#30 tag 24jam
Harga Minyak Melonjak hingga 3% Dipicu Laporan Iran Siapkan Serangan ke Israel
Harga minyak mentah dunia melonjak hingga 3% pada Kamis (31/10/2024). Setelah laporan menyebutkan Iran siapkan serangan ke Israel - Halaman all [357] url asal
#berita-terkini #berita-hari-ini #harga-minyak #minyak-mentah #brent #wti #serangan-iran #serangan-israel #ketegangan-geopolitik #pilpres-as #berita-ekonomi-terkini
(InvestorID) 01/11/24 04:40
v/17300501/
HOUSTON, investor.id - Harga minyak mentah dunia melonjak hingga 3% pada Kamis (31/10/2024). Setelah laporan menyebutkan bahwa Iran tengah mempersiapkan serangan ke Israel dari wilayah Irak.
Dikutip dari Reuters, harga minyak Brent untuk pengiriman Januari naik US$ 2,10 (2,91%) menjadi US$ 74,26. Sedangkan harga minyak West Texas Intermediate (WTI) meningkat US$ 2,15 (3,13%) menjadi US$ 70,76 per barel.
Menurut laporan dari Axios, intelijen Israel mendeteksi potensi serangan yang direncanakan Iran dari wilayah Irak dalam beberapa hari ke depan, dengan kemungkinan sebelum pemilihan presiden (Pilpres) Amerika Serikat (AS) pada 5 November.
Serangan ini diperkirakan akan menggunakan sejumlah besar drone dan rudal balistik melalui milisi pro-Iran di Irak, yang dianggap sebagai upaya Iran menghindari serangan balasan langsung terhadap infrastruktur strategis di Iran.
“Situasi ini kembali memunculkan potensi bahwa Israel dapat melancarkan serangan terhadap Iran,” ujar analis senior dari Price Futures Group Phil Flynn, sembari menekankan bahwa serangan balasan dapat mencakup infrastruktur Iran.
Sebagai salah satu negara anggota OPEC, Iran memproduksi sekitar 3,2 juta barel minyak per hari, atau sekitar 3% dari total pasokan minyak global.
Serangan Balasan
Lonjakan harga ini terjadi di tengah tekanan jual besar-besaran yang menekan harga minyak Brent dan WTI lebih dari 6% pada awal pekan, dipicu oleh sikap Israel yang menahan diri dalam aksi serangan balasan terhadap Iran.
Selain ketegangan geopolitik, harga minyak juga mendapat dukungan dari kemungkinan penundaan peningkatan produksi oleh OPEC+. Keputusan terkait kebijakan produksi minyak ini dijadwalkan akan diputuskan dalam pertemuan OPEC+ pada 1 Desember mendatang.
Sementara itu, di China, yang merupakan importir minyak terbesar dunia, aktivitas manufaktur dilaporkan tumbuh pada Oktober untuk pertama kalinya dalam enam bulan terakhir. Pertumbuhan ini menunjukkan efektivitas dari kebijakan stimulus yang diterapkan negara tersebut.
“Beberapa kejadian internasional bertemu pada pergantian bulan yang dapat membuat pasar minyak bergejolak pada awal November,” ujar Sahdev dari Rystad Energy, seraya menyebutkan faktor-faktor seperti Pilpres AS, ketidakpastian permintaan minyak China, kebijakan OPEC+, dan konflik di Timur Tengah sebagai pengaruh besar yang dapat memengaruhi pasar dalam waktu dekat.
Editor: Indah Handayani (handayani@b-universe.id)
Follow Channel Telegram Official kami untuk update artikel-artikel investor.id
Baca Berita Lainnya di Google News
Tegas, Iran Tolak Permintaan Pemimpin Barat Agar tak Serang Israel
Barat dinilai menerapkan standar ganda karena tak meminta Israel menahan diri. [386] url asal
#serangan-iran #israel-serang-iran #iran-serang-israel #iran-siap-serang-israel #iran-tolak-barat #pemimpi-barat-kelimpungan
(Republika - News) 13/08/24 14:23
v/14356808/
REPUBLIKA.CO.ID, TEHERAN – Kementerian luar negeri Iran menolak seruan pemimpin negara-negara Barat untuk tak melakukan serangan terhadap Israel. Hal ini meningkatkan prospek serangan Isran yang disebut akan dilakukan pekan ini.
Juru Bicara Kemenlu IranNasser Kanaani mengatakan pada Selasa bahwa seruan untuk menahan diri dari Israel dari Perancis, Jerman dan Inggris “tidak memiliki logika politik dan bertentangan dengan prinsip-prinsip hukum internasional”.
Ketiga negara Eropa mengeluarkan pernyataan pada hari Senin yang menyerukan Iran dan sekutunya untuk menahan diri dari serangan terhadap Israel menyusul pembunuhan Ismail Haniyeh, pemimpin politik kelompok Islam Palestina Hamas, di Teheran bulan lalu. Teheran dan sekutunya Hamas dan kelompok Hizbullah menuduh Israel melakukan pembunuhan tersebut. Pemerintah Israel belum menyatakan tanggung jawab.
Iran menolak seruan itu karena hanya dialamatkan pada Iran. Sementara para pemimpin negara Barat membiarkan sepuluh bulan agresi Israel ke Jalur Gaza yang sejauh ini telah menewaskan sekitar 40 ribu jiwa, kebanyakan anak-anak dan perempuan.
“Tanpa keberatan terhadap kejahatan rezim Zionis (Israel), pernyataan E3 (Eropa Tiga) dengan kurang ajar mengharuskan Iran untuk tidak menanggapi pelanggaran kedaulatan dan integritas wilayahnya,” kata Kanaani. Kanaani mengatakan Teheran bertekad untuk membalas Israel dan meminta Paris, Berlin dan London untuk "sekali dan selamanya menentang perang di Gaza dan penghasutan Israel".
Sedangkan Presiden AS Joe Biden menelepon para pemimpin Perancis, Jerman, Italia dan Inggris pada Senin untuk membahas ketegangan yang meningkat. Seruan tersebut “sebagian besar ditujukan kepada semua pemimpin untuk mengulangi apa yang telah mereka katakan sebelumnya dalam hal menegaskan kembali pertahanan Israel” dan untuk “mengirimkan pesan yang kuat bahwa kami tidak ingin melihat peningkatan kekerasan, serangan apapun oleh Iran atau proksinya.”
Para pemimpin juga menyerukan gencatan senjata antara Israel dan Hamas di Gaza, dengan perundingan sulit yang dijadwalkan pada Kamis untuk menghentikan konflik yang dimulai ketika kelompok Palestina menyerang Israel pada 7 Oktober. Seruan itu muncul tak lama setelah Biden kembali ke Ruang Oval setelah akhir pekan panjang di rumah pantainya di Delaware.
Para pemimpin Inggris, Perancis dan Jerman pada hari Senin secara serentak meminta Iran dan sekutunya untuk menahan diri melancarkan serangan terhadap Israel. Hal ini menguatkan kecurigaan bahwa Israel tak akan mampu membendung serangan tersebut.
Dalam pernyataan bersama, Perdana Menteri Inggris Keir Starmer, Presiden Prancis Emmanuel Macron, dan Kanselir Jerman Olaf Scholz menekankan bahwa serangan Iran akan meningkatkan ketegangan, memperluas cakupan perang di kawasan, dan membahayakan peluang mencapai gencatan senjata dan pembebasan tahanan.
Kirim Kapal ke Laut Mideterania, Apakah AS akan Membalas Jika Iran Serang Israel?
AS menginstruksikan pengiriman kapal selam bertenaga nuklir ke Timur Tengah. [624] url asal
#kapal-induk-as #perang-iran-israel #israel-serang-iran #iran-serang-israel #iran-siap-serang-israel #kapan-iran-akan-serang-israel #serangan-iran #as-kirim-kapal-induk #kapal-induk-as-ancam-iran #as-h
(Republika - News) 13/08/24 09:48
v/14350329/
REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA — Angkatan LautAmerika Serikat telah mengerahkan sekelompok kapal penyerang ke Mediterania Timur di tengah meningkatnya ketegangan menyusul meningkatnya eskalasi di tengah persiapan Iran yang hendak menyerang Israel.Ancaman serangan tersebut menyusul pembunuhan komandan Hizbullah Fuad Shukr oleh Israel di Beirut dan pembunuhan pemimpin politik Hamas Ismail Haniyeh di Teheran.
