Perkara Tak Mudah Dedolarisasi bagi China
China perlu reformasi fundamental pada sistem moneter dan finansial agar yuan bisa jadi pengganti dollar AS. Peran dollar AS masih akan signifikan. Halaman all
(Kompas.com) 16/10/24 11:43 16548669
PERAN dollar Amerika Serikat (AS) masih cukup signifikan di masa mendatang, meskipun beberapa negara dan blok dagang mulai meninggalkan dollar AS sebagai alat pembayaran ekspor impor (cross border payment).
Dominasi dollar AS sebagai alat pembayaran tentu akan berkurang, tapi peran dollar AS sebagai "medium of exchange", "unit of account", dan "store of value" masih akan terus mendominasi dalam waktu cukup lama.
Dollar AS masih akan digunakan sebagai alat pembayaran perdagangan di banyak kawasan, terutama karena praktikalitas (kemudahan) yang disebabkan oleh keberlimpahan liquiditas dollar AS di satu sisi dan karena peran dollar AS sebagai "anchor" perdagangan global di sisi lain.
Dengan kata lain, dollar AS masih akan digunakan di banyak lokasi sebagai alat satuan hitung (unit of account) yang sudah diakui sejak lebih dari 50 tahun dan sebagai instrumen lindung nilai yang dianggap sangat stabil sejak dollar AS dilepaskan dari emas pada 1971 oleh Richard Nixon (era berakhirnya perjanjian Bretton Wood).
Artinya, satuan hitung komoditas global dalam dollar AS masih membutuhkan waktu lama untuk dibongkar atau digantikan oleh mata uang lain, baik karena kesulitan teknis dalam mengubah perhitungannya di satu sisi, maupun karena kenyamanan perhitungan dalam satuan dollar AS yang telah dinikmati dunia selama ini di sisi lain.
Pun yang tak kalah penting, negara dan pelaku usaha masih akan sangat nyaman menerbitkan surat utang, obligasi, dan sejenisnya, dalam bentuk dollar AS untuk memenuhi kebutuhan modal, baik reguler maupun darurat, karena volume dan liquiditas dollar AS yang masih sangat banyak di dunia akibat "flexible capital account system” yang dianut oleh Amerika.
Begitu juga dengan surat utang pemerintah Amerika yang masih akan menjadi instrumen investasi dan lindung nilai yang menjanjikan bagi pelaku usaha dan negara-negara, karena masih dianggap sebagai salah satu instrumen paling aman dan paling liquid.
Isu tentang "gagal bayar utang" pemerintah Amerika tidak akan berpengaruh besar terhadap proporsionalitas dan komposisi kepemilikan surat utang pemerintah Amerika ke depan.
Pasalnya, isu "dept ceiling" ini bukan pertama kali terjadi di tanah Paman Sam. Namun, dollar AS tetap bisa bertahan sampai hari ini sebagai mata uang global dominan.
Apalagi, sampai hari ini nyatanya belum terlihat pengganti mata uang global yang bisa berperan selayaknya dollar AS.
Euro dan Yuan dianggap sebagai alternatif atas dollar AS. Namun, euro belum seleluasa dollar AS di pentas global karena peredaranya tidak seluas penggunaan dollar AS di satu sisi.
Di sisi lain, instabilitas mata uang benua biru tersebut akibat kurang seragamnya kondisi ekonomi negara-nehara anggota Uni Eropa.
Sementara yuan masih terkendala dengan keterbatasan liquiditas karena kebijakan "capital control" ketat yang diterapkan oleh Bank Sentral China (PBOC).
Selama ini, China masih menolak memberlakukan sistem "flexibel capital account", yang berakibat keterbatasan jumlah yuan yang beredar di pasar global.
China tentu terus berusaha menguatkan penetrasi Renmimbi di tingkat global. Salah satu langkah awal yang diambil China adalah menerapkan pendekatan dualistik, untuk meningkatkan peran yuan di pasar global.
China memberlakukan dua pasar untuk uang yuan, yakni offshore market dan onshore market. CNY untuk kode yuan pada onshore market dan CNH untuk kode yuan di offshore market.
Dengan kebijakan ini, China bisa mengurangi pengaruh langsung geliat pasar mata uang dari pasar global terhadap pergerakan yuan, yang bisa berimbas buruk pada daya saing produk-produk ekspor China jika yuan menguat terlalu tajam.
Langkah tersebut adalah buah dari pelajaran yang diambil China dari krisis Asia di tahun 1997-1998, di mana nilai mata uang negara seperti Thailand, Indonesia, Malaysia, dan Korea Selatan melemah tajam setelah dikaitkan secara fleksibel kepada dollar AS.
Di ranah pasar modal pun tak berbeda. China memberlakukan beberapa lapis pembatas untuk mengurangi pengaruh langsung kekuatan pasar global pada pasar modal China.
China memperkenalkan tiga jenis saham yang bisa diperdagangkan di beberapa jenis pasar. Misalnya, saham jenis A untuk perusahaan lokal yang terdaftar di Shanghai dan Shenzen.
Saham B untuk perusahaan asing yang menerbitkan sahamnya di pasar domestik China. Saham H untuk perusahaan China yang diterbitkan di pasar Hong Kong.
Bahkan, China membatasi pembeli saham-saham tersebut. Pihak yang boleh membeli saham-saham tersebut adalah lembaga keuangan terkualifikasi oleh otoritas terkait.
Qualified International Finansial Institution (QIFI) untuk lembaga keuangan asing dan Qualified Domestic Financial Institution untuk lembaga keuangan domestik.
Pendeknya, China memerlukan reformasi fundamental pada sistem moneter dan finansialnya agar yuan bisa menjadi pengganti dollar AS.
Ketersediaan (availability) yuan di pasar global akan sulit untuk dicapai jika China masih memberlakukan "Great Wall" pada sistem moneter dan pasar finansialnya.
Namun, jika China tidak meningkatkan peran yaun di pentas global, justru yuan akan dianggap sebagai mata uang kerdil yang tidak mewakili porsi ekonomi China di pentas global.
Dan tak dipungkiri, China sangat ingin menggantikan peran dollar AS dan the Fed di pentas global, sebagai salah satu perwujudan status China sebagai negara superpower ekonomi di kancah global.
Jadi jalan terbaik bagi China untuk sementara waktu adalah mengikis pelan-pelan dominasi dollar AS sembari menyiapkan infrastruktur ekonomi finansial untuk yuan berkuasa.
Untuk mengontrol pengaruh dan tekanan pasar pada yuan, penambahan peran mata uang yuan akan dikontrol sesuai dengan penambahan peran China di kancah ekspor impor di mana offahore market akan menguat secara perlahan sesuai dengan kebutuhan dunia atas yuan di pasar global,
Itupun harus dilakukan secara terukur agar yuan tidak menguat tajam lalu mengikis daya saing produk-produk ekspor China.
#yuan-china #dollar-as #dedolarisasi
https://money.kompas.com/read/2024/10/16/114326026/perkara-tak-mudah-dedolarisasi-bagi-china