Teten: Perkuat Hilirisasi untuk Dongkrak Penciptaan Lapangan Kerja
Kebijakan hilirisasi produk ekspor akan berdampak pada peningaktan lapangan kerja dan pertumbuhan ekonomi nasional. - Halaman all
(InvestorID) 13/10/24 17:59 16422346
JAKARTA,investor.id - Hasil-hasil bumi seperti tambang, perkebunan, pertanian, hingga komoditas kelautan, tidak boleh lagi diekspor dalam bentuk bahan mentah, termasuk rempah, melainkan harus melalui proses hilirisasi. Kalau dijual hanya dalam bentuk bahan mentah saja maka tidak akan bisa menciptakan nilai ekonomi tinggi.
"Harus kita olah, harus kita hilirisasi, supaya mendapat nilai tambah ekonomi dari sumber daya kita, termasuk juga di dalamnya bisa menciptakan lapangan kerja. Kita bicara itu dalam konteks menuju negara maju, yang diprediksi pada 2045 itu memiliki potensi besar bertransformasi dari negara berpendapatan menengah ke tinggi,” ujar Menteri Koperasi dan UKM Teten Masduki dalam keterangan resmi yang diterima pada Minggu (13/10/2024).
Teten mengatakan untuk mencapai minimum pendapatan per kapita US$ 13.200 maka Indonesia harus membangun industri yang berkelanjutan, yang mengolah bahan baku yang ada di Indonesia. Saat ini, Indonesia baru mencapai US$ 5000 perkapita. Pada era 1980-an banyak masuk industri manufaktur dari luar, namun menjadi sunset industry karena bahan baku tidak ada di Indonesia.
"Kita tidak akan mengulang pengalaman itu. Kita harus membangun industri berbasis keunggulan domestik. Salah satunya, bahan baku kita punya seperti nikel, bauksit, rumput laut, dan juga rempah," kata Teten.
Khusus rempah, Teten mencontohkan bisa dihilirisasi di industri bumbu, selain juga bisa diolah untuk masuk rantai pasok bagian industri farmasi, makanan-minuman, dan industri kecantikan. Bagi Menteri Teten, teknologi untuk melakukan itu tidaklah sulit.
"Kita harus samakan visi semua pihak untuk merancang bangun desain program mengarah ke hilirisasi rempah. Kita sudah membangun pabrik-pabrik kecil, lalu mengolah sumber daya yang kita miliki menjadi produk setengah jadi atau jadi," terang Teten.
Dia mengungkapkan komoditas nilam yang diolah menjadi minyak atsiri dengan standar industri. Saat ini minyak nilam dari Aceh sudah bisa langsung dikirim ke Paris untuk bahan baku industri wewangian. Industri parfum dunia, kebutuhan nilamnya 80% yang dipasok dari Indonesia. Selain nilam, juga sudah ada hilirisasi komoditas cabai yang diolah menjadi pasta, sehingga memiliki rantai nilai ekonomi yang lebih panjang. Begitu juga dengan coklat yang juga sudah ada pabrik pengolahannya.
"Rempah bisa dikembangkan dan diolah menjadi bumbu untuk masuk ke pasar dunia. Makanan Indonesia masih tertinggal bila dibanding Thailand dan Vietnam. Mereka jauh dikenal masyarakat dunia," ungkap dia.
Teten tidak menampik bahwa saat ini industri rempah-rempah Indonesia masih menghadapi berbagai persoalan serius. Di antaranya, ketidakstabilan harga, kurangnya infrastruktur pendukung, permasalahan akses pasar, serta pengelolaan lingkungan yang kurang memperhatikan prinsip keberlanjutan.
"Rantai suplai yang belum terintegrasi dengan baik membuat banyak petani rempah berada dalam situasi ekonomi yang sulit. Sementara produk kita sering kali belum mencapai potensi nilai yang optimal di pasar global," kata Menteri Teten.
Dampak Hilirisasi Komoditas Rempah
Asisten Deputi Pengembangan Kawasan dan Rantai Pasok Kementerian Koperasi dan UKM Ali menambahkan ada studi yang menyebutkan bahwa dari hulu ke hilir potensi ekonomi rempah Indonesia minimal Rp 3.000 triliun per tahun, namun selama ini tidak terkonsolidasi dan terekam dengan baik.
“Ada BUMN asal Tiongkok yang sudah bermain rempah di Indonesia selama 35 tahun melalui jalur yang tidak terekam secara formal. Maka, kita akan memetakan satu persatu, membuat satu ekosistem bisnis yang menjadikan koperasi dan UMKM sebagai tulang punggungnya,” kata Ali.
Ali menyebutkan, strategi dari hulu ke hilir akan disambungkan satu sama lain atau terkoneksi antara para petani di skala mikro dan kecil dengan industri sebagai offtaker di skala menengah dan besar. Koneksi ini akan menumbuhkembangkan ekosistem bisnis rempah sehingga dapat menjamin bahwa bisnis rempah nusantara menjadi bisnis yang sustain dari sisi bahan baku, proses industri, hingga pasar.
"Semua terkoneksi, sampai pada akhirnya mengarah ke kata kunci yaitu hilirisasi," imbuh Ali.
Ali mengungkapkan para pelaku usaha dan asosiasi rempah akan menginisiasi agar ke depan Indonesia memiliki lembaga atau badan khusus yang menangani industri rempah nusantara.
"Ini untuk mencapai kejayaan rempah nusantara," pungkas Ali.
Editor: Arnoldus Kristianus (arnoldus.kristianus@ymail.com)
Follow Channel Telegram Official kami untuk update artikel-artikel investor.id
Baca Berita Lainnya di Google News
#berita-terkini #berita-hari-ini #hilirisasi #penciptaan-lapangan-kerja #pertumbuhan-ekonomi #teten-masduki #komoditas-sumber-daya-alam #berita-ekonomi-terkini