#30 tag 24jam
Cara Sampoerna Membangun Ekonomi Berkelanjutan lewat Program Pendampingan UMKM Halaman all
Komitmen Sampoerna terhadap UMKM ditunjukkan melalui sejumlah program penting, seperti SRC dan SETC Halaman all [1,139] url asal
#bisnis #umkm #sampoerna #berkelanjutan #src #ivan-cahyadi #setc
(Kompas.com) 01/10/24 20:25
v/15834468/
JAKARTA, KOMPAS.com – Usaha mikro kecil dan menengah (UMKM) jadi salah satu sektor penting dalam menopang perekonomian Indonesia.
Berdasarkan data Kementerian Koordinator Bidang Perekonomian Republik Indonesia pada 2023, sektor UMKM disebutkan menyumbang sekitar 60,3 persen dari total produk domestik bruto (PDB) dan menyerap 97 persen dari total tenaga kerja di Indonesia.
Angka tersebut menunjukkan betapa krusialnya UMKM sebagai tulang punggung ekonomi Tanah Air.
Oleh karena itu, tak heran jika upaya pemberdayaan UMKM penting dilakukan oleh semua pihak, termasuk swasta, demi mendukung pertumbuhan ekonomi yang inklusif dan berkelanjutan.
Di Indonesia, salah satu perusahaan yang berkomitmen besar terhadap upaya pemberdayaan UMKM adalah PT HM Sampoerna Tbk (Sampoerna).
Komitmen Sampoerna ditunjukkan melalui sejumlah program penting, seperti Sampoerna Retail Community (SRC) dan Sampoerna Entrepreneurship Training Center (SETC).
SRC adalah program peningkatan kapasitas peritel tradisional yang mencakup edukasi penataan toko, manajemen keuangan, strategi pemasaran, literasi digital, hingga dukungan bagi UMKM di sekitar toko kelontong.
Sementara itu, SETC merupakan program berkelanjutan Sampoerna yang berfokus pada pembinaan dan pengembangan kewirausahaan.
Para pelaku UMKM binaan SETC mendapatkan pelatihan kejuruan, seperti kuliner, pertanian, peternakan, dan kerajinan. Di SETC, UMKM juga diberi pembinaan, konsultasi, dan pendampingan untuk ekspor.
Presiden Direktur Sampoerna Ivan Cahyadi mengatakan, program-program pengembangan UMKM yang perusahaannya jalankan merupakan bentuk kontribusi nyata Sampoerna dalam mendukung pertumbuhan ekonomi berkelanjutan yang berdampak positif bagi masyarakat luas.
“SRC lahir pada 2008 dan terinspirasi dari pengalaman pribadi saya saat melihat toko kelontong mitra kami yang terancam tutup. Hal ini mendorong kami untuk melakukan sesuatu agar toko ini dan mitra-mitra yang lain dapat bertahan dan semakin baik dalam menjalankan usahanya,” ujar Ivan saat berbincang dengan Pemimpin Redaksi Kompas.com Wisnu Nugroho dalam acara Beginu, Jumat (30/8/2024).
Menurut Ivan, upaya tersebut perlu dilakukan. Sebab, jika mitra bisnisnya terdampak, Sampoerna juga akan ikut merasakan dampaknya.
Melalui SRC, Sampoerna berupaya mendukung toko-toko kelontong tradisional agar bisa naik kelas melalui berbagai pelatihan dan pendampingan.
Upaya tersebut dilakukan tidak hanya untuk membantu toko kelontong tetap bertahan, tetapi juga menciptakan multiplier effect yang besar bagi ekonomi nasional.
Saat ini, terdapat lebih dari 250.000 toko kelontong di seluruh Indonesia yang secara konsisten dibina melalui program SRC.
"Kami ingin membantu pelaku UMKM agar tetap tumbuh. Sampoerna dulu pun dimulai dari UMKM, sebuah warung kecil di Surabaya. Jadi, kami memahami pentingnya dukungan bagi pelaku UMKM agar dapat terus berkembang," kata Ivan.
Berdasarkan riset KG Media pada 2023, dampak ekonomi SRC bisa terlihat dari omzet toko SRC secara keseluruhan yang diperkirakan mencapai Rp 236 triliun. Angka ini setara dengan 11,36 persen dari total produk domestik bruto (PDB) ritel nasional 2022.
Transformasi lewat SRC
Program SRC dari Sampoerna diakui oleh banyak pelaku usaha binaannya mampu membawa kemajuan besar pada bisnis yang mereka jalankan.
Salah satu yang turut merasakan manfaat tersebut adalah Tri Mulyani, pemilik toko kelontong Trijaya di Ciputat, Tangerang Selatan.
Tri menyebutkan bahwa dirinya bergabung dalam program SRC sejak 2016. Sebelumnya, toko Trijaya hanyalah toko kelontong biasa dengan penampilan sederhana. Bahkan, cenderung seadanya dan berantakan. Namun, setelah mengikuti program SRC, tokonya mengalami transformasi besar.
“SRC memberikan pembinaan kepada saya agar toko dibuat lebih rapi, bersih, dan terang. Ini membuat pelanggan merasa lebih nyaman sehingga jumlahnya bisa meningkat. Benar saja. Setelah saya terapkan itu, warung saya jadi lebih ramai,” terang Tri.
Selain pelatihan tata kelola toko, SRC juga memperkenalkan Tri pada digitalisasi melalui ekosistem digital AYO by SRC.
Dalam aplikasi itu, pelaku usaha dimudahkan untuk bisa berbelanja barang kebutuhan toko secara online tanpa harus menutup toko dan mendatangi agen atau toko grosir secara langsung.
“Dulu, belanja barang cukup memakan waktu dan omzet jadi terganggu. Sekarang, saya hanya perlu memesan lewat aplikasi dan barang langsung diantar ke toko. Selain itu, program SRC juga memungkinkan pembayaran di toko saya dapat dilakukan secara digital. Ini membuat pembayaran makin efisien,” ucapnya.
Berkat pendampingan dari program SRC, Tri kini telah mempekerjakan sekitar 10 karyawan yang berasal dari lingkungan sekitar.
Ia juga membantu UMKM di sekitarnya dengan menyediakan Pojok Lokal bagi usaha-usaha tersebut untuk menitipkan dagangannya.
Tri juga tak pelit ilmu. Ia membagikan semua pengetahuan yang ia dapat dari program SRC kepada pelaku usaha lainnya agar mereka juga bisa berkembang dan naik kelas.
“Di lingkungan saya ini, kami membuat paguyuban sesama anggota SRC. Di sini, kami saling berbagi ilmu dan dukungan. Dengan adanya paguyuban ini, kami bisa saling membantu serta memberikan masukan agar setiap toko bisa lebih siap dan layak,” tutur Tri.
Tri meyakini, semakin banyak yang ia tebar, maka akan semakin banyak pula yang bisa dirinya tuai.
Dapat ilmu dan peluang baru
Senada dengan Tri, manfaat pendampingan yang dilakukan Sampoerna juga dirasakan oleh Gunawan, pemilik House of Tea, selaku mitra UMKM yang berkembang berkat program SETC.
Gunawan adalah satu dari lebih dari 72.000 pelaku UMKM yang mendapatkan pendampingan komprehensif dan pengembangan kapasitas dari SETC.
Dok. Kompas.com/Erlangga Satya Ivan bersama Tri dan Gunawan yang merupakan dua pelaku UMKM binaan Sampoerna saat berdiskusi dengan Wisnu Nugroho.Ia mengaku, setelah mengikuti program SETC dari Sampoerna, dirinya mendapatkan banyak ilmu penting terkait menjalankan bisnis.
“Program SETC membuka banyak peluang baru. Saya dulu cuma petani biasa, tapi di SETC kami dimodali banyak ilmu, termasuk digitalisasi dan sertifikasi. Saya bahkan mendapatkan sertifikat dari Badan Nasional Sertifikasi Profesi (BNSP). Ini artinya saya mendapatkan pengakuan dari negara bahwa saya mampu memberikan ilmu yang telah saya peroleh dari SETC kepada UMKM lain,” jelas Gunawan.
Ia menambahkan, salah satu pelajaran penting yang didapatnya selama mengikuti pelatihan adalah terkait pemasaran bisnis.
“Contoh, saya diajarkan agar penyampaian pesan produk kuat dan menarik lewat storytelling. Banyak cerita tentang teh Indonesia yang belum terangkat dan ditantang untuk mengemukakan hal itu. Melalui pendekatan ini, House of Tea berhasil memperluas pasar sekaligus meningkatkan nilai produk teh Indonesia di kancah internasional,” kata Gunawan.
