Kisah Jenama Fashion Indonesia Masuk Pasar Internasional di Paris
Tujuan Pintu Incubator adalah mengembangkan brand lokal dan mempersiapkan mereka untuk bisa masuk ke pasar internasional.
(Kompas.com) 12/10/24 09:18 16345997
KOMPAS.com - Hari menjelang senja di kota Paris dan suhu di luar berkisar 12 derajat Celsius, namun Savira Lavinia Raswari, pendiri brand fashion Fuguku, masih sibuk melayani orang-orang yang mampir melihat koleksinya di acara Paris Trade Show Première Classe.
Dengan tema Way of Water, koleksi avant-garde Fuguku menampilkan busana atasan dan bawahan, serta tas yang memiliki ciri khas yaitu tekstur serupa duri-duri ikan buntal. Bahan yang lentur dan bisa menggembung itu rupanya menarik perhatian banyak pengunjung, apalagi ditampilkan dalam warna-warna cerah yang berani.
Dalam acara yang berlangsung di Carrousel du Louvre --lokasi pameran dan belanja yang berada di bawah Museum Louvre-- antara tanggal 28 hingga 30 September 2024 itu, Fuguku mendapatkan beberapa pembeli penting, salah satunya dari Centre Pompidou, museum seni modern terkenal di Perancis yang ingin memamerkan dan menjual koleksi Fuguku di toko mereka.
"Pertemuan dengan pembeli dari Pompidou ini tidak disangka karena banyak desainer yang ingin masuk ke sana, tapi tidak mudah. Saya awalnya juga bingung ketika seorang ibu dari Museum Pompidou ingin memasukkan koleksi saya ke sana dan mereka ingin segera. Akhirnya barang-barang yang dipamerkan inilah yang dibeli dan mereka juga memesan item-item lain," ujar Savira setelah pameran.
Savira dari Fuguku bukan satu-satunya jenama Indonesia yang ikut Paris Trade Show. Bersamanya ada juga Senses, Enigma, dan Lakon Indonesia yang semuanya berangkat dalam program Pintu Incubator, sebuah program yang bertujuan mendorong desainer muda Indonesia untuk mengembangkan bisnis dan produknya di pasar internasional.
Savira dari brand Fuguku sedang menjelaskan produknya pada pengunjung di Paris Trade Show Premiere Classe di Paris, 28-30 September 2024Kali ini Senses membawa koleksi Gala yang terinspirasi oleh legenda Jawa Roro Jonggrang dan Bandung Bondowoso diwakili warna koleksi hitam dan putih dengan motif batik dan tanaman serta hewan Jawa.
Dalam karyanya, Senses menggabungkan warisan budaya dengan fashion meodern lewat ciri khas brand ini berupa lace atau renda, serta aksen brodir. Jadi motif batik di sini bukanlah kain batik, melainkan mengadopsi bentuknya dalam rupa kain renda.
"Aku mengambil warna hitam dan putih untuk menggambarkan kebaikan dan kejahatan dari cerita antagonis ini. Aku juga mengadopsi bentuk kardamom atau kapulaga dan burung kepodang sebagai aksen, dan memasukkan pola batik kawung dan parang dalam bentuk lace atau renda," ujar Kanya Pradipta Sarashvati, pendiri Senses.
Sementara Enigma membawa koleksi Circularity yang menggambarkan komitmen terhadap keberlanjutan, karena kain jumputan yang dipakai menggunakan bahan organik yang berasal dari tanaman dengan pewarna yang juga natural, seperti dari mangga, kelapa, indigo, secang, dan lainnya.
"Bagi saya, kita akhirnya seharusnya kembali ke alam. Jangan terlalu banyak sampah, jangan terlalu banyak hal di Bumi yang kita rusak. Dengan kembali ke alam, bahan-bahan natural ini akan menyatu kembali dengan alam tanpa merusak," ujar Elizabeth Marcellina, founder Enigma.
