Menyoal Etos Kerja Gen Z
Kekhawatiran tentang etos kerja Gen Z bukan berarti mempersalahkan, menghakimi bahkan menghukum mereka dengan tidak merekrut atau memecat.
(Kompas.com) 02/11/24 16:26 17366455
Oleh: Bonar Hutapea, S. Psi., M. Psi.*
KONON Jodie Foster, aktris Hollywood hebat yang juga produser dan sutradara pernah dalam salah satu wawancara mengatakan bahwa kerja bareng dengan Gen Z sungguh menjengkelkan atau menyebalkan.
Dalam beberapa hari terakhir, pernyataan itu tampaknya mendapatkan pembenaran. Sejumlah media massa daring ramai memberitakan dan menyorot Gen Z dengan mengutip survei terhadap hampir seribu pemimpin bisnis dan sejumlah perusahaan yang dilakukan Intelligent, salah satu platform konsultasi pendidikan dan pengembangan karier.
Hasil survei tersebut, sebagian atau bahkan semua lulusan perguruan tinggi yang direkrut dalam satu tahun terakhir dinilai tidak memuaskan sehingga enggan merekrut lagi karena ragu untuk memperkerjakan Gen Z.
Bahkan, sudah banyak perusahaan disinyalir memecat mereka. Ada apa dengan Gen Z?
Etos kerja Gen Z
Dari survei yang dilakukan lembaga yang sama sebelumnya pada Mei lalu, terhadap hampir seribu tiga ratus pemimpin bisnis terungkap sejumlah temuan yang mengkhawatirkan tentang Gen Z sebagai pekerja muda.
Di antaranya, tidak profesional karena kurangnya inisiatif, ketidaksiapan mengikuti irama kerja formal, tidak sanggup menangani beban kerja, tidak bisa diandalkan, tidak kompeten atau kurang memiliki keterampilan profesional.
Tidak hanya kurang dalam pengalaman kerja yang relevan, tapi juga keterampilan teknis tidak memadai, kemampuan buruk dalam pemecahan masalah.
Begitu pula dengan kurang kemampuan berorganisasi dan berkomunikasi, kesulitan bekerja dalam tim dan kurang adaptif budaya.
Hasil survei juga mengungkap Gen Z sebagai pekerja yang sulit diatur, semangat dan motivasi kerja rendah, kesulitan menerima umpan balik (feedback), tapi banyak menuntut terutama menuntut gaji yang tinggi.
Selain itu, Gen Z juga dinilai sangat politis dan suka terlibat politik, semisal, unjuk rasa terkait masalah politik.
Lebih dari separuh pemimpin bisnis yang disurvei menyatakan bahwa pekerja muda Gen Z harus terlebih dahulu menjalani pelatihan etiket.
Sebagai perbandingan, Vilma Estrellado dalam laman Outsource Accelerator, 19 April 2024, menyatakan sejumlah karakteristik etos kerja Gen Z yang diakui sendiri oleh mereka.
Beberapa di antaranya adalah pekerja keras, bahkan jauh lebih keras daripada generasi lain karena situasi saat ini dianggap jauh lebih sulit. Mereka juga mengakui lebih menyukai komunikasi langsung, meski terlahir di era digital dan internet.
Selain itu, mereka lebih menyukai kerja individual, meski tak keberatan dengan lingkungan tim. Lebih menyukai perusahaan yang membolehkan jadwal kerja fleksibel dan menghargai inklusivitas, keberagaman, dan rasa hormat.
Gen Z juga sangat menyukai dan menginginkan didukung perusahaan dalam pengembangan diri profesional, meski sudah berpendidikan menengah dan tinggi, selain sangat menghargai adanya pengakuan dan apresiasi di tempat kerja.
Bagaimana membangun dan mempertahankan etos kerja Gen-Z?
Etos kerja Gen Z biasa diperbandingkan dengan generasi sebelumnya. Maka, untuk mencapai tingkat etos kerja yang sama, para ahli dan peneliti menyarankan untuk menggali dari para Gen Z dan mengembangkannya dengan cara berbeda.
Di antaranya, dari Tim Elmore dalam situs web Growing Leader, 27 Juni 2023, pengakuan para pekerja Gen Z seperti dikutip Vilma Estrellado, dan disertasi Tamitra G. Cole tahun 2022 di University of Phoenix, :
Pekerjaan disesuaikan dengan gairah (passion). Berbeda dengan generasi sebelumnya yang tetap bekerja keras dalam pekerjaannya sekalipun mereka tak menyukai, Gen Z ingin menyukai dan mencintai pekerjaan terlebih dahulu baru kemudian akan bekerja keras.
Untuk itu, organisasi perlu menyelaraskan pekerjaan dengan nilai-nilai pribadi karyawan agar etos kerja meningkat.
Pendampingan (mentoring) dan relasi antarpribadi. Gen Z ingin dikenal oleh atasan dan pemberi kerja yang membuat mereka bertahan dan memberi lebih kepada pekerjaan dan tempat kerja.
Berbeda dengan generasi sebelumnya yang bekerja keras dalam pekerjaan, meski tidak memiliki hubungan personal dengan pemilik dan pimpinan perusahaan.
