Tolak Anggapan Bahaya BPA sebagai Alat Perang Dagang, Pakar Kesehatan: Ini Soal Keselamatan Masyarakat

Tolak Anggapan Bahaya BPA sebagai Alat Perang Dagang, Pakar Kesehatan: Ini Soal Keselamatan Masyarakat

Selama ini terdapat upaya membelokkan informasi bahaya BPA terhadap kesehatan menjadi isu persaingan usaha. Halaman all

(Kompas.com) 06/11/24 15:07 17577964

KOMPAS.com - Penggunaan bahan kimia dalam berbagai produk semakin mendapat perhatian serius dari para pakar kesehatan.

Salah satunya adalah Bisphenol A (BPA), senyawa yang berbahaya bagi kesehatan manusia jika terpapar dalam jangka panjang. Sejumlah riset internasional pun sudah lama menunjukkan bahaya paparan BPA dalam jangka panjang.

Pada acara Detikcom Leaders Forum yang diadakan di Jakarta Selatan, Rabu (30/10/2024), Sekretaris Jenderal Pengurus Besar Ikatan Dokter Indonesia (PB IDI) yang juga dokter spesialis obstetri dan ginekologi dr Ulul Albab SpOG mengatakan, IDI dan Badan Pengawas Obat dan Makanan (BPOM) perlu meluruskan miskonsepsi tentang masalah BPA.

Pasalnya, selama ini terdapat upaya membelokkan informasi bahaya BPA terhadap kesehatan menjadi isu persaingan usaha.

“Kita tidak bisa membelokkan bahwa masalah BPA cuma sekadar persaingan usaha atau tidak. Fokus IDI dan BPOM sebagai lembaga negara, akademisi, ataupun praktisi adalah melindungi masyarakat Indonesia. Ini jadi alasan utama dari semua alasan yang lain,” ujar dr Ulul.

Dokter Ulul pun menegaskan penolakannya terhadap pihak-pihak yang mengaitkan BPA dengan isu persaingan usaha. Sebab, bahaya paparan BPA merupakan fakta ilmiah. Permasalahan ini juga sudah menjadi perhatian di seluruh dunia, bukan hanya Indonesia.

“Dulu, ketika Covid-19 dan banyak orang meninggal, isunya dibelokkan menjadi macam-macam. Pemahaman baru yang dianggap mengganggu kestabilan biasanya memang akan berhadapan dengan upaya-upaya pembelokan seperti itu,” ucap dr Ulul.

Sebagai lembaga profesi dokter, imbuh dr Ulul, IDI wajib menyampaikan kebenaran. Sekalipun kebenaran itu belum diterima dengan baik, lanjutnya, IDI tetap harus berani menyampaikan keberadaan masalah yang bisa ditimbulkan dari paparan BPA.

Sebab, IDI punya kepedulian untuk memberikan edukasi kepada masyarakat terkait BPA berdasarkan fakta ilmiah.

“Karena sifatnya hormonal destructor, BPA bisa memengaruhi segala hal, baik laki-laki maupun perempuan. Bahkan, laki-laki dan perempuan bisa infertile atau mandul,” jelasnya.

Dukung upaya BPOM

IDI, lanjutnya, mendukung penuh BPOM yang telah mengeluarkan Peraturan BPOM Nomor 6 Tahun 2024 tentang Perubahan Kedua atas Peraturan Badan Pengawas Obat dan Makanan Nomor 31 Tahun 2018 tentang Label Pangan Olahan.

Dalam regulasi tersebut, BPOM meminta pelaku industri untuk memberikan label peringatan bahaya paparan BPA pada galon guna ulang yang terbuat dari plastik polikarbonat.

Meski belum sampai tahap pelarangan, dr Ulul menilai, kebijakan terbaru BPOM tersebut merupakan langkah awal yang baik.

Dokter Ulul melanjutkan, IDI sedari awal sudah membahas dan mendukung pembuatan regulasi soal BPA.

“Pada 11 Agustus 2022, kami telah mengeluarkan pernyataan dukungan untuk pelabelan BPA pada semua kemasan makanan. Sering kali kita concern pada apa yang kita makan, tetapi kita jarang concern dengan bagaimana cara makanan itu dibungkus, dikemas, dan diwadahi. Jadi, masalah BPA bukan hanya terkait air minum, tetapi juga kemasan makanan secara keseluruhan,” terang dr Ulul.

Faktor pemicu migrasi BPA di galon guna ulang

Pada forum yang sama, pakar polimer Universitas Indonesia Prof Dr Mochamad Chalid SSi MSc, Eng turut memaparkan bahasa BPA.

Chalid menjelaskan bahwa proses distribusi dan kemasan polikarbonat sangat memengaruhi pencemaran senyawa BPA dari kemasan polikarbonat ke dalam produk air minum.

"Ibaratnya, polimer seperti untaian kalung. Satu mata rantai dari kalung tersebut di antaranya adalah BPA. Pada saat digunakan itu, sangat mungkin tali tersebut ada yang copot sehingga menimbulkan permasalahan," jelas Chalid.

Chalid pun mengingatkan terkait beberapa faktor yang dapat meningkatkan risiko peluruhan (leaching) BPA dari kemasan polikarbonat ke dalam air minum.

Faktor itu di antaranya adalah paparan sinar matahari selama proses distribusi, suhu tinggi, dan pencucian berulang yang tidak tepat pada kemasan yang digunakan kembali.

Hasil pemeriksaan BPOM pada fasilitas produksi air minum berkemasan polikarbonat periode 2021-2022 menunjukkan adanya pelarutan BPA pada kemasan galon polikarbonat.

Data pemeriksaan BPOM menemukan bahwa kadar BPA yang bermigrasi ke dalam air minum di atas standar BOPM, atau 0,6 ppm, meningkat hingga 4,58 persen.

Sementara, hasil pengujian migrasi BPA dengan kadar 0,05-0,6 ppm juga menunjukkan peningkatan hingga 41,56 persen.

#kesehatan #galon #bpa #bisphenol-a #air-minum-dalam-kemasan

http://money.kompas.com/read/2024/11/06/150700326/tolak-anggapan-bahaya-bpa-sebagai-alat-perang-dagang-pakar-kesehatan--ini-soal