#30 tag 24jam
Gen Z, Ini Tiga Hal yang Harus Dilakukan di Tempat Kerja Agar Tak Jadi Beban
Ada sejumlah hal yang mesti dilakukan agar Gen Z bisa bekerja dengan baik. [444] url asal
#tips-kerja-buat-gen-z #tips-kerja-gen-z #gen-z #generasi-z #tips-pendidikan
(MedCom) 08/11/24 17:09
v/17790705/
Jakarta: Generasi (Gen) Z mesti mampu membuktikan mereka bisa bekerja dengan baik dan tak menjadi beban. Apalagi, akhir-akhir ini banyak yang mengeluhkan sikap Gen Z di tempat kerja.Ahli Penyakit Jiwa, Elvine Gunawan, membagikan tiga tips bagi Gen Z di tempat kerja. Pertama, biasakan membawa notes ketika bertemu atasan.
"Sehingga klarifikasi benar apa yang kamu pahami dengan yang boomer suruh agar sama," papar Elvine di YouTube Helmi Yahya Bicara dikutip Jumat, 8 November 2024.
Dia menuturkan kerja otak Gen Z sangat cepat, sementara itu pemimpin yang sudah senior atau boomers apabila sedang berbicara sangat panjang dan tak berhenti. Terkadang, Gen Z tidak fokus dengan pembicaraan bosnya ketika sudah terlalu panjang.
"Pas nyampe kerja, bos gua ngomong apa yaa tadi. Jadi, dia bikinlah se-ide-idenya dia, nyampe ke atasan salah. Jadi, bawa notes," ujar dia.
Kedua, bertanya ketika tidak mengetri. Elvine menyebut banyak Gen Z justru bertanya ke ChatGPT, forum, bahkan media sosial ketika tidak mengerti tugas dari bosnya.
"Salah lah karena enggak bisa menterjemahkan, karena bosnya enggak ngomong ke media sosial," tegas dia.
Ketiga, Founder Mental Hub Indonesia itu mengingatkan Gen Z tidak mentoxic-toxican orang. Pastikan yang toxic bener toxic, jangan orang yang pemarah langsung dinilai NPD.
"Belum tentu juga. Kalau ente nyebelin ya pasti marah-marah terus," ujar Elvine.
Elvine juga mengingatkan untuk selalu mendengarkan apa yang lawan bicara sampaikan jangan asal didengar saja. Penting juga bagi Gen Z memahami karakter pemimpinnya, sebab tak semua orang berbicara dengan lembut.
"Kerja saja sesuai dengan KPI, ketika mau tanda tangan kerja dibaca dulu tugas ente apa. Jadi, belajar lah jadi cerdas dan jadi atasan juga mau belajar," tutur dia.
Dia juga menyinggung Gen Z yang kerap tidak betah di satu perusahaan. Elvine mengakui Gen Z merupakan tipe anak impulsif karena otaknya dibuat dengan proses gadget di mana reward systemnya sangat aktif.
"Jadi mikirnya reward dulu tapi dia enggak belajar me-maintain reward ini menjadi stabil. Itu menjadi masalah. Saya suka bilang ya enggak masalah kalau Bapak lu duitnya belakangnya ada 19 enggak apa-apa itu memang takdir lu, bagus. Tapi kalau hidup lu cuma dari modal kering mbanking setiap bulan, ya belajar dong untuk stay," kata Elvine.
Dia menekankan tempat kerja di mana pun tidak ada yang nyaman. Kesuksesan orang yang dilihat saat ini adalah jalan panjang dan belum tentu sanggup bila kita menjalaninya.
Elvine berpesan kepada Gen Z untuk banyak mengobrol dengan orang lain. Selain itu, jangan menganggap rendah orang lain. Sebab, serendah-rendannya kita menanggap seseorang, ada perjalanan hidup puluhan tahun yang dilewati orang itu yang tak bisa kita beli pengalamannya.
| Baca juga: Pola Asuh Terlalu Lembut Bisa Bikin Gen Z Kesulitan di Tempat Kerja |
dan followChannel WhatsApp Medcom.id
(REN)
Gen Z Kerap Dianggap Biang Masalah, Padahal Banyak Bos Tak Bisa Jadi Pemimpin Inklusif
Elvine menegaskan pentingnya untuk saling berkomunikasi agar masalah yang ada jelas dan dapat diselesaikan. [204] url asal
#gen-z #boomer #tempat-kerja #pemimpin-inklusif
(MedCom) 08/11/24 16:26
v/17790728/
Jakarta: Generasi (Gen) Z kerap dianggap menjadi biang masalah di tempat kerja. Mereka dinilai lebih suka hal instan, sulit mengikuti instruksi, hingga rentan terhadap tekanan.Ahli Penyakit Jiwa, Elvine Gunawan, menyebut tak selamanya Gen Z salah. Terkadang, banyak pemimpin tidak bisa menjadi pemimpin inklusif.
"Banyak bos tidak bisa jadi inklusif leader, enggak pernah punya kuping untuk mendengar apa yang jadi masalah," kata Elvine di YouTube Helmi Yahya Bicara dikutip Jumat, 8 November 2024.
Biasanya, kata dia, boomers mempunyai cita-cita atau yang dia sebut ingin mendapat 'prasasti' buat kariernya sebagai bentuk eksistensi. Terdakang, mereka tidak menyadari zaman berubah sangat ekstrem dengan digitalisasi.
Founder Mental Hub Indonesia itu menuturkan transformasi bukan sesuatu yang mudah. Perusahaan kerap bertransformasi, apalagi saat ganti pimpinan. Transformasi ini menuntut anak buah mengikuti.
"Sementara tipe atasannya tidak komunikatif yang boomer itu jadi kalau ngomong, pokoknya harus bisa. Zaman saya dulu enggak ada yang enggak bisa. Tapi enggak mungkin, Pak ada yang enggak bisanya," tutur dia.
Elvine menegaskan pentingnya untuk saling berkomunikasi agar masalah yang ada jelas dan dapat diselesaikan. Dia juga menekankan perlunya pemimpin mendengar masukan.
"Makanya harus sama-sama belajar sih," ujar Elvine.
| Baca juga: Riset: 62% Gen Z Mementingkan ‘Pengakuan’ Dalam Mencari Pekerjaan |
dan followChannel WhatsApp Medcom.id
(REN)
Pola Asuh Terlalu Lembut Bisa Bikin Gen Z Kesulitan di Tempat Kerja
Pola asuh yang terlalu lembut bisa membuat anak tidak kuat akan tekanan di tempat kerja. [301] url asal
#gen-z-di-tempat-kerja #pola-asuh-gen-z #gen-z #generasi-z #gen-z-di-tempat-kerja #karier #elvine-gunawan
(MedCom) 08/11/24 12:22
v/17768039/
Jakarta: Pola asuh anak bakal berpengaruh ke berbagai aspek kehidupan, salah satunya saat anak mesti mulai bekerja. Apalagi akhir-akhir ini banyak keluhan anak-anak Generasi (Gen) Z dinilai sulit diajak bekerja sama.Ahli Penyakit Jiwa, Elvine Gunawan, menyebut pola asuh yang terlalu lembut bisa membuat anak tidak kuat akan tekanan di tempat kerja. Dia menyebut sesekali orang tua mesti memberikan pola asuh agak keras.
"Kalau aku melihat sometimes kita butuh pola asuh yang seperti itu (otoriter) sih, supaya kita enggak menglorifikasi penderitaan hidup. Karena hidup kan kalau sudah bicara hidup senggol bacok, sikut-sikutan di tempat kerja. Kalau kita bikinnya model yang lembut karena pola asuh yang lembut, ya gak akan kuat mereka," kata Eveline di YouTube Helmy Yahya Bicara dikutip Jumat, 8 November 2024.
Apalagi, terkadang ada orang tua yang terlalu permisif. Mereka mampu memberikan fasilitas lebih baik ke anak-anknya karena secara ekonomi sekarang sudah lebih baik.
