Marlin Natuna: Proyek Modifikasi Kapal Tanker Jadi Penyimpanan dan Pembongkaran Migas Pertama di RI
Proyek modifikasi Marlin Natuna menjadi proyek konversi kapal tanker menjadi FPSO pertama yang dikerjakan di Indonesia.
(Kompas.com) 01/10/24 05:10 15792456
BATAM, KOMPAS.com - Kapal penyimpanan dan pembongkaran atau floating storage production and offloading (FPSO) produksi minyak dan gas (migas) Marlin Natuna dari proyek Medco E&P Natuna resmi berlayar pada Senin (30/9/2024) hari ini.
Proyek modifikasi Marlin Natuna menjadi proyek konversi kapal tanker menjadi FPSO pertama yang dikerjakan di Indonesia, tepatnya di kawasan galangan kapal Pan Ocean PT Dok Warisan Pertama di Tanjung Uncang, Batam, Kepulauan Riau.
Modifikasi itu dikerjakan oleh PT Hanochem Tiaka Samudera dan PT PaxOcean Batam, dengan penggunaan tingkat komponen dalam negeri (TKDN) sebesar 80 persen dan dikerjakan oleh 1.386 pekerja Indonesia, setara 99 persen dari total tenaga kerja yang terlibat.
"Pembangunan FPSO Marlin Natuna mampu menciptakan multiplier effect bagi perekonoman nasional dan terutama perekonomian daerah," ujar Deputi Eksploitasi Satuan Kerja Khusus Pelaksana Kegiatan Usaha Hulu Minyak dan Gas Bumi (SKK Migas), Wahju Wibowo, dalam seremoni Sail Away FPSO Marlin Natuna, di Batam, Senin.
Sementara itu, Direktur Utama Medco E&P Ronald Gunawan mengatakan, tercapainya target TKDN dalam Proyek FPSO Marlin Natuna merupakan hasil kolaborasi yang baik antara industri hulu migas dengan industri dalam negeri.
"Keberhasilan mencapai TKDN sebesar 80 persen dan penyerapan maksimal tenaga kerja dari Indonesia membuktikan bahwa dengan sinergi yang baik, kita dapat membangun industri hulu migas yang mandiri dan berdaya saing," tuturnya.
Pada kesempatan yang sama Contract and Procurement Manager PT Hanochem Juli Indira Wardhana menjelaskan, kerja sama dengan berbagai perusahaan lokal dilakukan diantaranya untuk memproduksi komponen-komponen kritis seperti kabel, pembakaran gas suar (flaring tip) dan bejana tekan (pressure vessel).
"Tak hanya itu, seluruh fabrikasi module FPSO ini juga dikerjakan oleh perusahaan lokal di wilayah Batam dengan melibatkan tenaga kerja lokal berpengalaman dan fresh graduate yang diberikan kesempatan berkontribusi di proyek nasional ini,” ujar Juli.
Terkait penyerapan tenaga kerja Indonesia, Managing Director dan Chief Executive Officer PaxOcean Group Tan Thai Yong mengatakan, pengerjaan proyek FPSO Marlin Natuna juga memberi kesempatan kepada para fresh graduate untuk berpartisipasi agar mendapatkan pengalaman yang bernilai.
"Kami berharap mereka juga dapat membagikan ilmu yang didapat dari dalam proyek ini kepada rekan-rekan lainnya, sehingga memicu semangat membangun dan memajukan Indonesia di bidang industri migas," ucapnya.
Sebagai informasi, fasilitas FPSO Marlin Natuna memiliki kapasitas penyimpanan hingga 250.000 barrel minyak.
Adapun, FPSO Marlin Natuna bakal digunakan untuk mendukung operasional proyek Forel Area di Kepulauan Natuna dengan kontribusi 10.000 barrel minyak per hari (barrel oil per day/bopd).