Saat ini, House of Tea miliknya telah mampu mengekspor produk hingga ke Amerika Serikat, Taiwan, Malaysia, Brunei Darussalam, dan Singapura.
Terkait dukungan untuk pelaku usah, Ivan menyampaikan bahwa Sampoerna akan terus berkomitmen mendukung pengembangan UMKM di Indonesia.
“Kami akan selalu siap memberikan pendampingan bagi pelaku UMKM yang memiliki keinginan untuk maju bersama. Hal ini adalah bentuk komitmen kami dalam menciptakan dampak positif bagi masyarakat luas,” katanya.
Saksikan perbincangan lengkap antara Ivan, Tri, dan Gunawan dengan Wisnu Nugroho dalam program Beginu yang tayang di kanal YouTube Kompas.com.
Cara Sampoerna Membangun Ekonomi Berkelanjutan lewat Program Pendampingan UMKM
Komitmen Sampoerna terhadap UMKM ditunjukkan melalui sejumlah program penting, seperti SRC dan SETC [501] url asal
#bisnis #umkm #sampoerna #berkelanjutan #src #ivan-cahyadi #setc
(Kompas.com) 01/10/24 20:25
v/15831591/
JAKARTA, KOMPAS.com – Usaha mikro kecil dan menengah (UMKM) jadi salah satu sektor penting dalam menopang perekonomian Indonesia.
Berdasarkan data Kementerian Koordinator Bidang Perekonomian Republik Indonesia pada 2023, sektor UMKM disebutkan menyumbang sekitar 60,3 persen dari total produk domestik bruto (PDB) dan menyerap 97 persen dari total tenaga kerja di Indonesia.
Angka tersebut menunjukkan betapa krusialnya UMKM sebagai tulang punggung ekonomi Tanah Air.
Oleh karena itu, tak heran jika upaya pemberdayaan UMKM penting dilakukan oleh semua pihak, termasuk swasta, demi mendukung pertumbuhan ekonomi yang inklusif dan berkelanjutan.
Di Indonesia, salah satu perusahaan yang berkomitmen besar terhadap upaya pemberdayaan UMKM adalah PT HM Sampoerna Tbk (Sampoerna).
Komitmen Sampoerna ditunjukkan melalui sejumlah program penting, seperti Sampoerna Retail Community (SRC) dan Sampoerna Entrepreneurship Training Center (SETC).
SRC adalah program peningkatan kapasitas peritel tradisional yang mencakup edukasi penataan toko, manajemen keuangan, strategi pemasaran, literasi digital, hingga dukungan bagi UMKM di sekitar toko kelontong.
Sementara itu, SETC merupakan program berkelanjutan Sampoerna yang berfokus pada pembinaan dan pengembangan kewirausahaan.
Para pelaku UMKM binaan SETC mendapatkan pelatihan kejuruan, seperti kuliner, pertanian, peternakan, dan kerajinan. Di SETC, UMKM juga diberi pembinaan, konsultasi, dan pendampingan untuk ekspor.
Presiden Direktur Sampoerna Ivan Cahyadi mengatakan, program-program pengembangan UMKM yang perusahaannya jalankan merupakan bentuk kontribusi nyata Sampoerna dalam mendukung pertumbuhan ekonomi berkelanjutan yang berdampak positif bagi masyarakat luas.
“SRC lahir pada 2008 dan terinspirasi dari pengalaman pribadi saya saat melihat toko kelontong mitra kami yang terancam tutup. Hal ini mendorong kami untuk melakukan sesuatu agar toko ini dan mitra-mitra yang lain dapat bertahan dan semakin baik dalam menjalankan usahanya,” ujar Ivan saat berbincang dengan Pemimpin Redaksi Kompas.com Wisnu Nugroho dalam acara Beginu, Jumat (30/8/2024).
Menurut Ivan, upaya tersebut perlu dilakukan. Sebab, jika mitra bisnisnya terdampak, Sampoerna juga akan ikut merasakan dampaknya.
Melalui SRC, Sampoerna berupaya mendukung toko-toko kelontong tradisional agar bisa naik kelas melalui berbagai pelatihan dan pendampingan.
Upaya tersebut dilakukan tidak hanya untuk membantu toko kelontong tetap bertahan, tetapi juga menciptakan multiplier effect yang besar bagi ekonomi nasional.
Saat ini, terdapat lebih dari 250.000 toko kelontong di seluruh Indonesia yang secara konsisten dibina melalui program SRC.
"Kami ingin membantu pelaku UMKM agar tetap tumbuh. Sampoerna dulu pun dimulai dari UMKM, sebuah warung kecil di Surabaya. Jadi, kami memahami pentingnya dukungan bagi pelaku UMKM agar dapat terus berkembang," kata Ivan.
Cara Sampoerna Membangun Ekonomi Berkelanjutan lewat Program Pendampingan UMKM
Komitmen Sampoerna terhadap UMKM ditunjukkan melalui sejumlah program penting, seperti SRC dan SETC Halaman all [1,139] url asal
#bisnis #umkm #sampoerna #berkelanjutan #src #ivan-cahyadi #setc
(Kompas.com - Money) 01/10/24 20:25
v/15825077/
JAKARTA, KOMPAS.com – Usaha mikro kecil dan menengah (UMKM) jadi salah satu sektor penting dalam menopang perekonomian Indonesia.
Berdasarkan data Kementerian Koordinator Bidang Perekonomian Republik Indonesia pada 2023, sektor UMKM disebutkan menyumbang sekitar 60,3 persen dari total produk domestik bruto (PDB) dan menyerap 97 persen dari total tenaga kerja di Indonesia.
Angka tersebut menunjukkan betapa krusialnya UMKM sebagai tulang punggung ekonomi Tanah Air.
Oleh karena itu, tak heran jika upaya pemberdayaan UMKM penting dilakukan oleh semua pihak, termasuk swasta, demi mendukung pertumbuhan ekonomi yang inklusif dan berkelanjutan.
Di Indonesia, salah satu perusahaan yang berkomitmen besar terhadap upaya pemberdayaan UMKM adalah PT HM Sampoerna Tbk (Sampoerna).
Komitmen Sampoerna ditunjukkan melalui sejumlah program penting, seperti Sampoerna Retail Community (SRC) dan Sampoerna Entrepreneurship Training Center (SETC).
SRC adalah program peningkatan kapasitas peritel tradisional yang mencakup edukasi penataan toko, manajemen keuangan, strategi pemasaran, literasi digital, hingga dukungan bagi UMKM di sekitar toko kelontong.
Sementara itu, SETC merupakan program berkelanjutan Sampoerna yang berfokus pada pembinaan dan pengembangan kewirausahaan.
Para pelaku UMKM binaan SETC mendapatkan pelatihan kejuruan, seperti kuliner, pertanian, peternakan, dan kerajinan. Di SETC, UMKM juga diberi pembinaan, konsultasi, dan pendampingan untuk ekspor.
Presiden Direktur Sampoerna Ivan Cahyadi mengatakan, program-program pengembangan UMKM yang perusahaannya jalankan merupakan bentuk kontribusi nyata Sampoerna dalam mendukung pertumbuhan ekonomi berkelanjutan yang berdampak positif bagi masyarakat luas.
“SRC lahir pada 2008 dan terinspirasi dari pengalaman pribadi saya saat melihat toko kelontong mitra kami yang terancam tutup. Hal ini mendorong kami untuk melakukan sesuatu agar toko ini dan mitra-mitra yang lain dapat bertahan dan semakin baik dalam menjalankan usahanya,” ujar Ivan saat berbincang dengan Pemimpin Redaksi Kompas.com Wisnu Nugroho dalam acara Beginu, Jumat (30/8/2024).
Menurut Ivan, upaya tersebut perlu dilakukan. Sebab, jika mitra bisnisnya terdampak, Sampoerna juga akan ikut merasakan dampaknya.
Melalui SRC, Sampoerna berupaya mendukung toko-toko kelontong tradisional agar bisa naik kelas melalui berbagai pelatihan dan pendampingan.
Upaya tersebut dilakukan tidak hanya untuk membantu toko kelontong tetap bertahan, tetapi juga menciptakan multiplier effect yang besar bagi ekonomi nasional.
Saat ini, terdapat lebih dari 250.000 toko kelontong di seluruh Indonesia yang secara konsisten dibina melalui program SRC.