"Dulu zaman gua susah, moga-moga anak gua jangan susah. Tapi akhirnya terlalu ekstrem tuh, over facilitating, over caring," tutur dia.
Hal-hal ini, kata dia, membikin banyak anak mati empati dan inisiatif. Mereka dituntut bisa bertahan hidup dan mementingkan diri sendiri. Akhirnya, saat tumbuh besar apabila tidak mendapat sesuatu, tidak ingin melakukan apa-apa.
"Kayak hidup itu tentang dirimu all about you akhirnya itu jadi problem buat semua orang. Makanya kenapa sekarang bos-bos sulit mau mendapat yang bekerja benar. Karena mereka berpikirnya oh yaudah gua kerja buat cari duit segede gunung," ujar Founder Mental Hub Indonesia itu.
Padahal, kata dia, banyak hal yang bisa didapat di tempat kerja. Seperti tempat bertumbuh, tempat bertemu potensi, hingga mentor-mentor.
"Karena yang senior-senior juga enggak bisa jadi mentor jadi akhirnya too messed up," tutur dia.
| Baca juga: Riset: 62% Gen Z Mementingkan ‘Pengakuan’ Dalam Mencari Pekerjaan |
dan followChannel WhatsApp Medcom.id
(REN)
Gen Z Banyak yang Dipecat dari Pekerjaan, Ini 3 Penyebab Utamanya
Riset menunjukkan, 60% pengusaha mengakui telah memecat karyawan Gen Z yang mereka rekrut tahun ini. [715] url asal
#pengusaha #unlisted #pandemi #dunia-kerja #jangan-lewatkan #gen-z #stereotip-generasi #berita-nasional #indonesia #pemerintah #kebijakan-ekonomi #peristiwa
(Kontan - Terbaru) 07/11/24 03:45
v/16779650/
Reporter: Barratut Taqiyyah Rafie | Editor: Barratut Taqiyyah Rafie
KONTAN.CO.ID - Generasi Z atau Gen Z, pertama kali memasuki dunia kerja di tengah puncak pandemi. Namun, menurut sebuah artikel terbaru di Inc, 60% pengusaha mengakui telah memecat karyawan Gen Z yang mereka rekrut tahun ini.
Hal ini telah memicu perbincangan yang berkembang tentang mengapa banyak Gen Z berjuang untuk mempertahankan pekerjaan mereka.
Sangat mudah untuk menyalahkan kejadian ini pada stereotip generasi — kemalasan, hak istimewa, atau ketidakdewasaan — tetapi masalahnya jauh lebih kompleks.
Mengutip Forbes, berikut adalah tiga alasan Utama mengapa Gen Z banyak yang dipecat dari pekerjaan mereka:
1. Kurang Motivasi
Salah satu kritik paling umum terhadap Gen Z secara umum adalah kurangnya motivasi yang dirasakan. Semua orang mulai dari Generasi Milenial hingga Generasi Baby Boomer suka membicarakan keengganan Gen Z untuk bekerja "keras" dalam apa yang ingin mereka capai dalam hidup tanpa harus membedah alasannya.
Dari krisis keuangan 2008 hingga gangguan terkini yang disebabkan oleh COVID-19, generasi ini menyaksikan secara langsung bagaimana para pemberi kerja sering memperlakukan karyawan yang loyal.
PHK, pemotongan gaji, dan kurangnya keamanan kerja merupakan tema umum dalam kehidupan orang tua mereka.
Dari sudut pandang ini, kita dapat melihat mengapa mereka mungkin mengembangkan rasa skeptisisme tentang jalur karier tradisional.
Sebuah laporan oleh Deloitte melaporkan bahwa Gen Z menghargai perusahaan yang peduli dengan dunia di sekitar mereka, termasuk karyawan mereka. Namun, secara paradoks, pengalaman hidup mereka mencakup menyaksikan ketidakstabilan pasar tenaga kerja dan perusahaan yang mengeksploitasi segala hal yang menghalangi jalan mereka.
Kurangnya motivasi yang dirasakan ini mungkin merupakan bentuk pelestarian diri, keengganan untuk terjun ke dalam sistem yang tidak menawarkan banyak stabilitas sebagai balasannya.
2. Mereka Berbicara dalam Bahasa yang Berbeda
Masalah lain yang mungkin berkontribusi terhadap tantangan tempat kerja Gen Z adalah komunikasi.
Meskipun anggota generasi ini sering dipuji sebagai penduduk asli digital, hal itu tidak selalu berarti keterampilan interpersonal yang kuat dalam lingkungan kerja tradisional.
Tumbuh besar dengan media sosial dan komunikasi berbasis teks berarti banyak karyawan muda mungkin kesulitan dengan percakapan tatap muka, terutama yang diharapkan dalam lingkungan profesional.
Sebuah artikel tahun 2022 dari Harvard Law School menjelaskan bahwa pekerja Gen Z memasuki dunia kerja selama pandemi. Generasi ini memulai karier mereka ketika mengirim teks singkat — sesuatu yang sangat mereka sukai — dapat diterima alih-alih mengadakan rapat tim.
Mereka kehilangan waktu tatap muka di kantor pada titik krusial dalam pengembangan karier mereka. Hal ini berpotensi menciptakan kesenjangan dalam pembelajaran mereka dan membuat mereka tidak siap untuk industri yang mengharuskan rapat, presentasi, dan kolaborasi mendalam.
3. Mereka Menolak Mentalitas Kerja-Tanpa-Kehidupan
Mungkin alasan paling menentukan mengapa Gen Z mungkin kehilangan pekerjaan adalah penolakan mereka terhadap budaya kerja tradisional, yang menekankan jam kerja panjang, ketersediaan konstan, dan keterlibatan dalam pekerjaan seseorang.
Kesuksesan telah dikaitkan dengan kerja keras dan pengorbanan karier bagi generasi yang lebih tua.
"Budaya kerja keras" generasi milenial meromantisasi gagasan bekerja malam, akhir pekan, dan hari libur untuk maju.
Namun, Gen Z tidak mempercayainya. Mereka menginginkan lebih dari sekadar gaji — mereka menginginkan keseimbangan, makna, dan rasa kepuasan pribadi yang tidak sepenuhnya terkait dengan pekerjaan.
Laporan Deloitte lainnya dari tahun 2023 menemukan bahwa 50% responden Gen Z menempatkan "keseimbangan kehidupan kerja" sebagai salah satu prioritas utama mereka saat mempertimbangkan pekerjaan. Generasi yang "mengungkapkan pendapat" ini cenderung tidak menoleransi lingkungan tempat kerja yang beracun dan lebih cepat meninggalkan posisi yang tidak memenuhi harapan mereka.
Hal ini tidak selalu berarti kemalasan. Gen Z lebih bersedia memprioritaskan kesejahteraan pribadi dan kesehatan mental daripada kemajuan karier. Perubahan prioritas ini dapat mengejutkan bagi rekan kerja mereka yang lebih tua dan perusahaan yang mengharapkan karyawan untuk bekerja lebih keras.
Tonton:Baby Boomer Generasi Terkaya yang Pernah Ada, Siapa Generasi yang Jadi Pecundang?
Gen Z cenderung tidak begadang di kantor atau terus-menerus menghubungi melalui email setelah jam kerja.
Penting untuk menyadari bahwa banyak masalah di tempat kerja yang dihadapi Gen Z bukanlah sepenuhnya kesalahan mereka. Mereka telah tumbuh di dunia yang berubah dengan cepat, di mana janji-janji tradisional tentang keamanan kerja dan kemajuan karier tidak selalu terbukti benar.
Mereka telah belajar bahwa ada hal lain dalam hidup selain bekerja untuk perusahaan yang tidak selalu memberi mereka penghargaan atas hal itu.
