Hilirisasi Perikanan dan Alternatif Minum Susu Gratis
Minuman bergizi, produk turunan Hidrolisat Protein Ikan dapat menjadi alternatif komplementer program Makan Bergizi dan Minum Susu Gratis. Halaman all
(Kompas.com) 24/09/24 17:29 15493378
INDONESIA merupakan negara kepulauan dengan garis pantai terpanjang kedua di dunia. Potensi kelautan ini tersebar pada 5,8 juta km persegi yang terdiri dari wilayah teritorial dan wilayah Zona Ekonomi Eksklusif Indonesia (ZEEI).
Berdasarkan data dari Bank Dunia (2021), ekonomi laut berkontribusi menjadikan Indonesia memiliki sektor perikanan terbesar kedua di dunia dengan total nilai sekitar 27 miliar dollar AS terhadap PDB dan memenuhi 50 persen kebutuhan protein masyarakat.
Potensi ini diperkirakan akan terus meningkat hingga mampu menyerap lebih dari 45 juta orang atau 40 persen total angkatan kerja Indonesia (Menteri KKP, 2020).
Namun sayangnya, menurut data Menteri KKP (2024), kontribusi ekonomi PDB sektor kemaritiman dari tahun 2020 hingga 2023 hanya berkisar 14 persen.
Persentase ini lebih kecil dibandingkan PDB negara yang potensi lautnya lebih kecil ketimbang Indonesia, seperti Islandia, Jepang, Korea Selatan, Norwegia, Thailand, dan Tiongkok yang kontribusi bidang kelautannya rata-rata sudah di atas 30 persen PDB.
Blue economy menawarkan solusi holistik melalui pemanfaatan modal sumber daya alam dengan penggunaan teknologi berkelanjutan. Hilirisasi, agro-maritim industri, dan inovasi memainkan peran krusial dalam mewujudkan hal tersebut.
Cita-cita untuk menjalankan ekonomi biru (blue economy) masih menemui banyak tantangan. Nelayan masuk dalam profesi termiskin di Indonesia. Hal ini diperparah dengan anomali iklim yang memengaruhi hasil tangkapan nelayan.
Menurut data BPS Desember 2023, nilai tukar nelayan (NTN) turun 0,99 persen dibandingkan rata-rata NTN pada 2022, yaitu hanya sebesar 105,40 yang berarti nelayan belum cukup mendapatkan keuntungan dari mata pencahariannya.
Hal ini menjadi penyebab turunnya minat anak muda menjadi nelayan karena tidak menjamin masa depan mereka.
Bahkan, data Kompas pada November 2023, memperkirakan jumlah petani dan nelayan akan berkurang hingga 1 juta orang pada 2030.
Karakteristik Indonesia dengan sumber daya alam, tenaga kerja yang berlimpah dengan keterampilan sederhana, dipandang potensial untuk menerapkan strategi industri berbasis luas (broadbase industry).
Strategi ini diharapkan mampu menjawab fenomena yang terjadi di masyarakat nelayan saat ini. Sentuhan teknologi madya melengkapi agar peralatan industri lebih mudah untuk dioperasikan oleh masyarakat.
Industri ini dapat diterapkan dalam skala kecil hingga besar dengan merangkul banyak pihak mulai dari keterlibatan nelayan, koperasi, UMKM, bahkan investor asing sekalipun.
Salah satu industri berbasis luas dengan konsep hilirisasi adalah industri pengolahan ikan low economy fish menjadi produk bernilai tambah dengan 100 persen TKDN teknologi madya, yaitu proses pembuatan tepung Hidrolisat Protein Ikan (HPI).
Menurut Perpres No. 81 /2024, pemerintah mengharapkan terjadinya percepatan penganekaragaman pangan berbasis sumber daya lokal.
Selain itu, Peraturan Presiden No. 34 tahun 2022 sebenarnya telah mengamanatkan untuk mendorong industri HPI dalam sektor hilirisasi perikanan.
Jika industri ini dikembangkan akan dapat membuka keran hilirisasi perikanan yang lebih luas, karena HPI dapat dikembangkan menjadi berbagai jenis produk turunannya, mulai dari food, feed, fertilizer, hingga pharmacy.
Skema industri berbasis luas ini telah berjalan di Kabupaten Bintan, Kepulauan Riau sejak tahun 2017 dan Kabupaten Indramayu, Jawa Barat tahun 2021 dengan didanai dan dikelola langsung oleh pihak swasta.
Salah satu produk turunan HPI adalah “minuman bergizi” yang merupakan minuman bergizi yang kaya protein hewani.
Minuman ini merupakan hasil proses hidrolisa enzimatis yang mengandung asam amino esensial dan non-esensial dengan omega 3 (EPA dan DHA). Segelas minuman ini, mengandung 9 gram protein hewani, lebih tinggi 30 persen dari susu sapi.
Menurut analisis Prof. Dr. Ekowati Chasanah dari BRIN, tingkat penyerapan protein dari minuman ini mencapai 93,61 persen terbukti memberikan kontribusi yang signifikan terhadap peningkatan berat badan, daya cerna serta penyerapan protein.
Minuman bergizi, produk turunan HPI dapat menjadi alternatif komplementer program Makan Bergizi dan Minum Susu Gratis.
Dibandingkan susu sapi yang kabarnya akan diimpor sebanyak 1,1 juta sapi perah hingga menelan anggaran Rp 49,5 triliun.
Namun demikian, akan lebih bijak jika pemerintah memprioritaskan pemberian minuman bergizi produk turunan HPI, dengan penguatan Perpres No 34/22 dan Perpres No. 81/2024 melalui penetapan “program strategis nasional” bagi industri HPI.
Program ini akan menghemat biaya, dengan harga produksi jauh lebih murah. Pasalnya, ketersediaan bahan baku sebagai sumber daya lokal yang sangat melimpah.
Selain itu sebagai pertimbangan, jika saja hanya 1 persen substitusi susu sapi bagi program minum susu gratis, industri HPI dapat menggerakkan roda perekonomian minimal pada 7.200 nelayan dan membuka lapangan kerja hingga 16.316 orang.
Skema industri ini juga akan menggerakkan koperasi masyarakat nelayan sehingga denyut perekonomian desa nelayan akan tumbuh yang selama ini terpuruk.
Melalui program ini, sumber daya ikan lokal Indonesia akan termanfaatkan dengan sentuhan teknologi tepat guna.
Kondisi tersebut, dapat menjadi pintu masuk potensi ekonomi biru dan menggerakkan roda ekonomi perdesaan melalui peningkatan produk berkualitas dan bernilai tambah.
Program ini, dapat menjadi solusi bagi pengentasan masalah gizi stunting, meningkatkan pendapatan PDB, dan menciptakan lapangan kerja baru bagi masyarakat nelayan menuju masa depan Indonesia emas yang berkualitas.