#30 tag 24jam
Cerita Sutikno Sukses Membesarkan Bengkel Binaan Astra Melalui YDBA
Sutikno sukses membesarkan usaha bengkel kendaraan roda 4 yang dibangun ayahnya. Ia bergabung dengan himpunan motor yang dibina langsung oleh YDBA (Yayasan Dharma Bhakti Astra) demi mendapat pembinaan [548] url asal
#berita-terkini #berita-hari-ini #ydba #yayasan-dharma-bhakti-astra #umkm #bengkel #berita-ekonomi-terkini
(InvestorID) 30/09/24 23:23
v/15783282/
JAKARTA, investor.id – Sutikno sukses membesarkan usaha bengkel kendaraan roda 4 yang dibangun ayahnya. Ia bergabung dengan himpunan motor yang dibina langsung oleh YDBA (Yayasan Dharma Bhakti Astra) demi mendapat pembinaan bagaimana membangun bisnis bengkel.
“Bengkel ini didirikan ayah saya, Nastikun pada 1999,” kata Sutikno, pemilik Bengkel Suryo Motor di wilayah Soekarno Hatta, Mewek, Purbalingga, Jawa Tengah ditemui Investor Daily dalam program #UMKMSiapBeraksi, awal September 2024.
Kondisi awal bengkel, ungkap dia, tak sebesar saat ini. Sutikno yang lulusan SMA pun awalnya tak tertarik terjun membantu bisnis bengkel ayahnya. “Saya malah kerja di tempat lain sebagai tukang servis mesin diesel. Namun akhirnya saya belajar bongkar pasang mesin kendaraan secara teknis dari bapak,” cerita Sutikno.
Perlahan, Sutikno menyerap ilmu dari sang ayah. Dia juga bergabung dengan himpunan motor di bawah binaan YDBA untuk meningkatkan kualitas skill dan layanan.
“Saya mendapat pelatihan dari ahlinya, teori-teori yang di Astra yang biaya untuk mendapatkannya mahal, saya dapat gratis. Tak sekadar mendapat pelatihan membongkar pasang, tenyata harus ada pembukuan, manajemen, ada sistem dengan SOP dan safety kerja, secara skill juga harus ada peningkatan,” ujar Sutikno.
Dalam bekerja, YDBA, kata Sutikno meminta bengkel menerapkan prinsip 5R, yaitu Ringkas, Rapi, Resik, Rawat, dan Rajin. “Hasilnya setelah pembinaan, bengkel yang biasanya kumuh, berantakan, jadi bersih, rapih. Prosedur service jadi lebih jelas sehingga pelanggan nyaman, bahkan ada jalur untuk berjalan, sehingga lebih aman dan nyaman,” kata Sutikno.
Omset Meningkat
Setelah dibina YDBA, manajemen laci yang sebeumnya digunakan dan belum tertata, akhirnya menggunakan aplikasi data bengkel, termasuk data pelanggan.
Sutikno kini juga mulai memanfaatkan pemasaran secara digital menggunakan media sosial. “Sekitar 10% pelanggan tahu Suryo Motor dari medsos,” ungkap Sutikno.
Perlahan tapi pasti, Bengkel Suryo Motor kian berkembang. “Omset yang tadinya di bawah Rp100 juta sebulan, naik jadi Rp100 juta lebih per bulan. Tenaga kerja bertambah hingga lima, bahkan dibantu dengan anak-anak PKL dari SMK,” papar Sutikno.
Selama 4 tahun pembinaan, Suryo Motor kini berada di posisi mandiri, baik di bidang HRD, produksi, marketing, CSR, hingga pembiayaan.
Ketua Pengurus Yayasan Dharma Bhakti Astra (YDBA) Rahmat Samulo menegatakan, YDBA sangat serius membina para UMKM, termausk usaha bengkel kendaraan.
“Ketika ingin membina, karakter yang kami cari adalah apakah memang mau dibina? Ini agar hasilnya efektif dan bermanfaat bagi seluruh pihak,” tegas Rahmat .
Rahmat mengungkapkan, Astra punya banyak sekali bengkel authorize. “Nah kemampuan bengkel Astra ini yang ingin kami tularkan kepada bengkel umum. Kami punya ilmunya, punya pengalamannya dari bengkel resmi Astra,” ujar Rahmat.
Hasil pembinaan dari YDBA ini kata Rahmat memiliki efek luar biasa. “serapan tenaga kerjanya 7 sampai 10 mekaniknya. Lalu vokasi dengan SMK sekitarnya. Lalu, cara kerja bengkel yang rapih, mulai dari appointmen sampai dengan hasil ditanya, itu bikin kepercayaan customer meningkat,” ujar Rahmat.
Prinsipnya, tegas Rahmat, Astra melalui YDBA tidak asal membina lalu pergi, tapi kami melakukan pendampingan sampai berhasil. “Harapannya nanti UMKM bengkel di wilayah Purbalingga dan Purwokerto semakin maju, apalagi ditambah dengan pembinaan dari Kementerian Koperasi,” harap Rahmat.
Sekretaris Kementerian Koperasi dan UKM Arif Rahman Hakim yang juga hadir di Purbalingga mengatakan, “yang dilakukan YDBA ini pendampingan untuk rantai pasok yang saling mendukung. Satu bengkel saja bisa menyerap puluhan tenaga kerja. Kami dari Kemenkop siap mendukung para UMKM bengkel ini,” ujar Arif.
Editor: Mardiana Makmun (mardiana.makmun@investor.id)
Follow Channel Telegram Official kami untuk update artikel-artikel investor.id
Baca Berita Lainnya di Google News
Saat Bersama YDBA, UMKM Naik Kelas dan Tembus Kemandirian... Halaman all
Saat sebagian besar perusahaan besar di Indonesia belum memprioritaskan program CSR, Astra telah mendirikan YDBA dengan fokus membina UMKM pada 1980. Halaman all?page=all [561] url asal
#yayasan-dharma-bhakti-astra #ydba #pembinaan-umkm
(Kompas.com) 30/09/24 22:56
v/15795073/
KOMPAS.com – Sejak 1980, ketika sebagian besar perusahaan besar di Indonesia belum memprioritaskan program corporate social responsibility (CSR) atau kontribusi sosial, PT Astra International Tbk telah mendirikan Yayasan Dharma Bhakti Astra (YDBA) dengan fokus membina UMKM.
Pendiri Astra, Oom William Soeryadjaya, menginisiasi YDBA dengan filosofi "beri kail, bukan ikan".
Dalam hal ini, YDBA ingin memberikan program pembinaan yang bukan hanya bersifat jangka pendek ataupun charity, melainkan jangka panjang dan berkelanjutan.
Wujud pembinaan yang ditawarkan YDBA mencakup pelatihan dan pendampingan baik dalam aspek manajemen maupun teknis, serta fasilitasi pemasaran dan pembiayaan untuk mendorong kemandirian UMKM.
Di samping itu, YDBA siap mendukung UMKM di semua sektor untuk dapat memenuhi legalitas yang dibutuhkan.
“Pendiri Astra ingin Astra menjadi perusahaan yang bermanfaat bagi masyarakat dan negara. Ini sejalan dengan cita-cita Astra, yakni ‘Sejahtera Bersama Bangsa’,” jelas Ketua Pengurus YDBA, Rahmat Samulo, kepada Kompas.com pada Sabtu (28/9/2024).
Bina 1.328 UMKM dan akan tambah lagi
Pada 2024 ini, tercatat ada sebanyak 1.328 UMKM aktif yang mengikuti program pembinaan oleh YDBA.
Dari jumlah tersebut, 17 persen di antaranya bergerak di sektor manufaktur, 15 persen di sektor bengkel, 33 persen di sektor pertanian, 25 persen di kuliner, dan 9 persen di sektor kerajinan.