Sedangkan Lakon Indonesia membawakan koleksi bertema Pasar Malam, terinspirasi dari kehidupan dan keseharian generasi masa kini yang menyukai busana nyaman dengan potongan longgar. Koleksi ini didominasi warna biru dan putih, menggunakan batik karya maestro Dudung Alisyahbana dari Pekalongan.
Lakon Indonesia adalah jenama yang didirikan oleh Thresia Mareta, yang sekaligus penggagas berdirinya Pintu Incubator.
Kanya dari Senses sedang menjelaskan produknya pada pengunjung di Paris Trade Show Premiere Classe di Paris, 28-30 September 2024Lalu bagaimana brand-brand di atas bisa mengikuti Paris Trade Show?
Hal ini tidak lepas dari Pintu Incubator, sebuah program bilateral yang dirancang untuk pelaku kreatif dan UKM Indonesia dan Prancis di bidang fashion. Sederhananya, pogram ini bertujuan untuk mempersiapkan talenta di dunia fashion agar bisa memasuki pasar internasional.
Tentu banyak hal yang harus dipersiapkan oleh seorang desainer atau pemilik brand agar bisa go internasional. Yang paling penting adalah memiliki produk yang bisa diterima pasar.
Namun produk saja tidak cukup.
"Kalau mau masuk ke pasar internasional kita harus punya daya saing, perlu ada sesuatu yang kita ciptakan sendiri, punya identitas yang kuat," ujar Thresia Mareta di sela-sela pameran.
"Jadi saya rasa kalau mau masuk pasar internasional, kalau nama kita mau dikenal secara internasional, ya harus punya strategi, punya kemampuan. Makanya saya berpikir sepertinya yang diperlukan adalah program inkubasi," lanjutnya.
Dari pemikiran itu, lahirlah Pintu Incubator.
Thresia kemudian memikirkan apa yang perlu dimiliki seorang desainer muda dari Indonesia agar bisa menembus pasar internasional, mulai dari penyesuaian produk hingga berjejaring dengan komunitas fashion dunia.
Karenanya Pintu Incubator pun menggandeng mentor-mentor untuk mengajari berbagai hal, baik yang terkait dengan fashion maupun bisnis dan ekosistemnya.
"Kami punya berbagai mentor, mulai dari akuntansi keuangan, mentor desain untuk menilai dan melihat produknya, marketing, branding, legal, hingga eksport import. Saya cari mentor yang mengerti teori sekaligus pernah atau sedang menjadi pelaku. Karena kalau hanya teori, seringkali tidak bisa memberi solusi," papar Thresia.
Karenanya kita akan menemukan mentor-mentor yang bergelut di bidang fashion dan bisnis, baik dari Prancis maupun dari Indonesia di Pintu Incubator. Mereka memastikan peserta memahami duni fashion dari kacamata internasional.
"Jadi di program ini kami menyiapkan teori, sekaligus konsultasi langsung. Saya nggak mau program ini seperti orang masuk kelas dan ketemu guru, saya maunya peserta bisa ketemu konsultan yang memberi solusi pada masalah yang ditemukan saat mengembangkan brand."
Selly dari Enigma menjelaskan produknya pada pengunjung di Paris Trade Show Premiere Classe di Paris, 28-30 September 2024Pintu Incubator mulai aktif tahun 2021. Untuk mengikutinya, para pelaku di dunia fashon bisa mendaftar dengan melengkapi syarat-syarat antara lain mengirim contoh karyanya, lalu yang lolos bisa ikut program dengan gratis.
Sampai saat ini sudah ada 38 jenama yang mengikuti program Pintu Incubator. Mereka mengikuti secara online dan offline.
"Pertemuan offline diperlukan karena saat mentoring produk, kami harus ketemu untuk melihat barangnya, cek finishing, dan lainnya," ujar Thresia.
Dari hasil mentoring itu, kemudian akan dipilih peserta paling siap yang produknya diperkirakan bisa menembus pasar internasional. Peserta yang terpilih akan diikutkan dalam pameran seperti Paris Trade Show Premiere Classe ini.
