seberang warung tempat kumpul anak-anak muda itu] yang memberi tahu melihat jenazah di kali. Kemudian Sdr. MS mengecek kali tersebut dan benar telah ditemukan 5 jenazah. Kemudian Sdr. MS langsung memberitahu Sdr. ES (Eko Santoso, penjaga Kali Bekasi).
Setelah tahu laporan tersebut dari Sdr. MS, Sdr. ES langsung melapor ke Polsek dan Koramil serta BPBD Kota Bekasi. Selanjutnya Tim [Gabungan] turun ke TKP di Kali Bekasi. Kemudian dilihat timbul 1 jenazah lagi dari dalam air, dan belum sempat dievakuasi ternyata ditemukan lagi 1 jenazah di depan pos pantau banjir KP2C (Komunitas Peduli Cileungsi-Cikeas) sehingga total mayat ditemukan di TKP ada 7 mayat.
Apa yang dilakukan oleh anggota Perintis Presisi (membubarkan rencana tawuran) adalah sebagai wujud upaya pencegahan. Kami hadir sebagai representasi negara—menjaga keselamatan jiwa raga, harta benda, dan hak asasi manusia, selaras dengan pedoman kerja Catur Prasetya (sumpah anggota Polri saat dilantik).
Berdasarkan keterangan saksi-saksi yang berhasil diamankan, di lokasi yang disebut basecamp tersebut berkumpul kurang lebih 60–90 orang di mana kendaraan bermotor R2 (roda dua) yang berhasil diamankan sebanyak 30 unit. Saat itu petugas Tim 1 Presisi yang berpatroli sejumlah 9 personel.
Keberadaan mereka (puluhan remaja) di gubuk (warung) tersebut rata-rata izin ke orang tuanya untuk hadir di acara PESTA, ULANG TAHUN, SYUKURAN, MAKAN-MAKAN, yang ternyata merupakan kode berkumpul dengan tujuan untuk tawuran.
Untuk penyebab kematian, saat ini masih dalam proses pemeriksaan autopsi oleh Tim Kedokteran Forensik dan DVI RS Polri Soekanto. Diharapkan dalam waktu dekat kita sudah dapat memperoleh hasil autopsi dari ketujuh jenazah tersebut. Jadi masyarakat mohon bersabar.
Dibutuhkan kehati-hatian dan kecermatan untuk ketahui penyebab kematiannya. Saat ini tim ahli masih bekerja, yakni Tim Ahli Gabungan dari internal Polri (Pusdokkes, RS Polri, Puslabfor, Pusinafis) serta eksternal (RSCM FK-UI).
Pada Kamis, 25 September 2024, dua jenazah berhasil teridentifikasi berdasarkan DNA, sidik jari, gigi, ciri medis, dan properti, sehingga telah diserahkan ke pihak keluarga, dan pada 26 September, lima jenazah telah teridentifikasi dan telah diserahkan kepada keluarga. Jadi seluruh jenazah telah teridentifikasi dan diserahkan ke pihak keluarga.
Untuk proses penyelidikan tentu masih terus berjalan, dan tim penyidik Sat Reskrim Polres Metro Bekasi Kota akan melakukan pemeriksaan terhadap saksi-saksi terkait peristiwa tersebut. Untuk pada tersangka yang membawa senjata tajam, kami kenakan UU Darurat No. 12/1951.
Selain itu, masih dilakukan pemeriksaan autopsi dan toksikologi untuk memastikan penyebab kematian.
Dapat kami jelaskan dan luruskan terkait hal tersebut, berdasarkan keterangan saksi-saksi yang telah diperiksa oleh Tim Penyidik Sat Reskrim Polres Metro Bekasi Kota yang telah memeriksa 22 saksi yang diamankan oleh Tim Patroli Perintis Presisi, diperoleh fakta bahwa saksi-saksi yang diperiksa tidak mendengar suara letusan ataupun tembakan.
Tim Penyidik juga mengambil keterangan dari Tim Patroli Presisi, di mana keterangan yang diperoleh sesuai, bahwa tidak ada petugas yang mengeluarkan tembakan.