Ribuan UMKM itu tersebar di 19 wilayah di Indonesia, termasuk di Solo, Bantul, Tegal, Banyuwangi, Banyumas, Salatiga, Cakung, Lebak Banten, Sangatta Kaltim, Manggarai Barat NTT, Barito Utama Kalteng, Tanjung Kalsel, Bandung, hingga Cikuya Tangerang.
Untuk 2025, kata Samulo, YDBA telah menargetkan dapat membina UMKM lebih banyak lagi sejumlah 1.300-1.500 unit.
“Kami juga akan mewadahi ‘UMKM Mandiri’ binaan Astra dalam sebuah komunitas. Di samping itu, pada tahun depan, kami bakal memperkuat rantai pasok dengan industri besar baik Grup Astra maupun Non-Grup Astra untuk menjawab tantangan pasar bagi UMKM saat ini,” terangnya saat ditanya soal langkah strategis yang bakal dilakukan YDBA untuk UMKM dalam waktu dekat.
"Langkah lainnya, kami ingin mengembangkan sektor pertanian dengan mendorong pelaku UMKM di sektor tersebut untuk dapat menjalankan budidaya yang bernilai tambah," tambah Samulo.
KOMPAS.com/IRAWAN SAPTO ADHI Sosok Tri Rahayu Amperawati (58) yang merupakan pemilik UMKM ?Abon Ksatria? di Jl Kalikuantan No. 3 Kelurahan Jagalan, Jebres, Solo, Jawa Tengah, pada Kamis (12/9/2024). Setelah mendapat pembinaan dari Yayasan Darma Bhakti Astra (YDBA), Yayuk mulai memperbaharui peralatan dapur dengan alat semi otomatis dengan maksud ingin meningkatkan produksi. Ia juga memperbaiki manajemen dan proses pemasaran.Hasil nyata pendampingan
Di samping pengembangan modal bisnis, YDBA melihat, para pelaku UMKM memang jamak menghadapi tantangan pasar hingga saat ini.
Maka dari itu, Astra melalui YDBA berkomitmen akan terus melakukan kolaborasi baik dengan Grup Astra maupun non-Grup Astra.
Melalui kolaborasi, para pelaku UMKM diharapkan dapat berkesempatan menjadi bagian dari rantai pasok industri besar.
Saat Bersama YDBA, UMKM Naik Kelas dan Tembus Kemandirian...
Saat sebagian besar perusahaan besar di Indonesia belum memprioritaskan program CSR, Astra telah mendirikan YDBA dengan fokus membina UMKM pada 1980. Halaman all [1,307] url asal
#yayasan-dharma-bhakti-astra #ydba #pembinaan-umkm
(Kompas.com) 30/09/24 22:56
v/15795068/
KOMPAS.com – Sejak 1980, ketika sebagian besar perusahaan besar di Indonesia belum memprioritaskan program corporate social responsibility (CSR) atau kontribusi sosial, PT Astra International Tbk telah mendirikan Yayasan Dharma Bhakti Astra (YDBA) dengan fokus membina UMKM.
Pendiri Astra, Oom William Soeryadjaya, menginisiasi YDBA dengan filosofi "beri kail, bukan ikan".
Dalam hal ini, YDBA ingin memberikan program pembinaan yang bukan hanya bersifat jangka pendek ataupun charity, melainkan jangka panjang dan berkelanjutan.
Wujud pembinaan yang ditawarkan YDBA mencakup pelatihan dan pendampingan baik dalam aspek manajemen maupun teknis, serta fasilitasi pemasaran dan pembiayaan untuk mendorong kemandirian UMKM.
Di samping itu, YDBA siap mendukung UMKM di semua sektor untuk dapat memenuhi legalitas yang dibutuhkan.
“Pendiri Astra ingin Astra menjadi perusahaan yang bermanfaat bagi masyarakat dan negara. Ini sejalan dengan cita-cita Astra, yakni ‘Sejahtera Bersama Bangsa’,” jelas Ketua Pengurus YDBA, Rahmat Samulo, kepada Kompas.com pada Sabtu (28/9/2024).
Bina 1.328 UMKM dan akan tambah lagi
Pada 2024 ini, tercatat ada sebanyak 1.328 UMKM aktif yang mengikuti program pembinaan oleh YDBA.
Dari jumlah tersebut, 17 persen di antaranya bergerak di sektor manufaktur, 15 persen di sektor bengkel, 33 persen di sektor pertanian, 25 persen di kuliner, dan 9 persen di sektor kerajinan.
Ribuan UMKM itu tersebar di 19 wilayah di Indonesia, termasuk di Solo, Bantul, Tegal, Banyuwangi, Banyumas, Salatiga, Cakung, Lebak Banten, Sangatta Kaltim, Manggarai Barat NTT, Barito Utama Kalteng, Tanjung Kalsel, Bandung, hingga Cikuya Tangerang.
Untuk 2025, kata Samulo, YDBA telah menargetkan dapat membina UMKM lebih banyak lagi sejumlah 1.300-1.500 unit.
“Kami juga akan mewadahi ‘UMKM Mandiri’ binaan Astra dalam sebuah komunitas. Di samping itu, pada tahun depan, kami bakal memperkuat rantai pasok dengan industri besar baik Grup Astra maupun Non-Grup Astra untuk menjawab tantangan pasar bagi UMKM saat ini,” terangnya saat ditanya soal langkah strategis yang bakal dilakukan YDBA untuk UMKM dalam waktu dekat.
"Langkah lainnya, kami ingin mengembangkan sektor pertanian dengan mendorong pelaku UMKM di sektor tersebut untuk dapat menjalankan budidaya yang bernilai tambah," tambah Samulo.
KOMPAS.com/IRAWAN SAPTO ADHI Sosok Tri Rahayu Amperawati (58) yang merupakan pemilik UMKM ?Abon Ksatria? di Jl Kalikuantan No. 3 Kelurahan Jagalan, Jebres, Solo, Jawa Tengah, pada Kamis (12/9/2024). Setelah mendapat pembinaan dari Yayasan Darma Bhakti Astra (YDBA), Yayuk mulai memperbaharui peralatan dapur dengan alat semi otomatis dengan maksud ingin meningkatkan produksi. Ia juga memperbaiki manajemen dan proses pemasaran.Hasil nyata pendampingan
Di samping pengembangan modal bisnis, YDBA melihat, para pelaku UMKM memang jamak menghadapi tantangan pasar hingga saat ini.
Maka dari itu, Astra melalui YDBA berkomitmen akan terus melakukan kolaborasi baik dengan Grup Astra maupun non-Grup Astra.
Melalui kolaborasi, para pelaku UMKM diharapkan dapat berkesempatan menjadi bagian dari rantai pasok industri besar.
Seperti halnya yang dialamai UMKM di bidang manufaktur, CV Anugrah Jaya Mandiri.
Samulo menceritakan, perusahaan yang bergabung dengan YDBA pada 2016 ini telah berhasil menjadi Tier 2 PT Astra Honda Motor.
Berkat komitmen dan konsistensinya dalam menerapkan program pembinaan yang diberikan Astra melalui YDBA, perusahaan yang didirikan oleh Agus Mulyana tersebut kini telah memiliki karyawan sebanyak 65 orang. Padahal sebelumnya hanya enam orang.
Bukan hanya itu, CV Anugrah Jaya Mandiri juga telah berhasil menambah jumlah produk yang dihasilkan dari hanya 3 produk di masa lalu menjadi 150 produk saat ini.
YDBA melihat, Agus Mulyana telah berhasil pula dalam mengubah mindset-nya terkait pentingnya mengganti sistem manajemen bisnis rumahan menjadi standar industri besar.
Samulo senang, banyak UMKM lainnya juga menunjukkan kemajuan berarti setelah bekerja sama dengan YDBA.
Contoh lainnya, ada UMKM Bengkel Suryo Motor yang terletak di Kabupaten Purbalingga, Jawa Tengah.
Suryo Motor adalah bengkel mobil dengan pelayanan general service spesialis remap Electronic Control Unit (ECU).