"Kami ingin membantu pelaku UMKM agar tetap tumbuh. Sampoerna dulu pun dimulai dari UMKM, sebuah warung kecil di Surabaya. Jadi, kami memahami pentingnya dukungan bagi pelaku UMKM agar dapat terus berkembang," kata Ivan.
Berdasarkan riset KG Media pada 2023, dampak ekonomi SRC bisa terlihat dari omzet toko SRC secara keseluruhan yang diperkirakan mencapai Rp 236 triliun. Angka ini setara dengan 11,36 persen dari total produk domestik bruto (PDB) ritel nasional 2022.
Transformasi lewat SRC
Program SRC dari Sampoerna diakui oleh banyak pelaku usaha binaannya mampu membawa kemajuan besar pada bisnis yang mereka jalankan.
Salah satu yang turut merasakan manfaat tersebut adalah Tri Mulyani, pemilik toko kelontong Trijaya di Ciputat, Tangerang Selatan.
Tri menyebutkan bahwa dirinya bergabung dalam program SRC sejak 2016. Sebelumnya, toko Trijaya hanyalah toko kelontong biasa dengan penampilan sederhana. Bahkan, cenderung seadanya dan berantakan. Namun, setelah mengikuti program SRC, tokonya mengalami transformasi besar.
“SRC memberikan pembinaan kepada saya agar toko dibuat lebih rapi, bersih, dan terang. Ini membuat pelanggan merasa lebih nyaman sehingga jumlahnya bisa meningkat. Benar saja. Setelah saya terapkan itu, warung saya jadi lebih ramai,” terang Tri.
Selain pelatihan tata kelola toko, SRC juga memperkenalkan Tri pada digitalisasi melalui ekosistem digital AYO by SRC.
Dalam aplikasi itu, pelaku usaha dimudahkan untuk bisa berbelanja barang kebutuhan toko secara online tanpa harus menutup toko dan mendatangi agen atau toko grosir secara langsung.
“Dulu, belanja barang cukup memakan waktu dan omzet jadi terganggu. Sekarang, saya hanya perlu memesan lewat aplikasi dan barang langsung diantar ke toko. Selain itu, program SRC juga memungkinkan pembayaran di toko saya dapat dilakukan secara digital. Ini membuat pembayaran makin efisien,” ucapnya.
Berkat pendampingan dari program SRC, Tri kini telah mempekerjakan sekitar 10 karyawan yang berasal dari lingkungan sekitar.
Ia juga membantu UMKM di sekitarnya dengan menyediakan Pojok Lokal bagi usaha-usaha tersebut untuk menitipkan dagangannya.
Tri juga tak pelit ilmu. Ia membagikan semua pengetahuan yang ia dapat dari program SRC kepada pelaku usaha lainnya agar mereka juga bisa berkembang dan naik kelas.
“Di lingkungan saya ini, kami membuat paguyuban sesama anggota SRC. Di sini, kami saling berbagi ilmu dan dukungan. Dengan adanya paguyuban ini, kami bisa saling membantu serta memberikan masukan agar setiap toko bisa lebih siap dan layak,” tutur Tri.
Tri meyakini, semakin banyak yang ia tebar, maka akan semakin banyak pula yang bisa dirinya tuai.
Dapat ilmu dan peluang baru
Senada dengan Tri, manfaat pendampingan yang dilakukan Sampoerna juga dirasakan oleh Gunawan, pemilik House of Tea, selaku mitra UMKM yang berkembang berkat program SETC.
Gunawan adalah satu dari lebih dari 72.000 pelaku UMKM yang mendapatkan pendampingan komprehensif dan pengembangan kapasitas dari SETC.
Dok. Kompas.com/Erlangga Satya Ivan bersama Tri dan Gunawan yang merupakan dua pelaku UMKM binaan Sampoerna saat berdiskusi dengan Wisnu Nugroho.Ia mengaku, setelah mengikuti program SETC dari Sampoerna, dirinya mendapatkan banyak ilmu penting terkait menjalankan bisnis.
“Program SETC membuka banyak peluang baru. Saya dulu cuma petani biasa, tapi di SETC kami dimodali banyak ilmu, termasuk digitalisasi dan sertifikasi. Saya bahkan mendapatkan sertifikat dari Badan Nasional Sertifikasi Profesi (BNSP). Ini artinya saya mendapatkan pengakuan dari negara bahwa saya mampu memberikan ilmu yang telah saya peroleh dari SETC kepada UMKM lain,” jelas Gunawan.
Ia menambahkan, salah satu pelajaran penting yang didapatnya selama mengikuti pelatihan adalah terkait pemasaran bisnis.
“Contoh, saya diajarkan agar penyampaian pesan produk kuat dan menarik lewat storytelling. Banyak cerita tentang teh Indonesia yang belum terangkat dan ditantang untuk mengemukakan hal itu. Melalui pendekatan ini, House of Tea berhasil memperluas pasar sekaligus meningkatkan nilai produk teh Indonesia di kancah internasional,” kata Gunawan.
Saat ini, House of Tea miliknya telah mampu mengekspor produk hingga ke Amerika Serikat, Taiwan, Malaysia, Brunei Darussalam, dan Singapura.
Terkait dukungan untuk pelaku usah, Ivan menyampaikan bahwa Sampoerna akan terus berkomitmen mendukung pengembangan UMKM di Indonesia.
“Kami akan selalu siap memberikan pendampingan bagi pelaku UMKM yang memiliki keinginan untuk maju bersama. Hal ini adalah bentuk komitmen kami dalam menciptakan dampak positif bagi masyarakat luas,” katanya.
Saksikan perbincangan lengkap antara Ivan, Tri, dan Gunawan dengan Wisnu Nugroho dalam program Beginu yang tayang di kanal YouTube Kompas.com.
HMSP Gandeng Toko Grosir untuk Pasok Produk ke Toko SRC
Mitra SRC adalah pedagang grosir yang berperan untuk memasok produk ke toko SRC dan toko-toko kelontong lainnya. Halaman all [596] url asal
#sampoerna #toko-kelontong #src #umkm
(Kompas.com - Money) 16/08/24 23:17
v/14503320/
JAKARTA, KOMPAS.com - PT HM Sampoerna Tbk (HMSP) melalui Sampoerna Retail Community (SRC) tak hanya memberdayakan toko kelontong. Perseroan juga menggandeng toko-toko grosir melalui program Mitra SRC.
Mitra SRC adalah pedagang grosir yang berperan untuk memasok produk ke toko SRC dan toko-toko kelontong lainnya.
Mitra SRC mendapatkan pendampingan pengembangan usaha dan dukungan digitalisasi dari Sampoerna sebagai bagian dari program pemberdayaan SRC yang ditujukan bagi toko kelontong maupun grosir.
SHUTTERSTOCK/ARIES HENDRICK APRIYANTO Ilustrasi toko Sampoerna Retail Community (SRC).Kini, terdapat 6.300 Mitra SRC yang aktif berkolaborasi dengan lebih dari 250.000 toko kelontong anggota SRC di seluruh Indonesia.
Salah satu toko yang merupakan Mitra SRC adalah Toko Kiem Tek di Cibinong, Kabupaten Bogor, Jawa Barat. Toko grosir ini sudah berdiri selama puluhan tahun.
Sekarang, roda bisnis toko ini diteruskan oleh cucu dari sang pendiri. Indra ialah generasi ketiga Toko Kiem Tek, yang kini menjalankan operasional toko itu sehari-hari.
Ia menceritakan, sang kakek membuka Toko Kiem Tek di Pasar Cibinong. Kemudian, diteruskan ayahnya, dan kini estafet berlanjut ke Indra.
“Toko ini dimulai oleh kakek saya di Pasar Cibinong. Sudah bertahun-tahun lalu diturunkan ke ayah saya. Dan saya merupakan generasi ketiga yang berusaha melanjutkan usaha ini,” kata Indra dalam keterangan tertulis HMSP, Jumat (16/8/2024).
Upaya untuk menjaga kelangsungan usaha ini salah satunya Indra lakukan dengan membawa Toko Kiem Tek menyambut digitalisasi. Indra mengatakan, saat tim Sampoerna memperkenalkan Mitra SRC pada tahun 2015, Toko Kiem Tek tak menyia-nyiakan kesempatan itu.
