Peran Strategis Womenpreneur dalam Mendorong Kebangkitan UMKM

Peran Strategis Womenpreneur dalam Mendorong Kebangkitan UMKM

Program Giro Kartini menjadi contoh nyata bagaimana sektor perbankan dapat berperan aktif dalam memberdayakan perempuan. Halaman all

(Kompas.com) 22/10/24 08:09 16818842

DAPATKAH perempuan menjadi motor penggerak ekonomi nasional? Fakta menunjukkan bahwa usaha mikro kecil dan menengah (UMKM) yang dikelola perempuan telah menjadi salah satu pilar penting pemulihan ekonomi Indonesia pascapandemi.

Di Tanah Air, perempuan memang memiliki peran penting dalam perkembangan UMKM. Ini karena seiring waktu, kesadaran dan kemauan perempuan untuk terjun ke dunia wirausaha semakin meningkat.

Data dari Badan Pusat Statistik (BPS) yang dirilis pada 2021, 64,5 persen dari total UMKM di Indonesia dikelola oleh perempuan, dan sektor ini memberikan kontribusi sekitar 60,34 persen terhadap produk domestik bruto (PDB) nasional.

Sayangnya, data itu tak diiringi dengan fakta bahwa pelaku usaha perempuan dapat mengembangkan usahanya di masa depan. Ini karena motivasi dan fondasi sebagian besar dari mereka dalam membangun bisnis belum cukup kuat.

Bisnis yang mereka jalankan biasanya punya embel-embel sebagai “penghasilan sampingan” atau “tambahan penghasilan”. Karena bukanlah pilihan karier utama, tak banyak dari mereka yang berpikir strategis bahwa bisnis perlu tujuan, strategi, dan inovasi.

Berdasarkan pengalaman serta pantauan selama menjadi pelaku usaha, peningkatan jumlah UMKM perempuan di Indonesia justru terjadi secara signifikan selama pandemi Covid-19.

Mereka tergerak untuk membangun usaha setelah sebagian besar masyarakat kehilangan pendapatan utama keluarga akibat ekonomi terdampak pandemi.

Motivasi itu memang berhasil membawa mereka menemukan peluang pendapatan yang baru. Bahkan lebih jauh lagi, tak dapat dinegasikan bahwa perempuan merupakan kelompok penting dalam perekonomian Indonesia.

Namun, bisnis yang dibidangi perempuan berisiko jalan di tempat karena mindset “penghasilan sampingan” tak membuat mereka ingin mengembangkan usahanya. Kalaupun pada akhirnya harus mengalami gulung tikar, sebagian dari mereka memilih pasrah karena bisnis tersebut dianggap sudah waktunya berhenti.

Mengatasi kesenjangan literasi, langkah womenpreneur menuju keberlanjutan bisnis

Berbeda dengan laki-laki, perempuan punya tantangannya tersendiri dalam membangun bisnis. Motivasi membangun bisnis sebagai “penghasilan sampingan” juga tak serta-merta datang. Hal ini merupakan akibat dari stigma bahwa perempuan yang berbisnis tak boleh mengesampingkan urusan domestik di rumah. Terlebih bagi mereka yang memiliki peran ganda sebagai istri sekaligus ibu.

Setelah banyak bertemu dengan pelaku usaha perempuan, saya dapat menangkap bahwa mereka memiliki keterbatasan terhadap literasi keuangan dan digital.

Tanpa adanya pengetahuan yang memadai tentang pengelolaan keuangan dan strategi pemasaran digital, usaha yang mereka rintis sulit berkembang dan berkelanjutan.

Program pelatihan yang menyasar aspek literasi digital dan keuangan menjadi sangat penting. Di sini, peran support group atau kelompok pendukung menjadi krusial. Support group dapat menjadi wadah bagi para perempuan pengusaha untuk saling berbagi pengalaman, tantangan, dan solusi.

Selain dukungan berupa support group, aspek yang sering kali terlupakan dalam pembahasan tentang perempuan dan UMKM adalah kesehatan mental. Karena itu, di Setara Berdaya—organisasi yang fokus pada pemberdayaan ekonomi bagi perempuan, penyandang disabilitas, dan pemuda di Indonesia—kami berupaya membuka layanan konsultasi psikologis yang khusus ditujukan untuk UMKM, khususnya perempuan dan penyandang disabilitas.

Layanan tersebut memungkinkan mereka untuk mendapatkan bantuan dalam mengelola stres dan tekanan yang muncul selama menjalankan usaha. Dengan dukungan kesehatan mental yang memadai, UMKM perempuan dapat lebih fokus dalam mengembangkan bisnisnya.

Dukungan industri keuangan bagi womenpreneur

Di sisi lain, peningkatan jumlah perempuan yang terjun ke dunia usaha perlu didukung oleh akses yang lebih luas terhadap permodalan dan pembiayaan. Ini juga merupakan cara agar bisnis yang dilakoni perempuan bisa berkelanjutan dan berumur panjang. Di sinilah peran industri perbankan menjadi sangat krusial.

Salah satu yang sudah terlibat dan hadir untuk merespons kebutuhan tersebut adalah PT Bank CIMB Niaga Tbk (CIMB Niaga) dengan produk Giro Kartini.

Program Giro Kartini menjadi contoh nyata bagaimana sektor perbankan dapat berperan aktif dalam memberdayakan perempuan tidak hanya di perkotaan, tetapi juga di daerah-daerah terpencil. Dengan pelatihan pembuatan tenun di Toraja, program ini membantu menciptakan lapangan kerja sekaligus melestarikan budaya lokal.

