Menimbang Koperasi Perumahan Halaman all - Kompas.com
Studi di berbagai negara memperlihatkan koperasi perumahan tidak rentan terhadap gejolak pasar dan menyediakan perumahan yang stabil bagi masyarakat. Halaman all?page=all
(Kompas.com) 07/07/24 09:05 9975101
Oleh: Dodi Faedlulloh*
SEBELUM akhirnya diputuskan ditunda, rencana Pemerintah terkait kebijakan Tabungan Perumahan Rakyat (Tapera) menuai banyak kritik.
Terlepas dari proses ideasi kebijakan yang rendah partisipasi (meaningful participation), secara substansi kebijakan tersebut bermasalah karena mengharuskan seluruh masyarakat dipotong pendapatannya.
Bahkan, secara empiris, model pungutan otomatis yang sudah berjalan justru banyak salah kelola, alih-alih ciptakan solusi.
Perumahan memang isu krusial dan perlu mendapat perhatian serius oleh pemerintah. Anak-anak muda kita terancam tidak memiliki rumah.
Riset Populix menemukan bahwa 61 persen anak muda Indonesia sulit untuk membeli rumah (2023). Harga sewa meroket, gentrifikasi, dan kelangkaan perumahan dengan harga terjangkau, perlu dicari solusi secepatnya.
Boleh jadi Tapera solusi tepat, bisa jadi bukan. Kita perlu untuk mengeksplorasi berbagai kemungkinan alternatif yang ada.
Kita perlu menggeser paradigma tradisional yang menempatkan perumahan sebagai komoditas yang penuh spekulasi.
Perlu suatu upaya dekomodifikasi yang memberdayakan warga untuk mengendalikan situasi terhadap hak atas tempat tinggal. Bahwa, perumahan bukan semata komoditas yang dibangun untuk mengejar keuntungan semata, tapi hak bagi warga untuk memiliki hunian layak dan terjangkau.
Variasi model
Salah satu alternatif yang menjanjikan adalah model koperasi perumahan. Di Indonesia model ini masih sangat minim, baru ada 275 unit (ODS Kemenkop UKM, 2024).
Meski demikian, layanan pengadaan perumahan sering kali disediakan oleh koperasi seperti koperasi karyawan atau pegawai melalui skema KPR dan sejenisnya.
Artinya bicara koperasi perumahan di Indonesia bukan hal baru dan karenanya sangat mungkin model dan praktiknya diperluas.
Di negara lain, koperasi perumahan terbukti berkontribusi terhadap pencapaian Tujuan Pembangunan Berkelanjutan (SDGs).
Di India dan Pakistan, hubungan antara self help groups dan koperasi perumahan telah dimanfaatkan untuk menyediakan tempat tinggal dan kesempatan kerja bagi masyarakat miskin (Sapovadia, 2007).
Kemudian, terdapat manfaat biaya dari perumahan koperasi berkelanjutan, khususnya dalam hal efisiensi dan energi (Coimbra, 2013).
Koperasi perumahan biasanya menerapkan praktik ramah lingkungan dan berkontribusi terhadap pelestarian lingkungan. Hal ini dapat mencakup desain bangunan hemat energi, ruang hijau bersama, dan pengelolaan sumber daya berkelanjutan.
Secara konseptual, koperasi perumahan merupakan organisasi kolektif yang para anggotanya bersama-sama memiliki dan mengelola properti tempat tinggal.
Berbeda dengan kepemilikan rumah tradisional, di mana individu menanggung seluruh beban biaya properti.
https://money.kompas.com/read/2024/07/07/090504426/menimbang-koperasi-perumahan?page=all