Akhiri Tren Deflasi, Oktober 2024 Alami Inflasi 0,08 Persen

Akhiri Tren Deflasi, Oktober 2024 Alami Inflasi 0,08 Persen

Setelah lima bulan mengalami deflasi, Oktober 2024 mencatat inflasi bulanan 0,08% didorong oleh kenaikan harga emas dan daging ayam. Halaman all

(Kompas.com) 01/11/24 10:45 17310018

JAKARTA, KOMPAS.com - Badan Pusat Statistik (BPS) melaporkan bahwa tren deflasi yang terjadi selama lima bulan berturut-turut sejak Mei 2024 telah berakhir.

Pada Oktober 2024, terjadi inflasi sebesar 0,08 persen secara bulanan atau month to month (mtm) karena terjadi kenaikan indeks harga konsumen (IHK) dari 105,93 pada September 2024 menjadi 106,01.

Sebagai informasi, selama lima bulan berturut-turut sempat terjadi deflasi. Tercatat, pada Mei terjadi deflasi sebesar 0,03 persen, lalu deflasi meningkat pada Juni dan Juli masing-masing menjadi 0,08 persen dan 0,18 persen.

Kemudian kembali ke 0,03 persen pada Agustus 2024 dan kembali meningkat menjadi 0,12 persen pada September.

“Inflasi bulan Oktober 2024 ini mengakhiri tren deflasi yang terjadi sejak Mei 2024,” ujar Plt. Kepala BPS Amalia A. Widyasanti saat konferensi pers di Jakarta, Jumat (1/11/2024).

Inflasi bulanan pada Oktober 2024 disumbang oleh kelompok pengeluaran yang telah mengalami inflasi sejak Mei lalu.

Adapun kelompok pengeluaran penyumbang inflasi bulanan terbesar yaitu perawatan pribadi dan jasa lainnya dengan inflasi sebesar 0,94 persen, yang memberikan andil ke inflasi sebesar 0,06 persen.

“Komoditas yang dominan mendorong inflasi pada kelompok ini adalah emas perhiasan yang memberikan andil inflasi sebesar 0,06 persen,” kata dia.

Dia menjelaskan, emas perhiasan menjadi komoditas utama pendorong inflasi Oktober 2024 karena harga emas di pasar internasional terus menunjukkan tren kenaikan. Hal ini juga tecermin pada harga emas perhiasan di dalam negeri.

Secara historis, BPS mencatat bahwa komoditas emas perhiasan mengalami deflasi lima kali pada 2022 serta deflasi tiga kali pada 2023. Namun, sejak September 2023, komoditas emas perhiasan terus mengalami inflasi hingga Oktober 2024.

Selain itu, inflasi periode ini juga disumbang oleh komoditas daging ayam ras dengan andil inflasi sebesar 0,04 persen, bawang merah dengan andil inflasi sebesar 0,03 persen.

Kemudian, tomat dan nasi dengan lauk memberikan andil inflasi masing-masing sebesar 0,02 persen, sedangkan kopi bubuk, minyak goreng, sigaret kretek mesin, dan telur ayam ras memberikan andil inflasi masing-masing sebesar 0,01 persen.

“Komoditas bawang merah, daging ayam ras, dan telur ayam ras mengalami inflasi setelah beberapa bulan sebelumnya menjadi penyumbang utama deflasi,” ungkapnya.

Sementara itu, terdapat sejumlah kelompok yang menyumbang deflasi pada Oktober 2024, yaitu kelompok transportasi yang mengalami deflasi sebesar 0,52 persen dengan andil deflasi sebesar 0,06 persen.

Komoditas yang dominan mendorong deflasi kelompok ini adalah bensin dan tarif angkutan udara yang memberikan andil deflasi masing-masing sebesar 0,06 persen dan 0,01 persen.

“Untuk komoditas bensin, deflasi sudah terjadi selama dua bulan berturut-turut. Hal ini tentunya seiring dengan penyesuaian harga BBM non-subsidi yang dilakukan oleh Pertamina dan sejalan dengan tren penurunan harga minyak di pasar global,” tuturnya.

Dengan demikian, selama Januari sampai Oktober 2024 terjadi inflasi tahun kalender sebesar 0,82 persen. Sedangkan inflasi tahunan (year on year/yoy) sebesar 1,71 persen. Angka ini turun dibandingkan inflasi pada Oktober 2023 yang sebesar 2,56 persen.

#harga-emas #bps #inflasi-oktober-2024 #deflasi-beruntun

https://money.kompas.com/read/2024/11/01/104527526/akhiri-tren-deflasi-oktober-2024-alami-inflasi-008-persen