AS menginstruksikan pengiriman kapal selam bertenaga nuklir ke Timur Tengah. Sekelompok penyerang kapal induk pun berlayar lebih cepat. Pengerahan tersebut menyusul seruan dari Menteri Pertahanan AS Lloyd Austin dan Menteri Pertahanan Israel Yoav Gallant pada Ahad untuk mengantisipasi serangan balik Iran, dilansir dari Aljazeera.
Dalam sebuah pernyataan yang dikeluarkan oleh Pentagon, Austin menegaskan kembali komitmen AS untuk mengambil setiap langkah yang mungkin dilakukan untuk membela Israel. Pentagon mencatat penguatan postur dan kemampuan kekuatan militer AS di seluruh Timur Tengah sehubungan dengan meningkatnya ketegangan regional.
Para pengamat khawatir bahwa pembalasan apa pun terhadap dua pembunuhan tersebut, baik dari Iran atau sekutunya Hizbullah, dapat memicu perang regional yang lebih luas dan berpotensi menarik dukungan AS terhadap sekutunya, Israel.
Pengerahan pasukan penyerang ini dilakukan pada saat para pengkritik pemerintah AS menyerukan pemerintah AS untuk menggunakan pengaruhnya untuk memaksakan gencatan senjata, demikian yang dilaporkan saluran berita AS, CNBC.
Presiden AS Joe Biden juga mengkritik tindakan perang di Gaza, menyebut operasi Israel di wilayah tersebut sebagai tindakan yang “berlebihan” pada bulan Februari, dan berulang kali mengatakan bahwa “terlalu banyak” warga sipil yang terbunuh. Namun, hal ini tidak menghasilkan upaya paksa untuk membuat Israel menghentikan serangannya terhadap Gaza, seperti larangan penjualan senjata, atau sanksi lainnya.
Banyak negara, termasuk Arab Saudi, Turki, Yordania dan sejumlah negara Barat, telah mendesak warganya untuk mengungsi dari Lebanon, karena khawatir negara tersebut akan diserang habis-habisan oleh Israel jika negara tersebut terkena serangan langsung. Pada saat yang sama, sejumlah maskapai penerbangan telah menangguhkan penerbangan ke Israel, Yordania, dan Lebanon.
Apa yang ingin dicapai AS?
Apa yang ingin dicapai Amerika dengan mengerahkan satuan tugas angkatan laut ke wilayah tersebut?
Menurut Gordon Gray, seorang profesor dan mantan duta besar AS, pengumuman pengerahan kelompok penyerang kapal induk dimaksudkan untuk menghalangi Iran daripada memperburuk situasi.
Biden memerintahkan pengerahan serupa ke Mediterania timur pada Oktober tahun lalu, ketika salah satu kapal induk terbesar di dunia, USS Gerald R Ford, berlayar ke wilayah tersebut, yang diikuti oleh kapal dan pesawat mata-mata dari Inggris.
Pada saat itu, para pejabat AS menggambarkan pengerahan pasukan tersebut sebagai upaya untuk mencegah Hizbullah dan Iran mengambil keuntungan dari perang Israel di Gaza, yang saat itu masih dalam tahap awal. Israel kini telah membunuh hampir 40.000 warga Palestina dalam perang tersebut.
Omar Rahman, seorang peneliti di Dewan Urusan Global Timur Tengah, mengatakan bahwa dia yakin “AS dengan jelas memberi isyarat kepada Iran bahwa mereka akan menjadi bagian dari perjuangan apa pun di masa depan, yang kemungkinan akan menghalangi Iran melakukan pembalasan yang signifikan terhadap Israel”.
Kapal apa saja yang dikerahkan AS?
Kelompok penyerang, yang dipimpin oleh kapal induk USS Abraham Lincoln dan skuadron jet tempur F-35C-nya, sudah menuju wilayah tersebut. Kapal-kapal ini dijadwalkan untuk menggantikan kapal induk USS Theodore Roosevelt. Austin kini memerintahkannya untuk meningkatkan kecepatan. Selain itu, USS Georgia, kapal selam bertenaga nuklir yang membawa peluru kendali yang sudah ada di Mediterania, telah dikerahkan ke wilayah tersebut.
HA Hellyer dari Royal United Service Institute (RUSI) percaya bahwa unjuk kekuatan AS dimaksudkan membatasi kemungkinan eskalasi, tanpa harus menghadapi perilaku sekutunya Israel dan perangnya di Gaza.
Namun, membatasi kemungkinan terjadinya eskalasi sambil mengambil pendekatan lepas tangan terhadap tindakan pemerintah Israel mungkin akan menjadi sebuah tantangan, terutama ketika berhadapan dengan negara yang telah terbukti “sangat ceroboh”, kata Hellyer.
“Kurangnya akuntabilitas menjamin impunitas, dan [Perdana Menteri Israel Benjamin] Netanyahu telah melanggar hampir semua garis merah retoris yang telah ditetapkan Biden, dan akan terus melakukannya, sampai ia berpikir akan ada konsekuensi nyata,” kata dia.
Kirim Kapal ke Laut Mediterania, Apakah AS akan Membalas Jika Iran Serang Israel?
AS menginstruksikan pengiriman kapal selam bertenaga nuklir ke Timur Tengah. [624] url asal
#kapal-induk-as #perang-iran-israel #israel-serang-iran #iran-serang-israel #iran-siap-serang-israel #kapan-iran-akan-serang-israel #serangan-iran #as-kirim-kapal-induk #kapal-induk-as-ancam-iran #as-h
(Republika - News) 13/08/24 09:48
v/14350328/
REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA — Angkatan LautAmerika Serikat telah mengerahkan sekelompok kapal penyerang ke Mediterania Timur di tengah meningkatnya ketegangan menyusul meningkatnya eskalasi di tengah persiapan Iran yang hendak menyerang Israel.Ancaman serangan tersebut menyusul pembunuhan komandan Hizbullah Fuad Shukr oleh Israel di Beirut dan pembunuhan pemimpin politik Hamas Ismail Haniyeh di Teheran.
AS menginstruksikan pengiriman kapal selam bertenaga nuklir ke Timur Tengah. Sekelompok penyerang kapal induk pun berlayar lebih cepat. Pengerahan tersebut menyusul seruan dari Menteri Pertahanan AS Lloyd Austin dan Menteri Pertahanan Israel Yoav Gallant pada Ahad untuk mengantisipasi serangan balik Iran, dilansir dari Aljazeera.
Dalam sebuah pernyataan yang dikeluarkan oleh Pentagon, Austin menegaskan kembali komitmen AS untuk mengambil setiap langkah yang mungkin dilakukan untuk membela Israel. Pentagon mencatat penguatan postur dan kemampuan kekuatan militer AS di seluruh Timur Tengah sehubungan dengan meningkatnya ketegangan regional.
Para pengamat khawatir bahwa pembalasan apa pun terhadap dua pembunuhan tersebut, baik dari Iran atau sekutunya Hizbullah, dapat memicu perang regional yang lebih luas dan berpotensi menarik dukungan AS terhadap sekutunya, Israel.
Pengerahan pasukan penyerang ini dilakukan pada saat para pengkritik pemerintah AS menyerukan pemerintah AS untuk menggunakan pengaruhnya untuk memaksakan gencatan senjata, demikian yang dilaporkan saluran berita AS, CNBC.
Presiden AS Joe Biden juga mengkritik tindakan perang di Gaza, menyebut operasi Israel di wilayah tersebut sebagai tindakan yang “berlebihan” pada bulan Februari, dan berulang kali mengatakan bahwa “terlalu banyak” warga sipil yang terbunuh. Namun, hal ini tidak menghasilkan upaya paksa untuk membuat Israel menghentikan serangannya terhadap Gaza, seperti larangan penjualan senjata, atau sanksi lainnya.
