Harga Minyak Melonjak hingga 3% Dipicu Laporan Iran Siapkan Serangan ke Israel
Harga minyak mentah dunia melonjak hingga 3% pada Kamis (31/10/2024). Setelah laporan menyebutkan Iran siapkan serangan ke Israel - Halaman all
(InvestorID) 01/11/24 04:40 17300501
HOUSTON, investor.id - Harga minyak mentah dunia melonjak hingga 3% pada Kamis (31/10/2024). Setelah laporan menyebutkan bahwa Iran tengah mempersiapkan serangan ke Israel dari wilayah Irak.
Dikutip dari Reuters, harga minyak Brent untuk pengiriman Januari naik US$ 2,10 (2,91%) menjadi US$ 74,26. Sedangkan harga minyak West Texas Intermediate (WTI) meningkat US$ 2,15 (3,13%) menjadi US$ 70,76 per barel.
Menurut laporan dari Axios, intelijen Israel mendeteksi potensi serangan yang direncanakan Iran dari wilayah Irak dalam beberapa hari ke depan, dengan kemungkinan sebelum pemilihan presiden (Pilpres) Amerika Serikat (AS) pada 5 November.
Serangan ini diperkirakan akan menggunakan sejumlah besar drone dan rudal balistik melalui milisi pro-Iran di Irak, yang dianggap sebagai upaya Iran menghindari serangan balasan langsung terhadap infrastruktur strategis di Iran.
“Situasi ini kembali memunculkan potensi bahwa Israel dapat melancarkan serangan terhadap Iran,” ujar analis senior dari Price Futures Group Phil Flynn, sembari menekankan bahwa serangan balasan dapat mencakup infrastruktur Iran.
Sebagai salah satu negara anggota OPEC, Iran memproduksi sekitar 3,2 juta barel minyak per hari, atau sekitar 3% dari total pasokan minyak global.
Serangan Balasan
Lonjakan harga ini terjadi di tengah tekanan jual besar-besaran yang menekan harga minyak Brent dan WTI lebih dari 6% pada awal pekan, dipicu oleh sikap Israel yang menahan diri dalam aksi serangan balasan terhadap Iran.
Selain ketegangan geopolitik, harga minyak juga mendapat dukungan dari kemungkinan penundaan peningkatan produksi oleh OPEC+. Keputusan terkait kebijakan produksi minyak ini dijadwalkan akan diputuskan dalam pertemuan OPEC+ pada 1 Desember mendatang.
Sementara itu, di China, yang merupakan importir minyak terbesar dunia, aktivitas manufaktur dilaporkan tumbuh pada Oktober untuk pertama kalinya dalam enam bulan terakhir. Pertumbuhan ini menunjukkan efektivitas dari kebijakan stimulus yang diterapkan negara tersebut.
“Beberapa kejadian internasional bertemu pada pergantian bulan yang dapat membuat pasar minyak bergejolak pada awal November,” ujar Sahdev dari Rystad Energy, seraya menyebutkan faktor-faktor seperti Pilpres AS, ketidakpastian permintaan minyak China, kebijakan OPEC+, dan konflik di Timur Tengah sebagai pengaruh besar yang dapat memengaruhi pasar dalam waktu dekat.
Editor: Indah Handayani (handayani@b-universe.id)
Follow Channel Telegram Official kami untuk update artikel-artikel investor.id
Baca Berita Lainnya di Google News
#berita-terkini #berita-hari-ini #harga-minyak #minyak-mentah #brent #wti #serangan-iran #serangan-israel #ketegangan-geopolitik #pilpres-as #berita-ekonomi-terkini