"Yang dimaksud siap di sini terutama produknya harus sudah sesuai, lalu kapasitas produksi memadai, dan ada potensi untuk dikembangkan ke depan," jelas Thresia.
"Karenanya selama mentoring, kami memberi masukan soal bagaimana agar produknya sesuai pasar internasional, bagaimana bicara dengan pembeli, apa cerita yang harus dipersiapkan, dan lainnya," lanjutnya.
Tahun 2024 ini, bersama Lakon Indonesia, ada tiga jenama yang terpilih untuk ikut pameran di Paris, yakni Fuguku, Senses, dan Enigma.
Marcellina, atau biasa dipangil Selly, dari Enigma, mengaku tidak menyangka bisa sampai ikut pameran di Paris.
Awalnya ia mendaftar untuk bisa memasukkan produknya ke toko Lakon, agar produknya bisa dijual di sana. Perlu diketahui, selain menjual produknya sendiri, Lakon Indonesia juga mempunyai Lakon store yang menjual busana dari brand lokal lainnya yang lolos kurasi. Saat ini ada sekitar 150 brand yang dijual di Lakon Store.
"Kebetulan produk Enigma laku di Lakon Store, sehingga tahun 2023 ditawari untuk ikut program Pintu Incubator. Tapi waktu itu aku belum siap, lalu tahun 2024 aku ikut lagi dan bisa sampai Paris ini. Aku tidak menyangka bisa sampai di sini, ini seperti mimpi yang jadi nyata," ujar Seli di sela-sela melayani pengunjung.
Kanya dari Senses juga ditawari ikut program Pintu Incubator, karena penggunaan lace atau renda sebagai bahan busananya dianggap unik.
"Tadinya saya ragu apakah ini benar tawaran buat saya. Tapi kemudian saya melihat siapa aja yang ikut di dalamnya, dan mendapati beberapa brand yang saya kenal juga ikut. Akhirnya saya mencoba mendaftar dan kirim sampel meski tidak berharap banyak,"kata Kanya. "Ternyata Senses diterima bahkan lolos seleksi sampai bisa ikut pameran."
Dengan ikut Pintu Incubator, Kanya merasa karyanya bisa dilihat lebih luas, secara internasional. "Selain itu, kita juga bisa melihat apa sih yang disukai orang di pasar Internasional. Sekarang kan banyak desainer membuat hanya apa yang dia suka, padahal pasar mungkin ingin yang berbeda," paparnya.
Sementara Savira dari brand Fuguku mengatakan pengalaman ke Paris ini sangat penting walau dia sudah beberapa kali ikut pameran di banyak negara.
"Prancis yang merupakan pusat mode dunia tentu akan menjadi kiblat dan banyak orang melihat ke sini. Dengan kita berada di sini, makin banyak orang akan mengenal produk kita,"ujar Savira, dalam wawancara yang terpotong-potong karena banyaknya pengunjung yang tertarik melihat koleksinya.
Itu sebabnya saat Pintu Incubator membuka kesempatan untuk ikut seleksi, Savira sangat berminat untuk ikut, dan terbukti Fuguku mendapatkan banyak buyer yang ingin menjual produk mereka di tokonya, termasuk dari museum-museum berpengaruh di Prancis.
Thresia Mareta menjelaskan produk Lakon Indonesia pada pengunjung di Paris Trade Show Premiere Classe, 28-30 September 2024Kurasi
Paris Trade Show Première Classe sendiri adalah salah satu pameran dagang terkemuka yang diadakan di Paris, khusus untuk aksesoris fashion, seperti sepatu, tas, perhiasan, dan aksesori lainnya. Pameran ini merupakan bagian penting dari kalender industri fashion global dan sering berlangsung bersamaan dengan Paris Fashion Week.
Première Classe dikenal karena memamerkan desain yang inovatif dan berkualitas tinggi dari merek-merek mapan serta desainer baru. Acara ini menarik pembeli, retailer, media, serta pelaku industri fashion dari seluruh dunia, yang datang untuk menemukan tren terbaru, menjalin hubungan bisnis, dan memperluas jaringan mereka.
