Industri Tekstil Indonesia Tetap Bergeliat, 15 Investor Taiwan Berminat Relokasi
Menko Airlangga sebut sektor tekstil Indonesia masih positif, sebab 15 perusahaan tekstil asal Taiwan relokasi pabrik ke Indonesia. Halaman all
(Kompas.com) 06/11/24 14:00 17574124
JAKARTA, KOMPAS.com - Menteri Koordinator Bidang Perekonomian Airlangga Hartarto memastikan bahwa industri tekstil Indonesia masih menunjukkan pertumbuhan yang positif, meskipun PT Sri Rejeki Isman Tbk (Sritex), salah satu perusahaan tekstil terbesar, telah dinyatakan pailit.
Menurutnya, produk tekstil seperti pakaian, sepatu, dan aksesori tetap menjadi kebutuhan dasar masyarakat dan kini juga mendukung gaya hidup.
"Ini menunjukkan bahwa industri tekstil masih bergeliat dan memastikan bahwa sektor ini tidak akan mengalami kemunduran," ujar Airlangga dalam konferensi pers di kantornya, Jakarta, Selasa (5/11/2024).
Kondisi positif industri tekstil dalam negeri tercermin dalam data Badan Pusat Statistik (BPS), di mana industri tekstil dan produk tekstil pada kuartal III 2024 mencatatkan pertumbuhan 7,43 persen secara tahunan (year-on-year/yoy).
Airlangga menyebutkan bahwa peluang di sektor tekstil Indonesia masih besar, dengan minat dari sekitar 15 perusahaan tekstil asal Taiwan yang berencana merelokasi pabriknya ke Indonesia.
Namun, dalam negosiasi, para investor ini mengajukan beberapa syarat, salah satunya adalah penggunaan energi hijau selama beroperasi di Indonesia.
"Permintaan global saat ini mengarah pada pabrik berbasis energi terbarukan, terutama untuk produk-produk lifestyle atau green," jelas Airlangga. "Mereka menginginkan sepatu yang diproduksi dengan listrik dari renewable energy."
Investor juga meminta kemudahan dalam pembelian tanah untuk pembangunan pabrik. Namun, pemerintah menyarankan agar mereka mempertimbangkan untuk masuk ke zona ekonomi khusus (KEK).
"Saat ini KEK di Batang dan Kendal sebagian besar sudah terisi. Pemerintah juga tengah melakukan ekspansi di kawasan tersebut agar sesuai dengan harapan para investor," ujarnya.
Di sisi lain, untuk melindungi industri tekstil domestik, pemerintah tengah menyiapkan insentif fiskal bagi sektor padat karya pada akhir 2024. Insentif ini tidak hanya untuk sektor hilir, tetapi juga akan memperkuat rantai pasok industri tekstil, termasuk pabrik benang, kain, hingga dyeing dan weaving.
Airlangga menambahkan bahwa pemerintah akan menerapkan Bea Masuk Antidumping (BMAD) dan Bea Masuk Ditanggung Pemerintah (BMDTP) untuk menjaga stabilitas pasar domestik.
Sebagai informasi, BMAD adalah pungutan yang dikenakan pada barang impor yang merugikan produsen lokal, sementara BMDTP adalah bea yang dibayar oleh pemerintah untuk impor bahan baku dalam industri tertentu.
"Kami tengah memproses perpanjangan kebijakan ini agar rantai pasok dalam negeri terlindungi," pungkasnya.