Ketertarikan Indra untuk bergabung dengan Mitra SRC salah satunya didasari oleh fokus Sampoerna mengembangkan usaha mikro, kecil, dan menengah (UMKM) ke arah pemanfaatan digitalisasi. Hal ini rupanya juga sejalan dengan visi dari Indra dan sang ayah sejak sembilan tahun yang lalu.
“Pada saat itu, dunia online masih minim. Tapi menurut kami, dunia online itu harus dikembangkan dan merupakan peluang yang bagus,” ujar Indra.
Menurutnya, para pelaku bisnis memang harus dapat beradaptasi dengan perkembangan zaman. Toko Kiem Tek terbukti mampu melakukannya. Indra menyebut ini tidak terlepas dari keputusan untuk mengambil kesempatan menjadi Mitra SRC.
“Kita mendapatkan berbagai pelatihan dan pembinaan, termasuk bagaimana mengoptimalkan penggunaan aplikasi AYO by SRC dalam menjalankan usaha. Kami juga dibina agar bisa mempromosikan produk-produk di toko kami untuk selanjutnya dijual ke toko-toko kelontong,” tutur Indra.
Berbagai perubahan pun dirasakan Indra. Salah satunya karena jaringan Mitra SRC dan toko kelontong anggota SRC yang luas. Tak hanya pasar yang semakin luas, sistem operasional pencatatan dan pembayaran Toko Kiem Tek pun sudah dilakukan secara digital.
Kini Indra pun merasakan kemajuan berkat adaptasi digital yang. Selain pendapatan yang meningkat, Indra kini mempekerjakan karyawan dengan jumlah yang lebih banyak.
Sebelum bergabung sebagai Mitra SRC, ia memiliki 7 karyawan. Kini, jumlah karyawan Toko Kiem Tek berjumlah 15 orang, yang kebanyakan merupakan warga sekitar.
"Berkat adanya Mitra SRC ini, kami bisa mengembangkan ekonomi di sekitar kami dengan menyerap tenaga kerja yang ada di dekat toko,” ujarnya.
Untuk saat ini, ia berkomitmen untuk terus mengikuti berbagai inisiatif pengembangan usaha yang diberikan oleh Sampoerna lewat program Mitra SRC.
Pentingnya Jejaring dan Membangun "Branding" bagi UMKM Halaman all
Membangun jejaring dan menciptakan brand menjadi dua pengetahuan yang perlu dimiliki UMKM. Halaman all [438] url asal
#sampoerna #src #umkm #networking #membangun-jejaring
(Kompas.com) 10/08/24 09:45
v/14024120/
JAKARTA, KOMPAS.com – Membangun jejaring dan menciptakan brand menjadi dua pengetahuan yang perlu dimiliki UMKM. Lewat jejaring dan komunitas, pelaku UMKM bisa saling belajar, adapun menciptakan brand merupakan seni untuk menggaet dan menciptakan loyalitas pelanggan.
Founder of The Entrepreneur Society (TES) Klemens B Rahardja mengatakan, jejaring (networking) sangat penting dalam merintis dan membangun usaha. Lewat jejaring, pelaku UMKM dapat saling belajar, berbagi dan meningkatkan omzet.
“Networking, berjejaring sosial itu bisa di mana saja. Banyak komunitas yang bisa dicari karena manusia itu makhluk sosial. Kita bisa melihat contohnya dari Paguyuban SRC (Sampoerna Retail Community," ujarnya dalam keterangan tertulis Pesta Rakyat UMKM untuk Indonesia, Sabtu (10/8/2024).
SHUTTERSTOCK/ARIES HENDRICK APRIYANTO Ilustrasi toko Sampoerna Retail Community (SRC).Paguyuban Sampoerna Retail Community (SRC) adalah komunitas-komunitas di berbagai daerah yang dibentuk oleh para pemilik Toko SRC untuk saling mendukung, berbagi ilmu untuk meningkatkan daya saing toko kelontong dan berkontribusi memajukan UMKM nasional. Di dalam Paguyuban SRC, para pengusaha toko kelontong saling berbagi ilmu.
PT HM Sampoerna Tbk mencatat jumlah toko SRC saat ini telah lebih dari 250.000 di seluruh Indonesia. Dari jumlah itu terdapat lebih dari 8.200 Paguyuban SRC.
Adapun, SRC adalah program pembinaan toko kelontong oleh Sampoerna sejak 2008 dengan tujuan meningkatkan daya saing mereka.
Klemens menuturkan, banyak pelaku UMKM punya impian besar tetapi kerap kali mengecilkan impian lantaran omzet yang masih kecil. Menurutnya, pola pikir itu harus diubah dengan fokus pada meningkatkan pendapatan guna mengejar mimpi.
Dia menambahkan, ada empat poin penting yang harus dimiliki wiraswasta termasuk UMKM. Pertama, UMKM harus memiliki pola pikir bahwa peluang ada di mana-mana.
Kedua, pelaku UMKM perlu memprioritaskan untuk membantu orang lain terlebih dahulu dan rezeki akan datang kemudian.
“Kalau usaha toko, apa yang kita bisa bantu? Tentu dengan membantu memberikan solusi bagi konsumen. Contoh, mungkin bisa dengan mengantar barang ke rumah,” jelasnya.
Ketiga, lanjutnya, UMKM dapat memulai dengan menjual barang orang lain, untuk kemudian menciptakan produk sendiri. Keempat, modal itu penting tapi bukan keharusan.
Modal itu bisa berupa tenaga, pikiran, ide, relasi, dan lainnya.
“Modal itu bisa digunakan untuk meningkatkan omzet,” sebut Klemens.
Pentingnya Jejaring dan Membangun "Branding" bagi UMKM
Membangun jejaring dan menciptakan brand menjadi dua pengetahuan yang perlu dimiliki UMKM. Halaman all [438] url asal
#sampoerna #src #umkm #networking #membangun-jejaring
(Kompas.com) 10/08/24 09:45
v/14024065/
JAKARTA, KOMPAS.com – Membangun jejaring dan menciptakan brand menjadi dua pengetahuan yang perlu dimiliki UMKM. Lewat jejaring dan komunitas, pelaku UMKM bisa saling belajar, adapun menciptakan brand merupakan seni untuk menggaet dan menciptakan loyalitas pelanggan.
Founder of The Entrepreneur Society (TES) Klemens B Rahardja mengatakan, jejaring (networking) sangat penting dalam merintis dan membangun usaha. Lewat jejaring, pelaku UMKM dapat saling belajar, berbagi dan meningkatkan omzet.
“Networking, berjejaring sosial itu bisa di mana saja. Banyak komunitas yang bisa dicari karena manusia itu makhluk sosial. Kita bisa melihat contohnya dari Paguyuban SRC (Sampoerna Retail Community," ujarnya dalam keterangan tertulis Pesta Rakyat UMKM untuk Indonesia, Sabtu (10/8/2024).
SHUTTERSTOCK/ARIES HENDRICK APRIYANTO Ilustrasi toko Sampoerna Retail Community (SRC).Paguyuban Sampoerna Retail Community (SRC) adalah komunitas-komunitas di berbagai daerah yang dibentuk oleh para pemilik Toko SRC untuk saling mendukung, berbagi ilmu untuk meningkatkan daya saing toko kelontong dan berkontribusi memajukan UMKM nasional. Di dalam Paguyuban SRC, para pengusaha toko kelontong saling berbagi ilmu.
PT HM Sampoerna Tbk mencatat jumlah toko SRC saat ini telah lebih dari 250.000 di seluruh Indonesia. Dari jumlah itu terdapat lebih dari 8.200 Paguyuban SRC.
Adapun, SRC adalah program pembinaan toko kelontong oleh Sampoerna sejak 2008 dengan tujuan meningkatkan daya saing mereka.
Klemens menuturkan, banyak pelaku UMKM punya impian besar tetapi kerap kali mengecilkan impian lantaran omzet yang masih kecil. Menurutnya, pola pikir itu harus diubah dengan fokus pada meningkatkan pendapatan guna mengejar mimpi.
Dia menambahkan, ada empat poin penting yang harus dimiliki wiraswasta termasuk UMKM. Pertama, UMKM harus memiliki pola pikir bahwa peluang ada di mana-mana.
Kedua, pelaku UMKM perlu memprioritaskan untuk membantu orang lain terlebih dahulu dan rezeki akan datang kemudian.
“Kalau usaha toko, apa yang kita bisa bantu? Tentu dengan membantu memberikan solusi bagi konsumen. Contoh, mungkin bisa dengan mengantar barang ke rumah,” jelasnya.
