#30 tag 24jam
Tolak Anggapan Bahaya BPA sebagai Alat Perang Dagang, Pakar Kesehatan: Ini Soal Keselamatan Masyarakat
Selama ini terdapat upaya membelokkan informasi bahaya BPA terhadap kesehatan menjadi isu persaingan usaha. Halaman all [737] url asal
#kesehatan #galon #bpa #bisphenol-a #air-minum-dalam-kemasan
(Kompas.com) 06/11/24 15:07
v/17594128/
KOMPAS.com - Penggunaan bahan kimia dalam berbagai produk semakin mendapat perhatian serius dari para pakar kesehatan.
Salah satunya adalah Bisphenol A (BPA), senyawa yang berbahaya bagi kesehatan manusia jika terpapar dalam jangka panjang. Sejumlah riset internasional pun sudah lama menunjukkan bahaya paparan BPA dalam jangka panjang.
Pada acara Detikcom Leaders Forum yang diadakan di Jakarta Selatan, Rabu (30/10/2024), Sekretaris Jenderal Pengurus Besar Ikatan Dokter Indonesia (PB IDI) yang juga dokter spesialis obstetri dan ginekologi dr Ulul Albab SpOG mengatakan, IDI dan Badan Pengawas Obat dan Makanan (BPOM) perlu meluruskan miskonsepsi tentang masalah BPA.
Pasalnya, selama ini terdapat upaya membelokkan informasi bahaya BPA terhadap kesehatan menjadi isu persaingan usaha.
“Kita tidak bisa membelokkan bahwa masalah BPA cuma sekadar persaingan usaha atau tidak. Fokus IDI dan BPOM sebagai lembaga negara, akademisi, ataupun praktisi adalah melindungi masyarakat Indonesia. Ini jadi alasan utama dari semua alasan yang lain,” ujar dr Ulul.
Dokter Ulul pun menegaskan penolakannya terhadap pihak-pihak yang mengaitkan BPA dengan isu persaingan usaha. Sebab, bahaya paparan BPA merupakan fakta ilmiah. Permasalahan ini juga sudah menjadi perhatian di seluruh dunia, bukan hanya Indonesia.
“Dulu, ketika Covid-19 dan banyak orang meninggal, isunya dibelokkan menjadi macam-macam. Pemahaman baru yang dianggap mengganggu kestabilan biasanya memang akan berhadapan dengan upaya-upaya pembelokan seperti itu,” ucap dr Ulul.
Sebagai lembaga profesi dokter, imbuh dr Ulul, IDI wajib menyampaikan kebenaran. Sekalipun kebenaran itu belum diterima dengan baik, lanjutnya, IDI tetap harus berani menyampaikan keberadaan masalah yang bisa ditimbulkan dari paparan BPA.
Sebab, IDI punya kepedulian untuk memberikan edukasi kepada masyarakat terkait BPA berdasarkan fakta ilmiah.
“Karena sifatnya hormonal destructor, BPA bisa memengaruhi segala hal, baik laki-laki maupun perempuan. Bahkan, laki-laki dan perempuan bisa infertile atau mandul,” jelasnya.
Dukung upaya BPOM
IDI, lanjutnya, mendukung penuh BPOM yang telah mengeluarkan Peraturan BPOM Nomor 6 Tahun 2024 tentang Perubahan Kedua atas Peraturan Badan Pengawas Obat dan Makanan Nomor 31 Tahun 2018 tentang Label Pangan Olahan.
Dalam regulasi tersebut, BPOM meminta pelaku industri untuk memberikan label peringatan bahaya paparan BPA pada galon guna ulang yang terbuat dari plastik polikarbonat.
Meski belum sampai tahap pelarangan, dr Ulul menilai, kebijakan terbaru BPOM tersebut merupakan langkah awal yang baik.
Dokter Ulul melanjutkan, IDI sedari awal sudah membahas dan mendukung pembuatan regulasi soal BPA.
“Pada 11 Agustus 2022, kami telah mengeluarkan pernyataan dukungan untuk pelabelan BPA pada semua kemasan makanan. Sering kali kita concern pada apa yang kita makan, tetapi kita jarang concern dengan bagaimana cara makanan itu dibungkus, dikemas, dan diwadahi. Jadi, masalah BPA bukan hanya terkait air minum, tetapi juga kemasan makanan secara keseluruhan,” terang dr Ulul.
Faktor pemicu migrasi BPA di galon guna ulang
Pada forum yang sama, pakar polimer Universitas Indonesia Prof Dr Mochamad Chalid SSi MSc, Eng turut memaparkan bahasa BPA.
Chalid menjelaskan bahwa proses distribusi dan kemasan polikarbonat sangat memengaruhi pencemaran senyawa BPA dari kemasan polikarbonat ke dalam produk air minum.
"Ibaratnya, polimer seperti untaian kalung. Satu mata rantai dari kalung tersebut di antaranya adalah BPA. Pada saat digunakan itu, sangat mungkin tali tersebut ada yang copot sehingga menimbulkan permasalahan," jelas Chalid.
Chalid pun mengingatkan terkait beberapa faktor yang dapat meningkatkan risiko peluruhan (leaching) BPA dari kemasan polikarbonat ke dalam air minum.
Faktor itu di antaranya adalah paparan sinar matahari selama proses distribusi, suhu tinggi, dan pencucian berulang yang tidak tepat pada kemasan yang digunakan kembali.
Hasil pemeriksaan BPOM pada fasilitas produksi air minum berkemasan polikarbonat periode 2021-2022 menunjukkan adanya pelarutan BPA pada kemasan galon polikarbonat.
Data pemeriksaan BPOM menemukan bahwa kadar BPA yang bermigrasi ke dalam air minum di atas standar BOPM, atau 0,6 ppm, meningkat hingga 4,58 persen.
Sementara, hasil pengujian migrasi BPA dengan kadar 0,05-0,6 ppm juga menunjukkan peningkatan hingga 41,56 persen.
Tolak Anggapan Bahaya BPA sebagai Alat Perang Dagang, Pakar Kesehatan: Ini Soal Keselamatan Masyarakat
Selama ini terdapat upaya membelokkan informasi bahaya BPA terhadap kesehatan menjadi isu persaingan usaha. Halaman all [737] url asal
#kesehatan #galon #bpa #bisphenol-a #air-minum-dalam-kemasan
(Kompas.com) 06/11/24 15:07
v/17577964/
KOMPAS.com - Penggunaan bahan kimia dalam berbagai produk semakin mendapat perhatian serius dari para pakar kesehatan.
Salah satunya adalah Bisphenol A (BPA), senyawa yang berbahaya bagi kesehatan manusia jika terpapar dalam jangka panjang. Sejumlah riset internasional pun sudah lama menunjukkan bahaya paparan BPA dalam jangka panjang.
Pada acara Detikcom Leaders Forum yang diadakan di Jakarta Selatan, Rabu (30/10/2024), Sekretaris Jenderal Pengurus Besar Ikatan Dokter Indonesia (PB IDI) yang juga dokter spesialis obstetri dan ginekologi dr Ulul Albab SpOG mengatakan, IDI dan Badan Pengawas Obat dan Makanan (BPOM) perlu meluruskan miskonsepsi tentang masalah BPA.
Pasalnya, selama ini terdapat upaya membelokkan informasi bahaya BPA terhadap kesehatan menjadi isu persaingan usaha.