Generasi Z tidak dipecat hanya karena mereka adalah pekerja "generasi yang buruk". Sebaliknya, mereka berbenturan dengan sistem kerja yang ketinggalan zaman dan kegagalan beradaptasi dengan kebutuhan modern.
Pilpres AS, Gen Z Cari Tahu Rekam Jejak Kamala Harris dan Trump Lewat TikTok Cs
Media sosial seperti TikTok dinilai membantu para generasi muda atau Gen Z mengetahui rekam jejak Kamala Harris dan Donald Trump. [427] url asal
#media-sosial #tiktok #gen-z #pilpres-as #kamala-harris #donald-trump
(Bisnis.Com) 05/11/24 20:24
v/17523124/
Bisnis.com, JAKARTA – Media sosial seperti TikTok dinilai membantu para generasi muda atau Gen Z mengetahui rekam jejak Kamala Harris dan Donald Trump, sebelum menentukan pilihan dalam pemungutan suara pilpres AS 5 November 2024.
Baik Kamala Harris dan Donald Trump disebut mengincar suara dari generasi muda atau Gen Z. Banyak di antara pemilih tersebut akan memberikan suara untuk pertama kalinya.
Melansir CNN International, Selasa (5/11/2024), Majalah Columbia dari Universitas Columbia mencatat bahwa Gen Z terdiri dari lebih dari 40 juta pemilih, termasuk 8 juta pemilih baru.
Pendiri kelompok advokasi Gen-Z for Change Aidan Kohn-Murphy mengatakan bahwa pengaruh media sosial terhadap para pemilih Gen Z cukup signifikan.
Dia menjelaskan bahwa media sosial seperti TikTok telah membantu menginformasikan banyak anak muda tentang kandidat presiden dan kampanye mereka.
”Isu-isu utama bagi para pemilih muda adalah iklim, keadilan reproduksi, kekerasan senjata, dan dukungan Biden yang sangat tidak populer terhadap pemerintah Israel,” kata Kohn-Murphy.
Ia menuturkan bahwa anak muda berbagi informasi di TikTok melalui setiap individu. Hal ini membuat orang lebih mendukung pada salah satu kandidat.
Kohn-Murphy juga mencatat bahwa banyak pemilih pemula yang tidak mengetahui rekam jejak skandal politik para capres sebelumnya, seperti rekaman “Access Hollywood” mantan Presiden Donald Trump.
Namun, media sosial telah memungkinkan mereka untuk belajar dan mengetahui lebih banyak mengenai para kandidat.
“Kami berada di antara kelas lima dan kelas tujuh ketika rekaman Access Hollywood keluar. Kami sudah mati rasa dengan kata-kata dan tindakan Trump yang mengerikan, namun ini adalah hal-hal yang belum pernah kami dengar dan saya pikir TikTok telah memberikan cara untuk mengingatkan dan mengejutkan kaum muda.”
Gen Z Condong ke Kamala Harris
Sebelumnya, Kamala Harris mendapat dukungan dari anak-anak muda dari Generasi Z atau Gen Z di Pilpres 2024.
Melansir Guardian, sejumlah gen Z mengaku Kamala adalah calon yang cocok untuk maju sebagai presiden. Mereka juga senang, Biden akhirnya tergantikan oleh sosok yang lebih "masuk akal" untuk mencalonkan diri.
Will (22), seorang pekerja konstruksi asal Portlan, Oregon, mengaku bahwa Kamala bisa mendapat suara dari berbagai pihak.
"Saya pikir [Kamala Harris] adalah satu-satunya yang masuk akal. Dia akan mendapatkan suara yang tidak bisa diperoleh Biden. Dia bisa mendapatkan suara orang kulit hitam, Asia, Latin, perempuan, LGBTQ+, dan pemuda. Dia lebih mendukung kemajuan dan kesetaraan daripada orang kulit putih tua dan jika dia menang, itu akan menjadi bersejarah. Partai Demokrat membutuhkan langkah berani dan saya pikir dialah yang kita butuhkan," katanya mengutip dari Guardian.
Pemilih lain yang berusia 27 tahun mengatakan bahwa Kamala mungkin bukanlah yang terbaik untuk Amerika Serikat (AS), namun ia lebih baik dari Biden.
Antara Gen Z, Peluang Kerja, dan Kebijakan Makroprudensial Halaman all
Di tengah ketatnya persaingan mencari pekerjaan, wirausaha bisa jadi jalan bagi Gen Z. Mereka bisa memanfaatkan KLM untuk akses modal. Halaman all?page=all [536] url asal
#wirausaha #gen-z #kebijakan-insentif-likuiditas-makroprudensial
(Kompas.com) 05/11/24 16:12
v/17536269/
SIAP atau tidak, Generasi Z (Gen Z) dihadapkan pada era persaingan ketat dalam pencarian lapangan kerja yang layak. Padahal, pekerjaan yang layak dibutuhkan untuk mencapai generasi emas Indonesia, agar terhindar dari middle income trap.
Middle income trap ialah kondisi suatu negara yang berhasil keluar dari kelompok berpenghasilan rendah, tetapi terjebak di level menengah dan sulit mencapai status berpenghasilan tinggi. Salah satu ciri dari middle income trap adalah rendahnya produktivitas tenaga kerja.
Indonesia, yang berada dalam kategori negara berpenghasilan menengah, harus waspada terhadap jebakan ini.
Terlebih, berdasarkan data Survei Angkatan Kerja Nasional (Sakernas) pada Februari 2024, terdapat 3,6 juta Gen Z berusia 15-24 tahun yang menganggur.
Sementara itu, total pengangguran terbuka di Indonesia mencapai 7,2 juta orang. Artinya, Gen Z menyumbang 50,29 persen dari total pengangguran terbuka di Indonesia. Kondisi tersebut menjadi tantangan besar bagi perekonomian nasional.
Salah satu solusi yang dapat dilakukan untuk mengatasi masalah pengangguran adalah dengan mendorong Gen Z terjun ke dunia wirausaha.
Dengan berwirausaha, tak hanya memungkinkan memperoleh pendapatan, tetapi juga berpotensi membuka lapangan pekerjaan baru.
Meski demikian, menjadi wirausaha muda tentu memiliki tantangan tersendiri. Tantangan utama, baik dalam merintis maupun ekspansi usaha adalah mendapatkan modal yang cukup.
Untuk itu, dibutuhkan strategi matang, termasuk memanfaatkan penguatan Kebijakan Insentif Likuiditas Makroprudensial (KLM) yang dikeluarkan oleh Bank Indonesia (BI).
Dengan kebijakan ini, memberikan peluang bagi Gen Z untuk mendapatkan kredit modal usaha dari bank. Pasalnya, KLM mendorong perbankan untuk lebih rajin menyalurkan kredit ke pelaku usaha.
KLM merupakan insentif yang diberikan kepada bank berupa pengurangan setoran Giro Wajib Minimum (GWM). GWM adalah simpanan minimum yang harus dipelihara oleh bank di BI, yang nilainya ditetapkan berdasarkan persentase dari Dana Pihak Ketiga (DPK) atau dana simpanan nasabah.
Bank yang menerima KLM akan mendapat pengurangan jumlah setoran GWM, yang berarti mereka memiliki lebih banyak likuiditas untuk dialokasikan ke sektor produktif.
Dengan pelonggaran dari sisi GWM yang bisa didapatkan oleh perbankan melalui KLM, BI berharap perbankan lebih aktif menyalurkan kredit terutama pada sektor-sektor prioritas yang mendapat insentif, seperti hilirisasi minerba dan nonminerba (termasuk pertanian, peternakan, dan perikanan), perumahan (termasuk perumahan rakyat), pariwisata, inklusif (termasuk UMKM, Kredit Usaha Rakyat, dan ultra mikro), serta kredit/pembiayaan hijau.