Hasil audit internal Propam dan eksternal dari Kompolnas [juga menyatakan] tidak ditemukan bukti adanya tembakan. Hal ini juga dikuatkan oleh keterangan dari saksi-saksi masyarakat di lapangan serta Tim Komisi III DPR yang turun langsung ke TKP.
Ada SOP terkait pemeriksaan DVI (disaster victim identification). Kami terapkan standar tertinggi dalam hal scientific crime investigation. Kami harus cermat dan tidak boleh buru-buru. Dan untuk melihat jenazah itu tidak memungkinkan dikarenakan kondisi jenazah yang sudah pada tahap pembusukan lanjut.
Prosedur di kamar mayat, keluarga tidak melihat jenazah. Jenazah didokumentasikan oleh Tim Identifikasi, baik wajah maupun properti yang melekat padanya.
Keluarga yang merasa kehilangan [anggota keluarga] silakan datang dan melapor ke Tim Antemortem untuk menyampaikan ciri-ciri orang yang hilang serta melengkapi dokumen/data yg dibutuhkan sebagai pembanding.
Selanjutnya pemeriksaan jenazah dengan mengumpulkan data postmortem (sesudah kematian). Data postmortem ini kemudian dicocokkan dengan data antemortem (sebelum kematian) dalam proses rekonsiliasi. Jika ternyata cocok, maka dinyatakan teridentifikasi.
Selanjutnya hasil identifikasi diinfokan kepada keluarga. Saat [jasad] akan diserahkan, keluarga dipersilakan apabila berkenan melihat jenazah. Saat proses tersebut keluarga didampingi Tim Psikologi RS.
Bapak Kapolda Metro [Irjen Pol. Karyoto] berkomitmen bahwa penanganan dilakukan secara profesional. Untuk menangani kasus ini kami libatkan audit internal dan external. Audit internal dari Propam dan eksternal dari Kompolnas serta Komisi III.
Kami sudah melaksanakan pemeriksaan terhadap 27 saksi, mulai dari anggota Polisi yang bertugas saat itu dan masyarakat yang melihat, mendengar, dan/atau mengalami sendiri kejadian tersebut.
Adapun rincian yang diperiksa dari anggota polisi sebanyak 17 personel, terdiri dari anggota Polres Bekasi Kota 10 personel, Polsek Jatiasih 3 personel, dan Polsek Rawalumbu 4 personel.
Sementara saksi dari masyarakat sebanyak 10 orang, terdiri dari 2 warga yang melihat penemuan mayat, 1 orang satpam, 4 orang yang berhasil diselamatkan Tim Presisi, dan 3 orang yang diamankan karena membawa sajam.
Bapak Kapolda Metro Jaya selalu menyampaikan kepada para Pejabat Utama dan Kapolres jajaran untuk meningkatkan upaya preemtif dan preventif, dan terhadap pelaku tawuran yang membawa Sajam agar
ditindak dengan aturan hukum yang berlaku yakni UU Darurat No 12/1951.
Perlu diketahui bahwa Data dari Dalops Biro Operasi Polda Metro Jaya Pelaksanaan Patroli dari bulan Januari-September 2024 sejumlah 101.122 (seratus satu ribu seratus dua puluh dua kali),
Sedangkan Data Tawuran di Wilayah Hukum Polda Metro Jaya dari tanggal 29 Juli – 22 September 2024 sejumlah 111 (seratus sebelas kali), dari data tawuran tsb terdapat : 24 Korban MD Tawuran dan 4 Korban Luka-luka
Untuk mengatasi masalah tersebut, maka tidak hanya sekedar melakukan patroli untuk melakukan pencegahan. Namun perlu adanya pencegahan secara komprehensif - integral. Karena fenomena tawuran ini sangat luar biasa, maka harus dilakukan dan dihadapi dengan cara-cara yang luar biasa secara komprehensif integral dengan berbagai pihak dengan melibatkan berbagai unsur, seperti halnya lembaga pendidikan, tokoh masyarakat, tokoh pemuda dan tokoh agama.
