Abon Ksatria dan Oppu Company Berbagi Cara UMKM Berkembang dan Berdampak

Abon Ksatria dan Oppu Company Berbagi Cara UMKM Berkembang dan Berdampak

Setelah menerima pendampingan dari YDBA, UMKM Abon Ksatria dan Oppu Company di Solo mengalami perkembangan bisnis. Bagaimana kisah mereka? Halaman all

(Kompas.com) 29/09/24 07:41 15706107

SOLO, KOMPAS.com – Begitu Tri Rahayu Amperawati (58) membukakan pintu, aroma perpaduan wangi gurih, manis, dan kaya rempah seketika memenuhi rongga hidung.

Ia lalu menunjukkan tumpukan abon daging sapi dalam jumlah besar yang baru saja dimasak dan sedang didinginkan di atas meja steril dari bahan keramik. Kepulan uap tipis masih menyelimuti sekitarnya.

Sementara di sudut lain dapur, dua pekerja terlihat terus mondar-mandir untuk memastikan beberapa alat produksi semi-otomatis beroperasi sebagaimana mestinya. Itu termasuk, dua wajan besar, presto raksasa, dan spinner peniris minyak jumbo.

Yayuk, begitu Tri Rahayu lebih akrab disapa, bersyukur kini rata-rata ia bisa memproduksi abon dari daging sapi dan atau daging ayam hingga berat 100 kg per hari.

Ia senang produksi abonnya yang dipasarkan dengan merek Ksatria kian diterima masyarakat.

Ogah menyerah

Ia bercerita, awal mula merintis usaha abon pada 1999. Yayuk kala itu melihat peluang bisnis makanan yang dibuat dari suiran daging dan dimasak hingga kering ini cukup besar.

Ia menyaksikan belum banyak pelaku usaha yang memproduksi abon 25 tahun silam.

”Kebetulan rumah saya ini kan berada di depan produksi rambak legendaris Solo milik Wiryodiharjo. Di sana dulu sering didatangi orang-orang dari berbagai daerah. Nah, sempat ada pengunjung yang bertanya, ’beli abon di mana?’ Dari situlah, saya tertarik menjualnya,” ucap Yayuk saat ditemui Kompas.com di dapur produksinya, Rabu (25/9/2024).

Rumah tinggal dan tempat produksi abon milik Yayuk berada di Jl Kalikuantan No. 3 Kelurahan Jagalan, Jebres, Solo, Jawa Tengah. Oleh masyarakat Kota Bengawan, Jagalan telah dikenal secara luas sebagai lokasi pemotongan hewan dan penjualan produk turunannya.

Yayuk mengaku, mulanya hanya menjual abon dan dendeng yang dibikin oleh sang ibu dan tantenya di usaha toko kelontong yang sudah lebih dulu ia buka di depan rumah.

Berjalannya waktu, abon yang ia jajakan ternyata lumayan laris sampai ada yang rela memesan.

Dari situ, Yayuk punya keinginan untuk belajar cara membuat abon sendiri dengan harapan dapat meningkatkan pasokan. Tapi yang terjadi, usahanya tak berjalan semulus yang dibayangkan.

Yayuk harus jatuh bangun dengan kegagalan saat awal memproduksi abon dan dendeng sapi. Ia merasa kualitas abon yang coba dibikin tak seperti yang dibuat orang tuanya.

Yayuk pun ogah menyerah. Ia memberanikan diri untuk terus mejajal dengan mempertaruhkan modal.

Ibu tiga anak ini lebih kurang membutuhkan waktu hingga 6 bulan sampai pada akhirnya merasa puas dengan produk buatannya dan mulai menawarkan kepada khalayak pada 2001.

”Saya itu mencoba tidak cuma 1 kali atau 2 kali, lalu jadi. Saya mengalami gagal, gagal, gagal, dan gagal. Tapi kegagalan ini justru memacu saya. Saya bertanya-tanya, ini kok bisa gagal? Ini kok hampir berhasil? Jadi saya coba terus sampai sreg,” jelasnya.

Berkat ketekunan dan keuletan belajar yang dipraktikkan, Yayuk akhirnya menuai hasil baik. Produk abon dan dendeng sapi olahannya lambat laun semakin diterima pasar.