Banyak negara, termasuk Arab Saudi, Turki, Yordania dan sejumlah negara Barat, telah mendesak warganya untuk mengungsi dari Lebanon, karena khawatir negara tersebut akan diserang habis-habisan oleh Israel jika negara tersebut terkena serangan langsung. Pada saat yang sama, sejumlah maskapai penerbangan telah menangguhkan penerbangan ke Israel, Yordania, dan Lebanon.
Apa yang ingin dicapai AS?
Apa yang ingin dicapai Amerika dengan mengerahkan satuan tugas angkatan laut ke wilayah tersebut?
Menurut Gordon Gray, seorang profesor dan mantan duta besar AS, pengumuman pengerahan kelompok penyerang kapal induk dimaksudkan untuk menghalangi Iran daripada memperburuk situasi.
Biden memerintahkan pengerahan serupa ke Mediterania timur pada Oktober tahun lalu, ketika salah satu kapal induk terbesar di dunia, USS Gerald R Ford, berlayar ke wilayah tersebut, yang diikuti oleh kapal dan pesawat mata-mata dari Inggris.
Pada saat itu, para pejabat AS menggambarkan pengerahan pasukan tersebut sebagai upaya untuk mencegah Hizbullah dan Iran mengambil keuntungan dari perang Israel di Gaza, yang saat itu masih dalam tahap awal. Israel kini telah membunuh hampir 40.000 warga Palestina dalam perang tersebut.
Omar Rahman, seorang peneliti di Dewan Urusan Global Timur Tengah, mengatakan bahwa dia yakin “AS dengan jelas memberi isyarat kepada Iran bahwa mereka akan menjadi bagian dari perjuangan apa pun di masa depan, yang kemungkinan akan menghalangi Iran melakukan pembalasan yang signifikan terhadap Israel”.
Kapal apa saja yang dikerahkan AS?
Kelompok penyerang, yang dipimpin oleh kapal induk USS Abraham Lincoln dan skuadron jet tempur F-35C-nya, sudah menuju wilayah tersebut. Kapal-kapal ini dijadwalkan untuk menggantikan kapal induk USS Theodore Roosevelt. Austin kini memerintahkannya untuk meningkatkan kecepatan. Selain itu, USS Georgia, kapal selam bertenaga nuklir yang membawa peluru kendali yang sudah ada di Mediterania, telah dikerahkan ke wilayah tersebut.
HA Hellyer dari Royal United Service Institute (RUSI) percaya bahwa unjuk kekuatan AS dimaksudkan membatasi kemungkinan eskalasi, tanpa harus menghadapi perilaku sekutunya Israel dan perangnya di Gaza.
Namun, membatasi kemungkinan terjadinya eskalasi sambil mengambil pendekatan lepas tangan terhadap tindakan pemerintah Israel mungkin akan menjadi sebuah tantangan, terutama ketika berhadapan dengan negara yang telah terbukti “sangat ceroboh”, kata Hellyer.
“Kurangnya akuntabilitas menjamin impunitas, dan [Perdana Menteri Israel Benjamin] Netanyahu telah melanggar hampir semua garis merah retoris yang telah ditetapkan Biden, dan akan terus melakukannya, sampai ia berpikir akan ada konsekuensi nyata,” kata dia.
Gedung Putih: Iran Siapkan Serangan Besar-besaran ke Israel Pekan Ini
Iran telah menyiapkan rudal dan dronenya. [681] url asal
#iran-serang-israel #israel-serang-iran #perang-iran-israel #iran-siap-serang-israel #serangan-iran #iran-segera-serang-israel #kapan-iran-akan-serang-israel #rudal-iran #iran-ancam-israel #iran-latiha
(Republika - Khazanah) 13/08/24 05:41
v/14350094/
REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA — Gedung Putih pada Senin (12/8/2024), mengatakan, intelijen Amerika Serikat memprediksi Iran kemungkinan besar akan menyerang Israel pada pekan ini. Perkiraan tersebut berdasarkan penilaian intelijen Israel terbaru, dilansir dari Axios yang dikutip Republika di Jakarta.
Laporan intelijen terbaru menunjukkan, serangan bisa terjadi sebelum upaya perundingan gencatan senjata dalam upaya pembebasan sandera yang direncanakan pada Kamis. Serangan besar Iran dinilai akan membahayakan perundingan tidak langsung antara Israel dan Hamas.
BACA JUGA: Tak Ada yang Bisa Jelaskan soal Ruh Selain Islam, Alexander Jadi Mualaf
"Israel berpendapat ada kemungkinan yang semakin besar bahwa Iran dan proksinya akan melakukan serangan dalam beberapa hari mendatang. Kami mempunyai kekhawatiran yang sama dan oleh karena itu kami berkoordinasi dengan Israel dan mitra lainnya di kawasan ini," juru bicara Gedung Putih John Kirby mengatakan dalam sebuah konferensi pers dengan wartawan, seraya menambahkan bahwa AS memperkirakan serangan bisa terjadi pekan ini.
Kirby mengatakan, Presiden Biden berbicara melalui telepon pada Senin dengan rekan-rekannya dari Inggris, Jerman, Perancis dan Italia untuk membahas situasi di Timur Tengah. Dia mengatakan, mereka membahas cara-cara untuk melindungi Israel, memajukan kesepakatan untuk pembebasan sandera dan gencatan senjata di Gaza serta mencegah serangan Iran.
Para pejabat Israel dan Amerika Serikat mengatakan kepada Axios, Iran telah melakukan beberapa langkah signifikan untuk menyiapkan unit rudal dan drone-nya. Persiapan ini dinilai serupa dengan perencanaan sebelum serangan terhadap Israel pada April lalu.
Meski demikian, mereka menekankan Israel dan AS tidak mengetahui waktu pasti serangan tersebut.“Iran secara terbuka memberi sinyal (di lapangan) tekad mereka untuk melakukan serangan signifikan selain pernyataan publik mereka bahwa serangan itu akan melebihi apa yang mereka lakukan pada bulan April. Pernyataan publik Iran tidak mencerminkan kemunduran apa pun,” seorang senior Israel kata pejabat itu kepada Axios.
Pemimpin Tertinggi Iran Ayatollah Ali Khamenei dan pejabat senior politik dan militer Iran lainnya mengatakan Iran akan membalas pembunuhan Ismail Haniyeh oleh Israel di Teheran bulan lalu. Pemimpin Hizbullah Hassan Nasrallah juga berjanji untuk menanggapi serangan udara Israel di Beirut yang menewaskan penasihat militer utamanya pada bulan Juli.
AS, Inggris, Perancis, Jerman dan Italia mengeluarkan pernyataan bersama pada hari Senin yang menyerukan Iran “untuk menahan ancaman serangan militer terhadap Israel dan membahas konsekuensi serius bagi keamanan regional jika serangan semacam itu terjadi.”
Israel telah memerintahkan personel militernya yang ditempatkan di Azerbaijan dan Georgia untuk segera kembali mengingat adanya ancaman kemungkinan serangan Iran, kantor berita TASS melaporkan mengutip radio pemerintah Kan.
Dikutip dari laman Armen Press, Senin (12/8/2024), perintah yang dikeluarkan oleh militer Israel mengamanatkan pasukannya yang saat ini berada di salah satu dari kedua negara tersebut untuk segera pulang ke Israel.
Iran telah berjanji untuk membalas pembunuhan pemimpin Hamas Ismail Haniyeh di Teheran pada akhir Juli 2024, yang dilakukan oleh Israel, menurut Iran. Namun Israel belum mengklaim atau membantah bertanggung jawab atas pembunuhan tersebut.
Dikutip dari laman Shafaq, pada Senin, Komite Koordinasi Perlawanan Irak (IRCC) memperingatkan bahwa mereka akan memberi respons jika Iran dibom melalui wilayah udara Irak.
IRCC mencakup faksi-faksi Syiah bersenjata yang didukung oleh Iran, termasuk Kataib Hezbollah, Asaib Ahl Al-Haq, Kataib Sayyid al-Shuhada, dan Harakat Hezbollah al-Nujaba, yang sebelumnya mengklaim serangan terhadap target militer AS di Irak.