Edukasi terkait dengan bahayanya tawuran yang mengakibatkan nyawa melayang sia-sia harus digencarkan secara massif dengan berbagai kalangan. Tidak hanya dengan pendekatan hukum, namun juga dengan pendekatan sosiologis dan agama. Peran berbagai tokoh ini sangat penting, karena mereka memiliki pengaruh yang kuat ditengah masyarakat.
Kalangan remaja yang masih memiliki energi berlebih juga harus diarahkan kepada kegiatan-kegiatan positif untuk menyalurkan minat bakatnya. Baik itu di bidang olahraga, hobi dan sebagainya. Hal ini bisa dilakukan dengan bekerjasama dengan pemerintah dan stakeholder terkait. Agar menyelenggarakan turnamen-turnamen olahraga untuk menyalurkan minat bakat kalangan remaja.
Melakukan pendekatan dengan kelompok-kelompok remaja, terutama adalah pentolannya yang menjadi pimpinan, dengan mengajak berdialog dan berdiskusi mengarahkan kelompok tersebut untuk kegiatan positif.
Kami dari Polda Metro Jaya pun memasifkan dan menggiatkan Siskamling, Door to Door System yg dilakukan olh Bhabinkamtibmas, Ngopi Kamtibmas, Aktifkan Siskamling, Jumat Curhat, Police Goes To School, Polisi Sahabat Anak, untuk mendeteksi secara dini informasi akan adanya tawuran dan melakukan langkah-langkah pencegahan.
Bagi pelaku tawuran yg masih anak sekolah, Pemprov DKI pun sdh memberikan sanksi pencabutan Kartu Jakarta Pintar (KJP).
Komnas HAM Dalami Fakta Kasus 7 Remaja Tewas di Kali Bekasi
Komnas HAM memantau fakta-fakta kasus tujuh remaja tewas di Kali Bekasi untuk mendalami ada atau tidaknya unsur pelanggaran HAM. Halaman all [606] url asal
#penemuan-mayat-di-kali-bekasi #7-mayat-kali-bekasi #penemuan-7-mayat-di-kali-bekasi #mayat-di-kali-bekasi #jenazah-kali-bekasi #fakta-penemuan-mayat-di-kali-bekasi
(Kompas.com) 30/09/24 11:06
v/15762170/
BEKASI, KOMPAS.com - Komisi Nasional Hak Asasi Manusia (Komnas HAM) turut mendalami fakta-fakta kasus tujuh remaja yang ditemukan tewas mengapung di Kali Bekasi, Jatiasih, Kota Bekasi, Minggu (22/9/2024) pagi.
"Saat ini, Komnas HAM sedang mendalami fakta-faka kejadian penanganan tawuran untuk memastikan proses yang dilakukan anggota Polres Metro Bekasi dan jajarannya sesuai dengan prinsip-prinsip hak asasi manusia," ujar Komisioner Komnas HAM Uli Parulian Sihombing dalam siaran pers, dikutip Kompas.com, Senin (30/9/2024).
Uli mengatakan, lembaganya terus memantau kasus penemuan tujuh remaja yang tewas di Kali Bekasi.
Dalam pemantauan tersebut, Komnas HAM telah meminta keterangan Kapolda Metro Jaya Irjen Karyoto dan jajarannya di wilayah hukum Polda Metro Jaya.
Komnas HAM juga telah meminta keterangan Kepala Rumah Sakit Bhayangkara Tk I Pusdokkes Polri dan 10 orang yang berada di sekitar tempat kejadian perkada (TKP) Kali Bekasi.
"Melakukan peninjauan lokasi atau lapangan di Kali Bekasi, Kali Cikeas dan Kali Cileungsi," imbuh Uli.
Diberitakan sebelumnya, warga dibuat geger dengan penemuan tujuh jasad remaja yang mengapung di Kali Bekasi, Jatiasih, Minggu (22/9/2024) pagi.
Mereka adalah remaja yang semula hendak melakukan aksi tawuran, tetapi melarikan diri lantaran digerebek Patroli Perintis Presisi.