Terus berinovasi

KOMPAS.com/IRAWAN SAPTO ADHI Sosok Tri Rahayu Amperawati (58) yang merupakan pemilik UMKM ?Abon Ksatria? di Jl Kalikuantan No. 3 Kelurahan Jagalan, Jebres, Solo, Jawa Tengah, pada Kamis (12/9/2024). Setelah mendapat pembinaan dari Yayasan Darma Bhakti Astra (YDBA), Yayuk mulai memperbaharui peralatan dapur dengan alat semi otomatis dengan maksud ingin meningkatkan produksi. Ia juga memperbaiki manajemen dan proses pemasaran.

Seperti belum puas, ia tak lama kemudian bahkan mencoba mengasah kemampuannya dalam membuat srundeng kelapa dan lagi-lagi diterima oleh konsumen.

Setahun kemudian, Yayuk giliran belajar membuat rambak kulit sapi dari sang ibu.

"Saya memproduksi rambak lebih karena ingin menjaga tradisi keluarga yang kebetulan kakek dan ibu memang jago dalam membuatnya. Di samping itu, saya tentu ingin melebarkan usaha hingga bisa berdampak lebih besar ke lingkungan, baik itu terkait membuka kesempatan kerja maupun membuat Jagalan kian dikenal sebagai kampung oleh-oleh khas Solo," ungkapnya.

Hanya dalam waktu dua tahun, Yayuk pun resmi memiliki empat jenis makanan yang dipasarkan dengan brand ”Abon Ksatria”, yakni berupa abon, dendeng, srundeng, dan rambak. Saat itu omzetnya sudah mencapai hingga Rp10 juta per bulan.

Tapi, Yayuk lagi-lagi enggan berhenti berinovasi meski pendapatnya sudah lumayan. Pada 2010, ia giliran mencoba membuat abon dari bahan baku daging ayam.

Yayuk melakukannya setelah memperoleh ide atas permintaan dari pelanggan.

”Ada yang berminat dibuatkan abon ayam. Katanya mau dipasarkan di Bali. Ya saya sanggupi. Kenapa tidak? Soalnya dari segi resep kan tidak jauh beda dengan abon sapi. Dan, syukurlah, si konsumen ini cocok dan menjadi reseller hingga sekarang. Abon ayam ini ternyata memang punya peminat tersendiri,” ungkapnya.

Sementara itu, ketika pandemi Covid-19 mulai melanda pada 2020, ia memiliki gagasan untuk mencoba mengolah kaldu ayam dari proses pembuatan abon menjadi kremes.

”Pandemi kan semuanya harus beradaptasi ya. Saat itu saya kepikiran untuk menambah varian produk lagi. Saya cobalah bikin kremes, dan ternyata tak mudah. Saya sempat berulang kali gagal sampai pada akhirnya menemukan hasil sempurna bagi saya. Bersyukur kremes itu sampai sekarang juga diminati,” ujarnya.

Kala pagebluk Covid-19 melanda, Yayuk juga berupaya memaksimalkan pemasaran atau penjualan produk-produk Abon Ksatria lewat beragam marketplace maupun media sosial. Dalam proses ini, ia dibantu oleh putrinya, Rosalia Nanda (24).

”Bagi pelaku UMKM, kemampuan beradaptasi menjadi kunci untuk bertahan dan berkembang, terutama dalam menghadapi tantangan dan perubahan yang cepat seperti selama pandemi lalu. Pelaku usaha mesti bisa hadir menjawab kebutuhan pasar. Ketika pasar itu online, ya mau tidak mau kita bisa menjawabnya melalui online juga," tambahnya.

Ia pun bersyukur produk ”Abon Ksatria” sekarang bisa dinikmati oleh banyak orang dari berbagai daerah di Indonesia setelah dipasarkan dan dijual secara online.

”Untuk pembelian secara langsung, kami sendiri sudah bekerja sama dengan lima toko oleh-oleh lain di Solo dan 33 Indomaret di Solo Raya. Produk kami juga bisa ditemukan di sana,” ucapnya.

Membangun jaringan

Seiring dengan meningkatnya permintaan akan produk ”Abon Ksatria”, Yayuk juga telah melakukan inovasi dengan cara memperbaharui peralatan produksinya di dapur.

Jika pada mulanya proses produksi dilakukan secara manual, ia kini memanfaatkan banyak peralatan semi-otomatis ataupun lebih canggih, seperti wajan elektrik, spinner elektrik, dan presto elektrik.

Yayuk mengaku melakukannya setelah mendapatkan inspirasi dan informasi dari pelaku UMKM lain.

