Bangun Inovasi Bisnis Non-Aero, InJourney Airports "Pede" Targetkan Pendapatan Rp 35 Triliun dalam 5 Tahun
Target pendapatan InJourney Airports Rp 20,3 triliun hingga akhir 2024, dan Rp 35 triliun dalam 5 tahun mendatang. Ini strategi Bos InJourney Airports Halaman all?page=all
(Kompas.com) 18/10/24 21:58 16706080
SEOUL, KOMPAS.com - Direktur Utama PT Angkasa Pura Indonesia (InJourney Airports) Faik Fahmi menegaskan target pendapatan perusahaan sebesar Rp 20,3 triliun hingga akhir 2024, dan sebesar Rp 35 triliun dalam lima tahun mendatang dengan fokus pada peningkatan pendapatan non-aero.
Keyakinan ini muncul setelah merger PT Angkasa Pura I (Persero) dan PT Angkasa Pura II (Persero) September 2024 lalu yang diharapkan dapat memperkuat posisi dan operasional bandara di Indonesia.
Lantas, seperti apa bisnis non-aero yang jadi tumpuan baru InJourney Airports? Faik Fahmi menjawabnya dalam sebuah wawancara khusus di Seoul, Korea Selatan, pada Rabu (16/10/2024) lalu.
Pertama-tama, Faik menjelaskan bahwa keputusan untuk melakukan merger AP I dan AP II dianggap sebagai langkah strategis untuk memperbaiki tatanan kebandarudaraan di Tanah Air. Dengan merger ini, InJourney Airports mengelola 37 bandara dan 16.000 karyawan, serta jadi pengelola bandara terbanyak di dunia.
“Target pendapatan kita tahun 2024 ini Rp 20,3 triliun dan kita punya target sampai lima tahun ke depan bisa tembus Rp 35 triliun,” ujar Faik.
Fokus pada Pendapatan Non-Aero
Untuk mencapai target tersebut, Faik menekankan pentingnya inovasi dalam pendekatan bisnis, khususnya dari sisi non-aero. Ia pun melakukan tur di Bandara Incheon Korea Selatan untuk memperluas wawasan soal bisnis non-aero.
“Non-aero itu kan ada di dalam terminal dan ada yang di luar terminal,” jelasnya. Kami akan mengoptimalkan area komersial di bandara dengan melakukan revitalisasi dan beautifikasi, sehingga tenant-tenant yang ada dapat ditingkatkan ke level yang lebih baik," kata Faik.
“Jadi kita punya skema, mana sih brand-brand yang memang revenue-nya tinggi, mana yang enggak. Ini kita tata ulang dan sekaligus tampilan di bandaranya juga kita upgrade,” imbuh Faik.
Dia juga mengungkapkan bahwa ada banyak aset di luar bandara yang akan dimanfaatkan secara optimal melalui kerja sama.
Bikin penumpang betah belanja di bandara
Strategi non-aero lainnya adalah mempercepat proses dokumentasi penumpang agar waktu tunggu untuk masuk bandara jadi lebih singkat.
“Data kita menunjukkan, untuk penerbangan domestik, penumpang biasanya datang satu jam sebelum keberangkatan. Dengan mempercepat proses, mereka bisa memiliki lebih banyak waktu di bandara untuk berbelanja,” kata Faik.
Dengan proses yang lebih efisien, Faik berharap penumpang bisa menikmati pengalaman di bandara, termasuk berbelanja, dengan lebih leluasa.
“Ini adalah salah satu yang lagi kita coba benahi. Kita belajar dari praktik terbaik di bandara lain, seperti seamless process yang membuat dokumentasi lebih cepat,” tambahnya.
Faik juga mencatat contoh sukses dari tenant yang telah mengalami renovasi, seperti Koi yang ada di terminal internasional.
“Setelah renovasi, omset penjualannya naik tiga kali lipat. Dari 16 juta sehari menjadi 50-60 juta,” ujarnya.