Giro Kartini dibuat untuk mendukung para pemimpin dan pengusaha perempuan yang aktif berbisnis di segmen Usaha Kecil Menengah (UKM) atau Emerging Business Banking (EBB).

Lewat produk tersebut, CIMB Niaga menawarkan keuntungan menabung sekaligus berkontribusi mendukung masa depan bisnis perempuan yang berkelanjutan.

Bagi para womenpreneur, produk Giro Kartini menawarkan tiga dampak positif. Pertama, suku bunga jasa giro yang kompetitif khusus untuk nasabah individu wanita dan nasabah non-individu yang dipimpin oleh wanita. Kedua, mendukung pemberdayaan wanita, karena setiap pembukaan rekening Giro Kartini, CIMB Niaga akan memberikan donasi sebesar Rp 25.000 untuk mendukung pelatihan pembuatan tenun tradisional bagi wanita disabilitas di Sulawesi.

Ketiga, produk ini mendukung upaya ramah lingkungan melalui penggunaan e-statement yang membuat pelaporan transaksi lebih cepat dan efisien.

Selain itu, CIMB Niaga memberikan kemudahan akses pembiayaan melalui produk yang lengkap dan didukung kemampuan digital. Digitalisasi menjadi faktor penting bagi UMKM perempuan untuk bertahan dan berkembang di era digital, mengingat banyak dari mereka yang masih menghadapi keterbatasan literasi digital.

Langkah nyata menuju ekonomi inklusif

Sebagai pilar penting UMKM, perempuan memiliki potensi besar dalam menciptakan perubahan, tidak hanya dalam keluarga dan komunitasnya, tetapi juga memiliki peran penting untuk mewujudkan ekonomi inklusif di Indonesia.

Dok Nicky Clara Nicky Clara merupakan pebisnis perempuan. Lewat kemampuannya, ia kini juga berkesibukan di Setara Berdaya, yakni wadah atau hub pemberdayaan ekonomi, utamanya bagi penyandang disabilitas dan perempuan. Di sini, ia juga berupaya membuka layanan konsultasi psikologis yang khusus ditujukan untuk UMKM, khususnya perempuan dan penyandang disabilitas. Layanan ini memungkinkan mereka untuk mendapatkan bantuan dalam mengelola stres dan tekanan yang muncul selama menjalankan usaha.

Namun, agar potensi ini benar-benar terwujud, dibutuhkan langkah nyata dari berbagai pihak. Dukungan dari pemerintah dan sektor perbankan harus lebih konkret. Program-program seperti Giro Kartini dari CIMB Niaga merupakan contoh nyata upaya sektor swasta dalam menciptakan akses yang lebih luas bagi womenpreneur.

Akses ini tak hanya sekadar modal finansial, tetapi juga berupa edukasi literasi keuangan dan digital yang akan membantu mereka lebih kompetitif di pasar. Di antara contoh nyata yang telah kami melalui Berdaya Bareng bersama CIMB Niaga, yaitu Program Community Link #JadiBerkelanjutan yang membina pelaku UMKM di Indonesia Timur seperti Maminasata, Toraja, Balikpapan, Banjarmasin, Manado, Balikpapan, Kupang, dengan fokus kepada wanita dan teman disabilitas.

Di sisi lain, pemerintah harus lebih aktif menginisiasi kebijakan yang mendukung inklusivitas ekonomi. Kebijakan yang mendorong perempuan untuk masuk ke dunia usaha, baik melalui penyederhanaan regulasi, penyediaan akses pelatihan, hingga penyuluhan seputar pemanfaatan teknologi digital sangatlah penting. Inovasi ini perlu dipadukan dengan dukungan infrastruktur dan kemudahan akses pasar, terutama bagi UMKM yang dikelola perempuan di daerah-daerah terpencil.

Tak hanya berhenti di pemerintah dan perbankan, kolaborasi multi-sektor juga menjadi langkah krusial untuk memastikan ekonomi inklusif berjalan. Lembaga non-pemerintah, komunitas, dan sektor swasta perlu bersinergi dalam menghadirkan ekosistem yang ramah bagi womenpreneur.

Penting juga bagi para pelaku UMKM perempuan untuk terus meningkatkan kompetensi dan keberanian mereka dalam mengambil risiko bisnis. Teknologi dan dunia digital menawarkan peluang baru yang lebih luas dan terbuka, namun hal ini hanya bisa dimanfaatkan jika womenpreneur berani beradaptasi dan berinovasi. Edukasi, pendampingan, dan peningkatan akses ke teknologi ini bisa menjadi faktor penentu dalam mendorong womenpreneur menuju keberhasilan yang lebih besar.

Langkah-langkah ini tidak hanya bermanfaat bagi pertumbuhan ekonomi jangka pendek, tetapi juga membangun fondasi ekonomi yang lebih kuat, inklusif, dan berkelanjutan. Melalui kolaborasi semua pihak—pemerintah, sektor swasta, perbankan, serta pelaku usaha itu sendiri—ekonomi Indonesia dapat tumbuh lebih adil dan inklusif, di mana perempuan mendapatkan porsi peran yang setara dan kontribusi mereka diakui secara luas.

#entrepreneur #wirausaha #cimb-niaga #womenpreneur #giro-kartini

https://money.kompas.com/read/2024/10/22/080900626/peran-strategis-womenpreneur-dalam-mendorong-kebangkitan-umkm-