“Kita tidak bisa membelokkan bahwa masalah BPA cuma sekadar persaingan usaha atau tidak. Fokus IDI dan BPOM sebagai lembaga negara, akademisi, ataupun praktisi adalah melindungi masyarakat Indonesia. Ini jadi alasan utama dari semua alasan yang lain,” ujar dr Ulul.
Dokter Ulul pun menegaskan penolakannya terhadap pihak-pihak yang mengaitkan BPA dengan isu persaingan usaha. Sebab, bahaya paparan BPA merupakan fakta ilmiah. Permasalahan ini juga sudah menjadi perhatian di seluruh dunia, bukan hanya Indonesia.
“Dulu, ketika Covid-19 dan banyak orang meninggal, isunya dibelokkan menjadi macam-macam. Pemahaman baru yang dianggap mengganggu kestabilan biasanya memang akan berhadapan dengan upaya-upaya pembelokan seperti itu,” ucap dr Ulul.
Sebagai lembaga profesi dokter, imbuh dr Ulul, IDI wajib menyampaikan kebenaran. Sekalipun kebenaran itu belum diterima dengan baik, lanjutnya, IDI tetap harus berani menyampaikan keberadaan masalah yang bisa ditimbulkan dari paparan BPA.
Sebab, IDI punya kepedulian untuk memberikan edukasi kepada masyarakat terkait BPA berdasarkan fakta ilmiah.
“Karena sifatnya hormonal destructor, BPA bisa memengaruhi segala hal, baik laki-laki maupun perempuan. Bahkan, laki-laki dan perempuan bisa infertile atau mandul,” jelasnya.
Dukung upaya BPOM
IDI, lanjutnya, mendukung penuh BPOM yang telah mengeluarkan Peraturan BPOM Nomor 6 Tahun 2024 tentang Perubahan Kedua atas Peraturan Badan Pengawas Obat dan Makanan Nomor 31 Tahun 2018 tentang Label Pangan Olahan.
Dalam regulasi tersebut, BPOM meminta pelaku industri untuk memberikan label peringatan bahaya paparan BPA pada galon guna ulang yang terbuat dari plastik polikarbonat.
Meski belum sampai tahap pelarangan, dr Ulul menilai, kebijakan terbaru BPOM tersebut merupakan langkah awal yang baik.
Dokter Ulul melanjutkan, IDI sedari awal sudah membahas dan mendukung pembuatan regulasi soal BPA.
“Pada 11 Agustus 2022, kami telah mengeluarkan pernyataan dukungan untuk pelabelan BPA pada semua kemasan makanan. Sering kali kita concern pada apa yang kita makan, tetapi kita jarang concern dengan bagaimana cara makanan itu dibungkus, dikemas, dan diwadahi. Jadi, masalah BPA bukan hanya terkait air minum, tetapi juga kemasan makanan secara keseluruhan,” terang dr Ulul.
Faktor pemicu migrasi BPA di galon guna ulang
Pada forum yang sama, pakar polimer Universitas Indonesia Prof Dr Mochamad Chalid SSi MSc, Eng turut memaparkan bahasa BPA.
Chalid menjelaskan bahwa proses distribusi dan kemasan polikarbonat sangat memengaruhi pencemaran senyawa BPA dari kemasan polikarbonat ke dalam produk air minum.
"Ibaratnya, polimer seperti untaian kalung. Satu mata rantai dari kalung tersebut di antaranya adalah BPA. Pada saat digunakan itu, sangat mungkin tali tersebut ada yang copot sehingga menimbulkan permasalahan," jelas Chalid.
Chalid pun mengingatkan terkait beberapa faktor yang dapat meningkatkan risiko peluruhan (leaching) BPA dari kemasan polikarbonat ke dalam air minum.
Faktor itu di antaranya adalah paparan sinar matahari selama proses distribusi, suhu tinggi, dan pencucian berulang yang tidak tepat pada kemasan yang digunakan kembali.
Hasil pemeriksaan BPOM pada fasilitas produksi air minum berkemasan polikarbonat periode 2021-2022 menunjukkan adanya pelarutan BPA pada kemasan galon polikarbonat.
Data pemeriksaan BPOM menemukan bahwa kadar BPA yang bermigrasi ke dalam air minum di atas standar BOPM, atau 0,6 ppm, meningkat hingga 4,58 persen.
Sementara, hasil pengujian migrasi BPA dengan kadar 0,05-0,6 ppm juga menunjukkan peningkatan hingga 41,56 persen.
Galon Polikarbonat, Kemasan Legendaris yang Aman & Ramah Lingkungan
Galon yang sering digunakan untuk air minum ini menawarkan alternatif ramah lingkungan dibandingkan dengan galon sekali pakai. [792] url asal
(detikFinance - Ekonomi dan Bisnis) 11/09/24 21:55
v/14964567/
Jakarta - Dalam upaya global untuk mengurangi sampah plastik, penggunaan galon polikarbonat menjadi salah satu solusi efektif. Galon yang sering digunakan untuk air minum ini menawarkan alternatif ramah lingkungan dibandingkan dengan galon sekali pakai.
Mulai dari hulu, pembuatan galon polikarbonat hanya 1 kali menggunakan plastik virgin karena setelahnya bisa dipakai ulang. Berbeda dengan kemasan sekali pakai yang terus menggunakan plastik virgin untuk membuat galon baru.
Mengutip laman aliansi zero waste, organisasi nirlaba yang bergerak dalam bidang lingkungan, proses ekstraksi atau pemurnian hingga produksi pelet plastik sebelum dibentuk sesuai kebutuhan membutuhkan energi yang besar. Hal ini tentu menghasilkan emisi karbon yang besar pula.
Proses pencetakan plastik ini membutuhkan suhu tinggi dari pembakaran batu bara dengan emisi karbon sebesar 535 Juta Metric Ton CO2. Dalam skala dunia, produksi pelet plastik ini menghasilkan 1.781 Million Metric Ton CO2 jejak karbon.
Permintaan produksi plastik saat ini meningkat hingga empat kali lipat dalam empat dekade terakhir. Artinya, jika permintaan plastik terus tumbuh secara konsisten sebesar 4% per tahun, emisi dari produksi plastik akan mencapai 15% dari emisi global pada 2050 mendatang. Bisa dibayangkan bagaimana banyaknya CO2 yang akan memenuhi bumi di masa depan!
"Ada sekitar 4.152 ton plastik virgin yang bisa kita hindarkan oleh karena adanya galon guna ulang," kata Kepala Klaster Kajian Pembangunan Berkelanjutan Daya Makara Universitas Indonesia (DMUI) Bisuk Abraham Sisungkunon dalam keterangan tertulis, Rabu (11/9/2024).
Selama pemakaian, galon polikarbonat juga lebih awet dan tahan lama. Ini berarti galon tersebut bisa bertahan bertahun-tahun jika dirawat dengan baik. Air yang berada di dalamnya juga bersih dan tidak terpapar zat kimia berbahaya bagi kesehatan.
Volume galon polikarbonat adalah 19 liter air, jumlahnya lebih banyak dibanding galon sekali pakai yang berisi 15 liter. Volume air dari galon ini pada akhirnya juga lebih efektif dalam mengurangi sampah plastik.
Menurut data dari Asosiasi Daur Ulang Plastik Internasional (APR), setiap galon polikarbonat yang digunakan ulang dapat menggantikan penggunaan hingga 100 galon plastik sekali pakai. Hal ini secara signifikan mampu mengurangi volume sampah.