Bengkel tersebut diketahui dirintis oleh Nastikun pada 1991, tetapi kemudian dikelola oleh generasi keduannya, yakni Sutikno, hingga sekarang.
Sejak 2020, Sutikto memutuskan untuk berkomitmen dan konsisten mengikuti berbagai program pembinaan yang dilakukan Astra melalui YDBA.
Berbagai materi pembinaan yang pernah Sutikno terima dari YDBA, termasuk soal mentalitas dasar, manajemen 5R (Ringkas, Rapi, Resik, Rawat, Rajin), manajemen bengkel, pembukuan sederhana, service advisor, teknik electric wiring diagram, standar pelayanan bengkel, matic and trobuleshooting, dan lain sebagainya.
Berkat kegigihan Sutikno, usaha bengkel Suryo Motor yang pertama kali hanya menghasilkan Rp 32.000 itu pun terus berkembang dan kini sanggup mendulang omzet hingga ratusan juta rupiah.
Samulo mengapresiasi perjuangan keras yang ditunjukkan Sutikno untuk melakukan perubahan yang up to date dalam menjalankan usaha bengkelnya dengan didampingi YDBA.
“Salah satu perubahan yang terlihat di bengkel tersebut, yakni pada awalnya menerapkan keuangan dengan sistem ‘management laci’, lalu bertransformasi memakai aplikasi komputer,” jelasnya.
Samulo juga merasa bangga dengan perkembangan yang ditunjukkan oleh kelompok tani Tunas Sejahtera.
Sebab, ia menyaksikan, UMKM yang mewadahi puluhan petani buah naga di Desa Temurejo, Banyuwangi, Jawa Timur, itu terus mengalami kemajuan bisnis setelah dirangkul YDBA pada 2021.
Berbagai perkembangan yang terlihat, antara lain berupa peningkatan produktivitas budidaya buah naga, terbukanya akses pasar, adanya keterlibatan dalam pelatihan dan peningkatan kemampuan para anggota, serta memperoleh kemampuan mengelola produk turunan buah naga.
Bukan hanya panen buah naga, kelompok tani Tunas Sejahtera yang diketuai oleh pemuda bernama Nanang Prasetyo (26) itu sekarang mampu mengolah semua unsur dari buah tersebut.
Itu termasuk bagian kulit dan bahkan sisi buah yang sudah tidak segar untuk dijadikan produk olahan bernilai.
Ketika pendapatan dan produktivitas buah naga di kelompok tani Tunas Sejahtera belum tertata, YDBA kala itu mencoba membantu dengan memberikan sejumlah program mulai dari pelatihan pemilahan buah, pengembangan produk olahan turunan, sampai fasilitasi pembukaan pasar.
“Hasil budidaya buah naga yang dikelola Nanang beserta petani lain diserap untuk dijadikan olahan buah naga, seperti selai, sale, dan keripik. Dalam proses ini, ada kolaborasi dengan UMKM kuliner yang juga binaan YDBA di Banyuwangi,” jelas Samulo.
UMKM harus naik kelas dan mandiri
Sejalan dengan kebutuhan bisnis saat ini, Samulo menyebut, para pelaku UMKM mau tidak mau harus mengikuti tren, termasuk terkait digitalisasi.
YDBA pun mendorong UMKM untuk dapat masuk ke ranah tersebut, baik dalam aspek pemasaran, produksi, hingga manajemen keuangan.
Menurut dia, para pelaku UMKM memiliki peranan yang sangat penting bagi perekonomian di Indonesia.
Oleh sebab itu, Astra melalui YDBA berkomitmen akan terus berupaya untuk menjadikan UMKM naik kelas dan mandiri.
Dalam hal ini, Astra ingin para UMKM Indonesia setidaknya memiliki mindset dan mentality untuk empat hal.
Pertama, mau berubah untuk lebih berkembang. Kedua, mau berbagi dalam hal apa pun, baik knowledge, pasar, dan lainnya.
Ketiga, ada komitmen dalam menjalankan bisnis dan menghasilkan produk yang sesuai standar quality, cost, delivery (QCD) customer. Terakhir, siap konsisten menghasilkan produk sesuai permintaan customer atau offtaker.
Saat diminta penjelasan, Samulo menyampaikan, proses bagi para pelaku UMKM untuk bisa menjadi bagian dari binaan YDBA tidaklah sulit.
Menurutnya, ada beberapa syarat yang harus dipenuhi, namun semuanya dirancang untuk memastikan UMKM dapat memperoleh manfaat maksimal dari program pembinaan.
Apa saja syaratnya?
- Memproduksi produk, bukan trader atau pedagang
- Merupakan usaha dengan penjualan tahunan kelas mikro (≤ Rp 2 miliar), kelas kecil (Rp 2 miliar < PT ≤ Rp 15 miliar), kelas menengah (Rp 15 miliar < PT ≤ Rp 50 miliar)
- Minimal usaha 1 tahun
- Mempunyai izin usaha minimal perorangan
- Bergerak di bidang usaha manufaktur, bengkel, kerajinan, kuliner, pertanian, atau perikanan.
- Mengikuti pelatihan YDBA minimal 1 kali
- Melaporkan perkembangan omzet atau asset kepada YDBA.
Untuk mendaftar menjadi binaan YDBA, para pelaku UMKM sangat dipersilakan dapat mengirimkan pesan melalui akun Instagram YDBA di @ydba_astra.
Saat Bersama YDBA, UMKM Naik Kelas dan Tembus Kemandirian...
Saat sebagian besar perusahaan besar di Indonesia belum memprioritaskan program CSR, Astra telah mendirikan YDBA dengan fokus membina UMKM pada 1980. Halaman all [1,307] url asal
#yayasan-dharma-bhakti-astra #ydba #pembinaan-umkm
(Kompas.com) 30/09/24 22:56
v/15782721/
KOMPAS.com – Sejak 1980, ketika sebagian besar perusahaan besar di Indonesia belum memprioritaskan program corporate social responsibility (CSR) atau kontribusi sosial, PT Astra International Tbk telah mendirikan Yayasan Dharma Bhakti Astra (YDBA) dengan fokus membina UMKM.
Pendiri Astra, Oom William Soeryadjaya, menginisiasi YDBA dengan filosofi "beri kail, bukan ikan".
Dalam hal ini, YDBA ingin memberikan program pembinaan yang bukan hanya bersifat jangka pendek ataupun charity, melainkan jangka panjang dan berkelanjutan.
Wujud pembinaan yang ditawarkan YDBA mencakup pelatihan dan pendampingan baik dalam aspek manajemen maupun teknis, serta fasilitasi pemasaran dan pembiayaan untuk mendorong kemandirian UMKM.
Di samping itu, YDBA siap mendukung UMKM di semua sektor untuk dapat memenuhi legalitas yang dibutuhkan.
“Pendiri Astra ingin Astra menjadi perusahaan yang bermanfaat bagi masyarakat dan negara. Ini sejalan dengan cita-cita Astra, yakni ‘Sejahtera Bersama Bangsa’,” jelas Ketua Pengurus YDBA, Rahmat Samulo, kepada Kompas.com pada Sabtu (28/9/2024).
Bina 1.328 UMKM dan akan tambah lagi
Pada 2024 ini, tercatat ada sebanyak 1.328 UMKM aktif yang mengikuti program pembinaan oleh YDBA.
Dari jumlah tersebut, 17 persen di antaranya bergerak di sektor manufaktur, 15 persen di sektor bengkel, 33 persen di sektor pertanian, 25 persen di kuliner, dan 9 persen di sektor kerajinan.
Ribuan UMKM itu tersebar di 19 wilayah di Indonesia, termasuk di Solo, Bantul, Tegal, Banyuwangi, Banyumas, Salatiga, Cakung, Lebak Banten, Sangatta Kaltim, Manggarai Barat NTT, Barito Utama Kalteng, Tanjung Kalsel, Bandung, hingga Cikuya Tangerang.