Ketiga, lanjutnya, UMKM dapat memulai dengan menjual barang orang lain, untuk kemudian menciptakan produk sendiri. Keempat, modal itu penting tapi bukan keharusan.
Modal itu bisa berupa tenaga, pikiran, ide, relasi, dan lainnya.
“Modal itu bisa digunakan untuk meningkatkan omzet,” sebut Klemens.
Sampoerna Bantu Literasi dan Digitalisasi UMKM lewat 2 Program Ini
Pelaku UMKM dituntut untuk mampu menjawab kebutuhan konsumen yang kian dinamis. Halaman all [607] url asal
#sampoerna #src #umkm #digitalisasi
(Kompas.com - Money) 06/08/24 20:02
v/13547140/
JAKARTA, KOMPAS.com - Pelaku UMKM dituntut untuk mampu menjawab kebutuhan konsumen yang kian dinamis. Untuk itu, pemahaman digitalisasi, literasi dan perlindungan sosial menjadi faktor penting agar usaha dapat berkelanjutan.
Upaya mendorong digitalisasi, literasi, dan perlindungan sosial bagi UMKM salah satunya dilakukan oleh PT HM Sampoerna Tbk.
Perseroan menyatakan terus berkomitmen membina UMKM lewat Sampoerna Retail Community (SRC) dan Sampoerna Entrepreneur Training Center (SETC).
SHUTTERSTOCK/BLEAKSTAR Ilustrasi UMKM, strategi bisnis UMKM.SETC adalah program pelatihan kewirausahaan terintegrasi yang hadir sejak 2007, sementara SRC yang hadir sejak 2008, adalah program pendampingan bagi pelaku usaha toko kelontong agar bisa bersaing dan memanfaatkan digitalisasi.
Direktur PT SRC Indonesia Sembilan, Romulus Sutanto, mengatakan, Sampoerna berkomitmen untuk membantu pelaku usaha toko kelontong lewat SRC karena Sampoerna juga berawal dari toko kelontong pada 111 tahun lalu.
Dia menuturkan, Riset Kompas Gramedia mencatat total omzet SRC adalah Rp 236 triliun per tahun atau setara dengan 11,36 persen dari total Produk Domestik Bruto (PDB) ritel nasional tahun 2022.
Anggota SRC menerima program pemberdayaan yang terintegrasi termasuk secara digital untuk mengelola toko dan keuangan serta turut memasarkan produk UMKM sekitar.
“Kami mendampingi 250.000 toko SRC dengan 6.300 mitra dan lebih dari 8.000-an paguyuban SRC. Dengan digitalisasi, SRC menghubungkan mitra, toko, dan konsumen,” kata Romulus dalam keterangannya, Selasa (6/8/2024).
Romulus menuturkan 90 persen dari total toko SRC di Tanah Air saat ini sudah tergabung dalam ekosistem digital AYO by SRC. Sejak pandemi, mayoritas transaksi di SRC bergerak ke arah nontunai, termasuk dengan menggunakan QRIS.
SHUTTERSTOCK/ARIES HENDRICK APRIYANTO Ilustrasi toko Sampoerna Retail Community (SRC).Sebagai informasi, ekosistem digital AYO by SRC terdiri dari tiga aplikasi yakni My AYO by SRC yang menghubungkan pelanggan dengan toko SRC.
Selanjutnya ada AYO Mitra by SRC yang menghubungkan mitra grosir dengan toko SRC, dan AYO Toko by SRC yang membantu pemilik toko SRC untuk mengelola usahanya, seperti memesan barang ke mitra SRC, serta mengelola toko.
Sementara itu, Direktur Bina Usaha Perdagangan Kementerian Perdagangan (Kemendag) Septo Soepriyatno mengatakan untuk bisa berkembang, pelaku UMKM wajib memiliki kemampuan manajerial yang baik, adaptif terhadap perkembangan teknologi, inovatif dan memiliki kemampuan berjejaring.
Kemendag, lanjutnya, terus berupaya untuk membantu UMKM lewat beragam promosi dan pendampingan. Promosi diarahkan agar produk UMKM bisa menjangkau pasar yang lebih luas, termasuk ekspor.
Adapun, pendampingan bertujuan meningkatkan kapasitas SDM pelaku UMKM.
“Pemerintah memiliki Gerakan Nasional Bangga Buatan Indonesia yang dapat dimanfaatkan UMKM. Selain itu, pada Oktober 2024 nanti ada Indonesia Trade Expo yang juga menjadi kesempatan UMKM bisa masuk ke pasar global,” jelasnya.
Septo menuturkan, pemerintah tidak bisa bekerja sendiri, sehingga butuh kolaborasi dengan semua pihak terkait termasuk salah satunya Sampoerna yang telah menggagas SRC.
Kemendag memiliki program agar toko UMKM bisa bersaing dengan ritel modern, dan produk UMKM bisa masuk ke ritel modern.
“Kemendag punya program 1.000 warung yang erat kaitan dengan SRC yang bertujuan membantu toko kelontong. Pemerintah tidak punya sumber daya yang mencukupi untuk dampingi pelaku usaha, tapi dengan kolaborasi itu bisa dilakukan,” tutur Septo.
Kemendag, lanjut Septo, juga memiliki program pengembangan akses pasar digital yang bertujuan membantu mencatatkan transaksi UMKM sehingga memudahkan ketika membutuhkan pendanaan.
Sampoerna Bantu Literasi dan Digitalisasi UMKM lewat 2 Program Ini Halaman all
Pelaku UMKM dituntut untuk mampu menjawab kebutuhan konsumen yang kian dinamis. Halaman all [607] url asal
#sampoerna #src #umkm #digitalisasi
(Kompas.com) 06/08/24 20:02
v/13547136/
JAKARTA, KOMPAS.com - Pelaku UMKM dituntut untuk mampu menjawab kebutuhan konsumen yang kian dinamis. Untuk itu, pemahaman digitalisasi, literasi dan perlindungan sosial menjadi faktor penting agar usaha dapat berkelanjutan.
Upaya mendorong digitalisasi, literasi, dan perlindungan sosial bagi UMKM salah satunya dilakukan oleh PT HM Sampoerna Tbk.
Perseroan menyatakan terus berkomitmen membina UMKM lewat Sampoerna Retail Community (SRC) dan Sampoerna Entrepreneur Training Center (SETC).
SHUTTERSTOCK/BLEAKSTAR Ilustrasi UMKM, strategi bisnis UMKM.SETC adalah program pelatihan kewirausahaan terintegrasi yang hadir sejak 2007, sementara SRC yang hadir sejak 2008, adalah program pendampingan bagi pelaku usaha toko kelontong agar bisa bersaing dan memanfaatkan digitalisasi.
Direktur PT SRC Indonesia Sembilan, Romulus Sutanto, mengatakan, Sampoerna berkomitmen untuk membantu pelaku usaha toko kelontong lewat SRC karena Sampoerna juga berawal dari toko kelontong pada 111 tahun lalu.
Dia menuturkan, Riset Kompas Gramedia mencatat total omzet SRC adalah Rp 236 triliun per tahun atau setara dengan 11,36 persen dari total Produk Domestik Bruto (PDB) ritel nasional tahun 2022.
Anggota SRC menerima program pemberdayaan yang terintegrasi termasuk secara digital untuk mengelola toko dan keuangan serta turut memasarkan produk UMKM sekitar.
“Kami mendampingi 250.000 toko SRC dengan 6.300 mitra dan lebih dari 8.000-an paguyuban SRC. Dengan digitalisasi, SRC menghubungkan mitra, toko, dan konsumen,” kata Romulus dalam keterangannya, Selasa (6/8/2024).
Romulus menuturkan 90 persen dari total toko SRC di Tanah Air saat ini sudah tergabung dalam ekosistem digital AYO by SRC. Sejak pandemi, mayoritas transaksi di SRC bergerak ke arah nontunai, termasuk dengan menggunakan QRIS.
SHUTTERSTOCK/ARIES HENDRICK APRIYANTO Ilustrasi toko Sampoerna Retail Community (SRC).Sebagai informasi, ekosistem digital AYO by SRC terdiri dari tiga aplikasi yakni My AYO by SRC yang menghubungkan pelanggan dengan toko SRC.
Selanjutnya ada AYO Mitra by SRC yang menghubungkan mitra grosir dengan toko SRC, dan AYO Toko by SRC yang membantu pemilik toko SRC untuk mengelola usahanya, seperti memesan barang ke mitra SRC, serta mengelola toko.
