Olahraga Tak Cuma soal "Adu Mekanik" tapi Juga Diplomasi dan Politik
Olahraga diakui tak sekadar permainan dan pertandingan, tetapi juga bagian dari politik dan diplomasi. Bagaimana ceritanya? Halaman all
(Kompas.com) 17/10/24 16:51 16607216
OLAHRAGA bukan semata "adu mekanik" permainan dan atau laga di sebidang arena pertandingan. Ada juga sisi hiburan dan rasa kepemilikan bagi penonton, misalnya.
Saat timnas sepak bola Indonesia berlaga di Piala Asia, sebagai contoh, betapa girang dan berapi-apinya kita—bahkan yang awam tentang sepak bola sekalipun—ikut mendukung, baik yang menonton di lapangan maupun lewat layar kaca dan aneka media yang menyiarkannya.
Saat menang, rasanya penonton ikut berpeluh berlarian dalam pertandingan laiknya para pemain, saking gembira dan rasa memilikinya. Pun waktu kalah, semua merasa turut marah ketika penyebabnya bukan soal "adu mekanik" semata.
Hal serupa terjadi di lapangan bulu tangkis. Bahkan, saat Indonesia meraih medali emas dari panjat dinding di Olimpiade Paris 2024, semua orang serasa sudah seabad akrab dengan cabang olahraga yang satu ini.
KOMPAS.com/HENDRA CIPTA Peraih emas Olimpiade 2024 Paris, Veddriq Leonardo disambut ribuan pelajar yang memadati Jalan Ahmad Yani Pontianak, Kalimantan Barat (Kalbar), Rabu (21/8/2024) pagi.Namun, kegirangan dan berapi-apinya dukungan itu, sebenarnya bukan soal hiburan dan penghiburan semata.
Ada satu hal lagi yang jarang disadari oleh kebanyakan orang. Olahraga juga merupakan salah satu jalan politik dan cara diplomasi, apalagi bila levelnya sudah regional dan internasional.
Pulihnya identitas nasional rakyat Jerman dan diterima kembalinya negara itu di pergaulan internasional selepas Perang Dunia II (PD II), misalnya, bukan didapat dari unjuk kekuatan dan atau meja perundingan saja. Olahraga yang justru menjadi pintu utama pembuka.
Pada 1954, tim Jerman Barat—saat itu Jerman masih terpecah menjadi Jerman Barat dan Jerman Timur—untuk kali pertama muncul kembali di sejumlah perhelatan olahraga.
Hasilnya, mereka mencatatkan dua prestasi gemilang dari jalur olahraga. Pertama, tim Mercedez Benz menempati dua posisi teratas Grand Prix Perancis di Rheims. Kedua, Timnas Jerman Barat menjuarai Piala Dunia di Swiss yang digelar di Bern.
Dua capaian monumental itu membawa kembali negara kalah perang tersebut ke papan atas perpolitikan dan diplomasi internasional.
Rakyatnya merasa kembali punya identitas nasional sampai diabadikan dalam film seperti Das Wunder von Bern—atau Miracle of Bern dalam versi Bahasa Inggris.
Sambutan internasional pun ternyata melegakan. Penghormatan dan respek datang dengan sendirinya seturut dua kemenangan monumental tersebut. Sejarah tidak hilang tetapi penerimaan tetap bisa datang kembali.
Sejumlah kisah dan teori tentang arti olahraga yang tak hanya soal teknik dan skill pemain sudah banyak bertebaran dari jurnal hingga perfilman. Lalu, bagaimana dengan politik dan diplomasi Indonesia lewat ajang olahraga?
Meski mungkin belum semonumental cerita dari Jerman, sederet capaian prestasi olahraga Indonesia juga mendapat pengakuan publik, seperti cerita soal medali emas dari Olimpiade Paris 2024 di atas.
Sepuluh tahun kepemimpinan Presiden Joko Widodo mencatat sejumlah gelaran besar olahraga, baik Indonesia menjadi tuan rumah maupun sebagai peserta.
Survei Litbang Kompas mendapati, publik mengapresiasi capaian dunia olahraga Tanah Air sejauh ini, baik di dalam negeri maupun saat berlaga di ajang internasional.
Penilaian publik terhadap kinerja Kementerian Pemuda dan Olahraga (Kemenpora) juga terpantau Litbang Kompas cukup positif. Ini tergambar dari 75,1 persen responden menilai baik kinerja kementerian di bawah kepemimpinan Dito Ariotedjo.
