#30 tag 24jam
Melihat Trunk Show di Paris, Lebih Intim dan Personal
Trunk show sering kali menjadi bagian penting dari strategi pemasaran bagi desainer untuk membangun hubungan personal dengan klien mereka [909] url asal
#fashion-show-pintu-incubator #pintu-incubator #fashion-show-di-luar-negeri #trunk-show #trunk-show-lucie-brochard
(Kompas.com) 13/10/24 18:54
v/16428261/
KOMPAS.com - Suhu di Paris yang berkisar antara 9 hingga 12 derajat Celsius menandakan bahwa musim gugur sudah menjelang. Angin yang kadang berhembus, membuat kami para manusia tropis ini, memeluk tubuh sendiri karena kedinginan.
Namun ini adalah suhu yang dinanti bagi sebagian orang, karena kita berkesempatan tampil menggunakan outer yang nyaris tak pernah dipakai di tanah air dan memenuhi hasrat untuk tampil dengan layering layaknya warga Paris yang modis.
Kebetulan kunjungan ke Paris kali ini berkaitan dengan fashion, bersama peserta program Pintu Incubator untuk mengikuti pameran busana sekaligus mengunjungi museum, butik, sekolah fashion, hingga bertemu dengan pelaku industri fashion di Prancis.
Dan salah satu agenda Kamis sore (3/10/2024) adalah melihat fashion show dari desainer Lucie Brochard di Rue Dante yang berada di salah satu distrik tertua di Paris, Le Quartier Latin, tidak jauh dari gereja tua Notre Dame Paris.
Kami tiba sekitar pukul 18.00, namun hari masih terang karena matahari baru terbenam sekitar pukul 19.00 petang. Tempat berlangsungnya acara bukanlah panggung yang megah atau luas, namun serupa butik kecil yang memanjang ke dalam.
Pengunjung yang datang memang tidak sebanyak gelaran fashion show di tempat yang besar. Namun jumlahnya tetap membuat butik itu penuh, bahkan sebagian terpaksa melihat dari luar, ditemani dinginnya petang yang kontras dengan cahaya dan musik dari dalam yang penuh gairah.
Kami pun masuk ke dalam, dan Lucie sendiri menyambut dengan hangat seolah bertemu teman lama. Ya, Lucie Brochard adalah salah atu mentor di Program Incubator yang mengajarkan bagaimana desainer muda Indonesia bisa menembus pasar internasional.
"Apa kabar, terimakasih sudah datang, senang bertemu," ujarnya dengan penuh senyum.
Lucie Brochard adalah seorang desainer Paris berdarah Asia yang tumbuh dalam budaya Prancis, Vietnam, dan Korea. Setelah lulus dari École de la Chambre Syndicale de la Couture Parisienne tahun 2007, Lucie memulai karirnya dengan bekerja di studio desain merek mewah seperti Chloe, Paule Ka dan Christian Lacroix.
Lucie Brochard (kiri) bersama Thresia Mareta, pendiri Pintu Incubator dalam acara trunk show koleksi Lucie Brochard di Paris, Kamis, 3 Oktober 2024Merek Lucie Brochard.võ lahir pada bulan November 2015 ketika ia mengunjungi kota Ho Chi Minh. Lucie terpesona oleh hiruk pikuk Vietnam, kekayaan warnanya, pengrajin terampil, dan budaya menawan. Ia juga menemukan kualitas unik dari sutra yang diproduksi oleh pengrajin lokal, dan memakainya dalam banyak koleksinya.
Sore itu ia memamerkan koleksi barunya yang penuh warna. Konon koleksi Lucie jarang yang berwarna hitam karena saat ia diangkat anak oleh orangtua dari Prancis, mereka tidak punya cukup uang untuk membeli banyak baju. Akibatnya kebanyakan pakaian Lucie berwarna hitam agar tidak terlalu kentara bahwa dia tidak sering mengganti baju.
Kini setelah menjadi desianer, Lucie seolah balas dendam dengan warna-warna yang cerah dan mengkilap dari sutera halus.
Namun kita tidak akan membicarakan koleksi barunya. Yang lebih menarik adalah bagaimana Lucie bisa berinteraksi lebih intim dengan pelanggannya. Salah satunya adalah dengan menyelenggarakan fashion show kecil, atau dikenal sebagai trunk show seperti sore itu.
Trunk show adalah sebuah acara eksklusif di mana desainer memperkenalkan koleksi terbaru mereka kepada klien dalam lingkungan yang lebih intim dan personal. Trunk show biasanya diadakan di butik, hotel, atau ruang pameran dan memungkinkan pembeli untuk melihat, mencoba, dan memesan koleksi langsung dari desainer, bahkan sebelum koleksi tersebut secara resmi tersedia di pasaran.