Belakangan, BI juga memperluas cakupan sektor prioritas ini dengan menambahkan sektor penunjang hilirisasi, konstruksi dan real estate produktif, ekonomi kreatif, otomotif, perdagangan, ListrikGas-Air Bersih, serta jasa sosial.
Sektor tersebut menjadi sektor prioritas dalam penyaluran KLM, karena merupakan sektor usaha yang mendukung penciptaan lapangan kerja, serta dapat meningkatkan kesejahteraan masyarakat, termasuk kelas menengah bawah dengan tetap memperhatikan prinsip kehati-hatian yang pada akhirnya terciptanya ekonomi berkelanjutan.
Antara Gen Z, Peluang Kerja, dan Kebijakan Makroprudensial
Di tengah ketatnya persaingan mencari pekerjaan, wirausaha bisa jadi jalan bagi Gen Z. Mereka bisa memanfaatkan KLM untuk akses modal. Halaman all [1,036] url asal
#wirausaha #gen-z #kebijakan-insentif-likuiditas-makroprudensial
(Kompas.com) 05/11/24 16:12
v/17513381/
SIAP atau tidak, Generasi Z (Gen Z) dihadapkan pada era persaingan ketat dalam pencarian lapangan kerja yang layak. Padahal, pekerjaan yang layak dibutuhkan untuk mencapai generasi emas Indonesia, agar terhindar dari middle income trap.
Middle income trap ialah kondisi suatu negara yang berhasil keluar dari kelompok berpenghasilan rendah, tetapi terjebak di level menengah dan sulit mencapai status berpenghasilan tinggi. Salah satu ciri dari middle income trap adalah rendahnya produktivitas tenaga kerja.
Indonesia, yang berada dalam kategori negara berpenghasilan menengah, harus waspada terhadap jebakan ini.
Terlebih, berdasarkan data Survei Angkatan Kerja Nasional (Sakernas) pada Februari 2024, terdapat 3,6 juta Gen Z berusia 15-24 tahun yang menganggur.
Sementara itu, total pengangguran terbuka di Indonesia mencapai 7,2 juta orang. Artinya, Gen Z menyumbang 50,29 persen dari total pengangguran terbuka di Indonesia. Kondisi tersebut menjadi tantangan besar bagi perekonomian nasional.
Salah satu solusi yang dapat dilakukan untuk mengatasi masalah pengangguran adalah dengan mendorong Gen Z terjun ke dunia wirausaha.
Dengan berwirausaha, tak hanya memungkinkan memperoleh pendapatan, tetapi juga berpotensi membuka lapangan pekerjaan baru.
Meski demikian, menjadi wirausaha muda tentu memiliki tantangan tersendiri. Tantangan utama, baik dalam merintis maupun ekspansi usaha adalah mendapatkan modal yang cukup.
Untuk itu, dibutuhkan strategi matang, termasuk memanfaatkan penguatan Kebijakan Insentif Likuiditas Makroprudensial (KLM) yang dikeluarkan oleh Bank Indonesia (BI).
Dengan kebijakan ini, memberikan peluang bagi Gen Z untuk mendapatkan kredit modal usaha dari bank. Pasalnya, KLM mendorong perbankan untuk lebih rajin menyalurkan kredit ke pelaku usaha.
KLM merupakan insentif yang diberikan kepada bank berupa pengurangan setoran Giro Wajib Minimum (GWM). GWM adalah simpanan minimum yang harus dipelihara oleh bank di BI, yang nilainya ditetapkan berdasarkan persentase dari Dana Pihak Ketiga (DPK) atau dana simpanan nasabah.
Bank yang menerima KLM akan mendapat pengurangan jumlah setoran GWM, yang berarti mereka memiliki lebih banyak likuiditas untuk dialokasikan ke sektor produktif.
Dengan pelonggaran dari sisi GWM yang bisa didapatkan oleh perbankan melalui KLM, BI berharap perbankan lebih aktif menyalurkan kredit terutama pada sektor-sektor prioritas yang mendapat insentif, seperti hilirisasi minerba dan nonminerba (termasuk pertanian, peternakan, dan perikanan), perumahan (termasuk perumahan rakyat), pariwisata, inklusif (termasuk UMKM, Kredit Usaha Rakyat, dan ultra mikro), serta kredit/pembiayaan hijau.
Belakangan, BI juga memperluas cakupan sektor prioritas ini dengan menambahkan sektor penunjang hilirisasi, konstruksi dan real estate produktif, ekonomi kreatif, otomotif, perdagangan, ListrikGas-Air Bersih, serta jasa sosial.
Sektor tersebut menjadi sektor prioritas dalam penyaluran KLM, karena merupakan sektor usaha yang mendukung penciptaan lapangan kerja, serta dapat meningkatkan kesejahteraan masyarakat, termasuk kelas menengah bawah dengan tetap memperhatikan prinsip kehati-hatian yang pada akhirnya terciptanya ekonomi berkelanjutan.
Ekonomi berkelanjutan tentu sangat dibutuhkan. Apalagi dalam beberapa tahun terakhir, ketidakpastian ekonomi global telah meningkat karena adanya inflasi tinggi dan ketegangan geopolitik.
Sementara itu, ekonomi domestik Indonesia pada Triwulan III 2024 diperkirakan di atas 5 persen, atau dapat dikatakan tetap berdaya tahan.
Namun, struktur ekonomi kita masih memerlukan penguatan dan dorongan pada beberapa sektor untuk mendukung berlanjutnya pemulihan ekonomi nasional.
Tak heran, KLM menjadi instrumen penting yang digunakan oleh BI untuk mengarahkan penyaluran kredit perbankan ke sektor-sektor prioritas.
Inilah angin segar yang perlu dimanfaatkan oleh Gen Z. Walau, tetap perlu memerhatikan beberapa hal.
Pertama, pastikan usaha yang dibangun merupakan sektor yang didukung KLM. Kedua, siapkan proposal dengan narasi dan argumentasi kuat agar meyakinkan pihak bank terkait usaha yang akan dibangun.
Ketiga, jalin hubungan baik dengan bank yang aktif menyalurkan kredit ke sektor prioritas. Keempat, siapkan strategi pengembangan usaha dengan modal yang didapat, agar bisnis dapat tumbuh secara berkelanjutan.
Ke depan, BI akan terus memperkuat efektivitas implementasi kebijakan makroprudensial akomodatif tersebut dengan sinergi kebijakan Pemerintah, Komite Stabilitas Sistem Keuangan (KSSK), perbankan, serta pelaku dunia usaha agar benar-benar dapat mendukung peningkatan kredit/pembiayaan bagi pertumbuhan ekonomi secara berkelanjutan.
Harapannya, pertumbuhan kredit 2024 dapat mencapai besaran yang diperkirakan, yaitu berada pada batas atas kisaran 10-12 persen.
Pada September 2024, pertumbuhan kredit tetap kuat, mencapai 10,85 persen dibandingkan tahun lalu.
Dari sisi penawaran, kuatnya pertumbuhan kredit didukung minat penyaluran kredit yang terjaga, realoksi alat likuid ke kredit oleh perbankan, serta dukungan dari KLM BI.
Hingga pertengahan Oktober 2024, BI telah menyalurkan insentif KLM sebesar Rp 256,5 triliun, dengan alokasi ke bank BUMN sebesar Rp 119 triliun, bank swasta nasional Rp 110,2 triliun, bank pembangunan daerah Rp 24,6 triliun, dan kantor cabang bank asing Rp 2,7 triliun.
Insentif ini disalurkan ke sektor-sektor prioritas seperti Hilirisasi Minerba dan Pangan, UMKM, sektor otomotif, perdagangan dan listrik, gas dan air (LGA), pariwisata, dan ekonomi kreatif.
Dari sisi permintaan, pertumbuhan kredit juga didorong oleh kinerja bisnis korporasi yang stabil.
Secara sektoral, kredit tumbuh kuat di sektor Jasa Dunia Usaha, perdagangan, industri, pertambangan, dan transportasi.