Untuk 2025, kata Samulo, YDBA telah menargetkan dapat membina UMKM lebih banyak lagi sejumlah 1.300-1.500 unit.
“Kami juga akan mewadahi ‘UMKM Mandiri’ binaan Astra dalam sebuah komunitas. Di samping itu, pada tahun depan, kami bakal memperkuat rantai pasok dengan industri besar baik Grup Astra maupun Non-Grup Astra untuk menjawab tantangan pasar bagi UMKM saat ini,” terangnya saat ditanya soal langkah strategis yang bakal dilakukan YDBA untuk UMKM dalam waktu dekat.
"Langkah lainnya, kami ingin mengembangkan sektor pertanian dengan mendorong pelaku UMKM di sektor tersebut untuk dapat menjalankan budidaya yang bernilai tambah," tambah Samulo.
KOMPAS.com/IRAWAN SAPTO ADHI Sosok Tri Rahayu Amperawati (58) yang merupakan pemilik UMKM ?Abon Ksatria? di Jl Kalikuantan No. 3 Kelurahan Jagalan, Jebres, Solo, Jawa Tengah, pada Kamis (12/9/2024). Setelah mendapat pembinaan dari Yayasan Darma Bhakti Astra (YDBA), Yayuk mulai memperbaharui peralatan dapur dengan alat semi otomatis dengan maksud ingin meningkatkan produksi. Ia juga memperbaiki manajemen dan proses pemasaran.Hasil nyata pendampingan
Di samping pengembangan modal bisnis, YDBA melihat, para pelaku UMKM memang jamak menghadapi tantangan pasar hingga saat ini.
Maka dari itu, Astra melalui YDBA berkomitmen akan terus melakukan kolaborasi baik dengan Grup Astra maupun non-Grup Astra.
Melalui kolaborasi, para pelaku UMKM diharapkan dapat berkesempatan menjadi bagian dari rantai pasok industri besar.
Seperti halnya yang dialamai UMKM di bidang manufaktur, CV Anugrah Jaya Mandiri.
Samulo menceritakan, perusahaan yang bergabung dengan YDBA pada 2016 ini telah berhasil menjadi Tier 2 PT Astra Honda Motor.
Berkat komitmen dan konsistensinya dalam menerapkan program pembinaan yang diberikan Astra melalui YDBA, perusahaan yang didirikan oleh Agus Mulyana tersebut kini telah memiliki karyawan sebanyak 65 orang. Padahal sebelumnya hanya enam orang.
Bukan hanya itu, CV Anugrah Jaya Mandiri juga telah berhasil menambah jumlah produk yang dihasilkan dari hanya 3 produk di masa lalu menjadi 150 produk saat ini.
YDBA melihat, Agus Mulyana telah berhasil pula dalam mengubah mindset-nya terkait pentingnya mengganti sistem manajemen bisnis rumahan menjadi standar industri besar.
Samulo senang, banyak UMKM lainnya juga menunjukkan kemajuan berarti setelah bekerja sama dengan YDBA.
Contoh lainnya, ada UMKM Bengkel Suryo Motor yang terletak di Kabupaten Purbalingga, Jawa Tengah.
Suryo Motor adalah bengkel mobil dengan pelayanan general service spesialis remap Electronic Control Unit (ECU).
Bengkel tersebut diketahui dirintis oleh Nastikun pada 1991, tetapi kemudian dikelola oleh generasi keduannya, yakni Sutikno, hingga sekarang.
Sejak 2020, Sutikto memutuskan untuk berkomitmen dan konsisten mengikuti berbagai program pembinaan yang dilakukan Astra melalui YDBA.
Berbagai materi pembinaan yang pernah Sutikno terima dari YDBA, termasuk soal mentalitas dasar, manajemen 5R (Ringkas, Rapi, Resik, Rawat, Rajin), manajemen bengkel, pembukuan sederhana, service advisor, teknik electric wiring diagram, standar pelayanan bengkel, matic and trobuleshooting, dan lain sebagainya.
Berkat kegigihan Sutikno, usaha bengkel Suryo Motor yang pertama kali hanya menghasilkan Rp 32.000 itu pun terus berkembang dan kini sanggup mendulang omzet hingga ratusan juta rupiah.
Samulo mengapresiasi perjuangan keras yang ditunjukkan Sutikno untuk melakukan perubahan yang up to date dalam menjalankan usaha bengkelnya dengan didampingi YDBA.
“Salah satu perubahan yang terlihat di bengkel tersebut, yakni pada awalnya menerapkan keuangan dengan sistem ‘management laci’, lalu bertransformasi memakai aplikasi komputer,” jelasnya.
Samulo juga merasa bangga dengan perkembangan yang ditunjukkan oleh kelompok tani Tunas Sejahtera.
Sebab, ia menyaksikan, UMKM yang mewadahi puluhan petani buah naga di Desa Temurejo, Banyuwangi, Jawa Timur, itu terus mengalami kemajuan bisnis setelah dirangkul YDBA pada 2021.
Berbagai perkembangan yang terlihat, antara lain berupa peningkatan produktivitas budidaya buah naga, terbukanya akses pasar, adanya keterlibatan dalam pelatihan dan peningkatan kemampuan para anggota, serta memperoleh kemampuan mengelola produk turunan buah naga.
Bukan hanya panen buah naga, kelompok tani Tunas Sejahtera yang diketuai oleh pemuda bernama Nanang Prasetyo (26) itu sekarang mampu mengolah semua unsur dari buah tersebut.
Itu termasuk bagian kulit dan bahkan sisi buah yang sudah tidak segar untuk dijadikan produk olahan bernilai.
Ketika pendapatan dan produktivitas buah naga di kelompok tani Tunas Sejahtera belum tertata, YDBA kala itu mencoba membantu dengan memberikan sejumlah program mulai dari pelatihan pemilahan buah, pengembangan produk olahan turunan, sampai fasilitasi pembukaan pasar.
“Hasil budidaya buah naga yang dikelola Nanang beserta petani lain diserap untuk dijadikan olahan buah naga, seperti selai, sale, dan keripik. Dalam proses ini, ada kolaborasi dengan UMKM kuliner yang juga binaan YDBA di Banyuwangi,” jelas Samulo.
UMKM harus naik kelas dan mandiri
Sejalan dengan kebutuhan bisnis saat ini, Samulo menyebut, para pelaku UMKM mau tidak mau harus mengikuti tren, termasuk terkait digitalisasi.
YDBA pun mendorong UMKM untuk dapat masuk ke ranah tersebut, baik dalam aspek pemasaran, produksi, hingga manajemen keuangan.
Menurut dia, para pelaku UMKM memiliki peranan yang sangat penting bagi perekonomian di Indonesia.
Oleh sebab itu, Astra melalui YDBA berkomitmen akan terus berupaya untuk menjadikan UMKM naik kelas dan mandiri.
Dalam hal ini, Astra ingin para UMKM Indonesia setidaknya memiliki mindset dan mentality untuk empat hal.
Pertama, mau berubah untuk lebih berkembang. Kedua, mau berbagi dalam hal apa pun, baik knowledge, pasar, dan lainnya.
Ketiga, ada komitmen dalam menjalankan bisnis dan menghasilkan produk yang sesuai standar quality, cost, delivery (QCD) customer. Terakhir, siap konsisten menghasilkan produk sesuai permintaan customer atau offtaker.
Saat diminta penjelasan, Samulo menyampaikan, proses bagi para pelaku UMKM untuk bisa menjadi bagian dari binaan YDBA tidaklah sulit.
Menurutnya, ada beberapa syarat yang harus dipenuhi, namun semuanya dirancang untuk memastikan UMKM dapat memperoleh manfaat maksimal dari program pembinaan.
Apa saja syaratnya?