Karenanya di sela-sela trunk show yang hanya menggunakan tiga model yang berganti-ganti pakaian, Lucie juga kerap memberikan penjelasan langsung tentang karyanya, baik soal bahan, proses kreatif, dan inspirasi di baliknya.
Trunk show sering kali menjadi bagian penting dari strategi pemasaran bagi desainer untuk membangun hubungan personal dengan klien mereka, sekaligus memberikan pengalaman belanja yang lebih personal dibandingkan dengan peragaan busana besar.
Hal ini juga bisa menjadi pilihan bagi desainer muda yang masih mengembangkan brand-nya dan belum mampu menyelenggarakan fashion show, yang biayanya bisa berkisar antara Rp 100 juta hingga lebih dari Rp 1 miliar, tergantung pada skala dan visi acara.
Dalam trunk show seperti yang kami hadiri sore itu, sewa lokasi bisa ditekan karena ada kerjasama dengan butik tempat acara berlangsung. Panggung pun tidak diperlukan karena model berjalan di sepanjang butik sampai di luar, di mana para fotografer mengabadikan gambar-- lalu masuk lagi dan berganti kostum di ruang ganti kecil.
Lucie bahkan tidak memasang dekorasi khusus, hanya mengubah tata letak meja dan kursi agar pengunjung bisa melihat koleksi dengan leluasa, tentu sambil berdiri mengingat sempitnya ruangan.
Barangkali biaya yang cukup signifikan adalah sound system, di mana ada seorang DJ dengan perangkatnya yang mengiringi acara itu, dan mungkin juga minuman berupa cocktail dan champagne.
Soal suguhan bagi para tamu, Lucie menyediakan menu khusus yang dihias cantik, sampai kami tidak menduga bahwa yang kami santap adalah potongan mentimun, ubi, dan wortel. Sungguh sore hari yang menarik dan mengesankan...
Kisah Jenama Fashion Indonesia Masuk Pasar Internasional di Paris
Tujuan Pintu Incubator adalah mengembangkan brand lokal dan mempersiapkan mereka untuk bisa masuk ke pasar internasional. [2,076] url asal
#industri-fashion-indonesia #enigma #lakon-indonesia #fashion-show-pintu-incubator #pintu-incubator #lakon-store #fuguku #paris-trade-show-premiere-classe
(Kompas.com) 12/10/24 09:18
v/16345997/
KOMPAS.com - Hari menjelang senja di kota Paris dan suhu di luar berkisar 12 derajat Celsius, namun Savira Lavinia Raswari, pendiri brand fashion Fuguku, masih sibuk melayani orang-orang yang mampir melihat koleksinya di acara Paris Trade Show Première Classe.
Dengan tema Way of Water, koleksi avant-garde Fuguku menampilkan busana atasan dan bawahan, serta tas yang memiliki ciri khas yaitu tekstur serupa duri-duri ikan buntal. Bahan yang lentur dan bisa menggembung itu rupanya menarik perhatian banyak pengunjung, apalagi ditampilkan dalam warna-warna cerah yang berani.
Dalam acara yang berlangsung di Carrousel du Louvre --lokasi pameran dan belanja yang berada di bawah Museum Louvre-- antara tanggal 28 hingga 30 September 2024 itu, Fuguku mendapatkan beberapa pembeli penting, salah satunya dari Centre Pompidou, museum seni modern terkenal di Perancis yang ingin memamerkan dan menjual koleksi Fuguku di toko mereka.
"Pertemuan dengan pembeli dari Pompidou ini tidak disangka karena banyak desainer yang ingin masuk ke sana, tapi tidak mudah. Saya awalnya juga bingung ketika seorang ibu dari Museum Pompidou ingin memasukkan koleksi saya ke sana dan mereka ingin segera. Akhirnya barang-barang yang dipamerkan inilah yang dibeli dan mereka juga memesan item-item lain," ujar Savira setelah pameran.
Savira dari Fuguku bukan satu-satunya jenama Indonesia yang ikut Paris Trade Show. Bersamanya ada juga Senses, Enigma, dan Lakon Indonesia yang semuanya berangkat dalam program Pintu Incubator, sebuah program yang bertujuan mendorong desainer muda Indonesia untuk mengembangkan bisnis dan produknya di pasar internasional.
