Cara Sampoerna Membangun Ekonomi Berkelanjutan lewat Program Pendampingan UMKM Halaman all
Komitmen Sampoerna terhadap UMKM ditunjukkan melalui sejumlah program penting, seperti SRC dan SETC Halaman all
(Kompas.com) 01/10/24 20:25 15834468
JAKARTA, KOMPAS.com – Usaha mikro kecil dan menengah (UMKM) jadi salah satu sektor penting dalam menopang perekonomian Indonesia.
Berdasarkan data Kementerian Koordinator Bidang Perekonomian Republik Indonesia pada 2023, sektor UMKM disebutkan menyumbang sekitar 60,3 persen dari total produk domestik bruto (PDB) dan menyerap 97 persen dari total tenaga kerja di Indonesia.
Angka tersebut menunjukkan betapa krusialnya UMKM sebagai tulang punggung ekonomi Tanah Air.
Oleh karena itu, tak heran jika upaya pemberdayaan UMKM penting dilakukan oleh semua pihak, termasuk swasta, demi mendukung pertumbuhan ekonomi yang inklusif dan berkelanjutan.
Di Indonesia, salah satu perusahaan yang berkomitmen besar terhadap upaya pemberdayaan UMKM adalah PT HM Sampoerna Tbk (Sampoerna).
Komitmen Sampoerna ditunjukkan melalui sejumlah program penting, seperti Sampoerna Retail Community (SRC) dan Sampoerna Entrepreneurship Training Center (SETC).
SRC adalah program peningkatan kapasitas peritel tradisional yang mencakup edukasi penataan toko, manajemen keuangan, strategi pemasaran, literasi digital, hingga dukungan bagi UMKM di sekitar toko kelontong.
Sementara itu, SETC merupakan program berkelanjutan Sampoerna yang berfokus pada pembinaan dan pengembangan kewirausahaan.
Para pelaku UMKM binaan SETC mendapatkan pelatihan kejuruan, seperti kuliner, pertanian, peternakan, dan kerajinan. Di SETC, UMKM juga diberi pembinaan, konsultasi, dan pendampingan untuk ekspor.
Presiden Direktur Sampoerna Ivan Cahyadi mengatakan, program-program pengembangan UMKM yang perusahaannya jalankan merupakan bentuk kontribusi nyata Sampoerna dalam mendukung pertumbuhan ekonomi berkelanjutan yang berdampak positif bagi masyarakat luas.
“SRC lahir pada 2008 dan terinspirasi dari pengalaman pribadi saya saat melihat toko kelontong mitra kami yang terancam tutup. Hal ini mendorong kami untuk melakukan sesuatu agar toko ini dan mitra-mitra yang lain dapat bertahan dan semakin baik dalam menjalankan usahanya,” ujar Ivan saat berbincang dengan Pemimpin Redaksi Kompas.com Wisnu Nugroho dalam acara Beginu, Jumat (30/8/2024).
Menurut Ivan, upaya tersebut perlu dilakukan. Sebab, jika mitra bisnisnya terdampak, Sampoerna juga akan ikut merasakan dampaknya.
Melalui SRC, Sampoerna berupaya mendukung toko-toko kelontong tradisional agar bisa naik kelas melalui berbagai pelatihan dan pendampingan.
Upaya tersebut dilakukan tidak hanya untuk membantu toko kelontong tetap bertahan, tetapi juga menciptakan multiplier effect yang besar bagi ekonomi nasional.
Saat ini, terdapat lebih dari 250.000 toko kelontong di seluruh Indonesia yang secara konsisten dibina melalui program SRC.
"Kami ingin membantu pelaku UMKM agar tetap tumbuh. Sampoerna dulu pun dimulai dari UMKM, sebuah warung kecil di Surabaya. Jadi, kami memahami pentingnya dukungan bagi pelaku UMKM agar dapat terus berkembang," kata Ivan.
Berdasarkan riset KG Media pada 2023, dampak ekonomi SRC bisa terlihat dari omzet toko SRC secara keseluruhan yang diperkirakan mencapai Rp 236 triliun. Angka ini setara dengan 11,36 persen dari total produk domestik bruto (PDB) ritel nasional 2022.
Transformasi lewat SRC
Program SRC dari Sampoerna diakui oleh banyak pelaku usaha binaannya mampu membawa kemajuan besar pada bisnis yang mereka jalankan.
Salah satu yang turut merasakan manfaat tersebut adalah Tri Mulyani, pemilik toko kelontong Trijaya di Ciputat, Tangerang Selatan.
Tri menyebutkan bahwa dirinya bergabung dalam program SRC sejak 2016. Sebelumnya, toko Trijaya hanyalah toko kelontong biasa dengan penampilan sederhana. Bahkan, cenderung seadanya dan berantakan. Namun, setelah mengikuti program SRC, tokonya mengalami transformasi besar.