- Memproduksi produk, bukan trader atau pedagang
- Merupakan usaha dengan penjualan tahunan kelas mikro (≤ Rp 2 miliar), kelas kecil (Rp 2 miliar < PT ≤ Rp 15 miliar), kelas menengah (Rp 15 miliar < PT ≤ Rp 50 miliar)
- Minimal usaha 1 tahun
- Mempunyai izin usaha minimal perorangan
- Bergerak di bidang usaha manufaktur, bengkel, kerajinan, kuliner, pertanian, atau perikanan.
- Mengikuti pelatihan YDBA minimal 1 kali
- Melaporkan perkembangan omzet atau asset kepada YDBA.
Untuk mendaftar menjadi binaan YDBA, para pelaku UMKM sangat dipersilakan dapat mengirimkan pesan melalui akun Instagram YDBA di @ydba_astra.
Abon Ksatria dan Oppu Company Berbagi Cara UMKM Berkembang dan Berdampak
Setelah menerima pendampingan dari YDBA, UMKM Abon Ksatria dan Oppu Company di Solo mengalami perkembangan bisnis. Bagaimana kisah mereka? Halaman all [2,571] url asal
#yayasan-dharma-bhakti-astra #ydba #ydba-dorong-umkm-lokal #pembinaan-umkm #ketua-pengurus-ydba-rahmat-samulo #rahmat-samulo
(Kompas.com) 29/09/24 07:41
v/15706107/
SOLO, KOMPAS.com – Begitu Tri Rahayu Amperawati (58) membukakan pintu, aroma perpaduan wangi gurih, manis, dan kaya rempah seketika memenuhi rongga hidung.
Ia lalu menunjukkan tumpukan abon daging sapi dalam jumlah besar yang baru saja dimasak dan sedang didinginkan di atas meja steril dari bahan keramik. Kepulan uap tipis masih menyelimuti sekitarnya.
Sementara di sudut lain dapur, dua pekerja terlihat terus mondar-mandir untuk memastikan beberapa alat produksi semi-otomatis beroperasi sebagaimana mestinya. Itu termasuk, dua wajan besar, presto raksasa, dan spinner peniris minyak jumbo.
Yayuk, begitu Tri Rahayu lebih akrab disapa, bersyukur kini rata-rata ia bisa memproduksi abon dari daging sapi dan atau daging ayam hingga berat 100 kg per hari.
Ia senang produksi abonnya yang dipasarkan dengan merek Ksatria kian diterima masyarakat.
Ogah menyerah
Ia bercerita, awal mula merintis usaha abon pada 1999. Yayuk kala itu melihat peluang bisnis makanan yang dibuat dari suiran daging dan dimasak hingga kering ini cukup besar.
Ia menyaksikan belum banyak pelaku usaha yang memproduksi abon 25 tahun silam.
”Kebetulan rumah saya ini kan berada di depan produksi rambak legendaris Solo milik Wiryodiharjo. Di sana dulu sering didatangi orang-orang dari berbagai daerah. Nah, sempat ada pengunjung yang bertanya, ’beli abon di mana?’ Dari situlah, saya tertarik menjualnya,” ucap Yayuk saat ditemui Kompas.com di dapur produksinya, Rabu (25/9/2024).
Rumah tinggal dan tempat produksi abon milik Yayuk berada di Jl Kalikuantan No. 3 Kelurahan Jagalan, Jebres, Solo, Jawa Tengah. Oleh masyarakat Kota Bengawan, Jagalan telah dikenal secara luas sebagai lokasi pemotongan hewan dan penjualan produk turunannya.
Yayuk mengaku, mulanya hanya menjual abon dan dendeng yang dibikin oleh sang ibu dan tantenya di usaha toko kelontong yang sudah lebih dulu ia buka di depan rumah.
Berjalannya waktu, abon yang ia jajakan ternyata lumayan laris sampai ada yang rela memesan.
Dari situ, Yayuk punya keinginan untuk belajar cara membuat abon sendiri dengan harapan dapat meningkatkan pasokan. Tapi yang terjadi, usahanya tak berjalan semulus yang dibayangkan.
Yayuk harus jatuh bangun dengan kegagalan saat awal memproduksi abon dan dendeng sapi. Ia merasa kualitas abon yang coba dibikin tak seperti yang dibuat orang tuanya.
Yayuk pun ogah menyerah. Ia memberanikan diri untuk terus mejajal dengan mempertaruhkan modal.
Ibu tiga anak ini lebih kurang membutuhkan waktu hingga 6 bulan sampai pada akhirnya merasa puas dengan produk buatannya dan mulai menawarkan kepada khalayak pada 2001.
”Saya itu mencoba tidak cuma 1 kali atau 2 kali, lalu jadi. Saya mengalami gagal, gagal, gagal, dan gagal. Tapi kegagalan ini justru memacu saya. Saya bertanya-tanya, ini kok bisa gagal? Ini kok hampir berhasil? Jadi saya coba terus sampai sreg,” jelasnya.
Berkat ketekunan dan keuletan belajar yang dipraktikkan, Yayuk akhirnya menuai hasil baik. Produk abon dan dendeng sapi olahannya lambat laun semakin diterima pasar.
Terus berinovasi
KOMPAS.com/IRAWAN SAPTO ADHI Sosok Tri Rahayu Amperawati (58) yang merupakan pemilik UMKM ?Abon Ksatria? di Jl Kalikuantan No. 3 Kelurahan Jagalan, Jebres, Solo, Jawa Tengah, pada Kamis (12/9/2024). Setelah mendapat pembinaan dari Yayasan Darma Bhakti Astra (YDBA), Yayuk mulai memperbaharui peralatan dapur dengan alat semi otomatis dengan maksud ingin meningkatkan produksi. Ia juga memperbaiki manajemen dan proses pemasaran.Seperti belum puas, ia tak lama kemudian bahkan mencoba mengasah kemampuannya dalam membuat srundeng kelapa dan lagi-lagi diterima oleh konsumen.
Setahun kemudian, Yayuk giliran belajar membuat rambak kulit sapi dari sang ibu.
"Saya memproduksi rambak lebih karena ingin menjaga tradisi keluarga yang kebetulan kakek dan ibu memang jago dalam membuatnya. Di samping itu, saya tentu ingin melebarkan usaha hingga bisa berdampak lebih besar ke lingkungan, baik itu terkait membuka kesempatan kerja maupun membuat Jagalan kian dikenal sebagai kampung oleh-oleh khas Solo," ungkapnya.
Hanya dalam waktu dua tahun, Yayuk pun resmi memiliki empat jenis makanan yang dipasarkan dengan brand ”Abon Ksatria”, yakni berupa abon, dendeng, srundeng, dan rambak. Saat itu omzetnya sudah mencapai hingga Rp10 juta per bulan.
Tapi, Yayuk lagi-lagi enggan berhenti berinovasi meski pendapatnya sudah lumayan. Pada 2010, ia giliran mencoba membuat abon dari bahan baku daging ayam.
Yayuk melakukannya setelah memperoleh ide atas permintaan dari pelanggan.
”Ada yang berminat dibuatkan abon ayam. Katanya mau dipasarkan di Bali. Ya saya sanggupi. Kenapa tidak? Soalnya dari segi resep kan tidak jauh beda dengan abon sapi. Dan, syukurlah, si konsumen ini cocok dan menjadi reseller hingga sekarang. Abon ayam ini ternyata memang punya peminat tersendiri,” ungkapnya.
Sementara itu, ketika pandemi Covid-19 mulai melanda pada 2020, ia memiliki gagasan untuk mencoba mengolah kaldu ayam dari proses pembuatan abon menjadi kremes.
”Pandemi kan semuanya harus beradaptasi ya. Saat itu saya kepikiran untuk menambah varian produk lagi. Saya cobalah bikin kremes, dan ternyata tak mudah. Saya sempat berulang kali gagal sampai pada akhirnya menemukan hasil sempurna bagi saya. Bersyukur kremes itu sampai sekarang juga diminati,” ujarnya.