Sementara itu, Direktur Bina Usaha Perdagangan Kementerian Perdagangan (Kemendag) Septo Soepriyatno mengatakan untuk bisa berkembang, pelaku UMKM wajib memiliki kemampuan manajerial yang baik, adaptif terhadap perkembangan teknologi, inovatif dan memiliki kemampuan berjejaring.
Kemendag, lanjutnya, terus berupaya untuk membantu UMKM lewat beragam promosi dan pendampingan. Promosi diarahkan agar produk UMKM bisa menjangkau pasar yang lebih luas, termasuk ekspor.
Adapun, pendampingan bertujuan meningkatkan kapasitas SDM pelaku UMKM.
“Pemerintah memiliki Gerakan Nasional Bangga Buatan Indonesia yang dapat dimanfaatkan UMKM. Selain itu, pada Oktober 2024 nanti ada Indonesia Trade Expo yang juga menjadi kesempatan UMKM bisa masuk ke pasar global,” jelasnya.
Septo menuturkan, pemerintah tidak bisa bekerja sendiri, sehingga butuh kolaborasi dengan semua pihak terkait termasuk salah satunya Sampoerna yang telah menggagas SRC.
Kemendag memiliki program agar toko UMKM bisa bersaing dengan ritel modern, dan produk UMKM bisa masuk ke ritel modern.
“Kemendag punya program 1.000 warung yang erat kaitan dengan SRC yang bertujuan membantu toko kelontong. Pemerintah tidak punya sumber daya yang mencukupi untuk dampingi pelaku usaha, tapi dengan kolaborasi itu bisa dilakukan,” tutur Septo.
Kemendag, lanjut Septo, juga memiliki program pengembangan akses pasar digital yang bertujuan membantu mencatatkan transaksi UMKM sehingga memudahkan ketika membutuhkan pendanaan.
Kolaborasi Pemerintah dan Swasta Penting untuk Tingkatkan Rasio Ekspor UMKM Halaman all
Kolaborasi dan pembinaan sumber daya manusia atau SDM menjadi kunci untuk mengerek rasio kontribusi UMKM terhadap ekspor nasional. Halaman all?page=all [375] url asal
#ekspor #sampoerna #src #umkm #pertumbuhan-ekonomi-indonesia
(Kompas.com) 02/08/24 14:04
v/13045143/
JAKARTA, KOMPAS.com – Kolaborasi dan pembinaan sumber daya manusia atau SDM menjadi kunci untuk mengerek rasio kontribusi UMKM terhadap ekspor nasional. Sinergi antara pemerintah dan swasta seperti yang dilakukan sangat relevan untuk meningkatkan ekspor UMKM.
Data Kementerian Koperasi dan UKM mencatat, kontribusi UMKM terhadap ekspor nasional masih jauh tertinggal dibandingkan negara tetangga di ASEAN. Rasio kontribusi UMKM terhadap ekspor Indonesia baru sekitar 15,7 persen, lebih rendah dibandingkan Thailand 28,7 persen, Vietnam 20 persen, dan Malaysia 17,3 persen.
Padahal, Indonesia menempati posisi pertama dalam hal jumlah pelaku UMKM yakni mencapai sekitar 66 juta pada akhir 2023. UMKM juga menopang perekonomian nasional berkat kontribusi 60,51 persen terhadap PDB nasional dan menyerap hampir 97 persen tenaga kerja nasional.
SHUTTERSTOCK/ARIEF BUDI KUSUMA Ilustrasi UMKM kuliner.Staf Ahli Bidang Konektivitas, Pengembangan Jasa, dan Sumber Daya Alam Kemenko Perekonomian, Musdhalifah Machmud mengatakan, UMKM menjadi mesin pertumbuhan ekonomi Indonesia.
"Pemerintah ingin jumlah dan kualitas UMKM nasional terus meningkat setiap tahun. Untuk itu pemerintah telah menghadirkan sejumlah insentif aturan seperti kemudahan berusaha untuk membantu UMKM," ujar Musdhalifah dalam keterangan tertulis, Jumat (2/8/2024).
Menurutnya, kemitraan antara stakeholder seperti pemerintah, Kadin dan swasta sangat penting untuk mengakselerasi kapasitas UMKM hingga bisa ekspor. Ini sudah dilakukan salah satunya oleh PT HM Sampoerna Tbk (HMSP).
"UMKM juga harus tidak boleh berhenti belajar. Kemauannya harus kuat dan mari manfaatkan berbagai insentif dari pemerintah untuk meningkatkan daya saing UMKM kita," ungkap dia.
Sejalan dengan rasio kontribusi UMKM terhadap ekspor yang rendah, imbuh Musdhalifah, jumlah UMKM yang terlibat dalam rantai pasok global juga sangat kecil yakni hanya 4 persen. Rasio itu jauh tertinggal dibandingkan Malaysia yang sudah mencapai 46 persen ataupun Vietnam 26 persen.
Kolaborasi Pemerintah dan Swasta Penting untuk Tingkatkan Rasio Ekspor UMKM
Kolaborasi dan pembinaan sumber daya manusia atau SDM menjadi kunci untuk mengerek rasio kontribusi UMKM terhadap ekspor nasional. Halaman all [878] url asal
#ekspor #sampoerna #src #umkm #pertumbuhan-ekonomi-indonesia
(Kompas.com) 02/08/24 14:04
v/13003676/
JAKARTA, KOMPAS.com – Kolaborasi dan pembinaan sumber daya manusia atau SDM menjadi kunci untuk mengerek rasio kontribusi UMKM terhadap ekspor nasional. Sinergi antara pemerintah dan swasta seperti yang dilakukan sangat relevan untuk meningkatkan ekspor UMKM.
Data Kementerian Koperasi dan UKM mencatat, kontribusi UMKM terhadap ekspor nasional masih jauh tertinggal dibandingkan negara tetangga di ASEAN. Rasio kontribusi UMKM terhadap ekspor Indonesia baru sekitar 15,7 persen, lebih rendah dibandingkan Thailand 28,7 persen, Vietnam 20 persen, dan Malaysia 17,3 persen.
Padahal, Indonesia menempati posisi pertama dalam hal jumlah pelaku UMKM yakni mencapai sekitar 66 juta pada akhir 2023. UMKM juga menopang perekonomian nasional berkat kontribusi 60,51 persen terhadap PDB nasional dan menyerap hampir 97 persen tenaga kerja nasional.
SHUTTERSTOCK/ARIEF BUDI KUSUMA Ilustrasi UMKM kuliner.Staf Ahli Bidang Konektivitas, Pengembangan Jasa, dan Sumber Daya Alam Kemenko Perekonomian, Musdhalifah Machmud mengatakan, UMKM menjadi mesin pertumbuhan ekonomi Indonesia.
"Pemerintah ingin jumlah dan kualitas UMKM nasional terus meningkat setiap tahun. Untuk itu pemerintah telah menghadirkan sejumlah insentif aturan seperti kemudahan berusaha untuk membantu UMKM," ujar Musdhalifah dalam keterangan tertulis, Jumat (2/8/2024).
Menurutnya, kemitraan antara stakeholder seperti pemerintah, Kadin dan swasta sangat penting untuk mengakselerasi kapasitas UMKM hingga bisa ekspor. Ini sudah dilakukan salah satunya oleh PT HM Sampoerna Tbk (HMSP).
"UMKM juga harus tidak boleh berhenti belajar. Kemauannya harus kuat dan mari manfaatkan berbagai insentif dari pemerintah untuk meningkatkan daya saing UMKM kita," ungkap dia.
Sejalan dengan rasio kontribusi UMKM terhadap ekspor yang rendah, imbuh Musdhalifah, jumlah UMKM yang terlibat dalam rantai pasok global juga sangat kecil yakni hanya 4 persen. Rasio itu jauh tertinggal dibandingkan Malaysia yang sudah mencapai 46 persen ataupun Vietnam 26 persen.
SHUTTERSTOCK/ODUA IMAGES Ilustrasi UMKM kuliner.Menurutnya, agar UMKM bisa menjadi bagian dari rantai pasok global, sejumlah pekerjaan harus dibereskan seperti standarisasi produk, kualitas dan kuantitas. Pendampingan seperti yang dilakukan Sampoerna dan perusahaan swasta lainnya perlu terus dikuatkan.
"UMKM dapat memanfaatkan berbagai upaya pemerintah, (pendampingan dari) Sampoerna dan lainnya yang ada untuk meningkatkan daya saing," jelasnya.
