Kala Utang Paylater RI Naik Dua Kali Lipat
Outstanding pembiayaan yang disalurkan oleh perusahaan pembiayaan lewat layanan buy now pay later (BNPL) atau paylater tumbuh semakin pesat. Halaman all
(Kompas.com) 02/11/24 19:16 17376103
JAKARTA, KOMPAS.com - Otoritas Jasa Keuangan (OJK) mencatat, outstanding pembiayaan yang disalurkan oleh perusahaan pembiayaan lewat layanan buy now pay later (BNPL) atau paylater tumbuh semakin pesat hingga September 2024.
Berdasarkan data OJK, nilai outstanding pembiayaan BNPL yang disalurkan oleh perusahaan pembiayaan mencapai Rp 8,24 triliun sampai dengan September lalu.
Nilai itu meroket 103,40 persen atau naik lebih dari dua kali lipat dibandingkan posisi September tahun lalu, di mana pertumbuhan itu juga lebih tinggi dari pertumbuhan Agustus 2024 sebesar 89,20 persen secara tahunan.
SHUTTERSTOCK/PRZEMEK KLOS Ilustrasi fasilitas pay later, buy now pay later (BNPL).Pertumbuhan pesat itu diikuti oleh kenaikan rasio pembiayaan bermasalan (non performing financing/NPF) gross BNPL, dari Agustus sebesar 2,52 persen, menjadi 2,60 persen pada September.
Lonjakan penyaluran paylater juga dicatatkan oleh industri perbankan, di mana outstanding kredit BNPL perbankan nasional mencapai Rp 19,81 triliun sampai dengan September.
Nilai kredit itu tumbuh 46,42 persen secara tahunan, juga lebih tinggi dibanding pertumbuhan pada bulan Agustus sebesar 40,68 persen.
Direktur Ekonomi Digital Center of Economic and Law Studies (Celios) Nailul Huda menilai, pesatnya pertumbuhan pembiayaan BNPL perlu menjadi perhatian bagi para pemangku kepentingan terkait.
Pasalnya, lonjakan pembiayaan paylater terjadi di tengah kondisi ekonomi yang dibayangi tanda-tanda pelemahan daya beli masyarakat, seperti deflasi secara bulanan yang terjadi pada Mei - September 2024.
"Saya masih melihat dorongan pemenuhan kebutuhan masyarakat masih tinggi di saat kondisi ekonomi sedang tidak dalam kondisi baik-baik saja," tutur dia, kepada Kompas.com, Sabtu (2/11/2024).
SHUTTERSTOCK/MINERVA STUDIO Ilustrasi belanja di supermarket atau pasar swalayan, konsumsi masyarakat.Lebih lanjut Huda bilang, fenomena seperti pemutusan hubungan kerja (PHK) yang meningkat, membuat masyarakat harus mencari pendanaan alternatif, salah satunya paylater.
Menurutnya, paylater semakin banyak digunakan oleh masyarakat, sebab proses pendaftaran dan pengajuannya jauh lebih mudah dibanding dengan kartu kredit yang ditawarkan oleh perbankan.
"Saya melihat proses kartu kredit yang lama, kemudian ketidakpastian penerimaan, membuat orang malas mengurus kartu kredit," katanya.
Namun, kemudahan akses tersebut justru berpotensi menimbulkan risiko pembiayaan bermasalah ke depannya.
Pasalnya, dengan kemudahan akses yang ditawarkan, proses skrining debitur paylater perusahaan pembiayaan menjadi lebih rendah.
Di sisi lain, kemampuan bayar debitur menjadi dipertanyakan, sebab pembiayaan yang dilakukan kebanyakan untuk memenuhi kebutuhan konsumsi.
"Ketika pembayaran cicilan hutang sudah lebih dari pendapatan mereka, yang terjadi adalah pembayaran cicilan jadi macet," ucap Huda.
#daya-beli-masyarakat #paylater #kredit #buy-now-pay-later
https://money.kompas.com/read/2024/11/02/191601926/kala-utang-paylater-ri-naik-dua-kali-lipat