Tantangan Keberlanjutan Program Biodiesel

Tantangan Keberlanjutan Program Biodiesel

Keberlanjutan program biodiesel menggunakan bauran minyak kelapa sawit (crude palm oil/CPO) menghadapi sejumlah tantangan. Halaman all

(Kompas.com) 07/11/24 15:42 17674434

BADUNG, KOMPAS.com - Keberlanjutan program biodiesel menggunakan bauran minyak kelapa sawit (crude palm oil/CPO) menghadapi sejumlah tantangan.

Salah satunya, ketersediaan dana Badan Pengelola Dana Perkebunan Kelapa Sawit (BPDPKS) untuk mensubsidi selisih harga antara fatty acid methyl ester (FAME) sawit dengan harga solar.

Direktur Utama BPDPKS Eddy Abdurrahman mengatakan, kebutuhan dana untuk mensubsidi implementasi biodiesel dengan campuran CPO bakal semakin meningkat pada 2025. Pasalnya, pemerintah bakal meningkatkan porsi bauran CPO ke dalam biodiesel, menjadi biodiesel 40 persen atau B40.

DOK. Sawitkita.id/Dimas Ardian Minyak kelapa sawit dinilai menjadi yang paling berpotensi untuk diolah menjadi energi dibandingkan dengan minyak nabati lain karena memiliki manfaat yang begitu luas.
Implementasi B40 diproyeksi membutuhkan 16 juta kiloliter (KL) CPO per tahun. Angka ini meningkat dari kebutuhan CPO untuk B35 sebesar 13,4 juta KL per tahun.

Di sisi lain, harga FAME saat ini jauh lebih tinggi dibanding solar.

Artinya, jika kondisi ini berlanjut hingga tahun depan, BPDPKS perlu menggelontorkan dana lebih besar untuk menutupi selisih harga antara FAME dengan solar.

"Asumsinya kira-kira butuh sekitar Rp 46 triliun sampai Rp 47 triliun untuk menerapkan B40," ujar Eddy, dalam konferensi pers IPOC ke-20, di Nusa Dua, Bali, Kamis (7/11/2024).

Padahal BPDPKS memproyeksi, penerimaan dana dari pungutan kegiatan ekspor sawit tahun depan hanya mencapai Rp 20,3 triliun. Selain itu, imbal hasil dari pengelolaan dana diproyeksi sekitar Rp 1,1 triliun sampai Rp 1,2 triliun.

Dengan demikian, total penerimaan BPDPKS pada 2025 diproyeksi mencapai Rp 21,5 triliun.

"Jadi kalau dari penerimaan saja dari pungutan ekspor jelas tidak mendanai," katanya.

Eddy bilang, BPDPKS masih bisa mendanai implementasi program B40 pada 2025. Sebab, saat ini BPDPKS memiliki saldo dan cadangan dana sekitar Rp 31,8 triliun. Dana ini nantinya berpotensi digunakan, jika harga FAME tetap lebih tinggi dibanding solar.

Namun, untuk memastikan keberlanjutan program biodiesel, pemerintah perlu "memutar otak" untuk mencari sumber pendanaan alternatif. Pendanaan program biodiesel tidak lagi bisa bergantung kepada pungutan ekspor.

Apalagi, produksi kelapa sawit cenderung mengalami penurunan selama beberapa tahun terakhir. Penurunan ini pun diikuti dengan penurunan ekspor CPO.

"Kita harus mencari invoasi-inovasi pembiayaan. Ini saya belum tahu bagaimana, kita sekarang sedang melakukan suatu kajian," ucap Eddy.

#kelapa-sawit #biodiesel #minyak-kelapa-sawit #harga-solar

https://money.kompas.com/read/2024/11/07/154227226/tantangan-keberlanjutan-program-biodiesel