Ia merasa beruntung selama ini telah mengambil pilihan tepat dengan aktif mencoba mengikuti berbagai workshop atau seminar, pameran, maupun pertemuan antar-UMKM.

”Misalnya soal presto, saya itu dulu cuma pakai panci biasa untuk merebus daging. Proses itu bisa tiga kali lebih lama jika dibandingkan dengan memanfaatkan presto. Jadi saya bersyukur sempat difasilitasi Yayasan Dharma Bhakti Astra (YDBA) Solo untuk mengikuti pelatihan di Semarang pada awal 2019. Di situ, saya jadi bisa bertemu dengan pelaku UMKM bandeng presto dan terinpirasi untuk pakai presto. Saya bahkan sampai dikenalkan dengan ahli yang bisa membuatkan presto jumbo di Gunungpati,” jelasnya.

Menurutnya, berjejaring bukan lagi menjadi sebuah pilihan bagi pelaku UMKM, melainkan kebutuhan.

Melalui kolaborasi dan jaringan, para pelaku UMKM bisa saling berbagi pengalaman, memperluas pasar, dan menemukan peluang baru yang mungkin tidak terlihat jika berjalan sendiri.

Yayuk kala itu juga memperoleh tawaran dari YDBA untuk menjual produk di rest area jalan tol yang hendak dibangun PT Astra di Salatiga. Tak berpikir panjang, Yayuk langsung menyanggupinya.

“Prosesnya kan enggak gampang. Produk harus dikurasi, dilihat legalitas, dan lain-sebagainya. Jadi, ada yang ikut, ada yang enggak. Saya memberanikan diri untuk ikut dan sempat kaget ketika dinyatakan lolos,” ungkapnya.

Oleh YDBA, Yayuk pernah pula diberi kesempatan untuk mengikuti pelatihan-pelatihan yang turut membantunya dalam meningkatkan produktivitas dan efisiensi operasional, termasuk soal budaya kerja ringkas, rapi, resik, rawat, rajin (5R), dan quality control circle (QCC).

Yayuk bahkan kemudian keluar menjadi juara 1 dalam Lomba 5R yang diadakan oleh YDBA pada 2022, dan juara 2 dalam Lomba QCC pada 2023. Pada tahun kemarin, ”Abon Ksatria” juga dinyatakan lulus asesmen YDBA sebagai UKM Mandiri.

”Kami pernah juga difasilitasi YBA untuk mengikuti berbagai pameran produk UMKM. Kami bahkan sampai dipertemukan dengan calon-calon pembeli dalam forum business matching.,” katanya.

Melestarikan warisan budaya

KOMPAS.com/IRAWAN SAPTO ADHI Sosok Katarina Octaviani Putri (27), pengusaha tenun asal Kelurahan Serangan, Solo, saat difoto pada Rabu (25/9/2024). Bersama sang ibu, Oca, begitu Katarina Octaviani lebih akrab disapa, sudah 10 tahun mengembangkan usaha industri kreatif craft dan fashion di bawah bendera Oppu Company dengan merek Oppu Label.Co dan Lorek Jejeg. Ia melakukannya dengan semangat menjaga warisan budaya. Ia mengaku sangat terbantu dengan dukungan yang diberikan Yayasan Darma Bhakti Astra (YDBA) dalam upaya pengembangan usaha.

Katarina Octaviani Putri (27) selama ini juga tak mau menyia-nyiakan kesempatan apabila ada peluang untuk mengikuti workshop dan pameran UMKM.

Pengusaha tenun asal Kelurahan Serangan, Solo, itu ingin terus menambah wawasan dan jejaring seluas-luasnya.

Bersama sang ibu, Oca, begitu Katarina Octaviani lebih akrab disapa, sudah 10 tahun mengembangkan usaha industri kreatif craft dan fashion di bawah bendera Oppu Company dengan merek Oppu Label.Co dan Lorek Jejeg.

Di tangan mereka, wastra tradisional Jawa berupa kain tenun lurik telah berhasil disulap menjadi produk-produk kriya dan fesyen yang cantik dan bernilai ekonomi tinggi.

Oca menyebut, pertimbangan utama memilih mengangkat kain tenun lurik dalam usahanya, yakni karena ingin ikut melestarikan benda warisan budaya ini agar tidak punah.

Kain lurik diketahui termasuk salah satu warisan budaya tak benda dari Indonesia yang sudah ada sejak lama. Nama kain lurik berasal dari kata lorek yang dalam Bahasa Jawa berarti lajur atau garis, belang, dan dapat juga berarti corak.