Kasat Reskrim Polres Metro Kota Bekasi Komisaris Audy Joize Oroh mengatakan, ketujuh remaja itu merupakan bagian dari sekitar 60 remaja yang sedang berkumpul di gubuk di Jalan Satopati pada Sabtu (21/9/2024) pukul 03.00 WIB.
Gubuk atau bedeng itu terletak di Jalan Satopati, tepatnya di depan PT Gudang Semen Merah Putih, Bojong Menteng, Rawalumbu.
Mereka menggunakan sekitar 30 unit motor yang diparkir di dekat gubuk.
"Berdasarkan keterangan saksi, diperoleh fakta bahwa di tempat tersebut mereka ini melakukan aktivitas minum-minuman keras beralkohol," ujar Audy dalam konferensi pers di kantornya, Senin.
Diduga, aktivitas itu dilakukan sebelum aksi tawuran. Sebab, mereka juga membawa aneka jenis senjata tajam.
Sekitar pukul 03.30 WIB, tim Patroli Perintis Presisi melintasi jalan itu.
Melihat kehadiran polisi, para remaja takut serta melarikan diri ke berbagai arah. Ada yang berlarian ke perumahan warga. Ada pula yang kabur ke arah Kali Bekasi.
"Dari keterangan para saksi, ada beberapa orang yang meloncat ke Kali bekasi dan ada beberapa yang memang tidak berani untuk meloncat karena melihat kondisi tempat yang tidak memungkinkan dan gelap," ungkap Audy.
Polisi pun hanya bisa meringkus para remaja yang tidak berani menceburkan diri ke Kali Bekasi dan beberapa remaja yang kabur ke perumahan warga. Sementara itu, para remaja yang nekat terjun ke Kali Bekasi tidak dihiraukan lagi.
Polisi menangkap 22 remaja pada dini hari itu. Sebanyak tiga di antaranya kedapatan membawa aneka senjata tajam.
Barang bukti yang diperoleh, yakni 21 bilah senjata tajam, 30 unit sepeda motor, dan 8 unit telepon genggam.
Rupanya, nasib nahas menimpa para remaja yang nekat melarikan diri dengan cara menceburkan diri ke kali. Pada Minggu pagi, warga menemukan tujuh jasad remaja mengapung di Kali Bekasi.
2 Lansia Terkunci di Rumah di Depok saat Tengah Malam, Damkar Dipanggil - kumparan.com
2 Lansia Terkunci di Rumah di Depok saat Tengah Malam, Damkar Dipanggil [118] url asal
#kali-bekasi #news #lansia #depok #damkar
(Kumparan.com - News) 30/09/24 10:58
v/15763474/
Petugas pemadam kebakaran (Damkar) menjadi andalan. Urusan terkunci di rumah Damkar dipanggil. Seperti peristiwa yang terjadi di Depok, Jawa Barat.
Mengutip akun instagram Damkar Depok @depokfirerescue, Senin (30/9), dua lansia dilaporkan terkunci di rumah mereka di kawasan Jalan Tole Iskandar Gang Musala At Taqwa, Cilodong, Depok.
Peristiwa itu terjadi pada Minggu (29/9) pukul 23.16 WIB. Mendapat laporan, Damkar langsung meluncur ke lokasi.
"Petugas dengan sigap menuju ke lokasi kejadian dan benar terdapat 2 orang lansia di dalam yang sudah terkunci ±45 menit," demikian penjelasan Damkar.
Sebenarnya dua lansia ini sudah mencoba membuka dengan upaya sendiri, namun tidak berhasil sehingga memanggil Damkar.
"Damkar evakuasi dengan cara membuka gagang pintu tanpa merusak pintu tersebut," demikian penjelasan Damkar.