Savira dari brand Fuguku sedang menjelaskan produknya pada pengunjung di Paris Trade Show Premiere Classe di Paris, 28-30 September 2024Kali ini Senses membawa koleksi Gala yang terinspirasi oleh legenda Jawa Roro Jonggrang dan Bandung Bondowoso diwakili warna koleksi hitam dan putih dengan motif batik dan tanaman serta hewan Jawa.
Dalam karyanya, Senses menggabungkan warisan budaya dengan fashion meodern lewat ciri khas brand ini berupa lace atau renda, serta aksen brodir. Jadi motif batik di sini bukanlah kain batik, melainkan mengadopsi bentuknya dalam rupa kain renda.
"Aku mengambil warna hitam dan putih untuk menggambarkan kebaikan dan kejahatan dari cerita antagonis ini. Aku juga mengadopsi bentuk kardamom atau kapulaga dan burung kepodang sebagai aksen, dan memasukkan pola batik kawung dan parang dalam bentuk lace atau renda," ujar Kanya Pradipta Sarashvati, pendiri Senses.
Sementara Enigma membawa koleksi Circularity yang menggambarkan komitmen terhadap keberlanjutan, karena kain jumputan yang dipakai menggunakan bahan organik yang berasal dari tanaman dengan pewarna yang juga natural, seperti dari mangga, kelapa, indigo, secang, dan lainnya.
"Bagi saya, kita akhirnya seharusnya kembali ke alam. Jangan terlalu banyak sampah, jangan terlalu banyak hal di Bumi yang kita rusak. Dengan kembali ke alam, bahan-bahan natural ini akan menyatu kembali dengan alam tanpa merusak," ujar Elizabeth Marcellina, founder Enigma.
Sedangkan Lakon Indonesia membawakan koleksi bertema Pasar Malam, terinspirasi dari kehidupan dan keseharian generasi masa kini yang menyukai busana nyaman dengan potongan longgar. Koleksi ini didominasi warna biru dan putih, menggunakan batik karya maestro Dudung Alisyahbana dari Pekalongan.
Lakon Indonesia adalah jenama yang didirikan oleh Thresia Mareta, yang sekaligus penggagas berdirinya Pintu Incubator.
Kanya dari Senses sedang menjelaskan produknya pada pengunjung di Paris Trade Show Premiere Classe di Paris, 28-30 September 2024Lalu bagaimana brand-brand di atas bisa mengikuti Paris Trade Show?
Hal ini tidak lepas dari Pintu Incubator, sebuah program bilateral yang dirancang untuk pelaku kreatif dan UKM Indonesia dan Prancis di bidang fashion. Sederhananya, pogram ini bertujuan untuk mempersiapkan talenta di dunia fashion agar bisa memasuki pasar internasional.
Tentu banyak hal yang harus dipersiapkan oleh seorang desainer atau pemilik brand agar bisa go internasional. Yang paling penting adalah memiliki produk yang bisa diterima pasar.
Namun produk saja tidak cukup.
"Kalau mau masuk ke pasar internasional kita harus punya daya saing, perlu ada sesuatu yang kita ciptakan sendiri, punya identitas yang kuat," ujar Thresia Mareta di sela-sela pameran.
"Jadi saya rasa kalau mau masuk pasar internasional, kalau nama kita mau dikenal secara internasional, ya harus punya strategi, punya kemampuan. Makanya saya berpikir sepertinya yang diperlukan adalah program inkubasi," lanjutnya.
Dari pemikiran itu, lahirlah Pintu Incubator.
Thresia kemudian memikirkan apa yang perlu dimiliki seorang desainer muda dari Indonesia agar bisa menembus pasar internasional, mulai dari penyesuaian produk hingga berjejaring dengan komunitas fashion dunia.
Karenanya Pintu Incubator pun menggandeng mentor-mentor untuk mengajari berbagai hal, baik yang terkait dengan fashion maupun bisnis dan ekosistemnya.
"Kami punya berbagai mentor, mulai dari akuntansi keuangan, mentor desain untuk menilai dan melihat produknya, marketing, branding, legal, hingga eksport import. Saya cari mentor yang mengerti teori sekaligus pernah atau sedang menjadi pelaku. Karena kalau hanya teori, seringkali tidak bisa memberi solusi," papar Thresia.
Karenanya kita akan menemukan mentor-mentor yang bergelut di bidang fashion dan bisnis, baik dari Prancis maupun dari Indonesia di Pintu Incubator. Mereka memastikan peserta memahami duni fashion dari kacamata internasional.
"Jadi di program ini kami menyiapkan teori, sekaligus konsultasi langsung. Saya nggak mau program ini seperti orang masuk kelas dan ketemu guru, saya maunya peserta bisa ketemu konsultan yang memberi solusi pada masalah yang ditemukan saat mengembangkan brand."