Sementara itu, Dirjen Industri Kecil Menengah dan Aneka (IKMA) Kementerian Perindustrian (Kemenperin) Reni Yanita mengatakan, pemerintah memiliki sejumlah Free Trade Agreement (FTA) yang dapat dimanfaatkan tidak hanya oleh perusahaan besar tapi juga UMKM.
Kemenperin, katanya, memiliki sejumlah Sentra IKM yang hadir untuk membina pelaku usaha yang memiliki lini usaha sejenis. Dalam pendampingan IKM itu Kemenperin bekerja sama dengan pelaku usaha termasuk Sampoerna.
"Yang tidak kalah penting ialah pelaku IKM-nya mau naik kelas. Banyak IKM sebelumnya cukup puas dengan hasil saat ini. Namun, saat ini banyak juga yang melakukan ekspor sehingga memotivasi IKM lainnya," paparnya.
Wakil Ketua Umum Bidang Kewirausahaan Kadin Indonesia Aldi Haryopratomo mengatakan, terdapat dua cara yang dapat digunakan agar UMKM bisa ekspor.
Pertama, UMKM dapat bermitra dengan perusahaan besar sebagai bagian dari rantai pasok global.
Kedua, lanjut Aldi, bagi usaha level menengah yang siap dapat langsung bermitra dengan perusahaan di luar negeri atau open loop.
Kadin, lanjutnya, telah dan terus berupaya menghubungkan UMKM nasional dengan mitra di Jepang melalui Japan External Trade Organization (Jetro).
SHUTTERSTOCK/APCHANEL Ilustrasi ekspor.Untuk mengatasi tantangan bahasa dan regulasi, Kadin telah meluncurkan Wikiexport sebagai suatu platform online yang membantu UMKM untuk mengetahui berbagai cara dan aturan ekspor ke Jepang.
Lewat Wikiexport, Kadin memberikan informasi perihal produk hingga berbagai aturan untuk ekspor, sementara Jetro melakukan hal serupa dari sisi aturan dan pelaku UMKM Jepang. Ke depan, pola kerja sama yang dimulai dengan Jepang ini diharapkan dapat dilakukan untuk negara lain.
“Lewat Wikiexport ini, 9 perusahaan sudah berhasil melakukan ekspor. Kami ingin lebih banyak lagi yang melakukan ekspor. Kami coba menggunakan AI sehingga bisa masuk ke chatbox. Pelaku UMKM bisa tanya dengan bahasa yang lebih mudah dimengerti,” jelasnya.
Direktur Sampoerna Elvira Lianita mengungkapkan, lewat Wikiexport, terdapat dua UMKM binaan Sampoerna yang telah melakukan ekspor ke Jepang yakni Shiroshima Handmade dan House of Tea.
Banyak UMKM binaan Sampoerna lainnya juga telah melakukan ekspor ke berbagai negara.
Sampoerna memiliki dua program pembinaan dan pendampingan UMKM yakni yakni Sampoerna Retail Community (SRC) dan Sampoerna Entrepreneur Training Center (SETC).
SRC yang didirikan sejak 2008 merupakan pembinaan dan pendampingan bagi para pemilik toko kelontong. Tujuan program SRC adalah untuk membuat toko kelontong lebih menarik, meningkatkan literasi keuangan pelaku usaha dan membantu digitalisasi toko kelontong lewat Ayo by SRC.
“SETC itu pusat pelatihan kewirausahaan Sampoerna yang berdiri sejak 2007, didukung fasilitas pelatihan di atas lahan seluas 27 hektare di Pasuruan. Awalnya diperuntukan bagi masyarakat sekitar pabrik. Namun, seiring waktu, SETC telah menjangkau puluhan ribu pelaku UMKM dari seluruh Indonesia,” tutur Elvira.
Lewat SRC, katanya, Sampoerna telah mendampingi sebanyak 250.000 toko kelontong, sementara SETC telah melatih lebih dari 72.000 pelaku UMKM di seluruh Indonesia. Sampoerna juga memfasilitasi pelaku UMKM untuk terhubung dengan pembiayaan untuk mengembangkan usaha.
Sampoerna untuk Indonesia: 111 Tahun Berkontribusi bagi Keberlanjutan Ekonomi dan Sosial Indonesia
Sebagai perusahaan publik dengan jumlah pekerja terbesar di Indonesia, Sampoerna berkomitmen terus bertumbuh dan memberikan nilai tambah bagi bangsa. Halaman all [1,035] url asal
#umkm #hm-sampoerna #sampoerna #src #paparan-publik-perusahaan #sampoerna-retail-community
(Kompas.com) 30/07/24 16:42
v/12662610/
JAKARTA, KOMPAS.com – Selama 111 tahun beroperasi di Indonesia, PT HM Sampoerna Tbk. (Sampoerna) senantiasa berpedoman pada Falsafah “Tiga Tangan” yang mewakili penciptaan nilai bagi para pemangku kepentingan utama, yaitu karyawan, mitra usaha, dan pemegang saham; konsumen dewasa; serta masyarakat luas.
Sampoerna memiliki jejak ekonomi, investasi, dan sosial yang signifikan di sepanjang mata rantai pasok. Sejak diakuisisi Philip Morris International (PMI) pada 2005, total investasi Sampoerna telah mencapai 6,4 miliar dollar AS atau setara Rp 103 triliun.
Dari segi kontribusi pajak dan cukai perseroan, Sampoerna–termasuk perusahaan induk PT Philip Morris Indonesia–telah berkontribusi sebesar Rp 86,8 triliun pada 2023.
Pada semester I 2024, Sampoerna menyerap lebih dari 90.000 karyawan secara langsung dan tidak langsung. Sekitar 90 persen di antaranya bekerja di segmen padat karya sigaret kretek tangan (SKT).
Jumlah tersebut, membuat Sampoerna menjadi salah satu perusahaan publik dengan jumlah pekerja terbesar di Indonesia.
“Sebagai perusahaan publik dengan jumlah pekerja terbesar di Indonesia, kami memiliki kewajiban untuk terus tumbuh dan memberikan nilai tambah bagi Indonesia,” ujar Presiden Direktur Sampoerna Ivan Cahyadi saat acara paparan publik di Jakarta, Senin (30/7/2024).
Ivan menjelaskan, komitmen jangka panjang perseroan terhadap masyarakat, karyawan, dan mitra usaha di sepanjang rantai pasok, selalu terpatri dalam falsafah perusahaan. Hal ini dibuktikan melalui berbagai program dan inisiatif yang selaras dengan Tujuan Pembangunan Berkelanjutan (Sustainable Development Goals/SDGs) di bawah Payung Program Keberlanjutan "Sampoerna untuk Indonesia”.
“Melalui program ini, kami senantiasa mengintegrasikan prinsip keberlanjutan di setiap aktivitas perusahaan dengan kerangka kerja lingkungan, sosial, dan tata kelola (LST),” katanya.
Pada aspek lingkungan, Sampoerna telah menggunakan lebih dari 10.000 panel surya di fasilitas produksinya di Pasuruan, Jawa Timur. Selain itu, perseroan juga telah melakukan pengolahan limbah produksi dan menggunakan sumber daya air dengan bertanggung jawab.
Untuk keberlanjutan di aspek sosial, perseroan melakukan inovasi berbasis sains untuk menghadirkan produk bebas asap bagi konsumen dewasa, melakukan penjualan dan pemasaran yang bertanggung jawab, serta melakukan pemberdayaan pelaku usaha mikro kecil dan menengah (UMKM).
Sementara, pada aspek tata kelola, Sampoerna menerapkan standar tata kelola yang bertanggung jawab dan berintegritas.
Komitmen untuk konsumen dan mitra usaha
Sampoerna memiliki sejumlah inisiatif utama untuk keberlanjutan di bawah Payung Program Keberlanjutan “Sampoerna Untuk Indonesia”.
Pertama, Sampoerna berpegang teguh pada komitmen untuk hanya menjual produk kepada konsumen dewasa melalui program "Youth Access Prevention" (YAP). Program ini berfokus memberikan edukasi kepada seluruh mitra retail dan titik-titik penjualan Sampoerna mengenai larangan penjualan kepada konsumen di bawah usia 18 tahun dan bukan pengguna nikotin.
“Saat ini, program YAP telah mencakup 1,5 juta mitra retail dari seluruh titik penjualan kami,” tutur Ivan.
Kedua, dalam kemitraan dengan petani tembakau dan cengkih, Sampoerna telah menerapkan sistem produksi terpadu yang selaras dengan Good Agricultural Practices (GAP) sejak 2009.
