Kemenangan Donald Trump di Pilpres AS Jadi Angin Segar untuk Industri Sawit, Kenapa?
Terpilihnya Donald Trump sebagai pemenang gelaran pemilihan presiden AS berpotensi membuka peluang baru bagi industri kelapa sawit. Halaman all
(Kompas.com) 08/11/24 18:02 17789647
BADUNG, KOMPAS.com - Terpilihnya Donald Trump sebagai pemenang gelaran pemilihan presiden Amerika Serikat (AS) 2024 berpotensi membuka peluang baru bagi industri kelapa sawit.
Berbagai pihak meyakini, pada periode kedua kepemimpinannya, Trump akan kembali menerapkan kebijakan tarif atau pungutan masuk yang lebih besar terhadap barang berasal dari China.
Global Soft Commodity Analyst di Bloomberg Intelligence, Alvin Tai mengatakan, salah satu komoditas China yang berpotensi terdampak pungutan tarif lebih tinggi dari AS ialah minyak goreng bekas atau minyak jelantah.
Dok. Berry Subhan Putra/Kompas.com Ilustrasi kelapa sawit.Meskipun belum dapat dipastikan apakah pungutan tarif lebih tinggi itu bakal diterapkan, Alvin menilai, Trump merupakan sosok yang berani untuk mengambil kebijakan "agresif" demi mencapai kepentingannya.
"Tapi saya pikir akan ada keberlanjutan peningkatan tarif pada periode kepemimpinan kali ini," kata dia, dalam konferensi pers IPOC ke-20, di Nusa Dua, Bali, Jumat (8/11/2024).
"Saya pikir khususnya dengan impor minyak goreng bekas dari China, yang mana saya pikir 60 persen impor minyak jelantah (AS) berasal dari China," sambungnya.
Permintaan AS terhadap minyak jelantah memang tercatat terus meningkat dari tahun ke tahun, menyusul semakin masifnya pemanfaatan minyak jelantah sebagai bauran biodiesel.
Peningkatan itu membuat neraca dagang minyak jelantah AS mengalami defisit sejak 2022, di mana China menjadi pemasok utama komoditas turunan minyak nabati itu.
"Jadi saya pikir itu menjadi area rawan yang dapat mempengaruhi pasokan minyak (AS)," ujar Alvin.
Sementara itu, Anggota Dewan Pembina Gabungan Pengusaha Kelapa Sawit Indonesia (Gapki) Joko Supriyono menyebutkan, "disrupsi" rantai pasok minyak jelantah itu bisa dimanfaatkan oleh pelaku usaha nasional.
SHUTTERSTOCK/AFRICA STUDIO Ilustrasi minyak goreng."Ini seharusnya bisa menjadi peluang bagi Indonesia untuk mengekspor minyak goreng bekas ke Amerika Serikat," katanya.
Direktur Eksekutif Oil World Thomas Mielke membenarkan. Trump berkemungkinan besar untuk tidak mendukung keberlanjutan kebijakan biodiesel, sehingga akan berdampak negatif terhadap industri minyak nabati AS.
Selain itu, berlanjutnya perang dagang antara AS dengan China bakal berdampak terhadap rantai pasok komoditas minyak nabati ke Negeri Paman Sam.
"Dan ini bisa berdampak ke kelapa sawit. Malaysia atau Indonesia sebagai negara produsen terbesar bisa mendapatkan keuntungan dari hal ini," ucapnya.
#biodiesel #kelapa-sawit #minyak-goreng #minyak-jelantah #donald-trump