Divpropam Polri Beri Atensi Kasus Penemuan 7 Mayat di Kali Bekasi
Divpropram menyatakan telah memberikan asistensi kepada Propam Kepolisian Daerah Metro Jaya dalam penanganan kasus penemuan tujuh mayat di Kali Bekasi. [304] url asal
#penemuan-mayat-di-kali-bekasi #tujuh-mayat-di-kali-bekasi #tujuh-mayat-di-bekasi #tujuh-mayat #bekasi
(Bisnis.Com) 27/09/24 06:30
v/15613607/
Bisnis.com, JAKARTA - Divisi Profesi dan Pengamanan Mabes Polri (Divpropram) menyatakan telah memberikan asistensi kepada Propam Kepolisian Daerah Metro Jaya dalam penanganan kasus penemuan tujuh mayat di Kali Bekasi, Jawa Barat, pada Minggu (22/9).
Selain itu, dia menegaskan bahwa personel Propam dilibatkan dalam pengawasan Tim Patroli Presisi Polres Metro Bekasi Kota yang bertugas menyisir geng-geng yang akan melakukan tawuran.
"Prinsipnya kami memberikan asistensi bahwa dalam penanganan kasus ini harus melibatkan pihak eksternal, seperti Kompolnas dan Indonesia Police Watch, supaya terbuka, transparan, dan objektif," kata Kepala Divisi Profesi dan Pengamanan (Propam) Polri Inspektur Jenderal Polisi Abdul Karim dilansir dari Antara, Jumat (27/9/2024).
Apabila ditemukan pelanggaran yang dilakukan anggota kepolisian, Propam Polri tidak akan segan untuk menindak.
"Pelaksanaan patrolinya itu bukan wewenang kami, tetapi kami pastikan apa yang dilakukan sesuai dengan SOP [standar operasional prosedur]. Tidak boleh di luar dari SOP itu. Kalau misalnya ditemukan itu, kami ingatkan," ucapnya.
Sebelumnya, Kepala Polres Metro Bekasi Kota Komisaris Besar Polisi Dani Hamdani tidak menampik ada suara tembakan untuk membubarkan para remaja yang hendak tawuran sebelum insiden berujung penemuan tujuh jasad di Kali Bekasi.
Berdasarkan laporan dari warga, kata Kapolres, Tim Presisi Polres Metro Bekasi Kota melakukan patroli untuk mencegah tawuran ke gubuk warung di Jalan Cipendawa yang menjadi tempat kumpul para remaja tersebut.
"Ada tembakan untuk membubarkan massa," katanya.
Kapolres juga mengungkapkan bahwa Propam Mabes Polri sudah memeriksa semua Tim Presisi Polres Metro Bekasi Kota yang berpatroli untuk menghalau aksi tawuran tersebut.
Sebelumnya, warga menemukan tujuh jasad mengambang di Kali Bekasi, tepatnya belakang Masjid Al Ikhlas Perumahan Pondok Gede Permai RT004/RW008, Jatirasa, Jatiasih, Kota Bekasi, pada Minggu (22/9/2024) pukul 06.00 WIB dan dilaporkan pada pukul 07.00 WIB.
Polisi menyatakan tujuh jasad mengambang di Kali Bekasi itu diduga karena tawuran, terlebih saat itu polisi sedang patroli untuk mencegah peristiwa itu.
RS Polri Pastikan Tidak Ada Luka pada Tujuh Jasad Remaja di Kali Bekasi
Tidak ditemukan luka terbuka, seperti bekas sayatan, tusukan, maupun patah tulang pada tujuh jenazah yang ditemukan di Kali Bekasi. Halaman all [335] url asal
#kali-bekasi #penemuan-7-mayat-di-kali-bekasi #jenazah-kali-bekasi #fakta-penemuan-mayat-di-kali-bekasi #seluruh-jasad-kali-bekasi-teridentifikasi
(Kompas.com) 27/09/24 06:11
v/15613139/
JAKARTA, KOMPAS.com - Rumah Sakit (RS) Polri Kramatjati mengonfirmasi bahwa tidak ditemukan luka terbuka, seperti bekas sayatan, tusukan, maupun patah tulang pada tujuh jenazah yang ditemukan di Kali Bekasi, Jatiasih, Kota Bekasi.
"Bahwa dari hasil pemeriksaan, tidak ditemukan bukti adanya luka-luka ataupun patah," kata Karo Dokpol Pusdokkes Polri Brigjen Nyoman Eddy Purnama di RS Polri Kramatjati, Kamis (26/9/2024).