Selly dari Enigma menjelaskan produknya pada pengunjung di Paris Trade Show Premiere Classe di Paris, 28-30 September 2024Pintu Incubator mulai aktif tahun 2021. Untuk mengikutinya, para pelaku di dunia fashon bisa mendaftar dengan melengkapi syarat-syarat antara lain mengirim contoh karyanya, lalu yang lolos bisa ikut program dengan gratis.
Sampai saat ini sudah ada 38 jenama yang mengikuti program Pintu Incubator. Mereka mengikuti secara online dan offline.
"Pertemuan offline diperlukan karena saat mentoring produk, kami harus ketemu untuk melihat barangnya, cek finishing, dan lainnya," ujar Thresia.
Dari hasil mentoring itu, kemudian akan dipilih peserta paling siap yang produknya diperkirakan bisa menembus pasar internasional. Peserta yang terpilih akan diikutkan dalam pameran seperti Paris Trade Show Premiere Classe ini.
"Yang dimaksud siap di sini terutama produknya harus sudah sesuai, lalu kapasitas produksi memadai, dan ada potensi untuk dikembangkan ke depan," jelas Thresia.
"Karenanya selama mentoring, kami memberi masukan soal bagaimana agar produknya sesuai pasar internasional, bagaimana bicara dengan pembeli, apa cerita yang harus dipersiapkan, dan lainnya," lanjutnya.
Tahun 2024 ini, bersama Lakon Indonesia, ada tiga jenama yang terpilih untuk ikut pameran di Paris, yakni Fuguku, Senses, dan Enigma.
Marcellina, atau biasa dipangil Selly, dari Enigma, mengaku tidak menyangka bisa sampai ikut pameran di Paris.
Awalnya ia mendaftar untuk bisa memasukkan produknya ke toko Lakon, agar produknya bisa dijual di sana. Perlu diketahui, selain menjual produknya sendiri, Lakon Indonesia juga mempunyai Lakon store yang menjual busana dari brand lokal lainnya yang lolos kurasi. Saat ini ada sekitar 150 brand yang dijual di Lakon Store.
"Kebetulan produk Enigma laku di Lakon Store, sehingga tahun 2023 ditawari untuk ikut program Pintu Incubator. Tapi waktu itu aku belum siap, lalu tahun 2024 aku ikut lagi dan bisa sampai Paris ini. Aku tidak menyangka bisa sampai di sini, ini seperti mimpi yang jadi nyata," ujar Seli di sela-sela melayani pengunjung.
Kanya dari Senses juga ditawari ikut program Pintu Incubator, karena penggunaan lace atau renda sebagai bahan busananya dianggap unik.
"Tadinya saya ragu apakah ini benar tawaran buat saya. Tapi kemudian saya melihat siapa aja yang ikut di dalamnya, dan mendapati beberapa brand yang saya kenal juga ikut. Akhirnya saya mencoba mendaftar dan kirim sampel meski tidak berharap banyak,"kata Kanya. "Ternyata Senses diterima bahkan lolos seleksi sampai bisa ikut pameran."
Dengan ikut Pintu Incubator, Kanya merasa karyanya bisa dilihat lebih luas, secara internasional. "Selain itu, kita juga bisa melihat apa sih yang disukai orang di pasar Internasional. Sekarang kan banyak desainer membuat hanya apa yang dia suka, padahal pasar mungkin ingin yang berbeda," paparnya.
Sementara Savira dari brand Fuguku mengatakan pengalaman ke Paris ini sangat penting walau dia sudah beberapa kali ikut pameran di banyak negara.
"Prancis yang merupakan pusat mode dunia tentu akan menjadi kiblat dan banyak orang melihat ke sini. Dengan kita berada di sini, makin banyak orang akan mengenal produk kita,"ujar Savira, dalam wawancara yang terpotong-potong karena banyaknya pengunjung yang tertarik melihat koleksinya.
Itu sebabnya saat Pintu Incubator membuka kesempatan untuk ikut seleksi, Savira sangat berminat untuk ikut, dan terbukti Fuguku mendapatkan banyak buyer yang ingin menjual produk mereka di tokonya, termasuk dari museum-museum berpengaruh di Prancis.