"Galon guna ulang bisa mengurangi sampah kemasan sekali pakai hingga 316 ton setiap tahun," tambah Bisuk.
Sedangkan di hilir, galon polikarbonat yang mengalami kerusakan atau sudah 50 kali dipakai ulang akan didaur ulang untuk menghasilkan galon baru. Ini jelas mengurangi dampak limbah plastik di tempat pembuangan akhir. Proses daur ulang polikarbonat juga memiliki jejak karbon yang lebih rendah dibandingkan dengan pembuatan plastik baru.
Tanggung jawab produsen yang menggunakan galon polikarbonat juga lebih nampak terlihat. Pasalnya, mereka 100 persen mengambil hasil produksi galon masing-masing secara terstruktur sehingga terpantau jelas.
Berbeda dengan galon sekali pakai yang hasil penarikan produknya diserahkan kepada masyarakat. Artinya, apabila masyarakat kurang sadar akan lingkungan, maka akan memberikan dampak bagi kehidupan mereka.
Penggunaan galon sekali pakai menghasilkan volume sampah plastik yang sangat besar. Plastik membutuhkan waktu ratusan tahun untuk terurai dan sering kali mencemari lingkungan. Proses produksi dan pembuangan galon sekali pakai dapat melepaskan mikroplastik ke lingkungan yang berbahaya bagi ekosistem laut dan kesehatan manusia.
Menurut data Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan (KLHK) tahun 2021, produksi sampah di Indonesia mencapai 68,5 juta ton. Dari angka tersebut, sebesar 11,6 juta ton atau sekitar 17% disumbang oleh sampah plastik.
Sedangkan dalam laporan terbaru dari United Nations Environment Programme (UNEP) tahun 2023, total sampah plastik yang dihasilkan secara global mencapai 500 juta ton per tahun. Dari jumlah tersebut, sekitar 50% adalah plastik sekali pakai yang kerap berakhir di tempat pembuangan akhir atau mencemari lingkungan.
"Jadi dari aspek lingkungan, kemasan galon polikarbonat lebih unggul karena lebih ramah lingkungan. Kemasan galon polikarbonat memiliki guna ulang yang lebih panjang dibandingkan galon lainnya," ungkap Dosen dan peneliti di Departemen Ilmu dan Teknologi Pangan dan SEAFAST Center IPB, Nugraha Edhi Suyatma.
Pilihan antara galon polikarbonat dan galon sekali pakai bukan hanya soal kenyamanan, tetapi juga tentang tanggung jawab terhadap lingkungan. Dengan memilih galon polikarbonat, Anda dapat turut berkontribusi dalam mengurangi sampah plastik, menjaga kualitas air, dan menciptakan lingkungan yang lebih bersih bagi generasi mendatang.
(ncm/ega)
Ancaman BPA Nyata, Industri Wajib Patuhi Aturan 'Pelabelan BPA' BPOM
Pelaku usaha dinilai perlu mendukung pelaksanaan regulasi pelabelan BPA yang saat ini telah khusus diberlakukan pada galon isi ulang [514] url asal
#bpa #galon-isi-ulang #industri
(detikFinance - Industri) 10/09/24 09:00
v/14982922/
Jakarta - Paparan senyawa kimia Bisfenol A (BPA) yang bersumber bahan kemasan pangan, semisal pada botol dan peralatan makan bayi, galon air minum dan makanan kaleng, menghadirkan risiko kesehatan yang tak terbantahkan pada kesehatan masyarakat.
Oleh karena itu, semua pihak, utamanya pelaku usaha, perlu mendukung pelaksanaan regulasi pelabelan BPA yang saat ini telah khusus diberlakukan pada galon isi ulang berbahan plastik polikarbonat, jenis plastik keras pada umumnya galon air minum bermerek.
"Saya kira polemik seputar risiko BPA dan pelabelannya tak perlu lagi diteruskan. Ini karena pemerintah telah mengeluarkan kebijakan terobosan berupa pencantuman label peringatan risiko BPA pada kemasan pangan," kata pendiri lembaga riset dan promosi kesehatan di Jakarta, MedicarePro Asia dr Dien Kurtanty, dalam keterangan tertulis, Senin (9/9/2024).
Hal tersebut disampaikan dr Dien dalam acara seminar 'BPA Free: Perilaku Sehat, Reproduksi Sehat, Keluarga Sehat' di Jakarta Selatan, Rabu (5/9).
Pada 5 April 2024, Badan Pengawas Obat dan Makanan (BPOM) mengesahkan peraturan yang mewajibkan produsen air minum yang menggunakan kemasan polikarbonat, jenis plastik keras dengan kode daur ulang '7', menerakan label peringatan berbunyi: 'Dalam kondisi tertentu, kemasan polikarbonat dapat melepaskan BPA pada air minum dalam kemasan'.
Kerap digunakan sebagai bahan baku produksi plastik polikarbonat dan zat kimia resin epoksi, BPA dapat berpindah (bermigrasi) dari kemasan ke produk pangan dan terkonsumsi oleh masyarakat.
Menurut dr Dien, poin penting dari pelabelan tersebut adalah pemerintah menaruh perhatian serius pada perlindungan konsumen.
"Uji toksikologi di berbagai negara menunjukkan BPA membawa risiko tersendiri terhadap perkembangan dan kesehatan tubuh, bisa memicu berbagai penyakit jika terpapar secara akumulatif selama bertahun-tahun sehingga para pelaku usaha, kalangan ahli dan peneliti diharapkan untuk memberikan informasi yang jujur dan transparan kepada konsumen terkait risiko BPA," kata dr Dien.
Dalam seminar yang sama, Ketua Perhimpunan Keluarga Berencana Indonesia (PKBI) Provinsi Bali, dr Oka Negara, menilai regulasi BPOM tentang pelabelan BPA sebagai langkah terobosan dalam perlindungan kesehatan masyarakat.
"Konsumen berhak untuk mendapatkan informasi yang jelas atas produk yang dijual di pasaran, utamanya pada yang telah mengantongi izin edar BPOM. Dengan adanya pelabelan, konsumen bisa mengenal dan mewaspadai risiko paparan BPA pada kesehatan," kata dr Oka.
Paparan BPA, menurut dr Oka, bisa memicu gangguan keseimbangan hormon dalam tubuh, terutama berkaitan dengan kesehatan reproduksi termasuk risiko pubertas dini dan gangguan menstruasi pada perempuan.
"BPA itu risikonya akumulatif, tidak terjadi dalam jangka pendek, tetapi jika terpapar/migrasi di tubuh secara terus menerus. Oleh karena itu, jika ingin menuju negara sehat, maka kemasan pangan yang bebas BPA (BPA Free) harus menjadi prioritas," tandas dr. Oka.
Foto: Dok. Istimewa |
Dalam kesempatan yang sama, Direktorat Standardisasi Pangan Olahan BPOM Yeni Restiani, menjelaskan kebijakan pelabelan BPA saat ini hanya khusus berlaku pada galon isi ulang bermerek yang menggunakan kemasan plastik polikarbonat.
"Sejak 5 April 2024, semua Air Minum Dalam Kemasan (AMDK) yang beredar di Indonesia wajib mengikuti ketentuan dalam Peraturan BPOM No. 6 Tahun 2024," katanya merujuk pada regulasi Label Pangan Olahan.
Dia menegaskan pemerintah mendorong produsen air minum bermerek untuk ikut berkontribusi dalam mencerdaskan konsumen dengan menyediakan informasi yang valid terkait risiko BPA.