Kala pagebluk Covid-19 melanda, Yayuk juga berupaya memaksimalkan pemasaran atau penjualan produk-produk Abon Ksatria lewat beragam marketplace maupun media sosial. Dalam proses ini, ia dibantu oleh putrinya, Rosalia Nanda (24).
”Bagi pelaku UMKM, kemampuan beradaptasi menjadi kunci untuk bertahan dan berkembang, terutama dalam menghadapi tantangan dan perubahan yang cepat seperti selama pandemi lalu. Pelaku usaha mesti bisa hadir menjawab kebutuhan pasar. Ketika pasar itu online, ya mau tidak mau kita bisa menjawabnya melalui online juga," tambahnya.
Ia pun bersyukur produk ”Abon Ksatria” sekarang bisa dinikmati oleh banyak orang dari berbagai daerah di Indonesia setelah dipasarkan dan dijual secara online.
”Untuk pembelian secara langsung, kami sendiri sudah bekerja sama dengan lima toko oleh-oleh lain di Solo dan 33 Indomaret di Solo Raya. Produk kami juga bisa ditemukan di sana,” ucapnya.
Membangun jaringan
Seiring dengan meningkatnya permintaan akan produk ”Abon Ksatria”, Yayuk juga telah melakukan inovasi dengan cara memperbaharui peralatan produksinya di dapur.
Jika pada mulanya proses produksi dilakukan secara manual, ia kini memanfaatkan banyak peralatan semi-otomatis ataupun lebih canggih, seperti wajan elektrik, spinner elektrik, dan presto elektrik.
Yayuk mengaku melakukannya setelah mendapatkan inspirasi dan informasi dari pelaku UMKM lain.
Ia merasa beruntung selama ini telah mengambil pilihan tepat dengan aktif mencoba mengikuti berbagai workshop atau seminar, pameran, maupun pertemuan antar-UMKM.
”Misalnya soal presto, saya itu dulu cuma pakai panci biasa untuk merebus daging. Proses itu bisa tiga kali lebih lama jika dibandingkan dengan memanfaatkan presto. Jadi saya bersyukur sempat difasilitasi Yayasan Dharma Bhakti Astra (YDBA) Solo untuk mengikuti pelatihan di Semarang pada awal 2019. Di situ, saya jadi bisa bertemu dengan pelaku UMKM bandeng presto dan terinpirasi untuk pakai presto. Saya bahkan sampai dikenalkan dengan ahli yang bisa membuatkan presto jumbo di Gunungpati,” jelasnya.
Menurutnya, berjejaring bukan lagi menjadi sebuah pilihan bagi pelaku UMKM, melainkan kebutuhan.
Melalui kolaborasi dan jaringan, para pelaku UMKM bisa saling berbagi pengalaman, memperluas pasar, dan menemukan peluang baru yang mungkin tidak terlihat jika berjalan sendiri.
Yayuk kala itu juga memperoleh tawaran dari YDBA untuk menjual produk di rest area jalan tol yang hendak dibangun PT Astra di Salatiga. Tak berpikir panjang, Yayuk langsung menyanggupinya.
“Prosesnya kan enggak gampang. Produk harus dikurasi, dilihat legalitas, dan lain-sebagainya. Jadi, ada yang ikut, ada yang enggak. Saya memberanikan diri untuk ikut dan sempat kaget ketika dinyatakan lolos,” ungkapnya.
Oleh YDBA, Yayuk pernah pula diberi kesempatan untuk mengikuti pelatihan-pelatihan yang turut membantunya dalam meningkatkan produktivitas dan efisiensi operasional, termasuk soal budaya kerja ringkas, rapi, resik, rawat, rajin (5R), dan quality control circle (QCC).
Yayuk bahkan kemudian keluar menjadi juara 1 dalam Lomba 5R yang diadakan oleh YDBA pada 2022, dan juara 2 dalam Lomba QCC pada 2023. Pada tahun kemarin, ”Abon Ksatria” juga dinyatakan lulus asesmen YDBA sebagai UKM Mandiri.
”Kami pernah juga difasilitasi YBA untuk mengikuti berbagai pameran produk UMKM. Kami bahkan sampai dipertemukan dengan calon-calon pembeli dalam forum business matching.,” katanya.
Melestarikan warisan budaya
KOMPAS.com/IRAWAN SAPTO ADHI Sosok Katarina Octaviani Putri (27), pengusaha tenun asal Kelurahan Serangan, Solo, saat difoto pada Rabu (25/9/2024). Bersama sang ibu, Oca, begitu Katarina Octaviani lebih akrab disapa, sudah 10 tahun mengembangkan usaha industri kreatif craft dan fashion di bawah bendera Oppu Company dengan merek Oppu Label.Co dan Lorek Jejeg. Ia melakukannya dengan semangat menjaga warisan budaya. Ia mengaku sangat terbantu dengan dukungan yang diberikan Yayasan Darma Bhakti Astra (YDBA) dalam upaya pengembangan usaha.Katarina Octaviani Putri (27) selama ini juga tak mau menyia-nyiakan kesempatan apabila ada peluang untuk mengikuti workshop dan pameran UMKM.
Pengusaha tenun asal Kelurahan Serangan, Solo, itu ingin terus menambah wawasan dan jejaring seluas-luasnya.
Bersama sang ibu, Oca, begitu Katarina Octaviani lebih akrab disapa, sudah 10 tahun mengembangkan usaha industri kreatif craft dan fashion di bawah bendera Oppu Company dengan merek Oppu Label.Co dan Lorek Jejeg.
Di tangan mereka, wastra tradisional Jawa berupa kain tenun lurik telah berhasil disulap menjadi produk-produk kriya dan fesyen yang cantik dan bernilai ekonomi tinggi.
Oca menyebut, pertimbangan utama memilih mengangkat kain tenun lurik dalam usahanya, yakni karena ingin ikut melestarikan benda warisan budaya ini agar tidak punah.
Kain lurik diketahui termasuk salah satu warisan budaya tak benda dari Indonesia yang sudah ada sejak lama. Nama kain lurik berasal dari kata lorek yang dalam Bahasa Jawa berarti lajur atau garis, belang, dan dapat juga berarti corak.
Ia berharap kain lurik bisa menjadi kain tradisional yang digemari oleh seluruh kalangan masyarakat.
Lagi pula, Oca kala itu melihat, belum banyak pelaku usaha di Solo Raya yang melirik penggunaan kain tenun lurik, khususnya jenis gedog untuk dibuat produk fesyen dan kriya.
Kain tenun lurik gedog adalah kain lurik yang dibuat dengan alat tenun gedog yang masih sangat tradisional. Alat ini juga biasa disebut sebagai alat tenun gendong karena saat digunakan memang akan berada di pangkuan para penenun yang duduk di lantai.
“Saya ingin kain tenun lurik gedog semakin dikenal masyarakat, bukan hanya untuk gendongan, melainkan bisa dijadikan produk lain bernilai tinggi,” paparnya saat diwawancari.
Dari kain tersebut, Oca awalnya membuat outer untuk daily outfit. Berjalannya waktu, ia kemudian mencoba mengkreasikan menjadi syal, kemeja, blankon, dan lain sebagainya.
“Sekarang produknya sudah lebih bervariasi, dari (untuk) kepala sampai kaki. Kami juga menjadikan kain tenun lurik ini untuk sandal, kipas, kotak tisu, hingga topi,” ucapnya.
Dalam memilih kain tenun lurik bedog, Oca juga punya tujuan ingin meningkatkan pertumbuhan ekonomi penenun tradisional di wilayah Klaten, Jawa Tengah yang dirasa semakin terpinggirkan. Ia selama ini mengambil bahan baku kain dari mereka.
Oca bersyukur, lewat pameran-pameran yang pernah diikuti, produknya bahkan telah sampai di tangan sejumlah figur publik, termasuk musisi Endah n Rhesa, aktris Happy Salma, aktor senior Slamet Rahardjo, dan jurnalis televisi Rosianna Silalahi.