Indeks Kepuasan Kinerja Kemenpora dan Performa Atlet Indonesia di Ajang InternasionalCabang olahraga yang menjadi pemikat publik pun beragam. Data dari Olimpiade Paris 2024 menjadi salah satu gambaran terbaru tentang sorotan publik terhadap aneka cabang olahraga tersebut, diukur dari pengetahuan mereka tentang cabang olahraga yang menyumbangkan medali bagi Indonesia.
Pengetahuan Publik tentang Olahraga Indonesia di Olimpiade Paris 2024Grafik di atas masih menyisipkan tantangan yang tak sedikit. Dari data Olimpiade Paris 2024, misalnya, publik tampaknya masih rancu dengan bahkan memasukkan sepak bola sebagai penyumbang medali. Padahal, Timnas Indonesia tidak lolos ke ajang tersebut.
Meski demikian, ini juga bisa dibaca sebagai sebuah pengharapan bahwa suatu saat Indonesia benar-benar dapat mengirimkan timnas ke Olimpiade. Harapan yang sama bagi cabang olahraga ini untuk dapat berlaga di Piala Dunia pun sama kuatnya.
Harapan-harapan ini lagi-lagi terbaca dalam survei Litbang Kompas tentang ekspektasi publik terhadap dunia olahraga Indonesia.
Persoalan dan Harapan Publik terhadap Olahraga IndonesiaDari sejumlah isu dan tantangan terkait dunia olahraga, kesejahteraan atlet ternyata menjadi sorotan publik. Berturut-turut setelah itu barulah masalah kualitas pelatih dan atlet serta kurangnya usaha pencarian bibit atlet yang dinilai publik menjadi tantangan bagi pengembangan olahraga di Tanah Air.
Apa pun tantangan yang dibaca publik tentang dunia olahraga Tanah Air, asa yang dititipkan adalah prestasi mencorong bisa muncul dari atlet-atlet Indonesia di ajang internasional. Tentu, butuh pembinaan atlet yang berkelanjutan, yang itu berkonsekuensi pula perlu ada kompetisi dari waktu ke waktu di dalam negeri.
Salah satu cara yang juga didorong publik untuk mendongkrak prestasi olahraga Tanah Air adalah mengupayakan lebih banyak helatan olahraga internasional digelar di Indonesia. Belajar dari penyelenggaraan Asian Games 2018 di Jakarta dan Palembang, geliat olahraga di dalam negeri juga turut meningkat.
Nah, transisi pemerintahan dari Presiden Joko Widodo ke Presiden terpilih Prabowo Subianto yang dijanjikan akan mengusung keberlanjutan tentu akan menanggung harapan yang sama dari publik atas isu dan tantangan dunia olahraga ini.
Akankah harapan berjawab? Barangkali tidak harus selalu sefenomenal dua prestasi Jerman pada 1954 untuk Indonesia berbicara ke dunia internasional lewat olahraga. Namun, tidak akan salah juga bila Timnas Indonesia berlaga di Piala Dunia apalagi menjuarainya untuk mata dunia terus tertuju ke Ibu Pertiwi.
Setidaknya, hari-hari ini saja, mata dunia mulai menengok ke olahraga Indonesia khususnya sepak bola. Surat kabar The New York Times, misalnya, pada edisi 28 September 2024 menulis "How Indonesia turns unkonwn footballers into adored".
Bulu tangkis Indonesia memang sudah diakui sebagai jawara sejak lama, walau itu sempat paceklik gelar juga di beberapa sektor dan laga. Namun, sepak bola tetap selalu sebuah cerita tersendiri, mulai dari kampung hingga tataran dunia, dari teori permainan hingga perputaran uang di setiap pertandingan dan souvenir-souvenirnya.
Bila asa memang boleh digantung setinggi langit, harapan untuk prestasi olahraga pun semestinya berlaku hal yang sama. Ingatlah selalu bagaimana mata dunia melihat Indonesia setelah capaian-capaian emas di Olimpiade Paris 2024, untuk diingat dan melecut semangat di semua lini dan cabang olahraga Indonesia.
Karena, apa pun cara dan pemikat dunia untuk mau melihat Indonesia, sejatinya itulah politik dan diplomasi yang paling hakiki. Tak ada kecuali. Olahraga semestinya bisa menjadi salah satunya.
Naskah: KOMPAS.com/PALUPI ANNISA AULIANI
#olahraga #timnas-indonesia #sepak-bola #kemenpora #olimpiade-paris-2024 #dito-ariotedjo