Simak Video: BPOM Kini Wajibkan Pelabelan BPA di Air Kemasan Galon
BPOM Ungkap 7 Penyakit yang Dipicu Paparan BPA - kumparan.com
BPA merupakan bahan kimia industri untuk pembuatan plastik dan resin, yang umumnya ditemui dalam galon guna ulang dengan bahan polikarbonat. [503] url asal
#galon #bpom #kesehatan #penyakit
(Kumparan.com - Tekno & Sains) 19/08/24 20:00
v/14519247/
Pelaksana Tugas Deputi Bidang Pengawasan Pangan Olahan Badan Pengawas Obat dan Makanan (BPOM), Ema Setyawati, menyebut ada tujuh penyakit yang berkorelasi dengan risiko kontaminasi senyawa kimia Bisfenol A (BPA) pada galon guna ulang.
Ema merinci ketujuh penyakit tersebut, termasuk gangguan sistem reproduksi baik pria maupun wanita, diabetes, obesitas, gangguan sistem kardiovaskuler, gangguan ginjal, kanker, gangguan perkembangan kesehatan mental, hingga Autism Spectrum Disorder (ASD) pada anak.
"Beberapa penelitian menunjukkan bahwa ada risiko kesehatan yang ditimbulkan akibat paparan BPA melalui mekanisme endocrine disruptor, khususnya hormon estrogen," kata Ema.
Sambung Ema, pemerintah telah mengantisipasi dampak kesehatan tersebut dengan mengeluarkan kebijakan pelabelan BPA.
"Berdasarkan risiko kesehatan, jumlah konsumsi, dan data produk beredar, BPOM memandang perlu untuk segera melakukan pengaturan label Air Minum Dalam Kemasan," jelasnya.
Pada 5 April 2024 lalu, BPOM mengesahkan penambahan dua pasal baru pada peraturan tentang Label Pangan Olahan, yakni kewajiban pencantuman label cara penyimpanan air minum kemasan yang tercantum di Pasal 48A. Selanjutnya, kewajiban pencantuman label peringatan risiko BPA pada semua galon air minum bermerek yang menggunakan kemasan polikarbonat yang dijabarkan di Pasal 61A.
Ema menegaskan, nantinya saat masa tenggang penerapan aturan tersebut yang berakhir pada 2028, produsen yang menggunakan kemasan polikarbonat wajib menerapkan label peringatan "Dalam kondisi tertentu, kemasan polikarbonat dapat melepaskan BPA pada air minum dalam kemasan".
Saat ini, mayoritas kemasan galon yang beredar di masyarakat berbahan polikarbonat, jenis plastik keras yang pembuatannya menggunakan BPA sebagai bahan baku. Galon dengan kemasan plastik polikarbonat tersebut juga umumnya didistribusikan dengan metode guna ulang, yakni metode dibersihkan di pabrik sebelum diisi dan dipasarkan kembali.
Kontaminasi BPA berpotensi terjadi bila proses pencucian dan distribusi galon yang tidak tepat. Contohnya, saat produsen menyemprot galon bekas dengan suhu terlalu tinggi, menggunakan deterjen atau menggosok bagian dalam galon hingga tergores, serta membiarkan galon terpapar sinar matahari langsung dalam waktu yang lama saat pengantaran ke konsumen.
"Penggunaan berulang dari kemasan galon tersebut dapat berpotensi terjadinya migrasi/pelepasan BPA," kata Ema.
Hal senada diungkap oleh peneliti polimer dari Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN), Dr. Akbar Hanif Dawam Abdullah. Menurut Akbar, meskipun kemasan terbuat dari polimer polikarbonat yang kuat dan tahan panas, tetap ada potensi migrasi BPA dari kemasan ke air minum.
"Selama bahan kemasan dibuat dari polimer polikarbonat, potensi migrasi BPA dipastikan tetap ada. BPA bisa masuk ke dalam tubuh dan mengganggu fungsi kerja hormon," katanya.
Pakar epidemiologi Universitas Indonesia, Pandu Riono, pun menyatakan BPA sejak lama telah diklasifikasikan sebagai bahan kimia pengganggu endokrin, sistem kekebalan dalam tubuh. Menurutnya, BPA bisa memunculkan efek kesehatan pada semua lapisan kalangan umur, termasuk atas janin pada periode prenatal.
"Industri yang menggunakan wadah produk makanan dan minuman dari plastik yang mengandung BPA diminta untuk beralih ke wadah yang lebih aman dan bebas BPA," pungkasnya.
Oleh karena itu, menurut Ema, monitoring mandiri secara berkala terhadap persyaratan keamanan dan kemasan pangan, serta menerapkan cara produksi pangan olahan yang baik (CPPOB), perlu dilakukan secara konsisten.
Hal ini sebagai tindakan dari hasil riset komprehensif BPOM kurun 2021-2022, yang mendapati peluruhan BPA menunjukkan kecenderungan yang mengkhawatirkan. Lima provinsi tercatat memiliki angka migrasi BPA melampaui ambang batas aman.
Pelaku Usaha Depot Air Minum Minta Produsen Buktikan Galon Polikarbonat
Pelaku usaha yang tergabung dalam Asosiasi Depot Air Minum (Asdamindo) meminta produsen air minum galon sekali pakai (GSP) yang terkesan memojokkan galon Polikarbonat... | Halaman Lengkap [386] url asal
#galon-isi-ulang #galon-sekali-pakai #berita-bisnis
(SINDOnews Ekbis - Terkini) 14/08/24 10:40
v/14429522/
JAKARTA - Para pelaku usaha yang tergabung dalam Asosiasi Depot Air Minum (Asdamindo) meminta produsen air minum galon sekali pakai (GSP) yang terkesan memojokkan galon Polikarbonat (PC) dalam iklannya agar membuktikan kebenarannya.?Kita ingin buktinya di mana tempatnya yang bisa seperti itu, galonnya dimasuki kecoak. Ilustrasi yang dibuat dalam iklan itu sangat menghina dan menyudutkan kita para pelaku usaha depot air minum yang sangat tergantung pada galon Polikarbonat,? ujar Ketua Umum Asdamindo, Erik Garnadi kepada media baru-baru ini.
Dia melihat, iklan yang dibuat produsen GSP itu hanya memberikan gambaran bahwa mereka sebenarnya mengalami ketakutan kalah bersaing dari segi penjualan dengan para pengusaha depot air minum. ?Dengan adanya iklan tersebut, kita melihat jelas sepertinya mereka pada ketakutan dan kalah dalam segi penjualan oleh UMKM yaitu depot air minum,? tukasnya.
Terkait soal kebersihan dan kesehatan galon, Erik malah mengkritisi produsen GSP yang tidak mengawasi penggunaan galonnya yang juga sering digunakan masyarakat saat membeli air minum isi ulang di depot-depot. ?Itu kan membuktikan galon sekali pakai pun masih banyak yang tidak ditarik dan malah diisi ulang di tempat pengisian depot air minum. Saya kira itu jauh lebih berbahaya bagi kesehatan masyarakat konsumen,? ucapnya.
Seharusnya kata Erik, di antara para pelaku usaha air minum itu melakukan persaingan secara sehat saja dan jangan saling menyudutkan. ?Seharusnya saling membantu terkait pelaksanaan dan pengawasannya. Kalau ada yang tidak berkenan lebih baik duduk bersama dan jangan mendiskriminatifkan produk yang lain seperti yang dilakukan GSP itu,? katanya.