Berdasarkan jenis kredit, pertumbuhan kredit modal kerja mencapai 10,01 persen, kredit konsumsi 10,88 persen, dan kredit investasi 12,26 persen pada September 2024.
Berdasarkan kelompok penggunaan, pertumbuhan kredit modal kerja, kredit konsumsi, dan kredit investasi, masing-masing sebesar 10,01 persen (yoy), 10,88 persen (yoy), dan 12,26 persen (yoy) pada September 2024.
Pembiayaan syariah tumbuh sebesar 11,37 persen (yoy), sementara kredit UMKM tumbuh 5,04 persen (yoy), membaik dibandingkan dengan bulan sebelumnya.
Berdasarkan data di atas, di tengah ketatnya persaingan mencari pekerjaan, wirausaha bisa menjadi jalan yang tepat bagi Gen Z untuk tidak hanya bertahan, tetapi juga berkembang.
Dengan memanfaatkan peluang yang ditawarkan oleh KLM dari BI, generasi muda dapat memperoleh akses modal yang lebih mudah dan mengembangkan usaha di sektor-sektor prioritas.
Dengan strategi yang tepat dan dukungan kebijakan yang kuat, Gen Z dapat memainkan peran penting dalam memperkuat ekonomi Indonesia dan mencapai impian sebagai Generasi Emas di masa depan.
Bahas Gen-Z, Putri Tanjung Pembicara Termuda dalam Sejarah Nikkei Forum Global Management
Putri Tanjung, Komisaris CT Corp, mendapat kehormatan menjadi pembicara dalam NIKKEI FORUM 26th Global Management Dialogue di Tokyo, Jepang, [319] url asal
#microsoft-japan #karakter-gen-z #gen-z #asean #mai-shin #bahas-gen-z #pandangan-gen-z #putri #shin #putri-founder #gen-z #sejarah-nikkei-forum-global-management #gen-z #hyundai-motor #nikkei-inc #gen #strategi
(detikFinance - Perencanaan Keuangan) 02/11/24 22:44
v/17379307/
Jakarta - Putri Tanjung, Komisaris CT Corp, mendapat kehormatan menjadi pembicara dalam NIKKEI FORUM 26th Global Management Dialogue di Tokyo, Jepang, pada 28-29 Oktober 2024.
Putri dalam forum ini tidak hanya mewakili Indonesia, tetapi juga ASEAN sebagai satu-satunya perwakilan Gen-Z dan pembicara termuda sepanjang sejarah forum bergengsi ini.
Acara yang berlangsung di Imperial Hotel, Tokyo, Jepang, mengusung tema "Seize the Tide, Lead the Change," dan dihadiri ratusan eksekutif global, termasuk CEO Microsoft Japan, President & CEO Hyundai Motor, dan CEO Inditex Group. Putri menjadi salah satu dari tiga pembicara perempuan di antara para pemimpin bisnis dunia, menyuarakan pandangan Gen-Z sebagai pasar yang berpengaruh.
Dalam sesi "Decoding Gen-Z," Putri berada satu panel dengan Mai Shin, Presiden GENDA Japan yang berbagi wawasan tentang cara memahami perilaku Gen-Z, terutama sebagai target pasar yang dinamis.
Putri membahas kesuksesan AlloBank Festival yang berhasil menarik jutaan Gen-Z menjadi nasabah. Menyoroti pentingnya tentang orisinalitas, ia berkata,
"Banyak perusahaan keliru memperlakukan Gen Z seperti konsumen lain. Authenticity itu penting, Gen Z dapat melihat saat suatu brand hanya mengejar tren tanpa ketulusan," ujar Putri Tanjung dalam keterangan tertulis, Sabtu (1/11/2024).
Putri juga menekankan pentingnya perusahaan menyeimbangkan antara karakter Gen-Z yang mampu bergerak cepat dan efisien (agile) dengan sikap konsisten mencapai hasil yang ditetapkan.
"Gen-Z adalah generasi yang Agile, tetapi penting bagi perusahaan untuk menyeimbangkannya dengan menanamkan konsistensi agar mereka tetap fokus dan dapat mencapai hasil yang diharapkan, dan tidak hanya sebagai agen perubahan tetapi juga sebagai pemimpin masa depan," papar Putri Founder and Chairman CT Corp Chairul Tanjung ini.
NIKKEI FORUM Global Management Dialogue merupakan forum CEO terbesar di Asia dan acara paling bergengsi yang diselenggarakan setiap tahun pada musim gugur oleh Nikkei Inc., media bisnis terkemuka Jepang.
Forum ini memberikan wawasan terbaru tentang strategi bisnis di era transformasi digital dan rantai pasokan global dengan mempertemukan para pemimpin bisnis dunia untuk berbagi perspektif dari berbagai sektor industri.
(hns/hns)
9 Tips Jitu Supaya Main Media Sosial Tanpa Khawatir Kuota Jebol, Kamu Wajib Coba!
Buat Gen-Z, media sosial adalah bagian dari gaya hidup. Namun, sering kali penggunaan media sosial menguras paket data dengan cepat, [700] url asal
#gen-z #media-sosial #kuota-internet
(MedCom) 02/11/24 20:34
v/17373771/
Jakarta: Buat Gen-Z, media sosial adalah bagian dari gaya hidup. Namun, sering kali penggunaan media sosial menguras paket data dengan cepat, terutama saat menonton video, melakukan panggilan, atau mengunggah konten.Tanpa disadari, biaya untuk membeli kuota bisa jadi semakin mahal. Agar tetap hemat tanpa mengurangi aktivitas, yuk pelajari beberapa cara efektif menghemat kuota saat menggunakan media sosial. Semua tips ini mudah diterapkan, dan kamu tetap bisa eksis tanpa khawatir kuota habis di tengah bulan!
Aktifkan Mode “Data Saver” di Setiap Aplikasi
Hampir semua aplikasi media sosial seperti Instagram, Facebook, dan Twitter memiliki fitur "Data Saver." Dengan mengaktifkan fitur ini, aplikasi akan mengurangi kualitas gambar dan video yang kamu lihat. Ini penting karena konten media yang berukuran besar sering kali menyedot data dengan cepat.Untuk mengaktifkannya, cari opsi “Data Saver” atau “Penghemat Data” di menu pengaturan setiap aplikasi. Hasilnya, konsumsi data berkurang, tetapi kamu masih bisa menikmati konten.
Baca juga: WiFi Gratisan? Jangan Asal Pakai, Yuk Ikuti Tips Aman Ini!
Gunakan Fitur Unduh untuk Ditonton Offline
Jika sering menonton video di YouTube atau Instagram, ada baiknya memanfaatkan fitur unduhan yang tersedia di aplikasi tersebut. Dengan begitu, kamu bisa mengunduh konten saat tersambung ke Wi-Fi dan menontonnya kapan saja tanpa harus menggunakan data.Cara ini cocok untuk kamu yang suka menonton video panjang, seperti vlog atau tutorial. Cukup cari tombol unduhan, dan video siap ditonton offline tanpa khawatir kuota habis.
Batasi Penggunaan Data Latar Belakang
Aplikasi media sosial cenderung memperbarui feed, mengirim notifikasi, atau memuat konten baru meskipun kamu tidak sedang aktif menggunakannya. Hal ini mengonsumsi data di latar belakang, sehingga kuota terpakai tanpa disadari.Untuk mengatasi ini, kamu bisa menonaktifkan “Data Background” pada pengaturan aplikasi di ponsel. Caranya, buka menu pengaturan ponsel, pilih aplikasi yang sering digunakan, dan matikan opsi “Data Latar Belakang.”
Pilih Kualitas Rendah untuk Video dan Gambar
Kualitas tinggi pada video atau gambar memang menarik, tetapi bisa cepat menghabiskan kuota data. Di YouTube, misalnya, kamu bisa memilih resolusi video lebih rendah, seperti 480p atau 360p, untuk menghemat data. Meskipun kualitasnya tidak setajam resolusi tinggi, tetap memadai untuk dilihat di layar ponsel. Pada aplikasi lain seperti Instagram, kamu juga bisa menurunkan kualitas gambar di pengaturan.
