Pupuk Indonesia Sambut Positif Usulan Singkong sebagai Komoditas Penerima Subsidi

Pupuk Indonesia Sambut Positif Usulan Singkong sebagai Komoditas Penerima Subsidi

Pada awal tahun 2024 pemerintah telah menambah alokasi pupuk bersubsidi dari alokasi awal 4,7 juta ton menjadi 9,55 juta ton. Halaman all

(Kompas.com) 09/10/24 15:41 16202130

JAKARTA, KOMPAS.com - PT Pupuk Indonesia (Persero) terus berupaya mengoptimalkan penyerapan pupuk bersubsidi dengan mengidentifikasi komoditas pertanian strategis, salah satunya singkong.

Direktur Pemasaran Pupuk Indonesia Tri Wahyudi Saleh menjelaskan, dalam Peraturan Menteri Pertanian (Permentan) Nomor 1 Tahun 2024 terdapat sembilan komoditas sebagai penerima pupuk bersubsidi, terdiri dari padi, jagung, kedelai, cabai, bawang merah, bawang putih, tebu rakyat, kopi, dan kakao.

Sementara itu, pada awal tahun 2024 pemerintah telah menambah alokasi pupuk bersubsidi dari alokasi awal 4,7 juta ton menjadi 9,55 juta ton.

DOK. Humas Kementan Kementan mengeluarkan Permentan Nomor 1 Tahun 2024 untuk memastikan penyaluran pupuk bersubsidi akurat dan tepat sasaran

"Kebijakan penambahan volume ini diperlukan upaya optimalisasi dalam meningkatkan serapannya. Optimalisasi dapat dilakukan dengan mengidentifikasi komoditas-komoditas strategis daerah yang berpotensi mendapatkan pupuk bersubsidi. Harapannya berdampak terhadap optimalisasi serapan pupuk bersubsidi, nilai ekonomi dan peningkatan produktivitas pertanian," ujar Tri Wahyudi dalam keterangan tertulis, Rabu (9/10/2024).

Ia menambahkan, singkong yang juga dikenal sebagai ubi kayu dapat dikategorikan sebagai komoditas alternatif pangan yang memiliki kandungan karbohidrat setara beras.

Indonesia menduduki urutan kelima sebagai negara produsen singkong terbesar di dunia, dengan total produksi 18,3 juta ton pada tahun 2020. Dari produksi tersebut memasok 87 persen untuk kebutuhan nasional.

Sebagian besar atau 97 persen produksi singkong digunakan untuk pangan. Hal ini menunjukkan bahwa singkong mempunyai peran strategis sebagai penyangga pangan nasional.

Untuk itu, menurutnya, upaya peningkatan produktivitas singkong harus diwujudkan dalam rangka mendukung program ketahanan pangan nasional.

Dok. Kementan Ilustrasi pupuk.

“Komponen budidaya yang berperan dalam peningkatan produktivitas singkong adalah penggunaan pupuk yang sesuai dengan kebutuhan tanaman, varietas yang sesuai (tahan cekaman biotik dan abiotik), dan pengendalian OPT (Organisme Pengganggu Tumbuhan),” jelas dia.

Tri Wahyudi mengaku mendapatkan masukan dari stakeholder, salah satunya Masyarakat Singkong Indonesia (MSI) yang berharap singkong masuk menjadi komoditas yang berhak mendapatkan alokasi pupuk bersubsidi dari pemerintah.

Dengan demikian kesejahteraan petani meningkat, industri singkong Tanah Air dapat berkembang, ketahanan pangan nasional terjaga.

Tri Wahyudi mengatakan bahwa Pupuk Indonesia mempunyai teknologi memformulasikan pupuk NPK sesuai dengan spesifikasi atau kebutuhan tanaman memiliki NPK khusus tanaman singkong, yaitu pupuk NPK 17-6-25.

Pupuk ini memiliki kandungan Nitrogen 17 persen, Phosphatase 6 persen, dan KCL 25 persen.

Berdasarkan hasil uji coba di sejumlah daerah, khususnya di Sumatera pengaplikasian pupuk ini mampu meningkatkan produktivitas tanaman singkong.

Rata-rata hasil panen petani singkong pada saat pengaplikasian pupuk tersebut sebesar 45 ton per hektare, dari rata-rata panen sebelumnya 27 hingga 28 ton per hektare.

"Petani singkong yang sebelumnya mendapatkan pupuk bersubsidi bisa terobati dengan kehadiran NPK singkong. Persoalannya apakah pupuk ini bisa masuk ke dalam skema subsidi," ungkap Tri Wahyudi.

#pupuk-npk #pupuk-indonesia #ketahanan-pangan #pupuk-bersubsidi #singkong

https://money.kompas.com/read/2024/10/09/154114726/pupuk-indonesia-sambut-positif-usulan-singkong-sebagai-komoditas-penerima