"Meskipun serangan brutal terhadap rakyat kami dan perlawanan terus berlanjut, kekuatan arogansi memprioritaskan keamanan entitas Zionis di atas keamanan regional, mengabaikan kedaulatan Irak dan kepentingan negara-negara yang menentang kebijakan kriminal mereka,” kata IRCC.
"IRCC tidak dibatasi, dan jika pasukan AS menargetkan rakyat kami di Irak atau menggunakan wilayah udaranya untuk menyerang Iran, respons kami tidak akan dibatasi,” ujarnya.
Hal ini menyusul pembunuhan pemimpin Hamas Ismail Haniyeh oleh Israel di Teheran, yang mendorong Iran bersumpah untuk membalas, sementara AS telah berjanji mendukung Israel jika terjadi serangan.
Sebelumnya, sumber-sumber swasta mengatakan kepada Kantor Berita Shafaq bahwa “Menteri Luar Negeri AS Antony Blinken memperingatkan Perdana Menteri Irak Mohammed Shia Al-Sudani tentang faksi-faksi Irak yang didukung Iran yang berencana untuk meningkatkan serangan terhadap pasukan AS di Irak dan kawasan tersebut.”
Dalam konteks ini, Blinken menekankan komitmen pemerintah AS untuk melindungi pasukan dan kepentingannya, sementara Al-Sudani bekerja keras untuk mencegah eskalasi oleh faksi-faksi yang menentang kepentingan Amerika.
Iran Latihan Militer, Serang Israel Pekan Ini?
Dewan Syura Iran sudah memutuskan akan melakukan serangan. [593] url asal
#iran-latihan-militer #serangan-iran #cina-dukung-iran #iran-serang-israel #iran-ancam-serang-israel #latihan-militer-iran #kapan-iran-serang-israel
(Republika - News) 12/08/24 08:06
v/14266883/
REPUBLIKA.CO.ID, TEHERAN – Pengawal Revolusi elit Iran mengadakan latihan militer yang meliputi peluncuran misil di bagian barat negara itu yang akan berlanjut hingga Selasa. Sementara sumber-sumber di kalangan militer menyatakan bahwa serangan Iran ke Israel sebagai balasan pembunuhan kepala biro politik Hamas kemungkinan akan berlangsung pekan ini.
CNN melaporkan bahwa intelijen Israel yakin Hizbullah Lebanon akan melancarkan serangan pada 12 Agustus ini. Dan beberapa jam kemudian, Iran akan melancarkan serangan terhadap Israel.
Situs web Israel Walla juga mengutip para pejabat Israel yang mengatakan bahwa perkiraan menunjukkan bahwa Iran telah memutuskan untuk melancarkan serangan langsung terhadap Israel. Situs web tersebut menambahkan bahwa intelijen militer dan angkatan udara menaikkan tingkat kewaspadaan mengingat perkiraan respons Iran yang akan segera terjadi.
Radio Tentara Israel mengutip para pejabat keamanan yang mengatakan bahwa Iran hampir mengambil keputusan mengenai serangan langsung dari wilayahnya terhadap Israel, namun perkiraan di Israel menunjukkan bahwa tanggapan Iran akan terbatas dan tidak akan mengarah pada perang yang komprehensif.
Merujuk Aljazirah Arabia, koresponden Axios Barak Ravid melaporkan pada Ahad, mengutip dua sumber, bahwa intelijen Israel yakin Iran telah memutuskan untuk menyerang Israel secara langsung, dan mungkin melakukannya dalam beberapa hari, sebagai tanggapan atas pembunuhan Haniyeh.
Sementara, kantor berita resmi Iran mengumumkan pada Ahad, latihan tersebut berlangsung ketika Iran berjanji akan melakukan pembalasan terhadap Israel setelah pembunuhan pemimpin Hamas Ismail Haniyeh pada 31 Juli di Teheran. Iran dan kelompok Islam Palestina Hamas menuduh Israel melakukan pembunuhan terhadap Haniyeh pada 31 Juli.
Israel belum mengaku atau menyangkal tanggung jawab atas pembunuhan tersebut, yang telah memicu kekhawatiran lebih lanjut bahwa perang antara Israel dan Hamas di Jalur Gaza akan berubah menjadi konflik yang lebih luas. perang timur.
Dikutip oleh media Iran, wakil komandan Garda Revolusi Ali Fadavi mengatakan pada hari Jumat bahwa perintah pemimpin tertinggi Iran mengenai hukuman keras terhadap Israel dan balas dendam terhadap Haniyeh sudah jelas dan akan dilaksanakan dengan "cara terbaik".
Sedangkan Almayadeen melaporkan, dalam sesi publik parlemen pada Ahad pagi, ketua Dewan Syura Iran Mohammad Bagher Ghalibaf menegaskan kembali komitmen Iran untuk membalas kematian Ismail Haniyeh, dan menganggapnya sebagai tugas nasional dan agama.
Ghalibaf memperingatkan bahwa “entitas Zionis harus bersiap menghadapi pembalasan hebat dari rakyat Iran.” Menyikapi pembantaian Israel di Gaza, khususnya pembantaian mengerikan di sekolah Al-Tabi'in di Kota Gaza, Ghalibaf mengutuk hal tersebut sebagai bukti ketidakmanusiawian entitas Zionis, dengan menyatakan bahwa "Zionis hanya memahami bahasa kekuasaan."
Dia menggambarkan tindakan Israel sebagai kejahatan perang terhadap kemanusiaan. Di tempat lain dalam sambutannya, Ghalibaf meminta negara-negara Islam untuk memberikan dukungan nyata kepada Perlawanan Palestina dalam melawan kejahatan ini.
Misi Iran untuk PBB menegaskan kembali pada hari Jumat bahwa prioritas Iran adalah mencapai gencatan senjata yang langgeng di Gaza, menekankan bahwa setiap perjanjian yang diterima oleh Hamas akan diakui oleh Teheran.
Ketika ditanya oleh Al-Monitor apakah Iran akan menunda pembalasannya sampai perundingan gencatan senjata yang dijadwalkan diadakan minggu depan selesai, misi Iran menyatakan bahwa "rezim Israel telah melanggar keamanan dan kedaulatan nasional kami melalui tindakan terorisme baru-baru ini." Mereka juga menjawab, Republik Islam mempunyai "hak untuk membela diri—hal yang sama sekali tidak ada hubungannya dengan gencatan senjata di Gaza".
Namun, misi tersebut menyatakan harapan bahwa tanggapannya terhadap agresi Israel akan terukur dan tepat waktu agar tidak merusak potensi gencatan senjata di Gaza. Mereka mengakui adanya saluran komunikasi langsung dan perantara dengan Amerika Serikat, “yang rinciannya tidak diungkapkan oleh kedua belah pihak”.
Pekan lalu, “Israel” membunuh kepala Biro politik Hamas Ismail Haniyeh ketika dia berada di Teheran dalam kunjungan resmi. Republik Islam Iran berjanji untuk menanggapi agresi tersebut di tengah peningkatan persiapan militer yang dilakukan oleh “Israel”, Amerika Serikat, dan sekutunya.
Tanggapi Potensi Serangan Balasan Iran ke Israel, Biden: Jangan!
Iran pernah memperingatkan Iran untuk tidak melancarkan serangan balasan terhadap Israel. [246] url asal
#joe-biden #iran #israel #serangan-iran #potensi-serangan-balasan-iran
(MedCom - Internasional) 11/08/24 15:04
v/14185045/
Washington: Presiden Amerika Serikat (AS) Joe Biden melayangkan peringatan singkat kepada Iran saat ditanya mengenai kemungkinan serangan balasan Teheran terhadap Israel di tengah meningkatnya ketegangan di Timur Tengah.
"Jangan," jawab Biden singkat, saat merespons awak media yang memintanya memberikan pesan kepada Pemerintah Iran.
