Danantara Segera Dibentuk, Bikin BUMN Lebih Lincah?
Danantara akan jadi superholding BUMN, membuat investasi lebih lincah dan efisien di Indonesia. Halaman all
(Kompas.com) 09/11/24 10:10 17875755
JAKARTA, KOMPAS.com - Badan Pengelola Investasi Daya Anagata Nusantara (BP Danantara) digadang-gadang bakal jadi superholding BUMN dengan menaungi 7 BUMN dan Indonesia Investment Authority (INA).
Ekonom Senior Universitas Paramadina, Wijayanto Samirin, menilai bahwa pembentukan Danantara merupakan langkah besar bagi restrukturisasi BUMN di Indonesia. Danantara akan membuat BUMN lebih leluasa bergerak tanpa harus terhambat oleh proses birokrasi dan kepentingan politis.
"Kehadiran Danantara akan membuat ekosistem BUMN lebih kondusif dan agile, dengan keputusan yang lebih cepat dan lincah baik di dalam maupun luar negeri," ujar Wijayanto dalam keterangannya, Jumat (8/11/2024).
Terkait investasi Danantara yang dikhawatirkan dapat merugikan negara, dia menjelaskan bahwa setiap investasi pasti memiliki risiko, terlebih jika investasi itu mengusung inovasi.
Bahkan, Temasek dari Singapura, yang disebut sebagai model investasi negara yang sukses, juga pernah mengalami keuntungan dan kerugian pada sejumlah portofolio mereka.
"High risk high return, no risk no return. Yang penting adalah semua proses investasi dilakukan secara transparan dan sesuai prosedur terbaik," jelasnya.
Lebih lanjut, dia pun menjelaskan bahwa jika kerugian investasi dianggap sebagai kerugian negara, maka BUMN akan cenderung bermain aman dengan hanya menginvestasikan asetnya pada deposito atau obligasi dengan bunga terbatas.
Menurut dia, hal ini justru tidak sehat bagi perkembangan BUMN dan akan menghambat potensi mereka dalam pasar modal nasional, yang sebenarnya memiliki potensi besar sebagai sumber pendanaan.
Berkaca dari pengalaman negara-negara maju, menunjukkan bahwa pasar modal yang kuat dapat menjadi fondasi pertumbuhan ekonomi yang berkelanjutan.
“Pasar modal merupakan indikator awal dari kemajuan industri, dan sinergi yang baik antara BUMN dan pasar modal dapat memberikan dampak positif bagi ekonomi Indonesia secara keseluruhan,” tuturnya.
Sebagai informasi, berdasarkan dokumen profil Danantara yang diterima Kompas.com, pada tahap awal beroperasi, lembaga tersebut bakal menaungi 7 perusahaan pelat merah, yang terdiri dari PT Bank Mandiri (Persero) Tbk, PT Bank Rakyat Indonesia (Persero) Tbk atau BRI, PT PLN (Persero), PT Pertamina (Persero), PT Bank Negara Indonesia (Persero) Tbk atau BNI, PT Telkom Indonesia (Persero) Tbk, dan Mining Industry Indonesia (MIND ID), BUMN Holding Industri Pertambangan.
Ketujuhnya dipilih karena merupakan BUMN dengan kepemilikan aset terbesar dari total 47 BUMN yang ada saat ini.
Selain ketujuh BUMN tersebut, Lembaga Pengelola Investasi (LPI) atau Indonesia Investment Authority (INA), sovereign wealth fund (SWF) Indonesia hasil bentukan era Presiden ke-7 RI Joko Widodo (Jokowi), juga akan masuk ke Danantara.
Dengan membawahi 7 BUMN besar dan INA, aset kelolaan Danantara pun ditaksir mencapai Rp 600 miliar dollar AS atau sekitar Rp 9.480 triliun (asumsi kurs Rp 15.800 per dollar AS). Hal ini sekaligus menjadikan Danantara sebagai SWF ke-4 terbesar di dunia.
Saat ini, Danantara dikepalai oleh Muliaman Darmansyah Hadad. Rencananya, pembentukan Danantara akan diresmikan oleh Presiden Prabowo Subianto usai melakukan kunjungan kerja selama 16 hari ke China, Peru, Amerika Serikat, Brasil, dan Inggris.