Thresia Mareta menjelaskan produk Lakon Indonesia pada pengunjung di Paris Trade Show Premiere Classe, 28-30 September 2024Kurasi
Paris Trade Show Première Classe sendiri adalah salah satu pameran dagang terkemuka yang diadakan di Paris, khusus untuk aksesoris fashion, seperti sepatu, tas, perhiasan, dan aksesori lainnya. Pameran ini merupakan bagian penting dari kalender industri fashion global dan sering berlangsung bersamaan dengan Paris Fashion Week.
Première Classe dikenal karena memamerkan desain yang inovatif dan berkualitas tinggi dari merek-merek mapan serta desainer baru. Acara ini menarik pembeli, retailer, media, serta pelaku industri fashion dari seluruh dunia, yang datang untuk menemukan tren terbaru, menjalin hubungan bisnis, dan memperluas jaringan mereka.
Fokus utama dari Première Classe adalah menampilkan kreasi yang menonjolkan kreativitas dan craftsmanship, sehingga menjadi tempat penting bagi brand yang ingin memamerkan koleksi aksesoris premium mereka di pasar global.
Karena sifat dari pameran ini dan kesempatan yang bisa didapatkan saat mengikutinya, Thresia Mareta dari Pintu Incubator selalu menekankan hanya akan membawa brand terbaik di acara ini.
"Salah satu strategi Pintu Incubator adalah mengajak brand-brand yang bagus bersama-sama mengikuti acara di luar negeri. Tujuannya agar setiap kali orang melihat, mereka akan berpikir barang-barang dari Indonesia itu bagus," ujar Thresia.
"Jangan misalnya bawa 10 brand, yang 8 jelek dan yang bagus hanya dua. Orang akan berpikir bahwa barang kita jelek. Selain itu juga harus konsisten, misalnya sekarang bagus, tapi di waktu lain jelek, nah orang akan bingung. Tapi kalau yang kita tampilkan selalu bagus, maka lambat laun orang akan berpandangan bahwa barang Indonesia itu bagus," terangnya.
Agar yang dibawa adalah produk yang bagus, maka Pintu Incubator melakukan kurasi dan seleksi. Proses ini melibatkan beberapa mentor, baik dari Indonesia maupun Prancis, karena mereka paham mana yang akan dianggap bagus oleh pembeli internasional.
"Kita semua mendapat masukan dari mentor-mentor yang berkecimpung di dunia fashion dari Prancis. Ini sesuatu yang penting karena kita mendapat international eyes. Dan kita didukung penuh oleh Pintu Incubator untuk menyiapkan semua ini, mulai dari pemilihan koleksi, mentoring untuk memperbaiki produk, hingga mengenal pasar internasional,"ujar Kanya dari Senses.
"Misalnya kemarin ada juga saran untuk tidak membawa koleksi yang polanya terlalu kompleks karena pasar Eropa tidak terlalu suka yang rumit dan mungkin bisa dianggap norak," lanjutnya.
Kanya dari Senses saat kurasi di Pintu Incubator untuk mengikuti Paris Trade ShowKanya bahkan harus melakukan beberapa penyesuaian terhadap produknya, saat menjalani kurasi.
"Aku dapat banyak masukan agar produk Senses bisa diterima pasar yang lebh luas namun tetap mempertahankan ciri khasnya. Jadi ada beberapa hal yang kita harus kompromi, karena pada akhirnya kan kita harus menjual karya kita," katanya.
Dengan menyesuaikan dengan pasar, mereka pun mendapatkan buyer dan tawaran kerjasama dari berbagai pihak.
"Di Perancis ini kita mendapatkan beberapa buyer, dan ini penting karena selain dapat exposure kita juga dapat branding sehingga image kita lebih naik dan ini akan membuka lebih banyak peluang bagi kita," ujar Seli dari Enigma.
Hal yang sama diungkapkan Kanya dari Senses, dan Savira dari Fuguku. Seperti diceritakan di atas, koleksi Fuguku bahkan diborong museum Centre Pompidou dan banyak pihak lain yang menantikan kiriman produknya.
Tapi berhasil menjual produk bukanlah tujuan akhir dari program Pintu Incubator. Banyak hal lain yang didapatkan untuk perkembangan jenama-jenama Indonesia di masa depan.
"Ini program idealis saya, karena saya lihat industri mode kita belum kuat. Ada banyak hal yang musti kita lakukan dan kita capai," ujar Thresia Mareta.
"Tujuan Pintu Incubator adalah mengembangkan brand lokal dan mempersiapkan mereka untuk bisa masuk ke pasar internasional. Saya harap mereka yang pernah ikut program ini bisa maju dan menjadi pemain di dunia fashion yang diperhitungkan secara internasional."