Biden mengeluarkan peringatan yang sama di bulan April, sebelum Iran melakukan serangan roket dan pesawat nirawak (drone) ke wilayah Israel sebagai balasan atas serangan udara pada 1 April terhadap fasilitas diplomatiknya di ibu kota Suriah, Damaskus, yang menewaskan sedikitnya tujuh anggota Korps Garda Revolusi Islam Iran, (IRGC) termasuk dua jenderal tinggi.
Mengutip dari Anadolu Agency, Minggu, 11 Agustus 2024, ketegangan meningkat di Timur Tengah setelah pembunuhan kepala politik Hamas Ismail Haniyeh pada tanggal 31 Juli di ibu kota Iran, Teheran, dan pembunuhan Israel terhadap komandan senior Hizbullah Fuad Shukr di Beirut.
Hamas dan Iran menuduh Israel telah membunuh Haniyeh, namun sejauh ini Tel Aviv belum mengonfirmasi atau membantah bertanggung jawab.
Iran bersumpah akan memberikan "hukuman keras" kepada Israel atas pembunuhan Haniyeh di tanah Iran.
Hizbullah, kelompok asal Lebanon, juga diperkirakan akan melancarkan serangan balasan setelah Israel membunuh Shukr dalam serangan udara di pinggiran selatan Beirut pada 30 Juli.
Eskalasi ini terjadi di tengah serangan Israel yang sedang berlangsung terhadap Jalur Gaza yang telah menewaskan hampir 39.800 warga Palestina sejak Oktober 2023. Serangan Israel itu merupakan balasan atas operasi lintas batas Hamas pada 7 Oktober yang menewaskan 1.139 warga Israel.
Baca juga: Menantikan Serangan dari Hizbullah, Israel dan AS Lakukan Persiapan
(WIL)
Iron Dome Gagal Halau Rudal Hizbullah, Malah Tewaskan Warga Israel
Kegagalan Iron Dome jadi sorotan di tengah ancaman serangan Iran. [444] url asal
#perang-hizbullah-israel #serangan-hizbullah #iron-dome-gagal #iron-dome-meleset #serangan-iran #israel-diserang
(Republika - News) 10/08/24 08:32
v/14016174/
REPUBLIKA.CO.ID, TEL AVIV – Rudal dari sistem pertahanan udara Israel Iron Dome gagal mencegat serangan drone dari Lebanon yang diluncurkan kelompok Hizbullah, Selasa lalu. Salah satu rudal itu jatuh di wilayah sendiri dan menewaskan satu warga Israel.
Pada Selasa tersebut, setidaknya dua kendaraan udara tak berawak menembus wilayah Israel, menyusul serangkaian peringatan yang dipicu di komunitas di Galilea Barat, termasuk Nahariya dan Acre. Salah satu kendaraan udara tak berawak dicegat, dan yang lainnya meledak di persimpangan dekat kota Mazra’a.
IDF mengumumkan pada Rabu bahwa “penyelidikan awal menunjukkan bahwa sebuah pencegat meleset dari sasaran dan jatuh ke tanah, melukai beberapa warga sipil. Insiden tersebut sedang ditinjau.”
Korban luka dievakuasi ke Galilee Medical Center di Nahariya dengan luka pecahan peluru, serta mereka yang menderita kecemasan dan cedera kepala. Hizbullah mengaku bertanggung jawab atas serangan itu, dan mengatakan pihaknya telah meluncurkan "sekawanan drone" sebagai tanggapan atas serangan Israel di kota Mayfadoun di Lebanon selatan dekat Nabatieh, sekitar 30 kilometer utara perbatasan Lebanon dengan Israel, yang dilaporkan menewaskan setidaknya lima orang.
Media Israel, Ynet Sabtu ini melansir, seorang korban luka akibat rudal yang meleset itu meninggal kemarin. Mikhail Samara (27), dari Kafr Yasif, yang terluka parah pada hari Selasa akibat roket pencegat di Rute 4 dekat Nahariya, meninggal karena luka-lukanya di rumah sakit Nahariya pada Jumat. Dalam serangan drone Hizbullah yang sama, 14 orang terluka, sebagian besar telah keluar dari rumah sakit.
Insiden tersebut menunjukkan rentannya pertahanan udara Israel yang digadang-gadang sebagai yang paling canggih di dunia. Terlebih dalam menghadapi ancaman pembalasan dari Iran atas pembunuhan kepala biro politik Hamas Ismail Haniyeh di Teheran beberapa waktu lalu. Iran diketahui memiliki salah satu program pengembangan misil terbaik di Timur Tengah dan memiliki simpanan amunisi yang jauh lebih banyak dari Hizbullah di Lebanon.
Hizbullah dalam serangan-serangan untuk menekan dihentikannya agresi ke Gaza mengeklaim hanya menyasar target militer. Kendati demikian, terbukti bahwa sistem Iron Dome tak selalu efektif dan justru membahayakan warga sipil Israel sendiri.
Dengan latar ancaman itu, penduduk Mazra’a mengkritik keras kurangnya tempat berlindung untuk melindungi diri dari rudal dan drone yang diluncurkan dari Lebanon selatan. “Penduduk desa hidup dalam bahaya besar, sementara Nahariya, yang berjarak satu menit jauhnya, memiliki tempat berlindung yang cukup untuk seluruh warga,” kata mereka dilansor Ynet.
“Desa ini mempunyai tempat berlindung di sekolah dan satu lagi di pusat komunitas, tapi ini hanya cukup untuk sejumlah kecil orang,” kata Mohammad Awad, seorang warga Mazra’a. “Kami menghadapi bahaya yang mengancam hidup kami dan kami tidak memiliki tempat aman untuk melindungi kami dari serangan rudal. Saat ini ledakan sangat dekat dengan kami, jika itu terjadi di lingkungan perumahan kami akan melihat korban, luka-luka dan kerusakan yang sangat signifikan. kerusakan."
Iran Tiba-Tiba Pamerkan Rudal Baru yang tak Terdeteksi, Bersiap Serang Israel?
Koalisi negara Arab dilaporkan akan membiarkan rudal-rudal Iran mencapai Israel. [876] url asal
#serangan-iran #rudal-iran #rudal-iran-versus-israel #iran-serang-israel #iran-siap-serang-israel #iran-balas-israel
(Republika - News) 09/08/24 19:07
v/13947779/
REPUBLIKA.CO.ID, TEHERAN – Garda Revolusi Iran mengumumkan pada Jumat bahwa angkatan lautnya telah menyiapkan rudal jelajah baru yang dilengkapi dengan hulu ledak berdaya ledak tinggi dan tidak terdeteksi.Pengumuman yang dikeluarkan seiring kekhawatiran akan terjadinya perang besar-besaran di Timur Tengah setelah Iran berjanji untuk membalas pembunuhan Ismail Haniyeh, pemimpin Hamas Palestina di Teheran pada 31 Juli.
“Di dunia sekarang ini Anda harus kuat untuk bertahan hidup, atau menyerah. Tidak ada jalan tengah,” kata komandan tertinggi Garda Revolusi, Mayor Jenderal Hossein Salami dilansir Reuters.“Sejumlah besar rudal jelajah telah ditambahkan ke armada angkatan laut Garda Revolusi. Rudal-rudal baru ini memiliki kemampuan hulu ledak berdaya ledak tinggi yang tidak terdeteksi dan dapat menyebabkan kerusakan parah serta menenggelamkan sasaran mereka,” kata Garda dalam pernyataannya.
Angkatan Laut Garda Revolusi juga mengatakan dalam sebuah pernyataan bahwa berbagai jenis sistem rudal jarak jauh dan menengah, serta drone pengintai dan radar angkatan laut, telah ditambahkan ke armadanya. “Sistem ini merupakan salah satu senjata antipermukaan dan bawah permukaan paling mutakhir di angkatan laut Garda Revolusi,” katanya.
Televisi pemerintah menayangkan beberapa senjata pada hari Jumat. Angkatan Laut menambahkan bahwa hanya 210 dari 2.654 sistem yang diperlihatkan karena tidak mungkin untuk mengungkap sistem strategis lainnya karena alasan keamanan.
