Masih Adakah Partai Politik?
Melihat kondisi politik negeri ini sekarang, pertanyaan yang kemudian muncul adalah: masih adakah partai politik? Halaman all
(Kompas.com) 27/10/24 13:00 17055959
Oleh: Suherman
PEMILU tahun 2024 memperlihatkan dengan telanjang klimaks pragmatisme partai politik yang sangat vulgar.
Terlihat dengan jelas bagaimana partai-partai politik berebut dalam mendukung calon yang dalam asumsinya akan menang dengan mudah karena logistik yang melimpah.
Hari ini penguasa tidak perlu lagi membeli partai dengan harga yang mahal, karena justru partailah yang menawarkan diri bahkan menjual diri.
Koalisi terbangun bukan atas kesamaan ide, gagasan, atau ideologi, akan tetapi disatukan atas dasar kepentingan.
Bila kepentingannya sudah tercapai maka koalisi pun bubar.
Di malam hari tawar menawar harga kursi atau posisi, setelah harganya pas pagi hari di media memberikan konferensi pers bahwa berkoalasi atau mendukung si anu karena adanya kesamaan platform, visi, dan lain-lain.
Untuk membungkam para kader yang kritis biasanya dijanjikan posisi, proyek, atau dikeluarkanlah konfirmasi berupa dalil dalih pembenaran.
Kader diam karena mendapatkan tunai keras atau terbius oleh angin surga yang dibungkus oleh kemasan agama. Suara elit adalah suara tuhan, sabda pandita ratu.
Sekarang ini tidak ada satu partai pun yang punya nyali untuk menjadi opisisi.
Dengan dalih strategi politik mereka berkoalisi dengan partai pemerintah.
Cerita tentang kepahlawanan dan teladan para founding father, keberanian dan kesabaran para nabi dan para sahabat yang sering diindoktronasikan para fungsionaris partai kepada para kader dan konstituen hanyalah tinggal dongeng.
Nyawa sebuah partai adalah ideologi, bila ideologi sudah tidak ada maka partai hanyalah kuda lumping, ondel-ondel, atau “bebegig” yang fungsinya hanya untuk manakuti burung pipit di sawah.
Dan yang sudah pasti adalah hanya sebagai kendaraan para elit untuk keuntuangan pribadi dan golongan.
Yang mengaku partai ideologis dengan jumlah kader bergelar doktor seabreg pun tidak tahan berada di luar pemerintah akhirnya lumer dan ikut koalisi dengan dalih strategi, padahal semua juga tahu bahwa alasan utamanya adalah ingin kebagian sumber daya.
Para elit sudah terbiasa hidup enak dan nyaman, tidak perlu lagi berkeringat mendapatkan fasilitas dan previlese yang wah, sehingga mikir tujuh kali untuk melepaskannya.
Siapa yang tahan meninggalkan hotel Mulia yang gemerlap penuh dengan kesenangan duniawi, dan harus kembali ke warteg atau pojokan masjid.
Sudah bukan rahasia lagi bila departemen atau dinas adalah ladang untuk mencari duit bagi para anggota legislatif.
Dapat dibayangkan bagaimana semakin transaksionalnya kinerja legislatif sekarang ini karena mereka terpilih hasil dari transaksional juga.
Dilihat dari akses terhadap sumber daya, anggota dewan terbagi ke dalam dua komisi yaitu “komisi mata air” dan “komisi air mata”.
Saya mendapatkan istilah ini bukan ngarang tapi dari anggota dewan sendiri.
Komsisi mata air yaitu komisi yang berkaitan dengan bidang yang besar anggarannya atau kemudahan akses terhadap sumber finansial, sedangkan “komisi air mata” adalah komisi yang membidangi bidang-bidang yang minim anggaran seperti bidang perpustakaan, kearsipan, dan museum.
Dapat dipastikan bahwa yang masih idologis adalah para kader menengah ke bawah, para elit sudah pragmatis.
Kader level bawah berbicara dan bekerja untuk mimpi atau idealisme memperjungkan demokrasi, masyarakat madani, khilafah, dan lain-lain.
Di level elit yang dibahas adalah kita dapat posisi apa, dapat proyek apa, atau dapat berapa dari APBN/APBD.
Idealisme yang dahulu menyala lambat laut melempem dan akhirnya padam tidak tahan menghadapi godaan trilogi dunia (harta, tahta, dan wanita).
Sistem multi partai sebagai wujud dari demokrasi yang bercita-cita menampilkan yang terbaik dari potensi anak bangsa hanyalah teori yang dijual di talkshow dan bangku kuliah.
Pada kenyataannya tidak ada yang bisa rakyat rasakan selain tercerai-berainya masyarakat, kerja yang berantakan, berbagai urusan rusak bahkan binasa, dekadensi moral, kehancuran rumah tangga, dan keterputusan hubungan kekerabatan.
Ini adalah bukti nyata bahwa partai-partai yang ada sekarang banyak yang tidak lebih dari partai politik karbitan daripada yang sungguhan.
Yang mendorong kemunculannya lebih besifat kepentingan pribadi atau golongan daripada kepentingan nasional.
Atau hanya sekadar pesanan dan boneka oligarki untuk mempertahankan hegemoninya.
Ketidakberdayaan, kemiskinan, kebodohan, dan inferioritas Itu semua merupakan faktor penyebab kehancuran dan kendala kebangkitan bangsa yang terabaikan.
Peran partai mestinya mewakili kepentingan masyarakat, mengontrol pemerintah, mendukung sistem demokrasi.
Dalam sistem demokrasi, partai politik berperan penting dalam memastikan bahwa pemerintahan berjalan sesuai dengan prinsip-prinsip demokrasi, termasuk akuntabilitas, transparansi, dan partisipasi publik.
Kenyataannya rakyat seperti yatim piatu di negeri ini, tidak memliki ibu yang memberikan cinta, perhatian dan kasih sayang.
Tidak memliki ayah yang melindungi, membela, dan memberi nafkah.
Partai politik hanya hadir menjelang Pemilu, datang seperti mesias atau ratu adil yang menabur mimpi, janji, serta menebar uang recehan yang kemudian diambil kembali melalui manipulasi administratif di gedung dewan.
Partai-partai politik sudah kehilingan ideologi dan visi yang jelas, kepemimpinan yang tidak kompeten, kaderisasi yang buruk, praktik nepotisme dan patronase, ketidakstabilan internal dan konflik faksional, kurangnya inovasi dan adaptasi, tidak responsif terhadap isu dan kebutuhan publik, orientasi pada kepentingan jangka pendek atau hanya fokus pada kemenangan elektoral semata, kurangnya investasi pada pengembangan SDM.
Itulah komplikasi penyakit yang pada umunya diderita partai politik sehingga dengan mudah dilumpuhkan oleh penguasa atau oligarki.
Buata apa ada partai politik bila rakyat tetap saja tidak mendapatkan apa pun kecuali kerugian yang besar menyangkut semakin menipisnya sumber daya alam, kerusakan alam, harga diri, kemderdekaan, demoralisasi, dan kebutuhan-kebutuahan dasar lainnya?
Hari ini kita menyaksikan bahwa keberadaan partai politik sama dengan ketiadaanya.
Suherman
Analis Data Ilmiah Direktorat Repositori, Multimedia, dan Penerbitan Ilmiah (RMPI)-BRIN
#partai-politik #politik #pemilu
https://www.kompas.com/sains/read/2024/10/27/130000123/masih-adakah-partai-politik-