Gen Z sangat dipengaruhi oleh panutan, baik dalam kehidupan pribadi maupun di ranah profesional.
Untuk itu, pemimpin dan senior hendaknya mendorong untuk mengembangkan diri, memberikan umpan balik dengan penguatan positif, memimpin dengan memberi contoh, teladan dalam etos kerja yang tinggi.
Melalui saluran komunikasi yang efektif, umpan balik rutin, dan evaluasi kinerja membantu peluang bagi karyawan Gen Z untuk tumbuh secara profesional.
Dilibatkan dan didengarkan. Gen Z ingin didengarkan suara dan ide-idenya serta dilibatkan dalam pemecahan masalah dan keputusan yang membuat mereka mendukung dan menjalankannya dengan sebaik-baiknya.
Dengan memberikan ‘ruang’ bagi mereka, semisal, memberikan masukan dan mendorong dialog terbuka, mereka cenderung bekerja lebih keras, merasa memiliki dan memiliki tekad yang kuat.
Otonomi dan fleksibilitas. Gen Z lebih menyukai sistem, model dan lingkungan kerja hybrid, yakni bekerja di kantor dan lokasi atau tempat lain yang berbeda. Misalnya dari rumah atau ruang kerja bersama (remote working) untuk mengurangi kemonotonan dan mereka merasakan memiliki kendali atas waktu dan hari dalam kehidupan kerjanya.
Makna dalam pekerjaan dan sumbangsih. Berbeda dengan generasi sebelumnya yang cenderung termotivasi oleh penilaian kinerja, pencapaian target, dan tujuan eksternal lainnya, Gen Z lebih didorong oleh keinginan mendapatkan makna dalam pekerjaan.
Gen Z juga dikenal sebagai orang yang sadar sosial dan berkomitmen untuk berkontribusi nyata. Atasan dan pemberi kerja perlu mengapresiasi kontribusi mereka pada misi dan visi perusahaan, bahkan pada dunia yang lebih baik yang membuat hati mereka menjadi tersentuh.
Perasaan aman dan mantap. Meski terdorong berwirausaha dan menilai tinggi kewirausahaan, bila menjadi pekerja Gen Z ternyata lebih menginginkan gaji tetap dengan pekerjaan yang aman.
Karenanya, pemberi kerja dan atasan menetapkan dengan jelas harapan, tanggung jawab, dan hasil saat merekrut mereka dan sedapat mungkin menjamin job security dan keselamatan dalam pekerjaan.
Kurikulum pendidikan. Memasukkan pendidikan etos kerja dalam kurikulum sekolah dan program perguruan tinggi juga sangat penting. Utamanya kepemimpinan, keuletan dan ketekunan, disiplin tinggi, menghargai dan mengelola waktu dengan baik.
Lainnya adalah memiliki inisiatif dan responsif, bertanggungjawab, dedikasi dan loyalitas yang tinggi, hidup hemat dan sederhana, bekerja keras, motivasi kerja yang tinggi dan berorientasi ke masa depan.
Memahami Gen Z dan konteks uniknya
Gen Z akan menjadi seperempat hingga sepertiga dari angkatan kerja dan mendominasi pasar kerja di seluruh dunia tak lama lagi. Kehadiran mereka memunculkan beragam perspektif, talenta, dan keterampilan.
Setiap generasi memiliki motivasi dan kekuatannya sendiri sehingga tak perlu diperbandingkan terus menerus selain bahwa kemiripan juga nyata.
Misalnya, etos kerja Gen Z mirip dengan kaum Millenial. Bedanya, Gen Z tampaknya lebih asertif dan agresif dalam mendapatkan apa yang dihasratkan.
Adanya kekhawatiran tentang etos kerja Gen Z bukan berarti menjadi ajang mempersalahkan, menghakimi, bahkan menghukum mereka dengan tidak merekrut atau memecat mereka dari pekerjaan.
Sebaliknya dibutuhkan pemahaman, empati, dan komitmen untuk membimbing dan membina agar memiliki fondasi kuat bagi kerja profesional dengan mempertimbangkan konteks unik mereka sebagai generasi muda.
Konteks unik dimaksud di antaranya adalah generasi digital mula-mula, tapi rentan berperilaku berisiko terkait penggunaan teknologi dan internet.
Terlahir dalam zaman hidup yang serba mudah, tapi merasakan lebih banyak bahaya dalam hidupnya bila dibandingkan dengan generasi sebelumnya.
Selain itu, mereka memprioritaskan keseimbangan antara kehidupan dan pekerjaan, juga sadar akan pentingnya kesehatan mental.
Dengan menerapkan strategi yang diuraikan di atas didasari prinsip merangkul kualitas unik yang dibawa ke dalam pasar kerja, Gen Z akan menjadi tenaga kerja dengan etos kerja yang tinggi, berdaya, selalu meningkatkan kualitas diri dan bekerja secara optimal.
*Dosen Tetap Fakultas Psikologi Universitas Tarumanagara
https://lifestyle.kompas.com/read/2024/11/02/162607420/menyoal-etos-kerja-gen-z