JF3 Ungkap Kiat dan Tantangan Indonesia Menembus Industri Fashion Dunia
Fashion Indonesia selalu digadang-gadang siap menembus industri fashion dunia atau bagi fashion muslim siap menjadi pusat fashion muslim dunia. Namun faktanya justru tak semudah itu. JF3 mengupas kiat [569] url asal
#berita-terkini #berita-hari-ini #pekan-mode #jf3 #jf3-fashion-festival-2024 #pintu-incubator #berita-ekonomi-terkini
(InvestorID) 27/07/24 22:50
v/12343620/
JAKARTA, investor.id – Fashion Indonesia selalu digadang-gadang siap menembus industri fashion dunia atau bagi fashion muslim siap menjadi pusat fashion muslim dunia. Namun faktanya justru tak semudah itu. JF3 mengupas kiat dan tantangan bagaimana mimpi itu bisa terwujud.
“Jujur, industri fashion kita selama 20 tahun ini jalan di tempat. Kami menginisiasi Pintu Incubator untuk terkoneksi ekosistem fashion di Paris,” ungkap Advisor JF3 dan co-inisiator PINTU Incubator, Thresia Mareta dalam diskusi JF3 Talk Vol. 3 di Auditorium Institut Francais Indonesia (IFI), Jakarta, Kamis (25/7/2024).
Lewat PINTU Incubator yang bekerja sama dengan Institut Francais Indonesia, Kedutaan Besar Prancis, dan Paris Trade Show, Thresia melihat bagaimana industri fashion di Prancis bekerja dengan standar yang diakui secara internasional.
“Kami jadi membandingkan, apa yang dilakukan di sini, dengan apa yang mereka lakukan di sana. Faktanya masih sangat jauh. Namun, itu bukan berarti kita enggak bisa. Artinya kita perlu melakukan sesuatu," ungkap Thresia
Direktur Premiere Classe, Paris Trade Show, Sylvie Pourrat, mengungkapkan kiat bagaimana desainer bisa masuk ke ekosistem fashion dunia di Paris. “Paris merupakan tempat untuk fashion internasional. Tapi desainer harus siap dengan koleksinya sebelum masuk ke Paris,” tegas Sylvie Pourrat.
Dia memaparkan, ketika 25 tahun lalu ia baru memulai pekerjaannya, banyak desainer berbagai negara datang ke Paris. Desainer datang dari Tokyo, Amerika, Maroko, dan negara lainnya. Ketimbang menghabiskan uang di Paris, Sylvie menyarankan, sebaiknya lebih dulu mengembangkan pasar lokal agar siap ketika ingin melebarkan pasar ke global.
Deputi Bidang Pemasaran, Kemenparekraf RI Ni Made Ayu Marthini, mengatakan Indonesia memiliki potensi besar di industri fashion. “Dari 17 bidang ekonomi kreatif, fashion menempati nomor satu dengan kontribusi sebesar 50%. Nomor dua adalah kuliner,” kata Ni Made Ayu di JF3 Talk.
Lebih lanjut Ni Made Ayu mengatakan, kekuatan Indonesia didasarkan pada budaya. “Jika melihat kain dari seluruh Indonesia itu sangat melimpah dan beragam. Jadi menurut saya, dengan kreativitas, inovasi, teknologi, kita bisa berinovasi dan berkreasi,” ujar Ni Made Ayu.
Namun tak hanya itu, pesan Ni Made Ayu, untuk bisa tembus pasar fashion dunia, Indonesia perlu berkolaborasi dan bekerja sama dengan para pemangku kepentingan internasional.
“Agar tahu tren dan kebutuhan pasar seperti apa. Karena mungkin menurut saya yang saya pakai sekarang, yaitu batik asal Pekalongan, cantik, tapi di mata masyarakat global mungkin tidak, karena tidak paham. Jadi ini adalah sesuatu yang tidak hanya perlu kita kembangkan, tapi juga promosikan. Dan kami di Kemenparekraf, promosi digital seperti media sosial itu sangat penting," papar Ni Made Ayu.
PINTU Incubator
Saran Ni Made Ayu agar berkolaborasi dengan pemangku kepentingan internasional itu lah yang selama 3 tahun ini dilakukan PINTU Incubator.
PINTU Incubator adalah sebuah upaya kolaborasi antara JF3, LAKON Indonesia, dan Kedutaan Besar Perancis, melalui Institut Français d'Indonesie (IFI). “Salah satu program di JF3 yang kami namakan PINTU Incubator, saat ini telah terbukti berhasil membuka banyak kesempatan bagi para peserta untuk mengembangkan pasar mereka hingga ke tingkat global,” ujar Soegianto Nagaria.