Iran memiliki salah satu program rudal terbesar di Timur Tengah, dan menganggap senjata tersebut sebagai kekuatan pencegah dan pembalasan yang penting terhadap AS dan Israel jika terjadi perang. Menurut Kantor Direktur Intelijen Nasional AS, Iran dipersenjatai dengan rudal balistik dalam jumlah terbesar di kawasan.
Media Iran, Tasnim, melansir pernyataan terbaru Komandan Angkatan Darat Iran yang memberikan jaminan bahwa rezim Israel pasti akan menerima balasan atas pembunuhan pemimpin Hamas Ismail Haniyeh di Teheran. Dalam komentarnya setelah pembukaan rumah sakit militer di kota pelabuhan Bandar Abbas di selatan Iran pada hari Rabu, Panglima Angkatan Darat Mayor Jenderal Abdolrahim Mousavi memberikan penghormatan kepada kepala biro politik Hamas, yang menjadi syuhada dalam serangan Israel di Teheran pekan lalu.
Memuji terpilihnya Yahya Al-Sinwar sebagai pengganti Haniyeh, jenderal Iran tersebut mengatakan bahwa hal itu menunjukkan tekad pejuang Palestina dan Hamas serta fakta bahwa rezim Zionis harus melepaskan harapan untuk bertahan hidup. Komandan Angkatan Darat juga memperingatkan bahwa rezim Zionis akan menerima “respon yang pasti dan tegas” atas kejahatan dan serangan pembunuhannya.
Menurutnya, aktivitas “geng kriminal rezim Zionis” mengungkapkan bahwa Israel menyadari betapa cepatnya kehancuran mereka dan sedang berusaha untuk bertahan hidup, tambahnya. Haniyeh, yang berada di Teheran untuk menghadiri upacara pelantikan presiden baru Iran, syahid dalam operasi Israel pada dini hari tanggal 31 Juli.
Pemimpin Revolusi Islam Ali Khamenei telah memperingatkan rezim Israel akan “tanggapan keras” atas pembunuhan Haniyeh, dan menyebutnya sebagai tugas Republik Islam untuk membalas dendam atas darah pemimpin perlawanan Palestina.
Koalisi negara Arab yang dipimpin AS yang menghalau serangan pertama Iran ke Israel pada April lalu dilaporkan kali ini akan lepas tangan. Mereka tak mau lagi mencegat rudal-rudal dari Iran ke Israel sebagai balasan pembunuhan terhadap kepala biro politik Hamas Ismail Haniyeh pekan lalu.
The Washington Post melaporkan, koalisi tersebut, yang mencakup Yordania, Arab Saudi, dan Uni Emirat Arab, mulai dikenal publik pada 13 April, ketika mereka membantu Israel dalam mencegat drone dan rudal yang diluncurkan dari Iran sebagai tanggapan atas agresi Israel di konsulatnya di Damaskus.
Saat itu, panglima militer Israel memuji kolaborasi tersebut karena membuka peluang baru untuk kerja sama di Timur Tengah. Sementara Penasihat Keamanan Nasional Gedung Putih John Kirby menyoroti bahwa kolaborasi saat itu mengirimkan pesan yang kuat tentang posisi Israel di kawasan versus di mana posisi Iran di wilayah tersebut.
Namun, empat bulan kemudian, Israel mendapati dirinya semakin terisolasi di wilayah tersebut. Hal itu dapat membuat pertahanan Israel semakin rentan, tulis the Washington Post. Analis menambahkan bahwa bahkan dengan dukungan AS, terdapat kekhawatiran yang semakin besar bahwa sistem pertahanan udara Israel akan kesulitan untuk mengusir mencegat serangan besar-besaran dan terkoordinasi.
Laporan tersebut menyoroti bahwa pada April, negara-negara Arab mengecilkan keterlibatan mereka dalam memukul mundur serangan Iran, berhati-hati terhadap pembalasan Teheran dan enggan untuk terlihat bersekutu dengan Israel. Hal itu di tengah kemarahan publik yang meluas atas jatuhnya korban warga Palestina di Jalur Gaza.
Saat ini, negara-negara Arab juga berusaha menjauhkan diri dari campur tangan di masa depan. Yordania dan Arab Saudi secara tegas menyatakan tidak ingin wilayah udara mereka menjadi medan perang, sedangkan Mesir menyatakan tidak akan ikut serta dalam poros militer untuk menghalau serangan Iran.
Pernyataan publik ini “sangat meresahkan,” surat kabar tersebut mengutip pernyataan seorang politisi senior Israel yang membantu pembentukan koalisi regional.
Berbicara secara anonim karena sifat sensitif dari masalah ini, ia mencatat bahwa meskipun negara-negara Arab yang berada dalam jangkauan rudal sangat ingin membendung Iran, hubungan mereka dengan Israel rapuh dan akan diuji dalam skala besar. Menghadapi kemungkinan perang besar-besaran, politisi tersebut mengakui bahwa "Israel beroperasi sendirian."
Hal ini terjadi meskipun Kirby mengatakan kepada wartawan pada Rabu bahwa Presiden AS Joe Biden telah “memerintahkan tambahan sumber daya militer ke wilayah tersebut untuk memastikan bahwa, jika Israel diserang, Amerika Serikat dapat membela Israel.”
The Washington Post mengingatkan bahwa serangan balasan Iran pada April terkoordinasi dengan baik, sehingga memberi “Israel” dan sekutunya cukup waktu untuk bersiap.
Para pejabat sekarang khawatir serangan berikutnya akan terjadi lebih tiba-tiba, berskala lebih besar, dan berlangsung lebih lama, berpotensi berlangsung selama beberapa hari dan melibatkan serangan terkoordinasi dari berbagai arah seperti Irak, Yaman, Suriah, dan Lebanon.
Iron Dome Israel Dilaporkan Kekurangan Amunisi untuk Cegat Serangan Iran
Tidak ada iron dome di dunia cukup untuk menangani 100 ribu roket. [555] url asal
#ancaman-iran #serangan-iran #israel-serang-iran #pergerakan-rudal-iran #iran-balas-israel #iran-serang-israel #perang-iran-israel #serangan-iran #iran-siap-serang-israel #serangan-iran-ke-israel #anca
(Republika - Khazanah) 07/08/24 11:27
v/13636109/
REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA — Di tengah ketegangan akibat ancaman serangan balasan Iran, Politico melaporkan, Israel kekurangan amunisi yang dibutuhkan untuk menangkis serangan besar yang diperkirakan akan dilakukan oleh Iran dan Hizbullah pekan ini. Terlebih, belum ada kejelasan apakah negara-negara Arab akan turun tangan untuk membantu seperti yang mereka lakukan pada serangan-serangan sebelumnya.
Serangan Iran pada 13 April lalu, yang melibatkan lebih dari 300 rudal dan pesawat tak berawak, hampir seluruhnya berhasil dicegat oleh koalisi sekutu yang membantu militer Israel. Meski demikian, negara-negara Arab merasa frustrasi dengan pembunuhan pemimpin Hamas, Ismail Haniyeh oleh Israel di Teheran dan pemimpin Hizbullah, Fuad Shukr, di pinggiran kota Beirut.
Negara-negara timur tengah juga merasa jengkel dengan ancaman dari Teheran bahwa mereka juga akan menjadi sasaran kemarahannya jika melakukan intervensi. Politico menulis, masih harus dilihat seberapa sukses upaya AS untuk menghidupkan kembali koalisi tersebut dan seberapa besar kesediaan beberapa negara tersebut sekarang.
"Secara umum, ada tingkat kelelahan tertentu dan pada tingkat tertentu saya akan membayangkan kebencian bahwa kita berada dalam situasi ini sekarang karena pembunuhan Shukr dan Haniyeh," kata Jonathan Lord, direktur program keamanan Timur Tengah di Pusat Keamanan Amerika Baru.
Jika serangan bulan April dipimpin oleh Iran dengan proksi lain yang ikut serta, Hizbullah diprediksi akan memiliki lebih banyak peran setelah kematian Shukr. Kelompok pimpinan Hasan Nasrallah ini kemungkinan akan menargetkan serangan lebih jauh ke selatan dan menggunakan pasokan strategisnya berupa rudal berpemandu presisi.