Menurutnya, keikutsertaan pelaku UMKM dalam berbagai kegiatan di luar termasuk pameran, pelatihan, seminar, dan program dukungan lainnya, sangatlah penting untuk keberlanjutan dan pertumbuhan bisnis.
Keterlibatan itu, kata dia, bisa membawa banyak dampak baik, seperti akses ke pengetahuan atau keahilan baru; perluasan jaringan dan kolaborasi; peningkatan eksposur, pemasaran, peputasi, dan kredibilitas; akses ke teknologi dan inovasi baru; umpan balik; wawasan pasar; peluang untuk ekspansi Pasar; hingga akses pendanaan dan investasi.
Dalam perjalannya, Oca juga pernah diajak oleh YDBA untuk mengikuti berbagai pameran di Solo maupun di daerah lain, termasuk di Trade Expo Indonesia (TEI), Tangerang Selatan.
“Oleh YDBA, kami mendapat banyak kesempatan untuk berkembang. Kami juga pernah diikutkan dalam beragam pelatihan, seperti tentang keuangan dan pemasaran. Tentu ini punya dampak terhadap perkembangan usaha kami,” ucapnya.
Sama seperti Abon Ksatria, produk Oppu Company pada 2019 juga dinyatakan lolos kurasi untuk dipasarkan di Resta Pendopo KM 456 milik Astra.
Pada 2023, Oppu Company giliran berhasil lulus asesmen YDBA dan mendapatkan titel UMKM Mandiri.
Saat ini Oca memasarkan produknya secara offline di store Mojosongo Solo (Griya Tiara Ardi No. B-15), Pasar Malam Ngarsopuro (khusus akhri pekan), Museum Pabrik Gula Colomadu, Resta Pendopo KM 456 Salatiga, Jogja Pasaraya, La Li Sa Bantul, dan Jakarta.
Sedangkan pembelian produk Oppu Company secara online bisa dilakukan melalui akun Oppu Company di media sosial Instagram, serta marketplace Tokopedia dan TikTokShop.
”Melalui kolaborasi dengan berbagai pihak, UMKM bukan hanya akan mampu bertahan, tetapi juga tumbuh lebih kuat dalam menghadapi tantangan pasar yang semakin kompetitif,” serunya.
Semangat kolaborasi
Koordinator Lembaga Pengembangan Bisnis (LPB) YDBA Solo, Dimas Wahyu Ashary, sangat mengapresiasi para pelaku UMKM yang punya semangat berkembang dan ingin berdampak bagi khalayak.
Per September 2024 ini, YDBA Solo mencatat telah memiliki sedikitnya 94 UMKM binaan yang bukan hanya tersebar di wilayah Solo Raya, melainkan juga di Salatiga dan Kendal.
Semua pelaku UMKM tersebut sejauh ini aktif mengikuti kegiatan yang diadakan oleh YDBA sebagai salah satu pelaksana corporate social responsibility (CSR) dari PT Astra International Tbk.
”Jumlah UMKM yang coba kami dampingi terus bertambah. Faktanya, jumlah UMKM binaan untuk tahun ini hampir dua kali lipat dibandingkan tahun 2022 lalu sebanyak 53 UMKM,” ungkapnya.
Dalam catatan Dimas, UMKM binaan YDBA Solo paling banyak bergerak di bidang kuliner dan kerajinan, yakni berjumlah 31 usaha.
Setelah itu, disusul 22 UMKM bergerak di bidang manufaktur, 21 UMKM di bidang pertanian hidroponik, dan 20 UMKM di bidang bengkel roda empat.
Terpisah, Ketua Pengurus YDBA, Rahmat Samulo, mengatakan pendiri Astra, yakni Oom Wiliam Soeryadjaya, memang membentuk Yayasan Dharma Bhakti Astra (YDBA) dengan fokus membina UMKM.
Menurutnya, pendiri Astra ingin Astra berkembang dan bermanfaat seperti pohon yang rindang yang berguna sebagai tempat berteduh dari hujan dan panas.
"Singkat kata, Oom ingin Astra menjadi perusahaan yang bermanfaat bagi masyarakat dan negara, sejalan dengan tujuan Astra 'Sejahtera Bersama Bangsa'," jelasnya kepada Kompas.com, Sabtu (28/9/2024).
Yayasan Dharma Bhakti Astra (YDBA) Petani binaan Astra melalui Yayasan Dharma Bhakti Astra (YDBA) dan Pusat Investasi Pemerintah (PIP) di Sukawangi Bogor menunjukkan produk hortikultura hasil budidaya organik kepada Ketua Pengurus YDBA Rahmat Samulo (kanan), Direktur PIP Muhammad Yusuf (kedua kanan) dan EVP Corporate Secretary & Communication PT Penjaminan Infrastruktur Indonesia (Persero) (PII) Yunan Novaris (kiri)Dalam hal ini, Astra melalui YDBA ingin memberikan program pembinaan yang bukan bersifat short term atau charity, melainkan sustain dengan mentalitas yang sesuai dengan tantangan saat ini.
"YDBA selama ini melakukan pembinaan melalui program pelatihan dan pendampingan yang bersifat manajemen juga teknis, fasilitasi pemasaran, dan fasilitasi pembiayaan yang mendukung kemandirian UMKM," jelas Rahmat.
Di samping itu, YDBA juga mendukung bagaimana UMKM dapat memenuhi legalitas yang dibutuhkan UMKM di setiap sektor.
Rahmat menyebut, tercatat sudah ada 1.328 UMKM aktif yang mengikuti program pembinaan YDBA pada 2024 ini.
Dari jumlah tersebut, 17 persen di antaranya bergerak di sektor manufaktur, 15 persen di sektor bengkel, 33 persen di sektor pertanian, 25 persen di sektor kuliner, dan 9 persen di sektor kerajinan.
UMKM tersebut tersebar di 19 wilayah di Indonesia, termasuk Solo, Cakung, Banyuwangi, Bantul, Tegal, Banyumas, Salatiga, Citeureup & Puncak Dua Bogor, Lebak Banten, Sangatta di Kalimantan Timur (Kaltim), Paser di Kaltim, Bontang di Kaltim, Manggarai Barat di NTT, Manggarai Timur di NTT, Barito Utama di Kalteng, Tanjung di Kalsel, Bandung, dan Cikuya Tangerang.
"Untuk tahun 2025 mendatang, YDBA akan coba membina UMKM lebih banyak lagi, yakni 1.500 UMKM," serunya bersemangat.
Industri Jasa Pengecatan Tuai Berkah dari Pembinaan YDBA
Pelaku industri bidang pengecatan untuk plastik part, menuai berkah usai menjadi salah satu IKM binaan Yayasan Dharma Bhakti Astra (YDBA). [591] url asal
#astra #ydba #yayasan-dharma-bhakti-astra #industri-pengecatan #pengecatan #industri-kecil-menengah #ikn-binaan-astra
(Bisnis.Com - Ekonomi) 29/08/24 19:33
v/14818230/
Bisnis.com, PURWAKARTA - PT Arkha Industries Indonesia, perusahaan yang bergerak di bidang pengecatan untuk plastik part, menuai berkah usai menjadi salah satu dari sekian banyak industri kecil menengah atau IKM binaan Yayasan Dharma Bhakti Astra (YDBA).
Sebagai informasi, produk-produk yang diproduksi oleh perusahaan yang berlokasi di Purwakarta, Jawa Barat itu sebagian besar dari PT Astra Komponen Indonesia, seperti rear grip untuk motor ADV yang disuplai ke PT Astra Honda Motor, cover mirror untuk motor Scoopy, trim speedometer, dan sebagian body set cover dari motor Vario, untuk customer lain selain PT Astra Komponen Indonesia (Aski).