Salah satu pelaku usaha depot air minum Willy Chandra, juga menilai iklan produsen GSP itu sangat mendiskreditkan para pelaku usaha yang menggunakan galon Polikarbonat. ?Cara promosinya terkesan tidak memiliki etika berbisnis yang sehat. Tapi, masyarakat kita kan tidak bodoh, pasti bisa menilai bahwa iklan itu hanya untuk persaingan usaha saja,? tuturnya.
Iklan GSP itu dinilai terkesan ada unsur persaingan usahanya adalah menggunakan galon Polikarbonat yang tidak bermerek. Secara kenyataan di lapangan, menurut Willy, sangat jarang galon-galon yang tidak bermerek digunakan masyarakat saat membeli air minum isi ulang di depot-depot.
?Kebanyakan yang digunakan itu adalah galon-galon bermerk. Mereka mungkin takut disomasi jika menggunakan ilustrasi galon bermerk, apalagi ilustrasinya itu tidak benar,? ujarnya.
Willy melihat apa yang dilakukan produsen GSP dengan iklannya itu hanya wujud dari keserakahan bisnis yang menghalalkan segala cara. ?Masyarakat pasti tahulah bahwa itu hanya untuk mendiskreditkan pelaku usaha yang lain,? tandasnya.
Galon Guna Ulang Rawan Kontaminasi BPA, BPOM Janjikan Sosialisasi Pelabelan
BPA bisa masuk ke dalam tubuh dan mengganggu fungsi kerja hormon. [641] url asal
#bpa #galon #bpom #asd #galon-bekas
(Republika - News) 08/08/24 06:50
v/13744701/
REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA -- Mayoritas kemasan galon air minum yang digunakan masyarakat rawan terkontaminasi senyawa kimia Bisfenol A atau BPA. Hal ini disampaikan Pelaksana Tugas Deputi Bidang Pengawasan Pangan Olahan Badan Pengawas Obat dan Makanan (BPOM), Ema Setyawati, yang menjelaskan latar peraturan anyar pelabelan bahaya BPA pada galon air minum bermerek.
"Pengaturan dalam rangka melindungi masyarakat," kata Ema dalam keterangan yang diterima Republika.
Pada 5 April 2024, BPOM mengesahkan penambahan dua pasal baru pada peraturan tentang Label Pangan Olahan. Diantaranya kewajiban pencantuman label cara penyimpanan air minum kemasan (Pasal 48a) dan kewajiban pencantuman label peringatan risiko BPA pada semua galon air minum bermerek yang menggunakan kemasan polikarbonat (Pasal 61A).
Nantinya, saat masa tenggang (grace periode) penerapan aturan tersebut berakhir pada 2028, produsen yang menggunakan kemasan polikarbonat, jenis galon berplastik keras yang paling jamak di pasar, wajib menerakan peringatan: "Dalam kondisi tertentu, kemasan polikarbonat dapat melepaskan BPA pada air minum dalam kemasan".
Ema menyebut sejumlah penyakit yang berkorelasi dengan kontaminasi BPA pada tubuh. Termasuk gangguan sistem reproduksi baik pria maupun wanita, diabetes dan obesitas, gangguan sistem kardiovaskular, gangguan ginjal, kanker, gangguan perkembangan kesehatan mental dan Autism Spectrum Disorder (ASD) pada anak.
Menurutnya, galon berbahan polikarbonat umumnya didistribusikan dengan sistem ‘guna ulang’, dimana produsen rutin menarik kembali galon kosong untuk dibersihkan di pabrik sebelum diisi dan dipasarkan kembali. Kontaminasi BPA pada galon guna ulang, demikian sebutan populernya, berpotensi terjadi bila proses pencucian dan distribusi galon "tidak tepat".
Misalnya saat produsen menyemprot galon bekas dengan suhu tinggi, menggunakan deterjen atau menggosok bagian dalam galon hingga tergores serta membiarkan galon terpapar sinar matahari langsung dalam waktu yang lama saat pengantaran ke konsumen.
"Penggunaan berulang dari kemasan galon tersebut dapat berpotensi terjadinya migrasi/pelepasan BPA," katanya.
Karenanya, Ema mendesak industri melakukan "monitoring mandiri secara berkala" terhadap persyaratan keamanan dan kemasan pangan dan menerapkan cara produksi pangan olahan yang baik (CPPOB) secara konsisten. Termasuk monitoring pengendalian proses, bahan baku dan kemasan.
Dalam peraturan Label Pangan Olahan, BPOM mewajibkan produsen galon bermerek mematuhi ambang batas aman migrasi BPA dari kemasan polikarbonat sebesar 0,6 mg/kg. Riset komprehensif BPOM kurun 2021-2022 mendapati peluruhan BPA pada galon air minum dengan kemasan plastik polikarbonat menunjukkan kecenderungan yang mengkhawatirkan, dengan lima provinsi tercatat memiliki angka migrasi BPA melampaui ambang batas aman.
Bahaya BPA Semakin Tinggi
Menurut Ema, otoritas keamanan dan mutu pangan di berbagai negara telah memperketat batas aman paparan BPA. Dia mencontohkan European Food Safety Authority pada April 2023 menetapkan nilai Tolerable Daily Intake (TDI) untuk BPA 20.000 kali lebih rendah, menjadi 0,002 mikrogram/kilogram berat badan/hari dari sebelumnya 4 mikrogram/kilogram berat badan/hari.
"Hal ini menunjukan tingkat risiko bahaya BPA yang semakin tinggi," katanya.
Lebih jauh, Ema menyebut kebijakan pelabelan BPA berlatar keinginan pemerintah melindungi kesehatan publik. Dikonsumsi seluruh kelompok usia, volume produksi air galon per tahunnya tercatat mencapai 21 miliar liter dengan total konsumen sebanyak 50,2 juta orang, atau 18% dari populasi Indonesia tahun 2020. "Berdasarkan risiko kesehatan, jumlah konsumsi, dan data produk beredar, BPOM memandang perlu untuk segera melakukan pengaturan label AMDK," pungkasnya.
BPOM sendiri berjanji mensosialisasikan peraturan anyar pelabelan bahaya kontaminasi senyawa kimia Bisfenol A (BPA) pada galon guna ulang. Ema mengatakan sesuai dengan praktek regulasi yang baik, setiap penerbitan kebijakan baru akan diikuti dengan proses sosialisasi kepada seluruh pemangku kepentingan.
"BPOM akan mendorong pelaku usaha untuk meningkatkan keamanan dan mutu Air Minum Dalam Kemasan melalui pemenuhan ketentuan pelabelan dan komitmen untuk melakukan penanganan galon yang baik di sarana produksi dan distribusi," katanya.
Hal senada diungkap sebelumnya oleh peneliti polimer dari Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN), Dr. Akbar Hanif Dawam Abdullah. Menurut Akbar, meskipun penggunaan BPA pada galon polikarbonat menjadikan galon kuat dan tahan panas, tetap ada potensi migrasi BPA dari kemasan ke air minum.
"Selama bahan kemasan dibuat dari polimer polikarbonat, potensi migrasi BPA dipastikan tetap ada. BPA bisa masuk ke dalam tubuh dan mengganggu fungsi kerja hormon," katanya.