Fokus utama dari Première Classe adalah menampilkan kreasi yang menonjolkan kreativitas dan craftsmanship, sehingga menjadi tempat penting bagi brand yang ingin memamerkan koleksi aksesoris premium mereka di pasar global.
Karena sifat dari pameran ini dan kesempatan yang bisa didapatkan saat mengikutinya, Thresia Mareta dari Pintu Incubator selalu menekankan hanya akan membawa brand terbaik di acara ini.
"Salah satu strategi Pintu Incubator adalah mengajak brand-brand yang bagus bersama-sama mengikuti acara di luar negeri. Tujuannya agar setiap kali orang melihat, mereka akan berpikir barang-barang dari Indonesia itu bagus," ujar Thresia.
"Jangan misalnya bawa 10 brand, yang 8 jelek dan yang bagus hanya dua. Orang akan berpikir bahwa barang kita jelek. Selain itu juga harus konsisten, misalnya sekarang bagus, tapi di waktu lain jelek, nah orang akan bingung. Tapi kalau yang kita tampilkan selalu bagus, maka lambat laun orang akan berpandangan bahwa barang Indonesia itu bagus," terangnya.
Agar yang dibawa adalah produk yang bagus, maka Pintu Incubator melakukan kurasi dan seleksi. Proses ini melibatkan beberapa mentor, baik dari Indonesia maupun Prancis, karena mereka paham mana yang akan dianggap bagus oleh pembeli internasional.
"Kita semua mendapat masukan dari mentor-mentor yang berkecimpung di dunia fashion dari Prancis. Ini sesuatu yang penting karena kita mendapat international eyes. Dan kita didukung penuh oleh Pintu Incubator untuk menyiapkan semua ini, mulai dari pemilihan koleksi, mentoring untuk memperbaiki produk, hingga mengenal pasar internasional,"ujar Kanya dari Senses.
"Misalnya kemarin ada juga saran untuk tidak membawa koleksi yang polanya terlalu kompleks karena pasar Eropa tidak terlalu suka yang rumit dan mungkin bisa dianggap norak," lanjutnya.
Kanya dari Senses saat kurasi di Pintu Incubator untuk mengikuti Paris Trade ShowKanya bahkan harus melakukan beberapa penyesuaian terhadap produknya, saat menjalani kurasi.
"Aku dapat banyak masukan agar produk Senses bisa diterima pasar yang lebh luas namun tetap mempertahankan ciri khasnya. Jadi ada beberapa hal yang kita harus kompromi, karena pada akhirnya kan kita harus menjual karya kita," katanya.
Dengan menyesuaikan dengan pasar, mereka pun mendapatkan buyer dan tawaran kerjasama dari berbagai pihak.
"Di Perancis ini kita mendapatkan beberapa buyer, dan ini penting karena selain dapat exposure kita juga dapat branding sehingga image kita lebih naik dan ini akan membuka lebih banyak peluang bagi kita," ujar Seli dari Enigma.
Hal yang sama diungkapkan Kanya dari Senses, dan Savira dari Fuguku. Seperti diceritakan di atas, koleksi Fuguku bahkan diborong museum Centre Pompidou dan banyak pihak lain yang menantikan kiriman produknya.
Tapi berhasil menjual produk bukanlah tujuan akhir dari program Pintu Incubator. Banyak hal lain yang didapatkan untuk perkembangan jenama-jenama Indonesia di masa depan.
"Ini program idealis saya, karena saya lihat industri mode kita belum kuat. Ada banyak hal yang musti kita lakukan dan kita capai," ujar Thresia Mareta.
"Tujuan Pintu Incubator adalah mengembangkan brand lokal dan mempersiapkan mereka untuk bisa masuk ke pasar internasional. Saya harap mereka yang pernah ikut program ini bisa maju dan menjadi pemain di dunia fashion yang diperhitungkan secara internasional."
View this post on Instagram
#industri-fashion-indonesia #enigma #lakon-indonesia #fashion-show-pintu-incubator #pintu-incubator #lakon-store #fuguku #paris-trade-show-premiere-classe