Tom Karako, direktur Proyek Pertahanan Rudal di Pusat Studi Strategis dan Internasional, mengatakan kepada NatSec Daily bahwa kerentanan terbesar adalah bahwa Iran dan proksi-proksinya membanjiri sistem pertahanan tertentu di tempat dan waktu tertentu di saat persediaan amunisi Israel yang menipis.
"Ini adalah kapasitas persediaan iron dome (kubah besi) Tidak ada cukup iron dome di dunia untuk menangani 100.000 roket, dan itu bukan kesalahan iron dome atau sistem lainnya. Itu hanya aritmatika dasar," katanya.
Serangan balik Israel..
Skenario seperti itu akan mengharuskan AS dan negara-negara lain untuk menangani setiap serangan salvo yang datang dari wilayah Iran. Sementara itu, Israel dapat diperkirakan akan mengacak-acak pesawat tempur dan menyerang peluncur Hizbullah di dalam Lebanon, yang berisiko menimbulkan perang yang lebih luas.
Lord berpendapat bahwa para pemimpin Arab yang duduk di babak berikutnya tidak akan membuat perdamaian menjadi lebih mungkin terjadi. Dia memperkirakan bahwa mereka akan "dengan berat hati" mengumpulkan kekuatan lagi.
"Saya akan memahami perasaan frustrasi dan kecemasan mereka, tetapi pada saat yang sama memahami bahwa jika Iran dan Hizbullah berhasil menciptakan bencana besar di Israel, itu tidak akan mengarah pada deeskalasi," kata Lord.
"Hal itu akan membuatnya jauh lebih buruk daripada hari sebelumnya. Saya pikir logikanya adalah bahwa mereka perlu melangkah maju dan terus melakukan bagian mereka untuk menangkal serangan ini sebaik mungkin."
AS berharap sekutu dan mitra Arab akan membantu Israel. Namun seorang mantan diplomat AS yang pernah bekerja di wilayah tersebut, yang tidak mau disebutkan namanya untuk berbicara secara terbuka mengenai dinamika diplomatik yang sensitif, mengatakan bahwa setiap pemutusan dukungan tersebut akan menjadi kesalahan Perdana Menteri Israel, Benjamin Netanyahu.
"Ini adalah masalah frustrasi bersama dengan konflik di mana tidak ada pihak, baik Hamas maupun Netanyahu, yang terbukti dapat berkompromi," kata diplomat tersebut. "Anda lihat [Menteri Luar Negeri AS Antony Blinken] dan [Presiden Joe Biden] terus-menerus mencoba menyiramkan air ke api ini untuk sementara waktu, tetapi kemudian api itu menyala lagi, dan dalam banyak kasus, Netanyahu yang menyulutnya."
Presiden Palestina: Pembunuhan Ismail Haniyeh untuk Perpanjang Perang di Jalur Gaza
Ismail Haniyeh terbunuh saat berada di Teheran Iran [518] url asal
#serangan-iran #iran-siap-serang-israel #iran-serang-israel #ismail-haniyeh #rusia-bantu-iran #iran #israel #palestin #kemerdekaan-palestina #palestina-merdeka #abbas
(Republika - News) 06/08/24 23:50
v/13573085/
REPUBLIKA.CO.ID, WASHINGTON— Presiden Palestina Mahmoud Abbas mengatakan pembunuhan Kepala Biro Politik Kelompok Hamas, Ismail Haniyeh, dimaksudkan untuk memperpanjang konflik di Jalur Gaza.
"Tidak diragukan lagi bahwa tujuan pembunuhan Haniyeh adalah untuk memperpanjang perang dan memperluas cakupannya," kata Abbas seperti dikutip kantor berita Rusia, RIA, pada Selasa (6/8/2024)
"Ini akan berdampak negatif pada negosiasi yang sedang berlangsung untuk mengakhiri agresi dan menarik pasukan Israel dari Gaza," ujar dia, menambahkan.
Abbas juga meminta Israel untuk menghentikan tindakan agresifnya terhadap rakyat Palestina dan untuk mematuhi hukum internasional serta melaksanakan Prakarsa Perdamaian Arab, yang menawarkan Israel kesempatan untuk menormalisasi hubungan dengan tetangga-tetangganya di Timur Tengah dengan syarat pembebasan wilayah Palestina yang diduduki.
Pada hari Rabu pagi, Hamas mengumumkan pembunuhan kepala biro politik Ismail Haniyeh di kediamannya di ibukota Iran, Teheran, di mana ia sedang melakukan kunjungan untuk berpartisipasi dalam upacara pelantikan Presiden Iran yang baru, Masoud Bazeshkian.
Hamas mengatakan dalam sebuah pernyataan bahwa kepala gerakan tersebut telah menjadi martir oleh serangan Zionis yang berbahaya, dan menggambarkan pembunuhannya sebagai tindakan teroris penuh dan pelanggaran terhadap kedaulatan Iran.
Dalam rincian pembunuhan tersebut, Kantor Berita Iran melaporkan bahwa Haniyeh dibunuh sekitar pukul 2 pagi pada hari Rabu (31/7/2024), di mana ia tinggal di markas khusus Garda Revolusi Iran di utara Teheran, dan mengkonfirmasi kesyahidannya bersama salah satu pengawalnya.
Kantor Berita Fars Iran mengkonfirmasi bahwa Ismail Haniyeh, kepala biro politik Gerakan Perlawanan Islam (Hamas), dibunuh oleh sebuah rudal yang menghantam kediamannya, menghancurkan sebagian atap dan jendelanya.
Laporan tersebut menambahkan bahwa investigasi telah mengkonfirmasi bahwa Israel merencanakan dan melaksanakan pembunuhan Ismail Haniyeh.
The New York Times...
The New York Times melaporkan bahwa para pejabat Amerika Serikat secara diam-diam telah mengakui bahwa Israel membunuh Haniyeh di ibukota Iran, Teheran, pada hari Rabu.
Komentar para pejabat Amerika Serikat ini muncul meskipun Israel belum mengaku bertanggung jawab atas pembunuhan tersebut dan menolak berkomentar secara terbuka mengenai insiden tersebut.
Sementara itu, juru bicara militer Israel, Daniel Hagari, pada hari Kamis mengklaim bahwa militernya tidak melancarkan serangan udara ke Iran atau negara lain di Timur Tengah pada hari Rabu.
"Kami tidak menyerang Iran dari udara," katanya dalam sebuah konferensi pers untuk menanggapi pertanyaan tentang pembunuhan Haniyeh.
Baca juga: Lantas Benarkah Kakek Habib Luthfi Bin Yahya Pekalongan Termasuk Pendiri NU?
"Kami membunuh (pemimpin senior Hizbullah) Fouad Shukr di Lebanon, tetapi tidak ada serangan udara Israel lainnya di seluruh Timur Tengah setelah itu."
Secara paralel, New York Times dan situs web Amerika Axios menerbitkan laporan lain, yang mengonfirmasi tanggung jawab Israel atas pembunuhan Haniyeh, tetapi mengklaim bahwa pembunuhan itu dilakukan dengan alat peledak yang ditanam oleh agen-agen Mossad di kamarnya, yang diledakkan dari jarak jauh.
Ketegangan di kawasan Timur Tengah meningkat setelah Haniyeh dibunuh di ibu kota Iran, Teheran, pada 31 Juli lalu setelah menghadiri upacara pelantikan presiden baru Iran.
Hamas dan Iran menuduh Israel membunuh Haniyeh, sementara Tel Aviv tidak membantah atau mengonfirmasi akan pertanggungjawaban atas peristiwa itu.
Israel sangat waspada terhadap kemungkinan tanggapan militer dari Iran dan sekutunya di Lebanon, Hizbullah, yang juga bersumpah untuk melancarkan balasan setelah tewasnya komandan seniornya Fuad Shukr dalam serangan udara Israel di pinggiran Kota Beirut pekan lalu.
Ada di Zona Tempur, Siapa yang akan Dibela Yordania Jika Iran Menyerang Israel?
