Tantangan dan Peluang RI Kejar Target Pertumbuhan Ekonomi 8 Persen

Tantangan dan Peluang RI Kejar Target Pertumbuhan Ekonomi 8 Persen

Ekonom Core Indonesia Yusuf Rendy Manilet mengatakan, target pertumbuhan ekonomi sebesar 8 persen bisa dicapai secara bertahap dalam 5 tahun ke depan. Halaman all

(Kompas.com) 06/11/24 08:41 17559157

JAKARTA, KOMPAS.com - Target Presiden Prabowo Subianto untuk pertumbuhan ekonomi 8 persen nampaknya tidak mudah diraih. Ada tantangan dan peluang dalam prosesnya.

Ekonom Core Indonesia Yusuf Rendy Manilet mengatakan, target pertumbuhan ekonomi sebesar 8 persen bisa dicapai secara bertahap dalam 5 tahun ke depan.

Meski begitu, terdapat sejumlah tantangan yang akan dihadapi untuk mencapai target tersebut, yaitu sebagai berikut.

Dok. BPJT Dampak APBN terhadap kegiatan ekonomi masyarakat adalah meningkatkan pertumbuhan ekonomi. Berikutnya dampak APBN terhadap kegiatan ekonomi masyarakat yakni membuka lapangan pekerjaan, ketiga pengaruh APBN terhadap perekonomian Indonesia adalah stabilitas keuangan dan investasi.

1. Perekonomian tumbuh melambat

Saat ini pertumbuhan ekonomi tengah mengalami perlambatan. Hal ini terlihat dari pertumbuhan ekonomi Indonesia yang turun tiap kuartal selama 2024.

Berdasarkan data Badan Pusat Statistik (BPS), pertumbuhan ekonomi selama tahun 2024 dari kuartal I sampai kuartal III sebesar masing-masing 5,11 persen, 5,05 persen, dan 4,95 persen.

"Kalau kita melihat pertumbuhan ekonomi secara tahunan mulai dari triwulan pertama hingga triwulan ketiga, maka kita melihat pola perlambatan pertumbuhan di tiap triwulan tersebut," ujarnya saat dihubungi Kompas.com, Selasa (5/11/2024).

2. Daya beli masyarakat lesu

Terkontraksinya pertumbuhan ekonomi pada kuartal III 2024 diiringi oleh konsumsi rumah tangga yang turun secara kuartalan maupun tahunan karena faktor musiman.

Adapun konsumsi rumah tangga pada kuartal III 2024 sebesar 4,91 persen, turun dibanding kuartal sebelumnya yang sebesar 4,93 persen maupun tahun sebelumnya yang mencapai 5,06 persen.

Terlebih pada tahun ini juga sempat terjadi deflasi selama lima bulan berturut-turut yakni pada Mei sampai September. Secara berurutan, deflasi Mei sampai September 2024 sebesar 0,03 persen, 0,08 persen, 0,18 persen, 0,18 persen, 0,03 persem, dan 0,12 persen.

"Di satu sisi deflasi ini disumbang dari harga yang relatif rendah pada beberapa komoditas pangan, namun deflasi juga mengindikasikan turunnya permintaan terhadap barang dan jasa selama 5 bulan beruntun," ucapnya.

SHUTTERSTOCK/JASEN WRIGHT Ilustrasi manufaktur.

3. Industri manufaktur turun

Selain itu, sektor manufaktur, yang merupakan kontributor besar terhadap produk domestik bruto (PDB) Indonesia, juga mengalami penurunan.

Penurunan permintaan terhadap produk manufaktur dapat dilihat dari angka pemutusan hubungan kerja (PHK) yang tinggi, yang berdampak pada kemampuan masyarakat untuk membeli barang dan jasa.

Berdasarkan laporan S&P Global, Purchasing Manager\'s Index (PMI) Manufaktur Indonesia tercatat masih melanjutkan pelemahan pada Oktober 2024.

Dengan angka PMI Manufaktur pada Oktober sebesar 49,2 atau stagnan sejak September lalu, menjadikan PMI Manufaktur Indonesia selama empat bulan berturut-turut masih di bawah angka krusial 50,0.

Penurunan industri manufaktur juga dikonfirmasi dari perlambatan pertumbuhan sektor lapangan usaha industri manufaktur atau pengolahan yang pada Kuartal III 2024 pertumbuhannya melambat jika dibandingkan dengan pertumbuhan kuartal yang sama di tahun lalu.

"Jika tren perlambatan pertumbuhan manufaktur ini kemudian tidak diantisipasi maka tentu ini juga akan ikut mempengaruhi tahapan untuk mencapai pertumbuhan ekonomi 8 persen yang ingin disasar pemerintah terutama dalam jangka waktu 5 tahun ke depan," kata dia.

Untuk itulah, meski target pertumbuhan ekonomi sebesar 8 persen bakal menghadapi sejumlah tantangan, namun terdapat peluang yang dapat dimanfaatkan pemerintah ke depannya, yaitu sebagai berikut.

1. Mendorong pertumbuhan industri

Untuk mencapai target tersebut, Yusuf menyarankan pemerintah untuk memperhatikan pengembangan sektor industri dalam jangka menengah dan panjang.

Selain itu, kebijakan yang berkaitan dengan industri juga perlu diperhatikan, terutama dalam konteks mendongkrak pertumbuhan ekonomi.

PEXELS/AHSANJAYA Ilustrasi uang rupiah

2. Genjot belanja pemerintah

Sebagai upaya jangka pendek untuk meningkatkan pertumbuhan ekonomi, pemerintah perlu meningkatkan konsumsi rumah tangga melalui belanja pemerintah.

Mengutip data Kementerian Keuangan (Kemenkeu), realiasai belanja pemerintah sampai dengan 30 September 2024 baru sebesar 72,94 persen dari target atau senilai Rp 5.479 triliun.

"Jika berbicara jangka pendek maka upaya untuk menjaga daya beli masyarakat melalui realisasi belanja pemerintah merupakan hal yang kemudian bisa dilakukan pemerintah setidaknya sampai dengan akhir tahun 2024 ini," ujarnya.

3. Menciptakan lapangan kerja

Sementara untuk jangka menengah, pemerintah bisa menjaga daya beli masyarakat dengan menciptakan lapangan kerja baru secara masif sehingga masyarakat dapat kembali melakukan konsumsi.

Adapun penciptaan lapangan kerja secara masif dapat dilakukan dari sektor industri pengolahan. Pasalnya, industri ini memiliki karakteristik untuk menyerap angkatan kerja dengan pendidikan yang dimiliki angkatan kerja di Indonesia saat ini.

"Utamanya pada sektor lapangan usaha yang sifatnya formal dan dapat meningkatkan kesejahteraan masyarakat," tuturnya.

#lapangan-kerja #pertumbuhan-ekonomi #industri-manufaktur #daya-beli-masyarakat #pertumbuhan-ekonomi-8-persen

https://money.kompas.com/read/2024/11/06/084100926/tantangan-dan-peluang-ri-kejar-target-pertumbuhan-ekonomi-8-persen