“SRC memberikan pembinaan kepada saya agar toko dibuat lebih rapi, bersih, dan terang. Ini membuat pelanggan merasa lebih nyaman sehingga jumlahnya bisa meningkat. Benar saja. Setelah saya terapkan itu, warung saya jadi lebih ramai,” terang Tri.
Selain pelatihan tata kelola toko, SRC juga memperkenalkan Tri pada digitalisasi melalui ekosistem digital AYO by SRC.
Dalam aplikasi itu, pelaku usaha dimudahkan untuk bisa berbelanja barang kebutuhan toko secara online tanpa harus menutup toko dan mendatangi agen atau toko grosir secara langsung.
“Dulu, belanja barang cukup memakan waktu dan omzet jadi terganggu. Sekarang, saya hanya perlu memesan lewat aplikasi dan barang langsung diantar ke toko. Selain itu, program SRC juga memungkinkan pembayaran di toko saya dapat dilakukan secara digital. Ini membuat pembayaran makin efisien,” ucapnya.
Berkat pendampingan dari program SRC, Tri kini telah mempekerjakan sekitar 10 karyawan yang berasal dari lingkungan sekitar.
Ia juga membantu UMKM di sekitarnya dengan menyediakan Pojok Lokal bagi usaha-usaha tersebut untuk menitipkan dagangannya.
Tri juga tak pelit ilmu. Ia membagikan semua pengetahuan yang ia dapat dari program SRC kepada pelaku usaha lainnya agar mereka juga bisa berkembang dan naik kelas.
“Di lingkungan saya ini, kami membuat paguyuban sesama anggota SRC. Di sini, kami saling berbagi ilmu dan dukungan. Dengan adanya paguyuban ini, kami bisa saling membantu serta memberikan masukan agar setiap toko bisa lebih siap dan layak,” tutur Tri.
Tri meyakini, semakin banyak yang ia tebar, maka akan semakin banyak pula yang bisa dirinya tuai.
Dapat ilmu dan peluang baru
Senada dengan Tri, manfaat pendampingan yang dilakukan Sampoerna juga dirasakan oleh Gunawan, pemilik House of Tea, selaku mitra UMKM yang berkembang berkat program SETC.
Gunawan adalah satu dari lebih dari 72.000 pelaku UMKM yang mendapatkan pendampingan komprehensif dan pengembangan kapasitas dari SETC.
Dok. Kompas.com/Erlangga Satya Ivan bersama Tri dan Gunawan yang merupakan dua pelaku UMKM binaan Sampoerna saat berdiskusi dengan Wisnu Nugroho.Ia mengaku, setelah mengikuti program SETC dari Sampoerna, dirinya mendapatkan banyak ilmu penting terkait menjalankan bisnis.
“Program SETC membuka banyak peluang baru. Saya dulu cuma petani biasa, tapi di SETC kami dimodali banyak ilmu, termasuk digitalisasi dan sertifikasi. Saya bahkan mendapatkan sertifikat dari Badan Nasional Sertifikasi Profesi (BNSP). Ini artinya saya mendapatkan pengakuan dari negara bahwa saya mampu memberikan ilmu yang telah saya peroleh dari SETC kepada UMKM lain,” jelas Gunawan.
Ia menambahkan, salah satu pelajaran penting yang didapatnya selama mengikuti pelatihan adalah terkait pemasaran bisnis.
“Contoh, saya diajarkan agar penyampaian pesan produk kuat dan menarik lewat storytelling. Banyak cerita tentang teh Indonesia yang belum terangkat dan ditantang untuk mengemukakan hal itu. Melalui pendekatan ini, House of Tea berhasil memperluas pasar sekaligus meningkatkan nilai produk teh Indonesia di kancah internasional,” kata Gunawan.
Saat ini, House of Tea miliknya telah mampu mengekspor produk hingga ke Amerika Serikat, Taiwan, Malaysia, Brunei Darussalam, dan Singapura.
Terkait dukungan untuk pelaku usah, Ivan menyampaikan bahwa Sampoerna akan terus berkomitmen mendukung pengembangan UMKM di Indonesia.
“Kami akan selalu siap memberikan pendampingan bagi pelaku UMKM yang memiliki keinginan untuk maju bersama. Hal ini adalah bentuk komitmen kami dalam menciptakan dampak positif bagi masyarakat luas,” katanya.
Saksikan perbincangan lengkap antara Ivan, Tri, dan Gunawan dengan Wisnu Nugroho dalam program Beginu yang tayang di kanal YouTube Kompas.com.
#bisnis #umkm #sampoerna #berkelanjutan #src #ivan-cahyadi #setc