Yordania berada di jantung pertempuran. [886] url asal
#yordania #serangan-iran #iran-serang-israel #serangan-iran-ke-israel #israel-serang-iran #israel-gempur-iran #iran-siap-serang-israel #yordania-ke-iran #menlu-yordania-ke-iran #menlu-yordania-jadi-utu
(Republika - Khazanah) 06/08/24 10:05
v/13492918/
REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA — Ketegangan tengah memuncak di timur tengah saat Iran bersama sekutunya bersiap untuk melakukan serangan balasan terhadap Israel. Ancaman yang disampaikan Iran usai pembunuhan pemimpin Hamas dan bekas perdana menteri Palestina Ismail Haniyeh di Teheran, pada pekan lalu, ikut berdampak pada negara sekitar, termasuk Yordania.
Kemarahan tampak dirasakan masyarakat Yordania. Negeri Muslim ini menuntut negara mereka untuk memutuskan hubungan dengan Israel dan merevisi Perjanjian Damai Aqaba.Merasa berada di posisi yang sangat rentan, Yordania mengambil sikap tegas. Negeri kerajaan yang dipimpin Raja Husein ini bersumpah untuk membela diri jika terjadi pelanggaran terhadap kedaulatannya sambil menuntut de-eskalasi.
Pada Ahad lalu, Menteri Luar Negeri Yordania Ayman Safadi melakukan kunjungan langka ke Iran. Safadi berupaya untuk menahan eskalasi dan mencegah perang di seluruh wilayah yang akan semakin merusak stabilitas Yordania.
"Kunjungan saya ke Iran adalah untuk berkonsultasi mengenai eskalasi yang serius di wilayah ini dan untuk terlibat dalam diskusi yang jujur dan jelas. Yordania selalu proaktif dalam membela perjuangan Palestina [dan] mengutuk pendudukan Israel," ujar Safadi dalam sebuah konferensi pers bersama mitranya dari Iran di Teheran dikutip dari laman Newarab.
Ia juga mengutuk pembunuhan Haniyeh sebagai "kejahatan keji". Meski demikian, Safadi mengatakan bahwa negaranya ingin eskalasi ini berakhir untuk menghindarkan seluruh wilayah dari konsekuensi perang regional yang akan berdampak buruk bagi semua orang.
Sebelumnya, Safadi mengambil nada yang lebih tegas yang ditujukan pada kemungkinan respon Iran yang dapat merusak kedaulatan Yordania. Dia mengatakan, tidak akan membiarkan siapa pun mengubahnya menjadi medan perang.
"Kami harus selalu waspada di perbatasan, dan kami tidak akan membiarkan siapa pun mengubah Yordania menjadi medan perang. Kami harus melindungi negara kami, dan jika terjadi eskalasi, prioritas kami adalah melindungi Yordania dan warga Yordania," ujarnya dalam sebuah konferensi pers bersama Menteri Luar Negeri dan Urusan Eropa Luksemburg, Xavier Bettel, pekan lalu.
Klaim tidak membela Israel
Pada putaran terakhir eskalasi Iran-Israel April lalu, Yordania mencegat rudal dan pesawat tak berawak Iran yang menuju Israel, dengan alasan untuk membela diri. Namun banyak yang menuduh Amman bergegas membela Israel.
Warga Yordania saat itu dan sekarang terpecah tentang apa yang harus dilakukan negara mereka."Yordania berada di tengah-tengah badai... Rudal-rudal [Iran] akan memasuki wilayah udara Yordania, dan beberapa akan jatuh di atas wilayah kerajaan, yang akan mempertahankan wilayah udaranya bukan untuk melindungi Israel, melainkan untuk melindungi warganya," ujar purnawirawan Mayor Jenderal Dr. Mamoun Abu Nuwar, seorang pakar strategis dan militer.
Namun, jika perang habis-habisan pecah, Nuwar mengungkapkan, ada tantangan yang berkaitan dengan perpecahan regional dan keamanan ekonomi jika Iran menutup Selat Hormuz dan Houthi menutup Bab al-Mandab.
"Kita berada di tengah-tengah badai karena posisi geopolitik kita. Akan terjadi kekacauan dan ketidakstabilan di wilayah ini jika perang skala penuh pecah dengan Israel, dan Yordania akan menghadapi tantangan yang signifikan dalam mengamankan perbatasannya, yang membentang lebih dari 1.500 kilometer persegi."
Selama sepekan terakhir, pembunuhan kepala biro politik Hamas Ismail Haniyeh pada tanggal 31 Juli lalu telah memicu protes di depan kedutaan Israel di ibukota, Amman. Demonstrasi tetap terjadi meski pihak berwenang Yordania telah berusaha untuk menangkap para aktivis pro-Palestina dan Islam.
Hubungan antara Yordania dan Hamas mengalami ketegangan sejak tahun 1999 ketika pihak berwenang Yordania menangkap Khaled Meshaal dan beberapa pemimpin gerakan tersebut. Mereka kemudian diusir ke Doha dan kantor Hamas di Yordania ditutup. Yordania juga gelisah dengan kelompok-kelompok Islamisnya sendiri seperti Ikhwanul Muslimin, yang dekat dengan Hamas, dan khawatir dengan popularitas mereka yang semakin meningkat menjelang pemilihan umum pada tanggal 10 September.
Berada di jantung pertempuran..
Ribuan warga Yordania turun ke jalan pada Rabu dan Kamis dalam jumlah yang besar di beberapa provinsi dan di dekat kedutaan besar Israel. Mereka menuntut agar Yordania membatalkan perjanjian perdamaian dan beberapa perjanjian perdagangan yang telah ditandatangani dengan Israel.
"Yordania berada di jantung pertempuran secara geografis dan politik. Warga Yordania mendidih dan menuntut pemutusan hubungan dengan Israel dan penghentian semua bentuk kerja sama ekonomi dan perdagangan dengan penjajah," kata Mantan Wakil Perdana Menteri Mamdouh Al-Abadi.
"Kita harus kembali ke wajib militer di ketentaraan. Partai Likud yang berkuasa dan para ekstremis di Israel menyatakan bahwa Yordania adalah bagian dari Israel Raya. Perang sudah dekat, dan perdamaian masih jauh; kita harus mulai mempersiapkan diri."
"Warga Yordania dari berbagai latar belakang bangkit setelah pembunuhan Haniyeh untuk membela perlawanan Palestina. Menargetkan Haniyeh di Teheran adalah sebuah pesan kepada rezim-rezim Arab bahwa entitas Zionis menargetkan mereka. Oleh karena itu, mendukung perlawanan berarti mendukung keamanan nasional Yordania. Negara-negara Arab harus mengusir pangkalan Amerika dan Prancis karena mereka menargetkan negara-negara tersebut," kata mantan anggota parlemen Saleh Al-Armouti.
Yordania mengalami situasi ekonomi yang kritis dengan meningkatnya pengangguran, kemiskinan, dan pertumbuhan ekonomi yang lamban, diperparah dengan perang Gaza, yang memukul sektor pariwisata yang menyumbang 15% dari PDB pada tahun 2023.
Sejak 7 Oktober, pariwisata telah menurun menurut Bank Sentral Yordania. Selama paruh pertama tahun 2024, pendapatan pariwisata turun 4,9% menjadi $ 3,3 miliar dibandingkan tahun sebelumnya, karena dampak perang di Gaza.
Dr. Khaled Shneikat, Presiden Asosiasi Ilmu Politik Yordania dan seorang profesor ilmu politik, memperkirakan dampak lebih lanjut dari pembunuhan Haniyeh di kancah internal Yordania.
"Ini akan mencakup mobilisasi orang-orang yang bersimpati pada perjuangan Palestina, serta fakta bahwa ada sejumlah besar pengungsi Palestina di Yordania. Adapun dampak politik dari respon Iran terhadap pembunuhan Haniyeh di Yordania, dunia Arab, termasuk warga Yordania, akan menyaksikan polarisasi dan dukungan untuk Iran jika mereka membalas pendudukan sebagai pemimpin perlawanan."