Ia berharap kain lurik bisa menjadi kain tradisional yang digemari oleh seluruh kalangan masyarakat.

Lagi pula, Oca kala itu melihat, belum banyak pelaku usaha di Solo Raya yang melirik penggunaan kain tenun lurik, khususnya jenis gedog untuk dibuat produk fesyen dan kriya.

Kain tenun lurik gedog adalah kain lurik yang dibuat dengan alat tenun gedog yang masih sangat tradisional. Alat ini juga biasa disebut sebagai alat tenun gendong karena saat digunakan memang akan berada di pangkuan para penenun yang duduk di lantai.

“Saya ingin kain tenun lurik gedog semakin dikenal masyarakat, bukan hanya untuk gendongan, melainkan bisa dijadikan produk lain bernilai tinggi,” paparnya saat diwawancari.

Dari kain tersebut, Oca awalnya membuat outer untuk daily outfit. Berjalannya waktu, ia kemudian mencoba mengkreasikan menjadi syal, kemeja, blankon, dan lain sebagainya.

“Sekarang produknya sudah lebih bervariasi, dari (untuk) kepala sampai kaki. Kami juga menjadikan kain tenun lurik ini untuk sandal, kipas, kotak tisu, hingga topi,” ucapnya.

Dalam memilih kain tenun lurik bedog, Oca juga punya tujuan ingin meningkatkan pertumbuhan ekonomi penenun tradisional di wilayah Klaten, Jawa Tengah yang dirasa semakin terpinggirkan. Ia selama ini mengambil bahan baku kain dari mereka.

Oca bersyukur, lewat pameran-pameran yang pernah diikuti, produknya bahkan telah sampai di tangan sejumlah figur publik, termasuk musisi Endah n Rhesa, aktris Happy Salma, aktor senior Slamet Rahardjo, dan jurnalis televisi Rosianna Silalahi.

Menurutnya, keikutsertaan pelaku UMKM dalam berbagai kegiatan di luar termasuk pameran, pelatihan, seminar, dan program dukungan lainnya, sangatlah penting untuk keberlanjutan dan pertumbuhan bisnis.

Keterlibatan itu, kata dia, bisa membawa banyak dampak baik, seperti akses ke pengetahuan atau keahilan baru; perluasan jaringan dan kolaborasi; peningkatan eksposur, pemasaran, peputasi, dan kredibilitas; akses ke teknologi dan inovasi baru; umpan balik; wawasan pasar; peluang untuk ekspansi Pasar; hingga akses pendanaan dan investasi.

Dalam perjalannya, Oca juga pernah diajak oleh YDBA untuk mengikuti berbagai pameran di Solo maupun di daerah lain, termasuk di Trade Expo Indonesia (TEI), Tangerang Selatan.

“Oleh YDBA, kami mendapat banyak kesempatan untuk berkembang. Kami juga pernah diikutkan dalam beragam pelatihan, seperti tentang keuangan dan pemasaran. Tentu ini punya dampak terhadap perkembangan usaha kami,” ucapnya.

Sama seperti Abon Ksatria, produk Oppu Company pada 2019 juga dinyatakan lolos kurasi untuk dipasarkan di Resta Pendopo KM 456 milik Astra.

Pada 2023, Oppu Company giliran berhasil lulus asesmen YDBA dan mendapatkan titel UMKM Mandiri.

Saat ini Oca memasarkan produknya secara offline di store Mojosongo Solo (Griya Tiara Ardi No. B-15), Pasar Malam Ngarsopuro (khusus akhri pekan), Museum Pabrik Gula Colomadu, Resta Pendopo KM 456 Salatiga, Jogja Pasaraya, La Li Sa Bantul, dan Jakarta.

Sedangkan pembelian produk Oppu Company secara online bisa dilakukan melalui akun Oppu Company di media sosial Instagram, serta marketplace Tokopedia dan TikTokShop.

”Melalui kolaborasi dengan berbagai pihak, UMKM bukan hanya akan mampu bertahan, tetapi juga tumbuh lebih kuat dalam menghadapi tantangan pasar yang semakin kompetitif,” serunya.

Semangat kolaborasi

Koordinator Lembaga Pengembangan Bisnis (LPB) YDBA Solo, Dimas Wahyu Ashary, sangat mengapresiasi para pelaku UMKM yang punya semangat berkembang dan ingin berdampak bagi khalayak.