Meski demikian, penyebab kematian ketujuh remaja tersebut belum bisa dipastikan.
"Penentuan untuk penyebab kematian masih berproses," tambah Nyoman.
Nyoman menjelaskan bahwa ada tiga tahap pemeriksaan yang dilakukan untuk mengetahui penyebab kematian para korban, yaitu pemeriksaan luar, pemeriksaan dalam, dan analisis laboratorium.
Sebelumnya, tim DVI telah berhasil mengidentifikasi lima dari tujuh jenazah remaja yang ditemukan di Kali Bekasi pada Minggu (22/9/2024). Dengan identifikasi ini, seluruh korban kini telah teridentifikasi.
"Pada hari ini, 26 September pukul 15.00 WIB, tim gabungan berhasil mengidentifikasi lima jenazah," kata Brigjen Nyoman Eddy.
Kelima korban yang teridentifikasi adalah Muhammad Farhan (20), Rizki Ramadhan (15), Rido (15), Rezki Dwi Cahyo (16), dan Vino Satariani (15).
Sebelumnya, dua jenazah lainnya, Muhammad Rizki dan Ahmad Davi (16), telah diidentifikasi lebih awal berdasarkan data DNA, gigi, sidik jari, serta ciri-ciri medis dan properti yang melekat pada tubuh korban.
7 Jenazah di Kali Bekasi Teridentifikasi, tapi Penyebab Pasti Kematian Belum Diketahui
Hingga kini, belum terungkap penyebab pasti kematian tujuh remaja yang jasadnya ditemukan di Kali Bekasii. Halaman all [300] url asal
#7-jasad-remaja-di-kali-bekasi #penemuan-mayat-di-kali-bekasi #7-mayat-kali-bekasi #penemuan-7-mayat-di-kali-bekasi #jenazah-kali-bekasi #7-jasad-kali-bekasi-teridentifikasi
(Kompas.com) 27/09/24 05:56
v/15613146/
JAKARTA, KOMPAS.com - Rumah Sakit Polri Kramatjati mengidentifikasi ketujuh jenazah yang ditemukan tewas di Kali Bekasi. Namun, hingga kini, penyebab pasti kematian belum diketahui.
Ketujuh jenazah saat ini sudah diserahkan kepada keluarga masing-masing untuk dimakamkan.
"Penentuan untuk penyebab kematian masih berproses," ujar Kepala Biro Kedokteran Kepolisian (Karo Dokpol) Pusat Kedokteran dan Kesehatan Polri Brigadir Jenderal (Pol) Nyoman Eddy Purnama di RS Polri Kramatjati, Jakarta Timur, Kamis (26/9/2024).
Ada tiga proses pemeriksaan untuk mengetahui penyebab kematian ketujuh anak yang tewas di Kali Bekasi.
"Karena ini kan penuh analisa, mengumpulkan bukti-bukti dari semua pemeriksaan, baik pemeriksaan luar, pemeriksaan dalam, dan laboratorium," ucap Nyoman.
Nyoman memastikan, tidak ditemukan adanya luka serta patah tulang pada korban.
Ketujuh jenazah yang teridentifikasi adalah Muhammad Rizki (19), Ahmad Davi (16), Muhammad Farhan (20), Rizki Ramadhan (15), Rido (15), Rezki Dwi Cahyo (16), dan Vino Satariani (15).
Mereka teridentifikasi berdasarkan data DNA, gigi, sidik jari, ciri-ciri medis, dan properti yang melekat di tubuh korban.
[POPULER JABODETABEK] Misteri Kematian 7 Remaja di Kali Bekasi | Beda Keterangan Polisi Soal Tembakan Sebelum 7 Remaja Lompat ke Kali Bekasi
Berita populer Jabodetabek dimulai dari misteri kematian tujuh remaja di Kali Bekasi sampai Anindya Bakrie hormati langkah hukum kubu Arsjad Rasjid. Halaman all [565] url asal
#kadin #anindya-bakrie #berita-populer-jabodetabek #tujuh-mayat-di-kali-bekasi #7-mayat-di-kali-bekasi #penemuan-mayat-di-kali-bekasi
(Kompas.com) 27/09/24 05:50
v/15613148/
JAKARTA, KOMPAS.com -Berita populer Jabodetabek sepanjang Kamis (26/9/2024) dimulai dari misteri kematian tujuh remaja di Kali Bekasi.