Sampoerna telah bermitra dengan lebih dari 22.000 petani tembakau dan cengkih untuk memastikan tidak ada pekerja anak yang terlibat, pengelolaan limbah yang bertanggung jawab, serta perlakuan kerja yang adil dan aman.
Ketiga, dukungan terhadap pelaku UMKM yang diwujudkan melalui dua program unggulan, Sampoerna Retail Community (SRC) dan Sampoerna Entrepreneurship Training Center (SETC).
SRC merupakan salah satu jejaring UMKM terluas yang mencakup lebih dari 250.000 toko SRC yang saling terhubung melalui sekitar 8.000 paguyuban. Terdapat pula sekitar 6.000 pedagang grosir yang dikenal sebagai Mitra SRC yang tersebar di seluruh pelosok kabupaten di Indonesia.
“Omzet toko SRC mencapai Rp 236 triliun atau setara dengan 11,36 persen dari total produk domestik bruto (PDB) retail nasional Indonesia pada 2022. Dengan capaian ini, SRC mampu memberikan dampak positif terhadap bisnis dan komunitas lokal,” ungkap Ivan.
Sementara itu, SETC merupakan program pelatihan kewirausahaan yang diresmikan pada 2007. Program ini telah memberikan pendampingan komprehensif dan pengembangan kapasitas UMKM serta melatih lebih dari 72.000 peserta.
“Selain melalui komitmen investasi, inovasi, dan hilirisasi usaha, komitmen Sampoerna terhadap pengembangan SDM nasional yang unggul adalah bentuk nyata kontribusi kami dalam penciptaan nilai tambah ekonomi dan sosial yang berkelanjutan untuk Indonesia,” ujar Ivan.
Keempat, investasi pada fasilitas produksi produk bebas asap. Hingga akhir 2023, Sampoerna telah berinvestasi sebesar 300 juta dollar AS untuk produk bebas asap.
Pada tahun yang sama, Sampoerna meresmikan fasilitas pabrik bebas asap pertama di kawasan Asia Tenggara yang berlokasi di Karawang, Jawa Barat. Sampoerna juga melakukan pelepasan ekspor perdana untuk produk bebas asap ke negara-negara di Asia Pasifik.
“Pada kuartal III 2023, kami mulai mengoperasikan laboratorium riset dan pengembangan produk untuk produk inovatif tembakau bebas asap. Laboratorium ini melakukan pengujian dan analisis produk yang melibatkan lebih dari 200 ilmuwan bertalenta Indonesia,” kata Ivan.
Upaya itu, imbuhnya, sejalan dengan komitmen pihaknya untuk menyerap tenaga kerja berketerampilan tinggi, khususnya dalam mendukung transformasi industri tembakau nasional.
Seluruh inisiatif tersebut dilakukan untuk mendukung keberlanjutan industri hasil tembakau yang legal di Indonesia.
Ivan mengatakan, Sampoerna percaya bahwa keselarasan dengan agenda pemerintah sangat penting untuk mencapai tujuan bersama, seperti optimalisasi penerimaan negara dan cukai, keberlanjutan para pelaku industri tembakau legal, termasuk di dalamnya perlindungan tenaga kerja dan dukungan terhadap inovasi dalam industri tembakau.
Sebagai perusahaan yang telah berdiri selama 111 tahun, kata Ivan, Sampoerna merupakan perusahaan dengan fundamental kuat untuk terus menciptakan nilai jangka panjang bagi Indonesia.
“Kami terus mempertahankan posisi kepemimpinan di industri tembakau melalui portofolio multi-kategori yang kuat di seluruh segmen serta inovasi yang terus berkelanjutan. Kami juga perusahaan dengan jangkauan pasar yang luas serta jejak operasional yang sangat substansial sehingga bisa terus berkembang,” ungkapnya.
Seluruh hal tersebut diintegrasikan dengan komitmen jangka panjang perseroan sesuai Falsafah “Tiga Tangan” di bawah Payung Program Keberlanjutan “Sampoerna untuk Indonesia”.
“Kami percaya bahwa kami terus mampu menjadi pemimpin di industri hasil tembakau dan tetap hadir dan akan selalu berkontribusi terhadap kemajuan negara Indonesia untuk lebih dari 111 tahun lagi,” kata Ivan.
BPJS Ketenagakerjaan dukung UMKM pada Pesta Rakyat UMKM Indonesia bersama SRC
Anggota SRC sebanyak 3000 orang sudah terdaftar menjadi peserta BPJS Ketenagakerjaan melalui fitur Pojok Untung di aplikasi AYO Toko by SRC. - Halaman all [391] url asal
#berita-terkini #berita-hari-ini #bpjs-ketenagakerjaan #pesta-rakyat-umkm #src #berita-ekonomi-terkini
(InvestorID) 23/07/24 10:02
v/11773265/
JAKARTA, investor.id - Sampoerna Retail Community (SRC) kembali menggelar kegiatan bertajuk Pesta Rakyat UMKM untuk Indonesia. Kegiatan yang dilaksanakan di Jakarta Convention Center (JCC) dengan mengusung tema "Konsisten Mendukung UMKM, Memperkuat Pengembangan SDM dan Ekonomi Kerakyatan, bagi Indonesia Maju!" dihadiri oleh 1.250 UMKM binaan Sampoerna dan Kadin Indonesia.
"BPJS Ketenagakerjaan menyasar 500ribu peserta UMKM melalui naungan SRC. Ini merupakan salah satu langkah improve terhadap Jaminan sosial menuju Indonesia Emas," tutur Direktur Kepesertaan BPJS Ketenagakerjaan Zainudin dalam diskusi panel sebagai rangkaian kegiatan kali ini.
Dalam diskusi panel yang mengangkat tema UMKM Maju: Menuju Keberhasilan Lewat Digitalisasi dan Literasi Keuangan serta Perlindungan Sosial Ekonomi, bersama Zainudin hadir pula Direktur Bina Usaha Perdagangan, Kementerian Perdagangan Republik Indonesia Septo Soepriyatno, Direktur PT SRC Indonesia Sembilan Romulus Sutanto dan Direktur Retail Funding and Distribution PT Bank Rakyat Indonesia (Persero) Tbk. Andrijanto.
Saat ini anggota SRC sebanyak 3000 orang sudah terdaftar menjadi peserta BPJS Ketenagakerjaan melalui fitur Pojok Untung di aplikasi AYO Toko by SRC. Hal ini merupakan bagian dari ekosistem digital AYO by SRC, dan menjadi bukti efektivitas SRC dalam menjangkau tenaga kerja di berbagai daerah di Indonesia. Selain itu, SRC juga membuka kesempatan bagi para pemilik Toko SRC untuk bisa mengembangkan usahanya dengan menjadi agen atau mitra.
Pada kegiatan tersebut juga dilaksanakan penyerahan santunan kepada 2 pemilik toko kelontong anggota SRC yang terdaftar sebagai peserta BPJS Ketenagakerjaan. Salah satunya, Tatang Hendarso yang mendapatkan santunan Biaya Perawatan serta Pengobatan Kecelakaan Kerja sebesar Rp87juta dan ahli waris dari Alm. Rosidin yang menerima Santunan Jaminan Kecelakaan Kerja serta Beasiswa sebesar Rp289juta.
“Santunan yang diberikan ini adalah bentuk tanggung jawab negara yang harus kita sampaikan, khususnya kepada anak, mereka mendapatkan beasiswa sampai dengan perguruan tinggi. Bahkan untuk Alvino, anak bungsu Alm. Pak Rosidin yang masih berusia 5 tahun dan belum bersekolah. Vino sudah mendapatkan beasiswa hingga nanti kuliah,” ungkap Zainudin.
Menurut data, total manfaat yang telah BPJS Ketenagakerjaan berikan sejak tahun 2023 hingga saat ini kepada anggota SRC mencapai Rp2,2 miliyar untuk 85 klaim.
"Semoga bisa bermanfaat dan membantu keluarga untuk tetap bisa hidup layak. Program Jaminan Kecelakaan Kerja tidak hanya melindungi saat bekerja melainkan juga di tempat kerja dan pulang dari tempat kerja. Program ini adalah wujud kehadiran negara dalam melindungi rakyatnya," tandasnya.
Editor: Gesa Vitara (gesa@b-universe.id)
Follow Channel Telegram Official kami untuk update artikel-artikel investor.id
Baca Berita Lainnya di Google News