Aqua Tegaskan Produknya Memenuhi Standar Keamanan Pangan
Aqua Galon Guna Ulang PETditerima dengan baik oleh masyarakat secara berdampingan dengan produk Aqua lain yang telah lebih dahulu - Halaman all [588] url asal
#berita-terkini #berita-hari-ini #aqua #air-minum-dalam-kemasan #galon #pet #berita-ekonomi-terkini
(InvestorID) 07/08/24 17:44
v/13672314/
JAKARTA, investor.id - Sebagai pionir air minum dalam kemasan (AMDK) yang telah beroperasi di Indonesia lebih dari 50 tahun, Aqua menegaskan bahwa produk yang dihasilkannya memenuhi standar keamanan pangan sesuai dengan ketetapan pemerintah.
Sejak 2019, Aqua telah menghadirkan produk kemasan Galon Guna Ulang berbahan polyethylene terephthalate (PET), yang dipasarkan terbatas di area Bali dan Sulawesi Utara. Pada 2024, Aqua Galon Guna Ulang PET mulai didistribusikan lebih luas secara bertahap ke wilayah Jakarta dan Jawa Barat.
Sebelum kehadiran Aqua Galon Guna Ulang PET, masyarakat telah akrab terlebih dahulu dengan produk Aqua dalam kemasan Galon Guna Ulang berbahan polycarbonate (PC). Kedua produk Aqua Galon Guna Ulang, baik PET dan PC, memiliki standar keamanan pangan tinggi. Sejak diperkenalkan varian kemasan baru di Bali dan Manado pada 2019 lalu, Aqua Galon Guna Ulang PET ternyata diterima dengan baik oleh masyarakat secara berdampingan dengan produk Aqua lain yang telah lebih dahulu beredar.
Terkait dengan hal tersebut, pada Rabu (31/7), Aqua menerima kunjungan dari Kementerian Perdagangan, Kementerian Perindustrian, serta Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan untuk melihat langsung proses produksi Aqua kemasan Galon Guna Ulang PET di Pabrik Aqua di Mambal, Bali dan melihat kesiapan pengelolaan sampah plastik di Recycle Business Unit (RBU) Bali PET Center di Denpasar, serta melihat respons pasar terhadap penjualan produk tersebut di Bali.
Pada kesempatan ini, Rinaldi Agung Adnyana, Direktur Pengawasan Barang Beredar dan Jasa, Kementerian Perdagangan, yang diwakili oleh Ezra Bintang Tumpal , Ketua Tim Pengawasan dan Penindakan Produk Pertanian, Kimia dan Aneka, Kementerian Perdagangan, mengapresiasi Aqua yang senantiasa mengedepankan quality control terhadap keamanan dan higienitas yang berstandar tinggi, demi kepentingan masyarakat dan konsumen.
“Kami juga mendukung inovasi Galon Guna Ulang PET yang dilakukan Aqua karena bagi kami, kenyamanan dan keamanan untuk konsumen itu penting. Harapannya, inovasi seperti ini bisa terus ditingkatkan. Kami menyaksikan sendiri proses produksi Aqua sudah berjalan sangat baik dan tetap mempertahankan quality control-nya,” ujarnya.
Arief Santoso, Packaging Development Director Aqua, menyampaikan, pihaknya merasa terhormat mendapat kunjungan dari beberapa perwakilan pemerintah kali ini. Sebagai pionir industri AMDK, Aqua menghadirkan produk kemasan Galon Guna Ulang PET untuk menjawab kebutuhan dan preferensi konsumen terhadap kemasan galon yang lebih jernih, sehingga dapat melihat produk air di dalamnya dengan lebih jelas.
“Aqua kemasan Galon Guna Ulang PET aman digunakan ulang sama halnya dengan Galon Guna Ulang PC kami. Kami senantiasa menjaga keamanan, kualitas, dan kebersihan Galon Guna Ulang PET Aqua melalui proses produksi dan sanitasi yang terintegrasi dan berstandar kualitas dan keamanan tinggi sesuai dengan regulasi yang berlaku, seperti SNI dan BPOM. Karena itu, kami menyarankan pengisian kembali air di dalamnya dilakukan hanya di pabrik Aqua dan kami tidak membenarkan AQUA Galon Guna Ulang PET digunakan ulang di luar pabrik kami.” tegas Arief.
Dalam rangkaian kunjungan perwakilan pemerintah di Bali ini, rombongan juga mengunjungi salah satu pelaku Aqua Home Service (AHS), di Denpasar. AHS merupakan program kemitraan antara Aqua dengan pelaku UMKM yang berfokus pada pengembangan ekonomi rumah tangga.
Krisna, Pemilik AHS Tirta Sari di Denpasar, Bali, menyampaikan, sejauh ini penerimaan konsumen dan masyarakat terhadap Aqua Galon Guna Ulang PET sangat baik. “Sama seperti Galon Guna Ulang PC yang telah ada sebelumnya, kemasan Aqua galon baru ini juga kokoh, sehingga kami tidak perlu khawatir saat mengantarkannya kepada pelanggan dengan sepeda motor. Namun, yang terutama adalah, kemasan ini tetap ramah lingkungan karena dapat digunakan ulang. Tentunya ini sangat penting bagi masyarakat di Bali yang sudah mulai sadar akan perlunya menggunakan produk dan brand yang memperhatikan keberlanjutan,” tambahnya.
Editor: Euis Rita Hartati (euis_somadi@yahoo.com)
Follow Channel Telegram Official kami untuk update artikel-artikel investor.id
Baca Berita Lainnya di Google News
Galon Polikarbonat Disebut Aman Digunakan dan Ramah Lingkungan
Galon polikarbonat (PC) dipastikan masih aman digunakan. Halaman all [371] url asal
#galon #galon-isi-ulang #galon-polikarbonat
(Kompas.com) 07/08/24 11:13
v/13636568/
JAKARTA, KOMPAS.com -Galon polikarbonat (PC) dipastikan masih aman digunakan. Pakar polimer Institut Teknologi Bandung (ITB) Ahmad Zainal Abidin meminta agar masyarakat Indonesia tidak perlu khawatir mengonsumsi air dari galon isi ulang.
"Air minum dalam galon guna ulang berbahan PC aman untuk dikonsumsi," kata Zainal.
Dijelaskannya, bahwa hasil penelitian menunjukkan bahwa tidak ada satu sampel pun dari galon guna ulang yang diteliti itu mengandung BPA di atas ketentuan maksimum sehingga bisa membahayakan kesehatan manusia.
FREEPIK/DC STUDIO Ilustrasi dispenser air, galon guna ulang.Hal ini dia sampaikan menyusul aturan Badan Pengawas Obat dan Makanan (BPOM) yang meminta produsen memberikan label potensi mengandung BPA pada galon kemasan PC.
Zainal mengatakan bahwa tidak hanya BPA, namun semua zat-zat prekursor seperti ethylene glycol (EG) dan diethylene glycol (DEG) yang digunakan untuk membuat kemasan PET atau galon sekali pakai seperti memiliki bahaya serupa.
"Karenanya, kemasan-kemasan itu perlu diawasi secara berkala oleh BPOM," katanya dalam keterangan, Selasa (6/8/2024).
BPOM telah mengeluarkan Peraturan Nomor 6 Tahun 2024 tentang pelabelan kemasan BPA pada galon PC.
Hal tersebut bertentangan dengan semangat masyarakat dan produsen yang bertanggung jawab untuk mengurangi jumlah timbunan sampah. Produsen berkewajiban mengelola sampah yang berasal dari hasil produk mereka karena dunia tengah menghadapi status darurat sampah.