Direktur Operasional PT Arkha Industries Indonesia, Bagus Setiawan, menyampaikan, program pendampingan dari tim YDBA memberikan manfaat signifikan terhadap kinerja perusahaan.
Untuk proses internal, dia mengklaim kini menjadi lebih efisien. Misalnya, sistem yang sudah ada dan berjalan dapat terdokumentasi dengan baik.
Selain itu, untuk produk yang dijalankan PT Arkha Industries Indonesia seperti produk rear flip, dikirim ke PT Astra Company Indonesia, lalu dikirim ke PT Astra Honda Motor, dan selanjutnya di ekspor ke beberapa negara tetangga.
“Ini di proses internal, yang tadinya di 2022 kita rasio itu di angka 65%. Kemudian di 2023 hingga sekarang, rasio kita stabil di angka 85%. Ini adalah manfaat langsung yang kita dapatkan dari hasil training YDBA,” kata Bagus saat ditemui, Kamis (29/8/2024).
Lebih lanjut, Bagus menyebut bahwa metode peningkatan kapabilitas, sebagai bagian dari program YDBA, langsung dirasakan manfaatnya oleh PT Arkha Industries Indonesia.
Hal ini terlihat dari pemenuhan order dari PT Astra Komponen Indonesia, yang dapat mencapai 100%. Bagus juga mengungkapkan, kapasitas produksi internal perusahaan mengalami peningkatan dan kemampuan untuk membuat produk menjadi lebih bervariasi.
Peningkatan kapabilitas ini, kata Bagus, berdampak positif terhadap omset perusahaan per tahun. Di 2023, Bagus menyebut bahwa omset perusahaan terkerek sebesar 10% berkat program-program yang diterapkan PT Arkha Industries Indonesia dari YDBA.
“Kemudian di 2024, kita ada kenaikan omset sebesar 7%. Jadi total untuk kenaikan omset dari dua tahun kebelakang kita 17%,” ungkapnya.
Manfaat lain yang dirasakan perusahaan adalah dari sisi pembiayaan. Bagus menuturkan, perusahaan mendapat akses finansial dan pembiayaan dari program YDBA. Pembiayaan ini telah membantu mengembangkan internal dan meningkatkan kapasitas perusahaan.
Purchasing and Administration Division Head PT Astra Komponen Indonesia, Calvin Mayrs, menambahkan, perusahaannya tidak hanya fokus pada pengadaan penyediaan dari suplai komponen, tapi juga komitmen untuk mengembangkan dan mendevelop secara kompetensi, kualitas, dan delivery dari IKM tersebut.
“Jadi pengembangan IKM ini, memang manfaatnya karena kita develop bukan hanya terlihat para IKM tersebut, tapi kita punya tier 1 juga mendapatkan manfaatnya,” tuturnya.
Menurutnya, PT Arkha Industries Indonesia merupakan salah satu IKM yang berhasil membuat perubahan dan improvement secara kualitas dan delivery, yang tidak lepas dari bimbingan dan pendampingan oleh PT Astra Honda Motor dan YDBA.
Dia mengharapkan, kinerja positif ini akan terus berjalan dan berkembang lebih baik kedepannya. Mengingat, kebutuhan permintaan sparepart khususnya kendaraan roda dua semakin meningkat, baik di dalam maupun luar negeri.
Sementara itu, Ketua Pengurus Yayasan Dharma Bhakti Astra (YDBA) Rahmat Samulo mengungkapkan bahwa Astra beserta anak-anak perusahaannya memiliki semacam kebijakan untuk membina IKM. Kebijakan ini diharapkan dapat mendorong IKM untuk masuk ke rantai pasok.
“Kita bina dulu supaya QCD-nya (Quality Cost Delivery) masuk. Setelah itu baru dia bisa suplai, ini penting sekali,” kata Rahmat.
Selanjutnya, YDBA akan mendidik para IKM agar dapat naik kelas, dan kualitas produknya sesuai dengan standar kualitas anak perusahaan Astra. Lalu, tugas IKM adalah menjaga keberlanjutannya agar kinerja perusahaan terus meningkat.
Adapun hingga saat ini, YDBA telah membina sekitar 13.000 UMKM, termasuk IKM, yang tersebar di seluruh Indonesia. Setidaknya, sebanyak 1.300 UMKM akan mendapat pembinaan dari YDBA tahun ini.
Yayasan Astra Pamerkan 100 Produk UMKM di GIIAS 2024
Yayasan Dharma Bhakti Astra (YDBA) memamerkan 100 produk UMKM di pameran otomotif GAIKINDO Indonesia International Auto Show (GIIAS) 2024 di ICE BSD, Serpong, Banten. Selain produk pendukung otomotif, [364] url asal
#berita-terkini #berita-hari-ini #produk-umkm #ydba #giias-2024 #berita-ekonomi-terkini
(InvestorID) 21/07/24 22:11
v/11591186/
JAKARTA, investor.id – Yayasan Dharma Bhakti Astra (YDBA) memamerkan 100 produk UMKM di pameran otomotif GAIKINDO Indonesia International Auto Show (GIIAS) 2024 di ICE BSD, Serpong, Banten. Selain produk pendukung otomotif, beragam produk kuliner hingga fashion juga dipamerkan.
“YDBA hadir di GIIAS 2024 untuk menunjukkan perhatian kami pada perkembangan UMKM dengan melakukan pembinaan pada 18 jenis UMKM,” kata Ketua Pengurus Yayasan Dharma Bhakti Astra (YDBA) Rahmat Samulo di booth YDBA di GIIAS, ICE BSD, Banten, Jumat (19/7/2024).
Terkait GIIAS, Rahmat memaparkan, ada 27 jenis produk UMKM yang masuk dalam bidang otomotif. “Untuk motor ada 27 komponen dari 20 binaan. Hampir semua mobil dan motor yang diproduksi di Grup Astra disuport oleh UMKM ini, termasuk produk lampu dan sparepart lain-lain,” ungkap Rahmat.
Selain sparepart otomotif, YDBA juga menampilkan produk UMKM alat kesehatan, alat elektronik, mesin kopi, alat pertanian, produk fashion seperti baju batik, tas, dompet, dan sepatu, hingga makanan ringan.
“Para UMKM itu kami bina. Kita carikan marketnya, kualitasnya kita tingkatkan. Kalau butuh modal, kita juga carikan modal,” ujar Rahmat.
Menurut Rahmat, setiap tahun ada 1.200 UMKM yang dibina YDBA. Namun umumnya sekitar 200-300 UMKM yang berhasil mandiri. “Tahun ini kami membina 1.300 UMKM,” kata Rahmat.
Agar sukses mandiri, Rahmat berpesan agar para UMKM memiliki sejumlah sarat, yaitu mental yang kuat, mau berubah, komitmen, konsisten, mau berbagi ilmu, dan akses pasar. “Mental harus kuat, karena UMKM umumnya sudah mempunyai cara kerja biasanya. Nah, Astra masuk untuk mengubah kebiasaan mereka. Setelah berubah, mereka harus komitmen dan konsisten. Kita carikan akses pasar, kita create juga pasarnya. Kalau yang datang menjual pakai nama Astra kan pasti lebih mudah menjualnya. Kami juga bekerja sama dengan BUMN untuk menjualkan produk UMKM ini,” ujar Rahmat Samulo.
Pembinaan dari YDBA ini sangat dirasakan manfaatnya oleh Sondang Pasaribu, pemilik produk UMKM bidang fashion Mejikuhibiniu. “Saya dilatih bagaimana memiliki mindset sebagai pengusaha. Saya juga mendapat akses pasar melalui space pameran di berbagai tempat, seperti di GIIAS ini dan juga di Galeri YDBA,” ujar Sondang yang memproduksi sepatu kulit dipadu kain Indonesia, seperti batik dan tenun.
Editor: Mardiana Makmun (mardiana.makmun@investor.id)
Follow Channel Telegram Official kami untuk update artikel-artikel investor.id
Baca Berita Lainnya di Google News