Per September 2024 ini, YDBA Solo mencatat telah memiliki sedikitnya 94 UMKM binaan yang bukan hanya tersebar di wilayah Solo Raya, melainkan juga di Salatiga dan Kendal.

Semua pelaku UMKM tersebut sejauh ini aktif mengikuti kegiatan yang diadakan oleh YDBA sebagai salah satu pelaksana corporate social responsibility (CSR) dari PT Astra International Tbk.

”Jumlah UMKM yang coba kami dampingi terus bertambah. Faktanya, jumlah UMKM binaan untuk tahun ini hampir dua kali lipat dibandingkan tahun 2022 lalu sebanyak 53 UMKM,” ungkapnya.

Dalam catatan Dimas, UMKM binaan YDBA Solo paling banyak bergerak di bidang kuliner dan kerajinan, yakni berjumlah 31 usaha.

Setelah itu, disusul 22 UMKM bergerak di bidang manufaktur, 21 UMKM di bidang pertanian hidroponik, dan 20 UMKM di bidang bengkel roda empat.

Terpisah, Ketua Pengurus YDBA, Rahmat Samulo, mengatakan pendiri Astra, yakni Oom Wiliam Soeryadjaya, memang membentuk Yayasan Dharma Bhakti Astra (YDBA) dengan fokus membina UMKM.

Menurutnya, pendiri Astra ingin Astra berkembang dan bermanfaat seperti pohon yang rindang yang berguna sebagai tempat berteduh dari hujan dan panas.

"Singkat kata, Oom ingin Astra menjadi perusahaan yang bermanfaat bagi masyarakat dan negara, sejalan dengan tujuan Astra \'Sejahtera Bersama Bangsa\'," jelasnya kepada Kompas.com, Sabtu (28/9/2024).

Yayasan Dharma Bhakti Astra (YDBA) Petani binaan Astra melalui Yayasan Dharma Bhakti Astra (YDBA) dan Pusat Investasi Pemerintah (PIP) di Sukawangi Bogor menunjukkan produk hortikultura hasil budidaya organik kepada Ketua Pengurus YDBA Rahmat Samulo (kanan), Direktur PIP Muhammad Yusuf (kedua kanan) dan EVP Corporate Secretary & Communication PT Penjaminan Infrastruktur Indonesia (Persero) (PII) Yunan Novaris (kiri)
Rahmat melanjutkan, YDBA sendiri didirikan oleh pendiri Astra dengan filosofi “Beri Kail Bukan Ikan”,

Dalam hal ini, Astra melalui YDBA ingin memberikan program pembinaan yang bukan bersifat short term atau charity, melainkan sustain dengan mentalitas yang sesuai dengan tantangan saat ini.

"YDBA selama ini melakukan pembinaan melalui program pelatihan dan pendampingan yang bersifat manajemen juga teknis, fasilitasi pemasaran, dan fasilitasi pembiayaan yang mendukung kemandirian UMKM," jelas Rahmat.

Di samping itu, YDBA juga mendukung bagaimana UMKM dapat memenuhi legalitas yang dibutuhkan UMKM di setiap sektor.

Rahmat menyebut, tercatat sudah ada 1.328 UMKM aktif yang mengikuti program pembinaan YDBA pada 2024 ini.

Dari jumlah tersebut, 17 persen di antaranya bergerak di sektor manufaktur, 15 persen di sektor bengkel, 33 persen di sektor pertanian, 25 persen di sektor kuliner, dan 9 persen di sektor kerajinan.

UMKM tersebut tersebar di 19 wilayah di Indonesia, termasuk Solo, Cakung, Banyuwangi, Bantul, Tegal, Banyumas, Salatiga, Citeureup & Puncak Dua Bogor, Lebak Banten, Sangatta di Kalimantan Timur (Kaltim), Paser di Kaltim, Bontang di Kaltim, Manggarai Barat di NTT, Manggarai Timur di NTT, Barito Utama di Kalteng, Tanjung di Kalsel, Bandung, dan Cikuya Tangerang.

"Untuk tahun 2025 mendatang, YDBA akan coba membina UMKM lebih banyak lagi, yakni 1.500 UMKM," serunya bersemangat.

#yayasan-dharma-bhakti-astra #ydba #ydba-dorong-umkm-lokal #pembinaan-umkm #ketua-pengurus-ydba-rahmat-samulo #rahmat-samulo

https://money.kompas.com/read/2024/09/29/074156926/abon-ksatria-dan-oppu-company-berbagi-cara-umkm-berkembang-dan-berdampak