Pemerintah melalui Permen LHK Nomor 75 Tahun 2019 juga telah membuat roadmap agar target pengurangan sampah oleh produsen sebesar 30 persen di 2029 dapat tercapai.
Dengan melaksanakan Permen maka perusahaan dapat memberikan kontribusi sekaligus menghemat emisi karbon dan menangani dampak polusi limbah plastik. (Editor: Dicky Fadiar Djuhud)
Artikel ini telah tayang di TribunJabar.id dengan judul: Galon PC Aman Digunakan dan Ramah Lingkungan, Masyarakat Tak Perlu Khawatir Konsumsi Isi ulang
Tak Hanya Aman Digunakan, ?Pakar Sebut Galon Polikarbonat Ramah Lingkungan
Pakar polimer Institut Teknologi Bandung (ITB) Ahmad Zainal Abidin meminta agar masyarakat Indonesia tidak perlu khawatir mengonsumsi air dari galon isi ulang. [574] url asal
#galon #galon-isi-ulang #lingkungan #air-minum #plastik
(MedCom) 06/08/24 10:40
v/13495524/
Jakarta: Galon polikarbonat (PC) dipastikan masih aman digunakan. Pakar polimer Institut Teknologi Bandung (ITB) Ahmad Zainal Abidin meminta agar masyarakat Indonesia tidak perlu khawatir mengonsumsi air dari galon isi ulang."Air minum dalam galon guna ulang berbahan PC aman untuk dikonsumsi," kata Ahmad Zainal Abidin dilansir, Selasa, 6 Agustus 2024.
Kepala Laboratorium Teknologi Polimer dan Membran ITB itu menjelaskan bahwa hasil penelitian menunjukkan kalau tidak ada satu sampel pun dari galon guna ulang yang diteliti itu mengandung BPA di atas ketentuan maksimum sehingga bisa membahayakan kesehatan manusia.
Hal ini dia sampaikan menyusul aturan Badan Pengawas Obat dan Makanan (BPOM) yang meminta produsen memberikan label potensi mengandung BPA pada galon kemasan PC. Zainal mengatakan bahwa tidak hanya BPA, namun semua zat-zat prekursor seperti ethylene glycol (EG) dan diethylene glycol (DEG) yang digunakan untuk membuat kemasan PET atau galon sekali pakai seperti memiliki bahaya serupa.
"Karenanya, kemasan-kemasan itu perlu diawasi secara berkala oleh BPOM," katanya.
Pakar teknologi plastik Wiyu Wahono juga mengatakan bahwa kemasan PC masih sangat aman digunakan masyarakat. Dia menegaskan, meski sudah dipakai puluhan tahun para konsumen galon guna ulang tidak pernah mengalami gangguan kesehatan apapun.
| Baca juga: BKKBN Pastikan Konsumsi Air Galon Polikarbonat Tak Sebabkan Infertilitas |
Wiyu mengatakan, paparan BPA dalam galon guna ulang juga terus menciut saat dipergunakan kembali. Dalam galon PC, Wiyu menjelaskan, paparan BPA yang masuk ke dalam tubuh, dikeluarkan sekitar 2 hingga 4 jam sekali melalui urine atau zat sisa.
"Kalau akumulasi itu artinya menumpuk terus enggak keluar dan ini tidak terjadi. Kalo stibium (antimon, bahan kimia dalam kemasan PET) ini saya tidak tahu tapi kalau BPA ini yang tidak terjadi akumulasi," katanya.
Dia mengungkapkan, Eropa tidak melarang kemasan PC kecuali yang mengandung BPA melebihi ambang batas aman. Artinya, sambung dia, selama masih di bawah tolerable daily intake (TDI) alias ambang batas aman masih boleh dipergunakan.
"Kalau yang mereka sebut di dunia banyak dilarang, yang dilarang adalah untuk botol bayi. Itu baru betul dilarang sudah lama," katanya.
Ramah lingkungan
Pakar Teknologi Lingkungan ITB Prof. Enri Damanhuri menilai kemasan galon PC bisa menjadi solusi penyediaan air minum yang ramah lingkungan di Indonesia. Ini mengingat galon memang dibuat untuk bisa digunakan secara berulang dan praktis tanpa menimbulkan potensi timbulnya persoalan sampah plastik."Kita semua sepakat untuk mengurangi pencemaran sampah plastik di lingkungan, tidak lagi menggunakan single-use plastic," katanya.
Dosen dan peneliti di Departemen Ilmu dan Teknologi Pangan dan SEAFAST Center, Institut Pertanian Bogor (IPB), Nugraha Edhi Suyatma juga menilai bahwa galon PC lebih ramah lingkungan dibanding galon sekali pakai. Menurutnya, galon PC tidak menghasilkan sampah karena kemasan digunakan kembali sekaligus mengurangi energi yang digunakan untuk mendaur ulang.
"Jadi dari aspek lingkungan, kemasan galon PC lebih unggul dibandingkan galon PET. Kemasan galon PC memiliki guna ulang yang lebih panjang dibandingkan galon dari PET," katanya.
Seperti diketahui, BPOM telah mengeluarkan Peraturan Nomor 6 Tahun 2024 tentang pelabelan kemasan BPA pada galon PC. Peraturan yang disinyalir akan menguntungkan pihak tertentu itu dikhawatirkan akan mendorong penggunaan kemasan sekali pakai yang berujung pada masalah timbunan sampah.
Hal tersebut bertentangan dengan semangat masyarakat dan produsen yang bertanggung jawab untuk mengurangi jumlah timbunan sampah. Produsen berkewajiban mengelola sampah yang berasal dari hasil produk mereka karena dunia tengah menghadapi status darurat sampah.
Pemerintah melalui Permen LHK Nomor 75 Tahun 2019 juga telah membuat roadmap agar target pengurangan sampah oleh produsen sebesar 30 persen di 2029 dapat tercapai. Dengan melaksanakan Permen maka perusahaan dapat memberikan kontribusi sekaligus menghemat emisi karbon dan menangani dampak polusi limbah plastik.
(END)
BKKBN Pastikan Konsumsi Air Galon Polikarbonat Tak Sebabkan Infertilitas
Hasto memastikan mengonsumsi air minum dalam kemasan (AMDK) galon polikarbonat tidak menyebabkan infertilitas atau gangguan reproduksi. [184] url asal
#bkkbn #air-galon #air-minum #infertilitas
(MedCom) 06/08/24 09:14
v/13490351/
Jakarta: Kepala Badan Kependudukan Keluarga Berencana Nasional (BKKBN) Hasto Wardoyo memastikan mengonsumsi air minum dalam kemasan (AMDK) galon polikarbonat tidak menyebabkan infertilitas atau gangguan reproduksi. Hal ini telah diperkuat dengan sejumlah penelitian medis."Saya baca di beberapa jurnal itu tidak signifikan berpengaruh dan tidak signifikan di dalam air minuman dalam kemasan itu mengandung zat yang bisa menyebabkan infertilitas," ujar Hasto dalam keterangan tertulis, Selasa, 6 Agustus 2024.
Hasto menuturkan sudah setahun terakhir telah melakukan kajian ihwal isu yang mengait-ngaitkan air galon polikarbonat dengan penyebab infertilitas. Namun, tidak ada satu jurnal yang membenarkan isu tersebut.
