Angkat Hilirisasi Nikel, Bahlil Lahadalia Dapat Gelar Doktor di UI
Bahlil Lahadalia resmi jadi doktor dengan disertasi tentang hilirisasi nikel, soroti kebijakan dan tantangan di Indonesia. Halaman all
(Kompas.com) 16/10/24 22:12 16571065
DEPOK, KOMPAS.com - Bahlil Lahadalia, Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM), resmi mendapatkan gelar doktor setelah dinyatakan lulus dalam Sidang Terbuka Promosi Doktor di Sekolah Kajian Stratejik dan Global Universitas Indonesia (SKSG UI).
Sidang berlangsung di Gedung Makara Art Center Universitas Indonesia, Depok, pada Rabu (16/10/2024) dan dipimpin oleh Ketua Sidang, Prof. Dr. I Ketut Surajaya, S.S., M.A.
Sidang terbuka ini dihadiri oleh promotor Prof. Dr. Chandra Wijaya, M.Si., M.M, serta ko-promotor Dr. Teguh Dartanto, S.E., M.E., dan Athor Subroto, Ph.D.
Bahlil diuji oleh Dr. Margaretha Hanita, S.H., M.Si., Prof. Dr. A. Hanief Saha Ghafur, Prof. Didik Junaidi Rachbini, M.Sc., Ph.D., Prof. Dr. Arif Satria, S.P., M.Si., dan Prof. Dr. Kosuke Mizuno.
Dalam disertasinya yang berjudul "Kebijakan, Kelembagaan dan Tata Kelola Hilirisasi Nikel yang Berkeadilan dan Berkelanjutan di Indonesia", Bahlil mengangkat isu hilirisasi komoditas nikel.
"Tim promotor yang diketuai oleh Prof Chandra Wijaya M.Si., M.M, telah menyampaikan keterangan mengenai pengembangan keahlian saudara dan ketua program studi telah melaporkan hasil sidang tertutup dan capaian publikasi artikel ilmiah hasil research saudara," ujar Ketut Surajaya dalam sidang tersebut.
"Maka berdasarkan semua ini, tim penguji memutuskan untuk mengangkat sodara Bahlil Lahadalia menjadi doktor dalam program studi kajian stratejik dan global dengan yudisium cumlaude," lanjutnya.
Hasil penelitian yang dilakukan Bahlil dalam studi doctoral bidang Kajian Stratejik Global ini menunjukkan empat masalah utama dari dampak hilirisasi yang membutuhkan penyesuaian kebijakan.
Terdiri dari ketidakadilan dana transfer daerah, keterlibatan pengusaha daerah yang minim, keterbatasan partisipasi perusahaan Indonesia dalam sektor hilirisasi bernilai tambah tinggi, serta belum adanya rencana diversifikasi pasca-tambang.
Dalam penelitiannya, Bahlil merekomendasikan empat kebijakan utama untuk mengatasi permasalahan tersebut.
Kebijakan tersebut meliputi reformulasi alokasi dana bagi hasil terkait aktivitas hilirisasi, penguatan kebijakan kemitraan dengan pengusaha daerah, penyediaan pendanaan jangka panjang untuk perusahaan nasional di sektor hilirisasi, dan kewajiban bagi investor untuk melakukan diversifikasi jangka panjang.
Bahlil juga menekankan pentingnya pembentukan satuan tugas yang dapat mengorkestrasikan implementasi kebijakan hilirisasi agar lebih efektif.
"Lembaga tersebut perlu mendapat mandat dari presiden sehingga berwenang melakukan koordinasi seluruh pihak, baik pemerintah maupun pelaku usaha, serta mobilisasi sumber daya untuk menyukseskan hilirisasi," sebutnya.
Sebelum mencapai tahap Sidang Terbuka Promosi Doktor, Bahlil telah menempuh serangkaian ujian sebagai mahasiswa riset Program Studi Doktor Kajian Stratejik Global SKSG UI.
Tahapan tersebut meliputi Seminar I pada 15 Juni 2023, Seminar II pada 26 Oktober 2023, Seminar III pada 22 Desember 2023, Ujian Proposal Riset pada 27 Januari 2024, Ujian Hasil Riset pada 19 Juni 2024, Ujian Seminar Hasil Riset I pada 10 Juli 2024, dan Ujian Hasil Riset II pada 27 September 2024.
Setiap tahapan tersebut diuji oleh dosen-dosen yang memiliki kepakaran sesuai dengan bidang penelitiannya, dengan melibatkan penguji dari luar Universitas Indonesia untuk menjamin mutu dan transparansi.
#bahlil-lahadalia #hilirisasi-nikel #doktor-ui #kebijakan-berkelanjutan