Nonaktifkan Fitur Autoplay Video
Autoplay memungkinkan video diputar secara otomatis saat kamu melihat feed media sosial, yang mengonsumsi data dengan cepat. Nonaktifkan autoplay di aplikasi seperti Facebook, Instagram, dan Twitter agar video hanya diputar saat kamu menginginkannya.Fitur ini sering kali ada di menu pengaturan, di bawah opsi “Video” atau “Data Usage.” Selain hemat data, ini juga membuat penggunaan media sosial terasa lebih tenang tanpa video yang tiba-tiba muncul.
Gunakan Aplikasi Lite atau Versi Ringan
Aplikasi seperti Facebook dan Instagram memiliki versi Lite yang mengonsumsi lebih sedikit data dan daya baterai. Versi Lite mengurangi fitur yang tidak esensial dan hanya menampilkan fungsi utama. Selain hemat data, aplikasi Lite juga lebih ringan di ponsel, sehingga cocok untuk kamu yang punya penyimpanan terbatas atau paket data kecil.Kendalikan Notifikasi yang Tidak Penting
Notifikasi dari media sosial bisa menjadi penguras data tanpa disadari. Setiap notifikasi membutuhkan sedikit data untuk memperbarui informasi. Batasi notifikasi untuk aplikasi yang benar-benar penting saja.Di pengaturan aplikasi, kamu bisa memilih jenis notifikasi yang ingin diterima atau menonaktifkan notifikasi sepenuhnya untuk beberapa akun. Ini tidak hanya menghemat data tetapi juga membuat ponsel terasa lebih tenang.
Gunakan Wifi untuk Aktivitas Berat
Selalu pilih Wi-Fi jika melakukan aktivitas yang banyak memakan data seperti mengunggah video, memperbarui aplikasi, atau melakukan panggilan video. Wi-Fi menjadi pilihan terbaik untuk menghemat kuota data seluler, terutama di tempat-tempat yang memiliki koneksi Wifi stabil seperti rumah, kafe, atau kampus. Dengan Wifi, kamu bisa tetap update tanpa memakan kuota berlebihan.Nonaktifkan Pembaruan Otomatis Aplikasi
Pembaruan aplikasi sering kali berjalan otomatis dan menghabiskan data, terutama jika aplikasi sering diperbarui. Masuk ke pengaturan Play Store atau App Store, dan pilih pembaruan otomatis hanya melalui Wi-Fi.Cara ini memastikan kuota data kamu tidak akan habis hanya untuk memperbarui aplikasi, apalagi jika memiliki aplikasi yang berat seperti game atau media sosial yang sering diperbarui.
Dengan menerapkan tips di atas, kamu bisa tetap aktif di media sosial dan berhemat kuota sekaligus. Jadi, tidak ada lagi alasan untuk khawatir kuota cepat habis!
(Muhammad Reyhansyah)
dan followChannel WhatsApp Medcom.id
(DHI)
Menyoal Etos Kerja Gen Z
Kekhawatiran tentang etos kerja Gen Z bukan berarti mempersalahkan, menghakimi bahkan menghukum mereka dengan tidak merekrut atau memecat. [1,221] url asal
(Kompas.com) 02/11/24 16:26
v/17366455/
Oleh: Bonar Hutapea, S. Psi., M. Psi.*
KONON Jodie Foster, aktris Hollywood hebat yang juga produser dan sutradara pernah dalam salah satu wawancara mengatakan bahwa kerja bareng dengan Gen Z sungguh menjengkelkan atau menyebalkan.
Dalam beberapa hari terakhir, pernyataan itu tampaknya mendapatkan pembenaran. Sejumlah media massa daring ramai memberitakan dan menyorot Gen Z dengan mengutip survei terhadap hampir seribu pemimpin bisnis dan sejumlah perusahaan yang dilakukan Intelligent, salah satu platform konsultasi pendidikan dan pengembangan karier.
Hasil survei tersebut, sebagian atau bahkan semua lulusan perguruan tinggi yang direkrut dalam satu tahun terakhir dinilai tidak memuaskan sehingga enggan merekrut lagi karena ragu untuk memperkerjakan Gen Z.
Bahkan, sudah banyak perusahaan disinyalir memecat mereka. Ada apa dengan Gen Z?
Etos kerja Gen Z
Dari survei yang dilakukan lembaga yang sama sebelumnya pada Mei lalu, terhadap hampir seribu tiga ratus pemimpin bisnis terungkap sejumlah temuan yang mengkhawatirkan tentang Gen Z sebagai pekerja muda.
Di antaranya, tidak profesional karena kurangnya inisiatif, ketidaksiapan mengikuti irama kerja formal, tidak sanggup menangani beban kerja, tidak bisa diandalkan, tidak kompeten atau kurang memiliki keterampilan profesional.
Tidak hanya kurang dalam pengalaman kerja yang relevan, tapi juga keterampilan teknis tidak memadai, kemampuan buruk dalam pemecahan masalah.
Begitu pula dengan kurang kemampuan berorganisasi dan berkomunikasi, kesulitan bekerja dalam tim dan kurang adaptif budaya.
Hasil survei juga mengungkap Gen Z sebagai pekerja yang sulit diatur, semangat dan motivasi kerja rendah, kesulitan menerima umpan balik (feedback), tapi banyak menuntut terutama menuntut gaji yang tinggi.
Selain itu, Gen Z juga dinilai sangat politis dan suka terlibat politik, semisal, unjuk rasa terkait masalah politik.
Lebih dari separuh pemimpin bisnis yang disurvei menyatakan bahwa pekerja muda Gen Z harus terlebih dahulu menjalani pelatihan etiket.
Sebagai perbandingan, Vilma Estrellado dalam laman Outsource Accelerator, 19 April 2024, menyatakan sejumlah karakteristik etos kerja Gen Z yang diakui sendiri oleh mereka.
Beberapa di antaranya adalah pekerja keras, bahkan jauh lebih keras daripada generasi lain karena situasi saat ini dianggap jauh lebih sulit. Mereka juga mengakui lebih menyukai komunikasi langsung, meski terlahir di era digital dan internet.
Selain itu, mereka lebih menyukai kerja individual, meski tak keberatan dengan lingkungan tim. Lebih menyukai perusahaan yang membolehkan jadwal kerja fleksibel dan menghargai inklusivitas, keberagaman, dan rasa hormat.
Gen Z juga sangat menyukai dan menginginkan didukung perusahaan dalam pengembangan diri profesional, meski sudah berpendidikan menengah dan tinggi, selain sangat menghargai adanya pengakuan dan apresiasi di tempat kerja.
Bagaimana membangun dan mempertahankan etos kerja Gen-Z?
Etos kerja Gen Z biasa diperbandingkan dengan generasi sebelumnya. Maka, untuk mencapai tingkat etos kerja yang sama, para ahli dan peneliti menyarankan untuk menggali dari para Gen Z dan mengembangkannya dengan cara berbeda.
Di antaranya, dari Tim Elmore dalam situs web Growing Leader, 27 Juni 2023, pengakuan para pekerja Gen Z seperti dikutip Vilma Estrellado, dan disertasi Tamitra G. Cole tahun 2022 di University of Phoenix, :
Pekerjaan disesuaikan dengan gairah (passion). Berbeda dengan generasi sebelumnya yang tetap bekerja keras dalam pekerjaannya sekalipun mereka tak menyukai, Gen Z ingin menyukai dan mencintai pekerjaan terlebih dahulu baru kemudian akan bekerja keras.
Untuk itu, organisasi perlu menyelaraskan pekerjaan dengan nilai-nilai pribadi karyawan agar etos kerja meningkat.
