Perajin Batik Ikut Mendorong Kemajuan Industri Berbasis Budaya

Perajin Batik Ikut Mendorong Kemajuan Industri Berbasis Budaya

Industri batik kian berkembang dan memberi kontibusi yang cukup besar bagi perekenomian nasional, termasuk dalam hal menyumbang penyerapan tenaga kerja - Halaman all

(InvestorID) 21/10/24 22:34 16804817

JAKARTA, investor.id - Industri batik kian berkembang dan memberi kontibusi yang cukup besar bagi perekenomian nasional, termasuk dalam hal menyumbang penyerapan tenaga kerja

Pertumbuhan sentra-sentra batik telah mendukung kemajuan industri berbasis budaya di Indonesia. Industri berbasis budaya adalah industri yang menggabungkan kreativitas, produksi, dan komersialisasi konten kreatif yang bersifat budaya.

Industri ini dapat memanfaatkan kekayaan budaya lokal, seperti adat, makanan tradisional, bahasa lisan, dan kebiasaan, untuk menjadi produk-produk yang dapat dikomersialkan.

Pada Triwulan II-2024, Industri Tekstil dan Pakaian Jadi berkontribusi sebesar 5,72 persen terhadap Produk Domestik Bruto (PDB) Industri Pengolahan Non Migas.

Industri batik turut berkontribusi terhadap ekspor tekstil dan produk tekstil (TPT) nasional dengan nilai mencapai US$8,33 juta .

Untuk melestarikan warisan budaya yang berharga,dan mencetak generasi baru perajin yang dilengkapi dengan metode produksi yang berkelanjutan dan ramah lingkungan yang ramah lingkungan maka dibentuklah Rumah Batik TBIG.

Rumah Batik memiliki konsep creating shared value untuk membantu pelaku usaha mikro batik menghadapi tantangan dalam berusaha.

Sejak berdiri pada tahun 2014, Rumah Batik TBIG telah meluluskan ratusan siswa, dan sukses membuka usaha batik secara mandiri.

Pada tahun ini, Rumah Batik TBIG kembali menggelar wisuda batch ke-5 yang meluluskan 32 siswa yang terdiri dari 20 siswa Regular A dan 12 siswa Regular B (disabilitas). Dalam kegiatan wisuda ini, masing-masing lulusan memaparkan rencana kerja yang akan ditekuni setelah lulus dari Rumah Batik TBIG. 

“Rumah Batik TBIG diharapkan dapat menjadi mitra daerah dan pemerintah untuk mendukung dan mengembangkan industri berbasis kultural dan memastikan bahwa bentuk seni ini tetap hidup bagi generasi mendatang,” kata Lie Si An , Chief Business Support Officer PT Tower Bersama Infrastructure Tbk dalam keterangannya di Jakarta, Senin (21/10/2024).

Sejak diresmikan menjadi warisan budaya tak benda oleh UNESCO pada 2 Oktober 2009, batik sebagai warisan budaya Indonesia semakin mendunia. Derasnya arus globalisasi tidak menjadikan batik tenggelam, bahkan semakin erat dengan keseharian gaya hidup masyarakat modern. Rumah Batik TBIG merupakan bagian dari inisiatif CSR PT Tower Bersama Infrastructure Tbk di pilar budaya yang diberi nama Bangun Budaya Bersama, yang merupakan salah satu dari empat pilar CSR yang terdiri dari Bangun Sehat Bersama, (kesehatan), Bangun Cerdas Bersama (pendidikan), Bangun Hijau Bersama (lingkungan), dan Bangun Budaya Bersama (budaya). 

Program yang sudah berjalan lebih dari satu dekade ini, dirancang menjadi program community development yang komprehensif dan berkelanjutan.

Program Rumah Batik tidak hanya memberikan keterampilan dan keahlian membatik tetapi juga kewirausahaan dan pendampingan oleh koperasi binaan, yang memberikan akses permodalan dan pendistribusian barang yang dihasilkan oleh alumni dan pelaku usaha mikro batik di Pekalongan. Koperasi pendamping ini bertindak sebagai care taker dengan memberikan kepastian pembayaran tunai kepada perajin.

Program Rumah Batik juga memasukkan aspek lingkungan dalam kurikulumnya. Siswa rumah batik diberikan pembelajaran mengenai proses produksi ramah lingkungan, dengan memasukkan kurikulum pewarna alam dan pengelolaan limbah pewarna.

Dengan demikian, program ini tidak hanya melestarikan warisan budaya yang berharga, tetapi juga mencetak generasi baru perajin yang dilengkapi dengan metode produksi yang berkelanjutan dan ramah lingkungan yang ramah lingkungan.

Tema besar dari CSR TBIG adalah “Bersama untuk Indonesia”. Tema ini diwujudkan melalui pelibatan stakeholders terkait di lokasi binaan, di antaranya adalah mahasiswa yang mempelajari batik secara formal, para tenaga pengajar, tokoh masyarakat dan Lembaga Pendidikan formal tingkat dasar sampai perguruan tinggi.

“Kami melihat, bahwa batik merupakan bagian dari identitas bangsa Indonesia. Di sisi lain, industri batik juga melibatkan warga masyarakat secara luas. Melihat dimensi ekonomi sosial dan budaya ini, TBIG memutuskan untuk terlibat dan berkontribusi dalam upaya pelestarian dan pengembangan batik,” kata Lie Si An.

Melalui Rumah Batik TBIG, lanjut dia, pihaknya ingin menghidupkan kembali minat anak muda terhadap budaya membatik, sembari memberikan mereka keterampilan yang dapat digunakan untuk menciptakan kemandirian ekonomi dan meningkatkan taraf hidup.

Kemandirian ekonomi merupakan sasaran penting yang harus terlebih dahulu dicapai agar program pelestarian produk suatu budaya dapat berhasil. Oleh karenanya, kemandirian ekonomi menjadi salah satu misi yang diemban oleh rumah batik TBIG. 

Dalam merancang dan mengimplementasikan inisiatif CSR perlu adanya pemahaman yang valid terhadap konteks sosial di masyarakat yang menjadi target implementasi program.

CSR TBIG mengadopsi konsep creating shared value untuk menciptakan nilai secara signifikan terhadap program yang dijalankan. Melalui konsep ini, pemetaan stakeholders dan kebutuhannya dapat dilakukan secara efektif. Sehingga, misi program dapat berjalan secara efektif.

Editor: Imam Suhartadi (imam_suhartadi@investor.co.id)

Follow Channel Telegram Official kami untuk update artikel-artikel investor.id

Baca Berita Lainnya di Google News

#berita-terkini #berita-hari-ini #rumah-batik-tbig #industri-berbasis-budaya #wirausaha #perajin-batik #warisan-budaya #berita-ekonomi-terkini

https://investor.id/lifestyle/377470/perajin-batik-ikut-mendorong-kemajuan-industri-berbasis-budaya