Infrastruktur Digital dalam Hilirisasi Sumber Daya Mineral di Indonesia, Upaya Tingkatkan Nilai Tambah

Infrastruktur Digital dalam Hilirisasi Sumber Daya Mineral di Indonesia, Upaya Tingkatkan Nilai Tambah

Digitalisasi memungkinkan produk hilir tambang Indonesia lebih kompetitif di pasar internasional Halaman all

(Kompas.com) 23/10/24 10:36 16873494

KOMPAS.com – Monitoring secara real-time. Aspek ini menjadi kunci penting bagi Abdul Kahar dalam menjalankan tugasnya sebagai Engineering Superintendent PT Arutmin Indonesia Site Asam Asam, di Kabupaten Tanah Laut, Kalimantan Selatan (Kalsel).

Dia menceritakan bahwa pemantauan praktik pertambangan secara real-time, khususnya terkait geoteknik, membuat proses penambangan terbuka menjadi lebih aman, efektif, dan efisien.

Sebagai informasi, tambang batu bara Arutmin bersifat open-pit mining atau penambangan terbuka yang berbentuk lereng dengan risiko longsor. Oleh karena itu, alat pengawasan (monitoring) secara real-time yang memanfaatkan infrastruktur digital selalu dibutuhkan.

”Dengan peralatan tersebut, ada pergerakan 1-2 sentimeter (cm) saja sudah terdeteksi. Juga misalnya ada pergerakan sampai 5 cm dalam sehari, maka ada peringatan pada daerah itu untuk segera ditinggalkan,” kata Kahar sebagaimana diberitakan Kompas.id, Rabu (25/10/2023).

Arutmin juga tengah menyiapkan pelaporan monitoring yang terkoneksi langsung dengan kantor pusat Arutmin di Jakarta. Sistem tersebut akan terintegrasi, mulai dari pelaporan terkait penambangan hingga pengapalan batu bara yang telah diproduksi.

”Selama ini, pelaporan ke (kantor pusat) Jakarta (dilakukan secara) manual. Dengan sistem dan perangkat digital, pelaporan dan evaluasi dapat dilakukan secara real-rime. Jadi, akan terjadi efisiensi serta bakal meningkatkan produksi,” ujar Kahar.

Untuk diketahui, hasil monitoring tersebut juga mengandalkan teknologi kecerdasan buatan atau artificial intelligence (AI). Teknologi AI memungkinkan prediksi kegagalan mesin, identifikasi potensi bahaya, dan optimasi penggunaan sumber daya.

Dalam operasional sehari-hari, AI mampu mendeteksi anomali dalam proses produksi dan memberikan rekomendasi untuk memperbaikinya sebelum masalah menjadi lebih besar.

Sebagai contoh, jika ada indikasi penurunan kinerja mesin atau perubahan drastis pada lingkungan tambang, sistem akan mengirimkan peringatan kepada tim operasional untuk segera mengambil tindakan.

IoT dan efisiensi di sektor pertambangan

Di samping monitoring data berbasis AI, infrastruktur digital lain, seperti internet of things (IoT) lewat kehadiran jaringan internet berkecepatan tinggi pun dianggap sebagai tulang punggung bagi transformasi di sektor pertambangan.

Integrasi berbagai teknologi tersebut dapat mendukung seluruh tahap proses hilirisasisumber daya mineral, mulai dari eksplorasi hingga pengolahan di sektor hilir.

Pemanfaatan IoT juga dilakukan oleh PT Vale Indonesia. Perusahaan pertambangan nikel tersebut baru-baru ini bekerja sama dengan XL Axiata Business Solutions untuk mengimplementasi intelligent mining berbasis private network dan teknologi IoT di lokasi tambang Sorowako, Kabupaten Luwu Timur, Sulawesi Selatan.

KOMPAS.com/Aningtias Jatmika Pengimplementasian teknologi digital dalam control room pabrik pengolahan nikel PT Vale Indonesia.

PT Vale Indonesia menjadi salah satu perusahan tambang pertama di Asia Tenggara dalam penerapan teknologi private network pertambangan.

Private network memungkinkan perusahaan tambang untuk mengimplementasikan autonomous vehicle, 360 situational awareness, geo tracking, fleet management, predictive maintenance, dan mission critical communication.

IoT memungkinkan perangkat dan mesin di tambang saling berkomunikasi serta memberikan data yang diperlukan untuk pengambilan keputusan secara otomatis dan tepat waktu.

Dengan IoT, sektor pertambangan tidak hanya menjadi lebih efisien tetapi juga lebih transparan. Sistem IoT dapat memberikan gambaran lengkap tentang proses penggalian, pengolahan, dan distribusi hasil tambang.

Laporan McKinsey yang diterbitkan pada 2021 bahkan menyebutkan bahwa penerapan IoT di sektor pertambangan dapat meningkatkan produktivitas hingga 25 persen dan mengurangi biaya operasional hingga 15 persen. Teknologi ini juga memungkinkan perusahaan tambang untuk mengoptimalkan penggunaan energi dan meminimalkan dampak negatif terhadap lingkungan.

Tingkatkan nilai tambah

Transformasi digital di sektor tambang Indonesia bukan soal efisiensi semata, melainkan juga tentang meningkatkan nilai tambah hasil tambang yang diolah di dalam negeri atau yang dikenal dengan hilirisasi.

Hilirisasi sendiri merupakan salah satu agenda strategis pemerintah Indonesia dengan memproses sumber daya mineral di dalam hingga menjadi produk bernilai tinggi.