Kasus yang menghebohkan publik itu belum terang benderang lantaran masih ada teka-teki yang belum terungkap.
Berikutnya, artikel tentang beda keterangan polisi soal tembakan sebelum 7 remaja lompat ke Kali Bekasi banyak dibaca pembaca Kompas.com dan menjadi berita terpopuler lainnya.
Sementara itu, berita tentang Anindya Bakrie hormati langkah hukum kubu Arsjad Rasjid turut menarik perhatian banyak pembaca.
Berikut ini adalah paparan dari tiga berita populer Jabodetabek yang disebut di atas:
1. Misteri kematian tujuh remaja di Kali Bekasi, saksi ungkap detik-detik pembubaran polisi
Misteri penyebab kematian tujuh remaja yang ditemukan tewas di Kali Bekasi, Jatirasa, Jatiasih, Kota Bekasi, Minggu (22/9/2024), masih belum terungkap.
Ketujuh jasad itu diduga merupakan bagian dari 60 remaja yang sempat dibubarkan oleh Tim Patroli Perintis Presisi Polres Metro Bekasi Kota pada Sabtu (21/9/2024) dini hari. Mereka diduga hendak tawuran.
Rentetan kejadian ini menimbulkan banyak tanda tanya. Joko (16), bukan nama sebenarnya, memberikan kesaksian tentang peristiwa ketika ia dan 59 remaja lainnya dibubarkan polisi pada Sabtu, pukul 03.00 WIB.
Pembubaran tersebut terjadi di sebuah gubuk yang berada di depan Gudang Semen Merah Putih Jatiasih, Jalan Satopati, RT 05/RW 04, Bojong Menteng, Rawalumbu, Kota Bekasi. Baca selengkapnya di sini.
2. Beda keterangan polisi soal tembakan sebelum 7 remaja lompat ke Kali Bekasi, mana yang benar?
Teka-teki tentang suara tembakan sesaat sebelum tujuh remaja melompat ke Kali Bekasi, Jatiasih, Kota Bekasi, Jawa Barat, masih jadi tanda tanya.
Pihak kepolisian malah memberikan keterangan berbeda mengenai suara tembakan yang dimaksud.
Kapolsek Rawalumbu Kompol Sukadi membantah ada suara tembakan ketika Tim Patroli Perintis Presisi Polres Metro Bekasi Kota membubarkan puluhan remaja yang tengah berkumpul di sebuah gubuk di Jalan Cipendawa, Kelurahan Bojong Mentang, Rawalumbu, Kota Bekasi, Sabtu (21/9/2024) dini hari.
Sukadi menyebut suara kencang yang terdengar adalah bunyi ledakan. Namun, ia belum bisa memastikan dari mana bunyi ledakan tersebut berasal. Baca selengkapnya di sini.
3. Anindya Bakrie hormati langkah hukum kubu Arsjad Rasjid dalam polemik Munaslub Kadin Indonesia
Ketua Kamar Dagang dan Industri Indonesia (Kadin) hasil Munaslub, Anindya Bakrie, angkat bicara terkait langkah hukum yang akan ditempuh kubu Ketua Umum Kadin Indonesia, Arsjad Rasjid.
Anindya mengaku menghormati keputusan yang akan diambil oleh pihak Arsjad.
"Semua orang tentu kita hormatilah mempunyai pemikiran," ujar Anindya di sela kegiatan "Gebyar Pasar Kadin" di Pasar Baru, Kota Bekasi, Kamis (26/9/2024).
Ia juga membantah anggapan mengenai dualisme di internal Kadin Indonesia. Anindya menegaskan bahwa Kadin hanyalah satu. Baca selengkapnya di sini.
