Penerbangan Haji ke Saudi Ikut Delay, Pengamat: Operasional Haji Penuh Kompleksitas

Penerbangan Haji ke Saudi Ikut Delay, Pengamat: Operasional Haji Penuh Kompleksitas

Keterlambatan penerbangan haji menggambarkan bahwa operasional penerbangan haji memang sangat kompleks dibanding penerbangan regular - Halaman all

(InvestorID) 05/07/24 09:54 9731312

JAKARTA, investor.id-Pengamat Penerbangan Gatot Rahardjo mengungkapkan, sejumlah penerbangan haji yang mengalami delay atau keterlambatan yang masif harus dipahami bahwa mengelola penerbangan saat keberangkatan hingga ketika akan terbang  penuh dengan kompleksitas. 

Gatot mencontohkan, pada penerbangan Saudi Airlines SV-5310 yang membawa rombongan kepulangan jemaah kloter 1  Palembang pada 22 Juni 2024 lalu mengalami delay parah hingga 14 jam. Kemudian SV-5314 pada tanggal 24 Juni 2024 yang membawa jemaah kloter 6 Jakarta dan SV-5350 pada tanggal 25 Juni 2024 untuk mengantarkan kloter 4 Batam, masing-masing mengalami keterlambatan satu jam. 

“Semua kejadian itu menggambarkan bahwa operasional penerbangan haji memang sangat kompleks dibanding penerbangan regular,” ujarnya kepada Investor Daily di Jakarta, Jumat (05/07/2024). 

Penerbangan haji, pada dasarnya seperti penerbangan lain, mengangkut orang dari satu bandara asal ke bandara tujuan. Namun ada beberapa hal yang membuat penerbangan haji lebih kompleks dibanding penerbangan umum.

Pertama bahwa penerbangan haji bersifat penerbangan non reguler atau sewa untuk waktu tertentu. Berbeda dengan penerbangan reguler yang berjadwal, maka maskapai yang menerbangkan haji harus meminta persetujuan dulu kepada bandara awal dan tujuan serta meminta slot kepada pengelola slot penerbangan di bandara-bandara tersebut, baik di Indonesia maupun Arab Saudi.

Untuk penerbangan non haji baik reguler (berjadwal) maupun non reguler, permintaan persetujuan bandara dan slot ini lebih mudah karena memang di setiap bandara disediakan slot untuk penerbangan tersebut. Tapi untuk penerbangan haji lebih kompleks karena jumlah penerbangannya yang lebih banyak dan waktu operasionalnya yang sempit. 

“Kurang lebih seperti ini, jemaah haji dari Indonesia yang sebanyak 241 ribu orang, dibagi dalam 554 kelompok dan diterbangkan dari 13 bandara embarkasi haji selama sekitar 1 bulan untuk fase keberangkatan dan 1 bulan untuk fase kepulangan. Ini dua penerbangan keberangkatan dan dua kepulangan setiap hari dengan pesawat berbadan besar kapasitas mengangkut 300-400 penumpang,” ungkapnya. 

Kompleksitas ini juga terjadi, dari bandara lain yang sama mengangkut haji. Tahun 2024 ini pemerintah Arab Saudi memperkirakan  jumlah jemaah haji totalnya bisa mencapai 2 juta orang. Jika yang naik pesawat 1,5 juta orang dan rata-rata pesawat yang dipakai bisa mengangkut 250 orang, berarti akan ada 6.000 penerbangan. 

Adapun Pemerintah Arab Saudi mengoperasikan 5 bandara untuk melayani haji yaitu bandara di Jeddah, Madinah, Riyadh, Damman dan Yanbu. Jadi dalam sehari selama sebulan penerbangan haji, tiap bandara harus melayani tambahan 40 slot penerbangan. Padahal masing-masing bandara juga masih harus melayani penerbangan reguler tiap harinya. 

“Bisa kita bayangkan betapa sibuknya pengelola navigasi penerbangan dan bandara di sana,” ucapnya. 

Kompleksitas lainnya terkait kesiapan maskapainya, baik dari sisi petugas dan awak pesawat, kesiapan armada dan prosedur standar operasinya. Di Indonesia, maskapai yang ditunjuk adalah Garuda Indonesia dan Saudia Airlines. Garuda Indonesia ditunjuk karena dapat memenuhi kualifikasi baik teknis penerbangan maupun komersial. Sedangkan Saudia Airlines karena ada permintaan dari  pemerintah Arab Saudi. Tentunya mereka juga harus memenuhi syarat teknis penerbangan.

Bagi maskapai penerbangan, tantangan terbesarnya adalah menyediakan dan mempersiapkan armada dan kru (pilot dan pramugari) serta operasional sesuai standar keselamatan, keamanan dan kenyamanan penerbangan. Maskapai juga harus berkoordinasi dengan berbagai pihak, terutama untuk mendapatkan izin slot baik dari Indonesia maupun Arab Saudi. 

Sementara, Garuda Indonesia mengoperasikan sekitar 14 unit pesawat di mana 6 (enam) pesawat milik sendiri dan 8 (delapan) pesawat sewa. Sedangkan Saudia Airlines menggunakan 15 unit pesawat dengan 6 unit pesawat sendiri dan 9 unit sewa.

“Adapun, menyewa pesawat sekarang tidak semudah tahun-tahun sebelum pandemi Covid-19. Pada saat itu jumlah pesawat dan sparepart-nya banyak tersedia di pasaran. Saat ini jumlah pesawat relatif masih sama, hanya sparepartnya yang jumlahnya sedikit bahkan untuk pesawat tertentu hampir tidak tersedia. Akibatnya banyak pesawat yang tidak bisa terbang, harus menginap di bengkel lebih lama,” ucap dia. 

Terkait penerbangan haji, karena kompleksitasnya yang melibatkan banyak pihak, kenyamanan penerbangan memang seringkali terganggu. “Semua maskapai di dunia yang melayani penerbangan haji, bahkan maskapai Saudia Airlines yang merupakan milik pemerintah Arab Saudi juga mengalami hal yang sama seperti misalnya mengalami delay (keterlambatan penerbangan). Semuanya itu dilakukan untuk menjamin keselamatan dan keamanan penerbangan,” punkasnya. 

 

Editor: Ichsan Amin (tukangkuli@gmail.com)

Follow Channel Telegram Official kami untuk update artikel-artikel investor.id

Baca Berita Lainnya di Google News

#berita-terkini #berita-hari-ini #penerbangan-haji #delay-penerbangan #saudi-airlines #garuda-indonesia #pesawat-haji #berita-ekonomi-terkini

https://investor.id/business/366171/penerbangan-haji-ke-saudi-ikut-delay-pengamat-operasional-haji-penuh-kompleksitas