Tahun ini PINTU Incubator berlanjut memasuki tahun ketiga. Lebih dari 300 brand lokal melakukan registrasi, dan telah terpilih sebanyak 7 brand hasil kurasi yang akan mengikuti proses inkubasi . Proses ini melibatkan mentor dari para profesional di Indonesia, dan akan melibatkan ahli fashion, juga pelaku bisnis mode dari Prancis.
Salah satu Peserta PINTU Incubator, Apakabar, tahun ini mendapatkan beasiswa 6 bulan untuk mendapatkan pendidikan di Ecole Duperre, sekolah mode paling bergengsi di Paris.
Editor: Mardiana Makmun (mardiana.makmun@investor.id)
Follow Channel Telegram Official kami untuk update artikel-artikel investor.id
Baca Berita Lainnya di Google News
Jakarta Fashion and Food Festival 2024, 20 Tahun Mendukung Industri Fashion Indonesia
JF3 Fashion Festival 2024 kembali hadir untuk mendukung kebangkitan industri fashion Indonesia. Memasuki usia ke-20, JF3 telah berkontribusi nyata dan melanjutkan komitmennya untuk turut mendukung per [888] url asal
#berita-terkini #berita-hari-ini #jakarta-fashion-and-food-festival-2024 #jf3-2024 #pekan-mode #industri-fashion-indonesia #lakon-indonesia #pintu-incubator #berita-ekonomi-terkini
(InvestorID) 23/07/24 08:51
v/11767963/
JAKARTA, investor.id - JF3 Fashion Festival 2024 kembali hadir untuk mendukung kebangkitan industri fashion Indonesia. Memasuki usia ke-20, JF3 telah berkontribusi nyata dan melanjutkan komitmennya untuk turut mendukung perkembangan industri mode tanah air. Festival mode terbesar di Indonesia ini akan digelar pada 18 hingga 28 Juli di Summarecon Mall Kelapa Gading dan 26 Juli hingga 4 Agustus 2024 di Summarecon Mall Serpong.
“Pada awalnya JF3 diinisiasi oleh PT Summarecon Agung untuk mendukung para pelaku usaha mode agar dapat menampilkan karyanya secara lebih profesional. Komitmen inilah yang menghasilkan konsistensi. 20 tahun bukanlah waktu yang singkat, terutama untuk sebuah festival mode. Meskipun menghadapi berbagai tantangan, seperti krisis ekonomi dan pandemi, JF3 tetap teguh melangkah. Bagi kami, pelaku industri mode harus terus bergerak maju agar visi kami untuk memajukan industri mode bisa terwujud sepenuhnya,” kata Chairman JF3, Soegianto Nagaria, di Jakarta.
Sejak tahun 2004, JF3 telah menjadi festival mode paling berpengaruh dan konsisten diselenggarakan di Indonesia. JF3 melibatkan berbagai pihak seperti model, seniman, fotografer, videografer, koreografer, dan desainer setting, dan masih banyak lagi pelaku industri fashion. Tujuannya untuk memberikan kesempatan bagi semua pihak untuk berkembang dan mendapatkan manfaat dari festival ini sehingga roda bisnis juga terus bergerak. Namun saat ini industri fashion Indonesia masih menghadapi tantangan besar, diantaranya eksposur ke dunia internasional dan juga akses terhadap pasar internasional.
Thresia Mareta, Advisor JF3, menjelaskan, "Dalam tiga tahun terakhir, JF3 telah membuat banyak perubahan, terutama dalam bagaimana presentasi itu dilakukan. Saya melihat kita sangat membutuhkan visi yang baru untuk membawa industri ini keluar dari momok masa lalu yang saya sadari sudah sangat tidak relevan dengan perkembangan masa. Untuk itu kami melakukan perubahan eksekusi secara detail, mulai dari pemilihan lokasi, konsep presentasi, hingga bagaimana ruang itu dibangun untuk mencapai relevansi yang dituju. Hasilnya, dalam 3 tahun terakhir ini , JF3 selalu berbeda dan menampilkan sesuatu yang baru.”
JF3 merupakan hasil kerjasama antara Summarecon dan Pemprov DKI Jakarta melalui Dinas Pariwisata Pemerintah Provinsi DKI Jakarta, didukung oleh Kementerian Pariwisata dan Ekonomi Kreatif Republik Indonesia. Untuk penyelenggaraan di Summarecon Mall Serpong, JF3 juga didukung oleh Pemerintah Kabupaten Tangerang. Tahun ini juga merupakan tahun ke-3 JF3 bekerjasama dengan Kedutaan Prancis di Indonesia melalui Institut Français Indonésie (IFI).
