Mobil Maung (Listrik) Nasional: Indonesia Pasti Bisa!
Sangat mungkin bagi Pindad untuk menelusuri penggunaan penggerak listrik. India dan Vietnam bisa membangun kendaraan listrik. Indonesia pun bisa. Halaman all
(Kompas.com) 07/11/24 14:30 17670287
MOBIL putih besar yang mengiringi Presiden RI menjadi satu lagi sinyal halus \'kesalnya\' Indonesia dengan dominasi negara lain dalam ekonominya, termasuk dalam kendaran konvensional maupun listrik.
Mobil kenegaraan tersebut juga bisa menjadi benih datangnya kembali ambisi membuat mobil dalam negeri. Namun Indonesia, yang kabarnya hanya bisa bertahan 21 hari tanpa impor BBM, akan lebih tepat membangun kendaraan nasional berbasis listrik.
China mendorong kendaraan listrik karena menyadari rentannya negeri mereka yang mengimpor 70 persen suplai minyak.
Hari ini, Indonesia mengimpor 60 persen konsumsi minyaknya dan kerentanan itu semakin meningkat di tengah gejolak politik internasional.
Mobil Pindad Maung Garuda tersebut dikabarkan berbasis mesin diesel keluaran Mercedes dan Ssangyong. Namun, sangat mungkin bagi Pindad untuk menelusuri penggunaan penggerak listrik, terlebih mengingat perusahaan tersebut juga tengah bereksperimen dengan mobil listrik Pindad Morino EV dan motor listrik.
Tata motor dari India membangun kendaraan listrik pertamanya dalam tempo satu tahun, Vietnam dalam empat tahun. Tidak mudah, tetapi sangat mungkin dengan kegigihan.
Pilihan strategis meninggalkan BBM
Dua puluh tahun lebih produksi minyak Indonesia terus merosot. Berbagai janji sudah berlalu dan sudah waktunya Indonesia terbangun dengan realita bahwa membangkitkan kembali industri minyak semakin sulit, terlebih di dunia yang tengah bertransisi menuju kendaraan listrik.
Berbagai pihak tengah mengupayakan adanya cadangan penyangga energi untuk menimbun persediaan minyak mengantisipasi kendala impor. Perluasan penggunaan BBM nabati dari minyak sawit dan olahan tebu semakin kerap digulirkan.
Semua patut diapresiasi, tapi jangan lupa bahwa puncak penjualan mobil konvensional dengan BBM dunia sudah jauh terlewat pada 2017.
Semenjak 2017, pertumbuhan mobil di dunia diisi kendaraan listrik murni, maupun kendaraan listrik plug-in hybrid yang menggunakan BBM dan listrik secara beriringan.
Campuran BBM dari bahan nabati bisa dipahami, tapi ada alasan mendasar kenapa negara besar seperti China kerap berhati-hati dalam mengembangkannya.
Campuran BBM dari bahan nabati harganya mahal. Selain itu, kompetisi dengan pengadaan pangan bisa membuat harga pangan rakyat semakin mahal, dan perlunya lahan dalam jumlah besar. Tiga hal ini penting untuk ditelisik dengan baik.
Industri kendaraan listrik nasional bukanlah mimpi kosong dengan dukungan pemerintah.
Baru-baru ini, pimpinan Tata Motor dari India menyatakan kebanggaannya bagaimana perusahaannya membangun mobil listrik pertama dalam satu tahun, meski di awal banyak pihak menyangsikan kemampuan mereka.
Vinfast dari Vietnam pun berhasil meluncurkan mobil lsitrik pertamanya dalam empat tahun dari berdirinya perusahaaan tersebut.
Tahun lalu, Tata Motor menjual lebih dari 60.000 mobil listrik, sementara Vinfast menjual hampir 50.000 mobil listrik dan 70.000 motor listrik.
Jumlah penjualan mobil listrik Indonesia tahun ini mungkin mencapai 30.000 unit. Namun, berapa banyak produksi dalam negeri masih sangat disangsikan.
Jadi sebelum berkata tidak bisa, maka lihat dulu tetangga-tetangga Indonesia. Motivasi mereka menuju kendaraan listrik bervariasi, dari menurunkan impor BBM, mendorong industri baru, sampai menurunkan polusi udara di perkotaan. Namun satu hal yang pasti, mereka menolak untuk menyerah.
Subsidi biodiesel berkisar Rp 25 triliun- Rp 50 triliun per tahunnya. Subsidi BBM terus membumbung tinggi.
Uang sebesar itu akan lebih tepat guna digunakan untuk turut menopang pembangunan industri dalam negeri -baik BUMN mapun swasta- dalam benar-benar bersaing menuju kendaraan listrik.
Memang harga dari Maung Garuda disinyalir cukup mahal, lebih dari Rp 1 miliar. Namun, kalau mobil tersebut berhasil dibangun oleh Pindad, tentunya pengembangan kendaraan untuk masyarakat lebih luas bukanlah janji kosong dengan sokongan kuat pemerintah.
Bekerjasama dengan produsen yang ada tentunya menjadi langkah penting di awal, tapi juga menjadi pijakan untuk benar-benar berdiri sendiri ke depannya.
Hadirnya Pindad Maung, Morino EV dan dukungan pemerintah baru bisa jadi dorongan awal yang diperlukan Indonesia.
Saat ini, Pindad bukanlah produsen kendaraan massal, tapi produk mereka bisa menjadi simbol bertolaknya industri nasional.
Sudah saatnya kendaraan produksi mereka -yang dikabarkan mendapat 5.000 unit pesanan dari pemerintah- juga turut mendorong adopsi kendaraan listrik dalam mengawal kepentingan nasional untuk bergeser dari impor BBM dan menjadi ujung tombak majunya industri nasional seiring dengan langkah dunia.
#mobil-listrik #maung-garuda-limousine #mobil-dinas-maung-pindad
https://money.kompas.com/read/2024/11/07/143005826/mobil-maung-listrik-nasional-indonesia-pasti-bisa