3 Hal yang Harus Dipertimbangkan Sebelum Memberi Pasangan Kesempatan Kedua
Sebelum memberi kesempatan kedua pada pasangan, penting untuk mempertimbangkan dampak baik dan buruknya, agar kita tidak menyesal.
(Kompas.com) 01/10/24 20:48 15825709
KOMPAS.com - Seorang manusia dapat melakukan kesalahan, termasuk dalam hubungan.
Kesalahan yang dilakukan pasangan dapat menyakiti dan mengecewakan kita, sehingga kita ingin memutuskan hubungan dengannya.
Namun, permintaan maaf pasangan dan rasa cinta, kerap membuat kita memberikan kesempatan kedua pada pasangan. Dengan harapan, pasangan bisa berubah dan tidak mengulangi kesalahan yang sama.
Lantas sebenarnya, bolehkah kita memberikan kesempatan kedua pada pasangan yang sudah berlaku toksik? Simak penjelasannya!
1. Mempertimbangkan kemungkinan
Menurut Psikolog Vania Susanto, kesempatan kedua adalah pilihan sendiri, di mana sebagai seseorang yang telah dewasa kita sudah memiliki pilihan atau kehendak bebas untuk memilih.
"Namun, memilih itu harus didasari oleh tanggung jawab. Yaitu dengan penuh kesadaran, menyadari konsekuensi dari pilihan itu," ujarnya dalam Webinar Psikologi Bangkit dari Toxic Relationship: Langkah Menuju Hubungan Sehat, Jumat (27/9/2024).
Kita harus mempertimbangkan dampak positif dan negatif yang bisa terjadi, jika memberi kesempatan kedua pada pasangan.
"Bisa tidak kira-kira ia dipercayai jika diberikan kesempatan kedua dan jika tidak bisa, apakah aku memiliki kapasitas untuk menoleransi hal tersebut?" jelas Vania.
Pada dasarnya, kitalah yang paling mengenal pasangan kita. Apakah kesalahan dan sikap toksiknya tidak disengaja ,sehingga secara tidak sadar menyakiti kita dan membuat hubungan menjadi toksik?
Atau apakah perilaku toksik pasangan dilakukan secara sadar, karena ia menginginkan sesuatu dari kita?
Jika pasangan yang seperti itu diberikan kesempatan kedua, ada tendensi bahwa ia akan mengulangi kesalahannya lagi.
"Ia merasa seeprti \'aku diberikan kesempatan kedua kok, berarti nanti jika berbuat kesalahan lagi, aku hanya perlu minta maaf. Dia pasti akan baik lagi\'," tangkas Vania.
Artinya, perlakuan toksiknya masih akan terus berulang, karena ia tidak mau berubah.
"Bisa bayangkan enggak, seumur hidup bersama pasangan yang seperti itu perilakunya?" tanya Vania.
Perlu diingat, kita tidak bisa mengontrol apa yang dipikirkan atau dilakukan oleh pasangan.
"Respons kita dan apa yang kita inginkan, itu adalah kontrol kita," ungkap Vania.
Kita bisa mengontrol agar kita tidak lagi mendapat perlakuan toksik, yaitu dengan mengakhiri hubungan.
2. Perilaku toksik sulit berubah
Ada juga kondisi di mana kita merasa, bahwa pasangan layak diberikan kesempatan kedua.
"Ketika ada tanda-tanda atau menujukan perilaku yang konsisten berubah lebih baik," jelas Vania.
Tidak apa-apa jika kita ingin memberikan kesempatan kedua bagi pasangan. Tapi perlu diingat, bahwa kita tidak bisa mengontrol atau memastikan apakah pasangan benar-benar berubah atau tidak.
"Karena jika ada tanda-tanda toksik, sebenarnya sulit sekali untuk berubah. Kecuali kesadran pelaku sendiri," ungkap Vania.
Kalau pun pasangan sadar dan mau untuk berubah, pasti butuh waktu untuk berubah. Perlu dipertimbangkan, apakah kita memiliki kapasitas untuk bersabar dan menerimanya selama proses perubahan.
3. Kesempatan memulai hubungan baru
Banyak orang memberikan kesempatan kedua karena takut menyesal.
"Kalau aku tidak memberi kesempatan kedua, aku bakal sedih, putus cinta, dan menangis," ujar Vania.
Kita merasa kehilangan dan menyesal, karena telah memutuskan hubungan dengan pasangan.
"Tapi mungkin setelah itu, kita punya kesempatan untuk berada di hubungan yang sehat," tutup Vania.
#toxic-relationship #pasangan-toksik #memberi-kesempatan-kedua-pada-pasangan