JF3 melibatkan beberapa institusi fashion tanah air seperti Asosiasi Perancang Pengusaha Mode Indonesia (APPMI), Indonesia Fashion Chamber (IFC), Indonesian Fashion Designer Council (IFDC) dan Cita Tenun Indonesia (CTI). Kerjasama internasional juga semakin bertambah dengan kolaborasi bersama desainer dan pakar fashion dari Prancis, asosiasi WSN sebagai penyelenggara Paris Trade Show dan desainer dari Asia Tenggara melalui AFDS (Asean Fashion Designers Showcase).
Thresia Mareta menambahkan, "Para pelaku industri ini sebenarnya selalu memiliki keinginan untuk mengembangkan pasar mereka seluas-luasnya hingga ke pasar global. Selama ini saya belum melihat ada yang bisa mengakomodasi hal tersebut secara nyata. Dengan kerjasama internasional yang sudah terjalin di JF3, saya berharap untuk dapat melanjutkan kerjasama ini dengan lebih banyak pihak lagi sehingga hubungan internasional bisa terwujud dan membuka pintu untuk perkembangan industri mode Indonesia secara luas.”
JF3 2024 akan menampilkan total 66 desainer dan brand yang akan mempresentasikan koleksi di runway yaitu brand dan desainer terkemuka dan berbakat. Diantaranya Albert Yanuar, Andreas Odang, Danny Satriadi, Ernesto Abram, Hartono Gan, Hian Tjen, Rama Dauhan, Rinda Salmun, Tities Sapoetra, Wilsen Willim, dan masih banyak lainnya.
Selain itu juga hadir beberapa brand lokal seperti Danjyo Hiyoji, Eyez On Me, Raegita Zoro, Future Loundry, dan LAKON Indonesia serta lebih dari 100 brand dan UMKM mode juga siap berpartisipasi di eksibisi. JF3 juga didukung oleh total lebih dari 550 pelaku industri dalam pagelaran show termasuk model, koreografer, seniman, dan pekerja seni lainnya.
Dua Konsep dan Dua Lokasi
JF3 Fashion Festival 2024 hadir dengan dua konsep unik di dua lokasi berbeda. Di Summarecon Mall Kelapa Gading, tema Budaya Indonesia dipadukan dengan sentuhan kelas dan seni melalui Niwasana by Fashion Village, menampilkan kerajinan tangan dan produk fashion lokal.
Sementara itu, di Summarecon Mall Serpong, JF3 berkolaborasi dengan DRP Paris untuk menghadirkan DRP Jakarta, festival streetwear dan budaya pop ternama dari Paris yang memperluas kehadirannya pertama kali di Asia. DRP Jakarta berlangsung dari 26 Juli hingga 4 Agustus 2024. Selain itu JF3 Model Search juga telah menggelar audisi di Bali, Yogyakarta, dan Jakarta, diikuti lebih dari 400 peserta dengan semangat yang luar biasa.
“JF3 bukan hanya sebuah acara, melainkan sebuah ekosistem yang telah matang dan lengkap untuk mendukung para pelaku industri mode. Ekosistem ini mencakup acara JF3 sebagai platform untuk menghubungkan pelaku dengan media dan masyarakat, serta mal dan department store sebagai sarana untuk transaksi bisnis dan pasar yang telah terbangun. Salah satu program di JF3 yang kami namakan PINTU Incubator, saat ini telah terbukti berhasil membuka banyak kesempatan bagi para peserta untuk mengembangkan pasar mereka hingga ke tingkat global.” ujar Soegianto Nagaria.
PINTU Incubator upaya kolaborasi antara JF3, LAKON Indonesia dan Kedutaan Besar Perancis, melalui Institut Français d'Indonesie (IFI) juga kembali berlanjut memasuki tahun ketiga. Lebih dari 300 brand lokal melakukan registrasi, dan telah terpilih sebanyak 7 brand hasil kurasi yang akan mengikuti proses inkubasi melibatkan mentor dari para profesional di Indonesia, dan akan melibatkan ahli fashion juga pelaku bisnis mode dari Prancis.
Salah satu Peserta PINTU Incubator, Apakabar, tahun ini mendapatkan beasiswa 6 bulan untuk mendapatkan pendidikan di Ecole Duperre, sekolah mode paling bergengsi di Paris.
Editor: Mardiana Makmun (mardiana.makmun@investor.id)
Follow Channel Telegram Official kami untuk update artikel-artikel investor.id
Baca Berita Lainnya di Google News