"Saya langsung meneliti jurnal-jurnal dan saya kumpulkan, ternyata tidak ada yang menyebutkan hal itu," tuturnya.
| Baca Juga: Gerakan Ekonomi Sirkular Pelaku Industri AMDK Semakin Berkembang |
Selain itu, tidak ada rekomendasi dari kolegium antropologi dan kolegium obgin yang menyatakan melarang penggunaan air galon polikarbonat. Ia meminta masyarakat tidak mudah percaya terhadap isu tersebut.
"Sebelum ada rekomendasi itu maka kita tidak bisa menganggap itu dilarang atau berbahaya," ungkapnya.
Hasto menuturkan infertilitas di Indonesia mayoritas disebabkan penyakit-penyakit infeksi. Akhir-akhir ini juga banyak penyebab infertilitas karena kegemukan, sehingga overweight.
(AZF)
AQUA Perkuat Komitmen #BijakBerplastik, Perluas Galon Guna Ulang PET
AQUA menegaskan komitmennya dalam penanggulangan permasalahan sampah plastik dengan memperluas distribusi produk galon guna ulang PET. [696] url asal
#brandnewsroom #bnr #danone #aqua #galon #pet #amdk
(CNN Indonesia - Ekonomi) 05/08/24 21:22
v/13425585/
AQUA terus berkomitmen untuk mendorong praktik bisnis berkelanjutan dengan memperluas penggunaan kemasan polyethylene terephthalate (PET) daur ulang pada produk galon guna ulangnya. Produk ini melengkapi galon guna ulang sebelumnya berbahan polycarbonate (PC), yang sama-sama aman, berkualitas tinggi, dan memenuhi standar regulasi pemerintah seperti SNI dan BPOM.
Kemasan Galon Guna Ulang berbahan PET ini telah diperkenalkan sejak 2019 dengan fokus distribusi di area Bali dan Sulawesi Utara. Pada 2024, AQUA Galon Guna Ulang PET mulai didistribusikan lebih luas secara bertahap ke wilayah Jakarta dan Jawa Barat.
Penggunaan kemasan Galon Guna Ulang ini sejalan dengan komitmen #BijakBerplastik AQUA untuk menggunakan 100% kemasan yang dapat digunakan kembali, dapat didaur ulang, atau dapat dikomposkan. AQUA juga menargetkan untuk meningkatkan elemen daur ulang dalam kemasan botol hingga 50%.
Pada kunjungan dari Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan (KLHK), Kementerian Perindustrian (Kemenperin), dan Kementerian Perdagangan (Kemendag) ke fasilitas Recycling Business Unit (RBU) Bali PET di Denpasar, Bali, AQUA menunjukkan kapabilitasnya dalam mendaur ulang kemasan paska konsumsi dan menghadirkan produk berkualitas sekaligus memelihara kelestarian lingkungan.
Kepala Bidang Ekonomi Sirkular KLHK, Wisti Noviani, menyampaikan apresiasinya atas inisiatif AQUA dalam menggunakan kemasan daur ulang pada produk-produknya selama ini, termasuk penggunaan PET pada Galon Guna Ulangnya yang baru.
"Hal ini merupakan salah satu upaya mengurangi sampah kemasan plastik dari produk air minum dalam kemasan dan menciptakan dampak positif bagi lingkungan," ujarnya dalam keterangan tertulis, Senin (5/8).
Ia pun berharap inisiatif ini dapat terus dilanjutkan, dan dapat menginspirasi para produsen makanan dan minuman lainnya untuk terus ikut berperan aktif mengurangi sampah kemasannya, terutama sampah kemasan sekali pakai.
Di sisi lain, Packaging Circularity Senior Manager Danone Indonesia, Jeffri Ricardo, menegaskan dukungan AQUA untuk berkontribusi dalam mendorong tercapainya target pemerintah Indonesia dalam penanggulangan permasalahan sampah.
"Kami merasa terhormat menerima kunjungan perwakilan dari KLHK kali ini. Kami percaya bahwa penerapan ekonomi sirkular merupakan salah satu solusi dalam mengatasi permasalahan sampah di Indonesia," kata dia.
Ia menekankan, AQUA terus mendorong penerapan ekonomi sirkular melalui gerakan #BijakBerplastik dengan tiga fokus utama, yaitu pengembangan infrastruktur pengumpulan sampah, edukasi kepada konsumen dan masyarakat, serta inovasi kemasan dalam produk.
Menurutnya, AQUA Galon Guna Ulang PET yang juga sudah mulai diperkenalkan ke Jakarta dan Jawa Barat merupakan wujud komitmen perusahaan dalam menerapkan penerapan ekonomi sirkular.
"Galon Guna Ulang PET dan PC yang ada saat ini merupakan produk resmi AQUA yang aman, dapat melindungi kualitas kandungan mineral AQUA, dan ramah lingkungan," imbuh Jeffri.
Sebagai informasi, penanggulangan sampah plastik merupakan salah satu permasalahan utama di Indonesia. Sistem Informasi Pengelolaan Sampah Nasional (SIPSN) mencatat bahwa pada 2022, Indonesia menghasilkan 21,19 juta ton sampah.
Dari total sampah tersebut, sebanyak 34,45% tidak terkelola sehingga berpotensi mencemari sumber air serta laut dan lingkungan. Pemerintah menargetkan pengurangan sampah plastik ke laut hingga 70% pada 2025 dan berupaya mendorong keterlibatan masyarakat serta sektor swasta dalam pengelolaan sampah.
Bekerja sama dengan berbagai pihak, AQUA telah menginisiasi pengembangan 6 unit bisnis daur ulang, TPST, TPS3R, serta Bank Sampah yang tersebar di Indonesia, dan memberdayakan hampir 10.000 pemulung di seluruh Indonesia. Sebagai hasilnya, AQUA telah mengumpulkan hingga 22.000 ton sampah plastik di Indonesia setiap tahunnya.
Plastik yang telah diolah kemudian diproses dan didaur ulang menjadi berbagai produk yang memiliki nilai ekonomi, terutama menjadi bahan baku kemasan botol baru berbahan plastik daur ulang.
Penggunaan kemasan guna ulang AQUA bertujuan untuk membangun kebiasaan reduce, reuse, dan recycle (3R) di kalangan masyarakat. Selain lebih efisien, kemasan guna ulang juga menjadi pilihan yang ramah lingkungan karena berpotensi mengurangi hingga 83% emisi karbon.
Di samping itu, inisiatif tersebut juga diprediksi mengurangi penggunaan plastik hingga 78%, serta mampu mencegah penggunaan lebih dari 770.000 ton plastik baru (virgin plastic) setiap tahunnya.
Dalam hal edukasi kepada konsumen dan masyarakat, AQUA juga memimpin kampanye nasional untuk pendidikan daur ulang dengan menjangkau 100 juta orang dan 5 juta anak-anak.
Jeffri pun menegaskan bahwa AQUA berkomitmen menghadirkan kesehatan bagi sebanyak mungkin masyarakat dalam setiap produknya dengan mengedepankan inovasi dan prinsip keberlanjutan untuk mendukung pelestarian lingkungan dan pemberdayaan masyarakat.
"Untuk menanggulangi permasalahan sampah plastik dan mendukung peningkatan perekonomian masyarakat, kami terus berkolaborasi dengan berbagai pihak dan fokus menerapkan prinsip ekonomi sirkular melalui program #BijakBerplastik, serta aktif mengedukasi masyarakat akan pentingnya menerapkan reduce, reuse, dan recycle dalam kehidupan sehari-hari mereka," pungkasnya.