Di tengah proses itu, digitalisasi melalui infrastruktur digital menjadi fondasi penting dalam mendorong efisiensi, transparansi, dan pertumbuhan ekonomi. Digitalisasi juga memungkinkan produk hilir tambang Indonesia lebih kompetitif di pasar internasional karena kualitas produk yang konsisten dan proses yang lebih terukur.

Presiden Joko Widodo (Jokowi) mengatakan bahwa sektor pertambangan harus mampu bersaing dengan mengimplementasikan teknologi di tengah perkembangan era digital untuk mendukung seluruh kegiatan operasional di dalamnya. Hal itu sampaikan saat menghadiri peluncuran Teknologi 5G Mining di PT Freeport Indonesia (PTFI), Papua Tengah, Kamis (1/9/2022).

dok.Sekretariat Presiden Presiden Joko Widodo saat menyerahkan bansos kepada para pedagang di Pasar Larangan, Kabupaten Sidoarjo, pada Senin (22/8/2022).

Indonesia sendiri merupakan salah satu eksportir utama bahan mentah sumber daya mineral, seperti nikel, tembaga, dan bauksit.

Perkembangan industri hilir yang didukung teknologi digital diharapkan dapat meningkatkan pengolahan bahan mentah menjadi produk dengan nilai tambah yang lebih tinggi sebelum diekspor.

“Kita tidak boleh tertinggal dan harus mampu bersaing di segala sektor yang makin terdigitalisasi. Sektor pertambangan pun juga tidak boleh ketinggalan, harus segera mengimplementasikan teknologi AI, IoT, machine learning, hingga big data, dalam rangka mendukung seluruh operasional di pertambangan,” ucap Jokowi.

Dia menegaskan bahwa intervensi teknologi sangat dibutuhkan untuk memajukan sektor pertambangan yang umumnya berada di daerah terpencil dengan tantangan geografis dan konektivitas yang tidak mudah.

“Penerapan 5G Smart Mining pertama di Asia Tenggara oleh PT Freeport Indonesia yang didukung PT Telkomsel (ini dilakukan) dalam rangka untuk mendukung otomatisasi dan kendali jarak jauh, serta meningkatkan keselamatan kerja dan untuk produktivitas pertambangan PT Freeport Indonesia,” tutur Jokowi.

Di samping itu, penerapan teknologi dalam sektor pertambangan juga akan menghasilkan banyak sumber daya manusia (SDM) yang berkualitas dan mampu berkontribusi untuk Tanah Air. Pasalnya, digitalisasi di sektor hilir industri pertambangan menuntut peningkatan

Keterampilan tenaga kerja

Pelatihan keterampilan digital menjadi bagian penting dalam memastikan bahwa para pekerja siap menghadapi perubahan teknologi yang cepat. Program pelatihan ini dapat mencakup berbagai aspek, mulai dari penggunaan perangkat digital dalam operasional tambang, pemahaman tentang teknologi IoT dan AI, hingga kemampuan menganalisis data.

Freeport sendiri terus berupaya meningkatkan keterampilan tenaga kerja di bidang teknologi. Tak heran, sebagian besar dari karyawan yang mengendalikan dan mengoperasikan tambang bawah tanah merupakan masyarakat Indonesia, khususnya Papua.

Jokowi pun mengapresiasi hal tersebut dan berharap seluruh pelaku industri tambang mengedepankan tenaga kerja lokal.

“Saya sangat gembira mendengar bahwa tambang bawah tanah yang sangat sulit medannya dan dikendalikan dari jarak jauh, tadi saya sudah melihat secara langsung, yang saya senang 99 persen dari total karyawan yang tadi mengendalikan, mengoperasikan itu asli Indonesia khususnya dari Tanah Papua,” kata Jokowi.

Jokowi juga meminta hilirisasi mineral mentah terus dilanjutkan. Hal ini dikatakan Jokowi dalam malam puncak hari ulang tahun ke-79 Pertambangan dan Energi di Menteng, Jakarta Pusat, Kamis (10/10/2024).

“Inilah yang sering saya sampaikan pentingnya hilirisasi. Industrial downstreaming. Penting sekali. Jangan ada yang mundur untuk satu masalah ini dengan alasan apa pun," kata Jokowi.

Dia menuturkan, sektor energi dan sumber daya mineral memberikan efek berlapis (multiplier effect) yang besar bagi Indonesia, jika dikelola dari hulu ke hilir dengan baik di dalam negeri, terlebih dengan memanfaatkan teknologi digital.

Pada akhirnya, sebut Jokowi, hilirisasi akan menguntungkan masyarakat lewat potensi penerimaan negara yang didapat dari proses tersebut, mulai dari pajak perusahaan, PPh 21 atau pajak perorangan, hingga royalti dan dividen.

“Ada pajak daerah, ada PBB, ada PNBP, besar sekali. Ini kalau semua masuk ke industri turunan akan melompat penerimaan negara dan itu semuanya bisa kita pakai untuk membangun jalan desa, membangun jalan tol, pelabuhan baru, bandara baru, subsidi, untuk bansos rakyat kita,” ucap Jokowi.

#tambang #sumber-daya-mineral #hilirisasi #sektor-pertambangan #digitalisasi #infrastruktur-digital

https://money.kompas.com/read/2024/10/23/103602126/infrastruktur-digital-dalam-hilirisasi-sumber-daya-mineral-di-indonesia-upaya