158 Juta Perempuan di Dunia Berpotensi Alami Kemiskinan Ekstrem pada 2050
Dibutuhkan 137 tahun untuk mengakhiri kemiskinan ekstrem di kalangan perempuan. - Halaman all
(InvestorID) 06/10/24 22:24 16080215
JAKARTA, investor.id – Kementerian Perencanaan Pembangunan Nasional (PPN)/Badan Perencanaan Pembangunan Nasional (Bappenas) menerangkan bahwa sebanyak 158 juta perempuan dan anak perempuan di dunia berpotensi masuk ke dalam kategori kemiskinan ekstrem pada tahun 2050 mendatang. Perempuan di Indonesia memerlukan perhatian lebih, mengingat masih dihadapkan berbagai tantangan.
Sekretaris Kementerian PPN/Bappenas Teni Widuriyanti mengatakan, berdasarkan laporan Gender Snapshot 2024 dari United Nation (UN) Women, dibutuhkan 137 tahun untuk mengakhiri kemiskinan ekstrem di kalangan perempuan. Adanya perubahan iklim pada tahun 2050 diperkirakan akan menyebabkan sekitar 158 juta perempuan dan anak perempuan secara global masuk ke dalam kemiskinan ekstrem.
“Angka ini sekitar 16 juta lebih banyak dari kemiskinan di pihak laki-laki, jadi selalu perempuan yang lebih banyak terdampak dan lebih cepat terdampak terhadap perubahan yang terjadi,” ungkap Teni acara Road to Sustainable Annual Conference (SAC) 2024: SDGs Festival for Women pada Minggu (6/10/2024), seperti dikutip dari Antara.
Dia mengatakan, kesetaraan gender menjadi aspek yang harus dijaga dan diperhatikan guna mengatasi berbagai tantangan sosial dan ekonomi. Perempuan di Indonesia perlu mendapatkan perhatian, karena masih menghadapi berbagai tantangan.
“Kalau bicara perempuan dalam pembangunan berkelanjutan itu sesuatu yang sepertinya ringan, mungkin tidak penting, tetapi sebetulnya sangat-sangat penting sekali. Perempuan di Indonesia ini masih menghadapi berbagai tantangan yang sangat-sangat perlu mendapat perhatian,” beber Teni.
Di sisi lain, Teni menyorot keikutsertaan perempuan menduduki posisi strategis di pemerintahan. Secara rata-rata, partisipasi perempuan di tingkat kepemimpinan nasional dan lokal di bawah 30%, padahal kehadiran perempuan dalam posisi tersebut sangat penting karena sering membawa perspektif yang unik dan berbeda dibandingkan laki-laki.
Di sektor informal, perempuan seringkali juga menerima upah lebih rendah dibandingkan laki-laki. Hal ini menjadi tantangan besar dalam mewujudkan pemberdayaan ekonomi yang lebih setara dan berkelanjutan.
Dia menambahkan, tema pada acara ini yaitu ‘Pemberdayaan Perempuan di Tempat Kerja, Komunitas, dan Lingkungan Gaya Hidup Berkelanjutan dalam Mendukung Ekonomi Hijau’ menjadi semakin relevan dengan situasi yang ada pada saat ini. Apalagi perempuan memiliki peran yang krusial dalam mewujudkan ekonomi secara inklusif, khususnya dalam mendorong ekonomi hijau yang dapat sebetulnya kita lakukan dengan aktivitas sehari-hari.
“Jadi, memastikan bahwa kontribusi perempuan di berbagai sektor itu juga bisa membawa perbaikan pembangunan yang lebih setara, khususnya terhadap pendidikan, teknologi, sumber daya, sehingga bisa lebih optimal pembangunan ke depan,” pungkas Teni.
Editor: Prisma Ardianto (ardiantoprisma@gmail.com)
Follow Channel Telegram Official kami untuk update artikel-artikel investor.id
Baca Berita Lainnya di Google News
#berita-terkini #berita-hari-ini #perempuan #anak-perempuan #kemiskinan-ekstrem #perempuan-miskin #pemberdayaan-perempuan #berita-ekonomi-terkini