Pendampingan (mentoring) dan relasi antarpribadi. Gen Z ingin dikenal oleh atasan dan pemberi kerja yang membuat mereka bertahan dan memberi lebih kepada pekerjaan dan tempat kerja.
Berbeda dengan generasi sebelumnya yang bekerja keras dalam pekerjaan, meski tidak memiliki hubungan personal dengan pemilik dan pimpinan perusahaan.
Gen Z sangat dipengaruhi oleh panutan, baik dalam kehidupan pribadi maupun di ranah profesional.
Untuk itu, pemimpin dan senior hendaknya mendorong untuk mengembangkan diri, memberikan umpan balik dengan penguatan positif, memimpin dengan memberi contoh, teladan dalam etos kerja yang tinggi.
Melalui saluran komunikasi yang efektif, umpan balik rutin, dan evaluasi kinerja membantu peluang bagi karyawan Gen Z untuk tumbuh secara profesional.
Dilibatkan dan didengarkan. Gen Z ingin didengarkan suara dan ide-idenya serta dilibatkan dalam pemecahan masalah dan keputusan yang membuat mereka mendukung dan menjalankannya dengan sebaik-baiknya.
Dengan memberikan ‘ruang’ bagi mereka, semisal, memberikan masukan dan mendorong dialog terbuka, mereka cenderung bekerja lebih keras, merasa memiliki dan memiliki tekad yang kuat.
Otonomi dan fleksibilitas. Gen Z lebih menyukai sistem, model dan lingkungan kerja hybrid, yakni bekerja di kantor dan lokasi atau tempat lain yang berbeda. Misalnya dari rumah atau ruang kerja bersama (remote working) untuk mengurangi kemonotonan dan mereka merasakan memiliki kendali atas waktu dan hari dalam kehidupan kerjanya.
Makna dalam pekerjaan dan sumbangsih. Berbeda dengan generasi sebelumnya yang cenderung termotivasi oleh penilaian kinerja, pencapaian target, dan tujuan eksternal lainnya, Gen Z lebih didorong oleh keinginan mendapatkan makna dalam pekerjaan.
Gen Z juga dikenal sebagai orang yang sadar sosial dan berkomitmen untuk berkontribusi nyata. Atasan dan pemberi kerja perlu mengapresiasi kontribusi mereka pada misi dan visi perusahaan, bahkan pada dunia yang lebih baik yang membuat hati mereka menjadi tersentuh.
Perasaan aman dan mantap. Meski terdorong berwirausaha dan menilai tinggi kewirausahaan, bila menjadi pekerja Gen Z ternyata lebih menginginkan gaji tetap dengan pekerjaan yang aman.
Karenanya, pemberi kerja dan atasan menetapkan dengan jelas harapan, tanggung jawab, dan hasil saat merekrut mereka dan sedapat mungkin menjamin job security dan keselamatan dalam pekerjaan.
Kurikulum pendidikan. Memasukkan pendidikan etos kerja dalam kurikulum sekolah dan program perguruan tinggi juga sangat penting. Utamanya kepemimpinan, keuletan dan ketekunan, disiplin tinggi, menghargai dan mengelola waktu dengan baik.
Lainnya adalah memiliki inisiatif dan responsif, bertanggungjawab, dedikasi dan loyalitas yang tinggi, hidup hemat dan sederhana, bekerja keras, motivasi kerja yang tinggi dan berorientasi ke masa depan.
Memahami Gen Z dan konteks uniknya
Gen Z akan menjadi seperempat hingga sepertiga dari angkatan kerja dan mendominasi pasar kerja di seluruh dunia tak lama lagi. Kehadiran mereka memunculkan beragam perspektif, talenta, dan keterampilan.
Setiap generasi memiliki motivasi dan kekuatannya sendiri sehingga tak perlu diperbandingkan terus menerus selain bahwa kemiripan juga nyata.
Misalnya, etos kerja Gen Z mirip dengan kaum Millenial. Bedanya, Gen Z tampaknya lebih asertif dan agresif dalam mendapatkan apa yang dihasratkan.
Adanya kekhawatiran tentang etos kerja Gen Z bukan berarti menjadi ajang mempersalahkan, menghakimi, bahkan menghukum mereka dengan tidak merekrut atau memecat mereka dari pekerjaan.
Sebaliknya dibutuhkan pemahaman, empati, dan komitmen untuk membimbing dan membina agar memiliki fondasi kuat bagi kerja profesional dengan mempertimbangkan konteks unik mereka sebagai generasi muda.
Konteks unik dimaksud di antaranya adalah generasi digital mula-mula, tapi rentan berperilaku berisiko terkait penggunaan teknologi dan internet.
Terlahir dalam zaman hidup yang serba mudah, tapi merasakan lebih banyak bahaya dalam hidupnya bila dibandingkan dengan generasi sebelumnya.
Selain itu, mereka memprioritaskan keseimbangan antara kehidupan dan pekerjaan, juga sadar akan pentingnya kesehatan mental.
Dengan menerapkan strategi yang diuraikan di atas didasari prinsip merangkul kualitas unik yang dibawa ke dalam pasar kerja, Gen Z akan menjadi tenaga kerja dengan etos kerja yang tinggi, berdaya, selalu meningkatkan kualitas diri dan bekerja secara optimal.
*Dosen Tetap Fakultas Psikologi Universitas Tarumanagara
Shoulder Bag atau Sling Bag, Mana Favorit Gen Z?
Antara shoulder bag dan sling bag, kita-kira mana yang lebih digandrungi para Gen Z? [429] url asal
#gen-z #shoulder-bag #sling-bag
(Kompas.com) 01/11/24 18:34
v/17322636/
JAKARTA, KOMPAS.com - Generasi Z atau Gen Z (lahir 1997-2012) memiliki karakteristik berbusana yang unik dan khas.
Bahkan para Gen Z juga lebih berani mengeksplorasi gaya sampai mendapatkan kriteria gaya yang diminatinya.
Tak cuma cara berpakaian, tas juga jadi item fesyen penting untuk menunjang keseluruhan tampilannya.
Namun, antara shoulder bag dan sling bag, kita-kira mana yang lebih digandrungi para Gen Z?
- Anti FOMO, Gen Z Lebih Suka Berburu Tas Branded Antik dan Quite Luxury
- Selain Tas, 6 Barang Preloved Branded Ini Tersedia di Irresistible Bazaar
Menanggapi hal tersebut, Founder Irresistible Bazaar dan IRRESSAVENUE Marisa Tumbuan menjelaskan, shoulder bag atau tas bahu justru lebih diminati oleh Gen Z perempuan.
“Gen Z itu punya karakter sendiri kalau soal fesyen. Sekarang itu mereka tipe-tipenya lebih senang shoulder bag dibandingkan sling bag,” jelas Marisa dalam Media Gathering Irresistible Bazaar, Rabu (30/10/2024).
KOMPAS.com/DEVI PATTRICIA Beberapa koleksi barang mewah dalam Irresistible Bazaar di Exibition Hall, Mal Grand Indonesia, Jakarta Pusat, Rabu (31/10/2024).Terjadinya pergeseran minat para Gen Z yang mendominasi industri fesyen, membuat berbagai merek tas ternama menciptakan kembali koleksi tas bahu.
“Bahkan beberapa merek seperti Hermes aja sampai bikin tas yang strapnya bisa disesuaikan pendek panjangnya,” ujar dia.
Ia mengungkap, Gen Z lebih memperhatikan kenyamanan dan fleksibilitas dalam memilih barang, khususnya tas yang hendak digunakan sehari-hari.
- 5 Rekomendasi Tas Lokal Perempuan, Mulai dari Rp 100.000-an
- Catat, Ini 7 Cara Bedakan Tas Gucci Asli dan Palsu
Apalagi Gen Z awal sudah memasuki dunia kerja, sehingga aspek fungsional dari tas sangat diutamakan.