Nasib Nahas Vino Satriani, Remaja yang Tewas di Kali Bekasi Sehari Jelang Ulang Tahun Ke-15
Salah satu remaja yang jasadnya ditemukan di Kali Bekasi meninggal tepat sehari menjelang perayaan ulang tahunnya yang ke-15. Halaman all [541] url asal
#penemuan-mayat-di-kali-bekasi #mayat-kali-bekasi #7-jasad-di-kali-bekasi-membusuk #penemuan-7-mayat-di-kali-bekasi #jenazah-kali-bekasi
(Kompas.com) 27/09/24 05:23
v/15613152/
BEKASI, KOMPAS.com - Duka mendalam menyelimuti keluarga Vino Satriani (14), satu dari tujuh remaja yang ditemukan tewas mengapung di Kali Bekasi, Kota Bekasi, Minggu (22/9/2024).
Diketahui, ketujuh remaja ini tewas menceburkan diri ke Kali Bekasi setelah digerebek Tim Perintis Presisi ketika mereka tengah asik berkumpul di sebuah gubuk di bantaran Kali Bekasi, Sabtu (21/9/2024), pukul 03.30 WIB.
Belakangan diketahui, Vino meninggal tepat sehari menjelang perayaan ulang tahunnya yang ke-15 pada 22 September 2024.
Ayah Vino, Maulana (40) mengungkapkan, putranya sempat meminta izin keluar rumah untuk menjemput rekannya, Sanu di tempat kerjanya di Cakung, Jakarta Timur.
"Katanya di Cakung. (Vino) pakai helm, rapi. Saya biarkan namanya anak muda, merayakan ulang tahun," kata Maulana saat ditemui di kediamannya, Gang Naih, Kampung Babakan, Mustika Jaya, Kota Bekasi, Kamis (26/9/2024) malam.
Maulana juga mengetahui bahwa putranya keluar rumah untuk makan bersama dengan rekan-rekannya dalam rangka perayaan ulang tahun.
"Lagi mau ngeliwet tanggal 22 (September)," kata dia.
Perasaan Maulana yang semula biasa-biasa saja perlahan mulai berubah, tepat pada Sabtu dini hari.
Saat itu, Maulana sempat dua kali berusaha menghubungi Vino lantaran tak ada kabar usai berpamitan menjemput rekannya.
Namun, dua kali upaya Maulana menghubungi putranya tak ada hasil lantaran nomor ponselnya tak aktif.
"Jam 02.00 WIB, saya telepon enggak aktif. Jam 03.00 WIB enggak aktif," kata dia.
Maulana lantas menghubungi rekan-rekan Vino, termasuk Sanu yang sebelumnya dijemput putranya. Namun, usaha pencarian Vino tetap tak membuahkan hasil.
Tepat pada Minggu pagi, firasat buruk kian menghantuinya setelah dirinya mengetahui informasi adanya tujuh remaja meninggal di Kali Bekasi.
Ia kemudian kembali menghubungi rekan-rekan Vino. Kepadanya, salah satu rekan Vino berujar bahwa putranya ditangkap polisi tepat pada saat insiden penggerebekan di bantaran Kali Bekasi.
Maulana pun beranggapan bahwa putranya bukan satu dari ketujuh remaja yang tewas di Kali Bekasi.
Setelah itu, Maulana pun bolak-balik ke Polsek Rawalumbu dan Polres Metro Bekasi Kota. Lagi-lagi, ia tetap tak mendapatkan informasi keberadaan Maulana.
Karena penasaran, Maulana kembali mendatangi Polres Metro Bekasi Kota. Ia lalu disarankan petugas untuk mendatangi Rumah Sakit Pokri Kramatjati, Jakarta Timur.
Benar saja, saat tiba di RS Polri, ia mengetahui bahwa putranya merupakan satu dari ketujuh remaja yang ditemukan tewas di Kali Bekasi.
Namun, ia kembali dipaksa harus bersabar. Pasalnya, Vino baru bisa dipastikan identitasnya setelah petugas melakukan identifikasi tepat di hari kelima.
"(Identitasnya) dari giginya, pertama dari giginya gitu kan, terus sama tes DNA," imbuh dia.