“Biasanya mereka pilih pakai shoulder bag itu karena lebih nyaman dan praktis buat dipakai sehari-hari,” jelas Marissa.
Bukan cuma itu, Marisa menjelaskan bahwa tas bahu juga lebih mudah untuk dipadupadankan dan tidak mengganggu tampil outfit yang digunakan.
“Kemudian shoulder bag juga enggak merusak tampilan OOTD penggunanya. Makanya tas seperti Diesel dan Celine yang terkenal shoulder bag-nya populer sekali,” pungkasnya.
Opini: Perlukah Gen Z Wajib Militer?
Pada 24 Oktober 2024, Kabinet Merah Putih mulai mengadakan retret di Akademi Militer (Akmil)-Magelang untuk membahas strategi dan kebijakan negara. [803] url asal
#militer #gen-z #wajib-militer #kabinet-merah-putih #merah-putih #kabinet-merah-putih #akmil #akademi-militer
(Bisnis.Com) 01/11/24 10:07
v/17305914/
Bisnis.com, JAKARTA - Pada 24 Oktober 2024, Kabinet Merah Putih mulai mengadakan retret di Akademi Militer (Akmil)-Magelang untuk membahas strategi dan kebijakan negara. Acara ini dihadiri oleh seluruh menteri, wakil menteri, kepala badan, staf khusus, dan penasihat dalam Kabinet Merah Putih, dengan tujuan memperkuat kolaborasi dan koordinasi antar-kementerian di bawah pemerintahan Presiden Prabowo.
Retret berasal dari kata bahasa Inggris retreat. Menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia versi web, retret artinya mengundurkan diri dari dunia ramai untuk mencari ketenangan batin.
Tentunya dalam konteks kolaborasi dan koordinasi antar-kementerian, maka retret ini menjadi agenda yang sangat strategis, karena pada moment ini Presiden Prabowo ingin menunjukan dan menegaskan kepada seluruh masyarakat Indonesia mengenai komitmen presiden dalam Menyusun kabinet kerja yang kompeten dan memiliki satu visi yang sama dalam membangun Indonesia.
Namun, ada hal menarik dimana latar belakang sebagian besar dari menteri, wakil menteri, kepala badan, staf khusus, dan penasihat dalam Kabinet Merah Putih yang bukanlah dari militer, tetapi pada retret tersebut mereka diharuskan untuk menggunakan atribut dan fasilitas militer.
Seperti pada unggahan beberapa menteri pada akun Instagramnya saat terbang dengan pesawat C-130J Super Hercules A-1340 milik TNI Angkatan Udara atau saat seluruh peserta retret mengenakan pakaian lapangan Komponen Cadangan (Komcad). Internalisasi “jiwa militer” begitu terlihat dalam kegiatan retret tersebut, bahkan Presiden Prabowo menyatakan dengan sangat jelas bahwa “Sistem pertahanan terbaik adalah Sistem Pertahanan Rakyat Semesta, di mana setiap warga negara harus siap sedia membela negaranya.”
Tantangan dan Peluang
Bagi Gen Z, peluang dan tantangan dalam mengikuti program wajib militer (wamil) cukup unik karena mereka merupakan generasi yang sangat berbeda dari generasi sebelumnya, baik dalam cara berpikir, kemampuan teknologi, hingga pandangan sosial.
Wajib militer memberikan pengalaman berharga untuk meningkatkan kedisiplinan, kedewasaan, dan kemampuan bertanggung jawab yang penting bagi perkembangan diri dan karier.
Gen Z yang terbiasa dengan teknologi bisa mendapatkan keterampilan baru yang lebih fisik dan praktis. Pelatihan militer mencakup kemampuan bertahan hidup, ketahanan fisik, hingga pengetahuan tentang strategi pertahanan. Wajib militer dapat memperkuat rasa cinta tanah air dan persatuan antar-generasi. Gen Z bisa berinteraksi dengan teman-teman dari berbagai latar belakang, yang membantu mereka melihat keragaman budaya Indonesia dari sudut pandang yang lebih luas.
Perspektif Hukum
Dari sudut pandang hukum, program wajib militer (wamil) memerlukan analisis yang mendalam terkait hak dan kewajiban warga negara, serta prinsip hak asasi manusia. Beberapa aspek hukum yang relevan mencakup:
UUD 1945: Pasal 27 ayat (3) UUD 1945 menyatakan bahwa setiap warga negara berhak dan wajib ikut serta dalam upaya pembelaan negara. Dasar konstitusi ini memberi legitimasi bagi negara untuk mewajibkan warganya, termasuk Gen Z, untuk terlibat dalam pertahanan negara.
Undang-Undang No. 3 Tahun 2002 tentang Pertahanan Negara: Pasal 9 menyatakan bahwa setiap warga negara memiliki hak dan kewajiban untuk ikut serta dalam upaya bela negara. UU ini mengamanatkan pelaksanaan bela negara sebagai tanggung jawab seluruh rakyat, yang bisa diinterpretasikan sebagai landasan hukum untuk mengimplementasikan program wajib militer.
Undang-Undang No. 23 Tahun 2019 tentang Pengelolaan Sumber Daya Nasional untuk Pertahanan Negara: Pasal 4 dan 6 menyebutkan bahwa wajib militer atau bentuk lain dari bela negara dapat dilakukan melalui pembentukan komponen cadangan yang melibatkan warga negara dalam bela negara. Dalam UU ini juga ditegaskan hak-hak dasar warga yang ikut serta dalam program ini.
Ketahanan Nasional
Prinsip Keseimbangan antara Hak Individu dan Kepentingan Negara: Dalam doktrin hukum nasional, terdapat prinsip bahwa hak individu dapat dibatasi demi kepentingan umum. Program wajib militer bisa dibenarkan dari segi hukum jika terbukti bertujuan memperkuat ketahanan negara serta memenuhi kebutuhan nasional akan komponen pertahanan.
Rekomendasi
Untuk menjalankan program wajib militer (wamil) yang sesuai dengan karakteristik Gen Z dan menghormati hak asasi serta kebutuhan pertahanan nasional, pemerintah perlu mempertimbangkan rekomendasi berikut:
Penerapan Wamil dengan Model Pilihan atau Bertahap, Model Sukarela dan Bertahap: Mulailah dengan sistem sukarela untuk melihat ketertarikan dan partisipasi warga, khususnya di kalangan Gen Z. Sistem ini bisa diperkuat dengan insentif seperti pengakuan sertifikasi, beasiswa, atau prioritas dalam rekrutmen pekerjaan di sektor pemerintah.
Program Bertahap untuk Gen Z: Rancang program bertahap dengan durasi singkat dan intensitas yang menyesuaikan dengan kesiapan fisik dan mental. Tahapan ini bisa mencakup pelatihan dasar yang berlanjut ke pelatihan intensif hanya bagi yang menunjukkan minat dan kemampuan.
Wajib Militer terhadap Gen Z dapat diterapkan dengan optimal dengan memperhatikan aspek-aspek kemanusiaan, teknologi, dan alternatif program yang tersedia dengan merujuk pada UU 23/2019. UU ini mengatur tentang pembentukan komponen cadangan dan berbagai aspek terkait program bela negara, yang mencakup perekrutan, pelatihan, hak-hak, serta tanggung jawab komponen cadangan yang akan bertugas membantu komponen utama (TNI) dalam pertahanan negara.
Sebagian besar rekomendasi untuk menyesuaikan program wajib militer dengan karakteristik Gen Z dapat diterapkan berdasarkan UU 23/2019. Undang-undang ini memberikan landasan hukum yang cukup fleksibel untuk mengakomodasi model bertahap, pemberian alternatif non-militer, penyediaan fasilitas kesehatan, serta penyesuaian teknologi dalam pelatihan.
Namun, implementasinya akan sangat bergantung pada peraturan turunan yang lebih spesifik untuk memastikan semua mekanisme berjalan efektif dan transparan.