#30 tag 24jam
Simak Rekomendasi Saham Pilihan untuk Hari Ini (12/8)
analis memberikan rekomendasi saham untuk perdagangan hari ini (12/8) [507] url asal
#berita-nasional #indonesia #pemerintah #kebijakan-ekonomi
(Kontan-Investasi) 12/08/24 07:00
v/14260094/
Reporter: Rashif Usman | Editor: Anna Suci Perwitasari
KONTAN.CO.ID - JAKARTA. Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) ditutup menguat 0,86% dan berakhir di level 7.256,996 pada Jumat (9/8). Dengan posisi tersebut, IHSG masih melemah 0,70% dalam sepekan.
Equity Research Analyst Alrich Paskalis Tambolang melihat, secara teknikal, IHSG berhasil breakout MA20 (7253) seiring dengan golden cross pada Stochastic RSI dan penyempitan negative slope pada MACD. Dengan demikian, IHSG diperkirakan bergerak dalam rentang area 7.200 - 7.300 untuk beberapa waktu ke depan.
Dari global, pasar menantikan rilis data Indeks Harga Produsen (PPI) Amerika Serikat pada Selasa (13/8) sebagai acuan untuk mengukur inflasi yang terjadi pada tingkat produsen.
Data terebut diperkirakan akan meningkat 0.1% secara bulanan atau month on month (mom) pada Juli 2024, dari yang sebelumnya 0.2% pada Juni 2024.
"Penurunan PPI berpotensi meningkatkan peluang pemangkasan suku bunga the Fed di bulan September 2024. Berdasarkan jajak pendapat CME FedWatch Tools, peluang pemangkasan suku bunga the Fed tercatat sebesar 100% pada FOMC September 2024," kata Alrich kepada Kontan, Jumat (9/8).
Sementara, dari regional pasar menantikan rilis data New Yuan Loans bulan Juli 2024 pada Senin (12/8) yang diperkirakan sebesar CNY 450 miliar, dari yang sebelumnya sebesar CNY 2.13 triliun pada Juni 2024.
Sementara, jumlah uang beredar (M2) di Tiongkok diperkirakan tumbuh 6.1% pada bulan Juli 2024 atau lebih rendah dari bulan Juni 2024 sebesar 6.2%.
Alrich bilang, adapun ekspektasi penurunan tajam pada pinjaman di Tiongkok disebabkan oleh permintaan kredit yang lesu seiring dengan penyaluran pinjaman oleh bank-bank di Tiongkok yang mengalami penurunan mencapai 79% MoM.
"Data ini diharapkan akan memberikan petunjuk lebih lanjut tentang momentum ekonomi di paruh kedua tahun 2024 di Tiongkok," ujarnya.
Dari domestik, realisasi pertumbuhan penjualan ritel naik ke 2.7% yoy di Juni 2024 dari 2.1% yoy di Mei 2024. Kondisi mengindikasikan konsumsi domestik yang tetap solid sepanjang semester I-2024.
Pada pekan depan, pasar juga mengantisipasi data Neraca perdagangan Indonesia (NPI) Juli 2024.
Sementara itu, analis MNC Sekuritas Herditya Wicaksana memperkirakan, IHSG rawan terkoreksi dengan support di 7219 dan resist di 7267.
Herditya merekomendasikan untuk mencermati saham PT. Astra International Tbk (ASII) dengan target harga Rp 4.830-Rp 4.860, PT Indofood Sukses Makmur Tbk (INDF) dengan target harga Rp 6.300-Rp 6.475 dan PT Delta Dunia Makmur (DOID) dengan target harga Rp 760-Rp 780 per saham.
Sementara itu, Alrich merekomendasikan untuk mencermati saham AKRA, INDY, ICBP, UNVR, BRIS, dan TLKM.
Cek Rekomendasi Sahamnya untuk ISAT, EXCL, dan TLKM
Para emiten telekomunikasi telah merilis kinerja keuangan semester I-2024 [643] url asal
#berita-nasional #indonesia #pemerintah #kebijakan-ekonomi
(Kontan-Investasi) 12/08/24 06:10
v/14256362/
Reporter: Yuliana Hema | Editor: Yudho Winarto
KONTAN.CO.ID - JAKARTA. Para emiten telekomunikasi telah merilis kinerja keuangan semester I-2024. Hasilnya, PT Indosat Tbk (ISAT) dan PT XL Axiata Tbk (EXCL) kompak mencetak pertumbuhan top line dan bottom line.
ISAT membukukan laba periode berjalan yang dapat diatribusikan kepada entitas induk sebesar Rp 2,73 triliun per Juni 2024. Ini melesat 43,29% secara tahunan atau Year on Year (YoY) dari Rp 1,9 triliun.
Lonjakan laba bersih itu ditopang oleh kenaikan pendapatan. Selama periode Januari–Juni 2024, pendapatan ISAT tumbuh 13,38% secara tahunan menjadi Rp 27,97 triliun dari Rp 24,67 triliun.
Presiden Direktur Indosat Vikram Sinha menyampaikan hasil di paruh pertama ini, merupakan hasil dari strategi ISAT yang cermat dalam mendorong kemajuan perusahaan.
"Secara bersamaan, kami meningkatkan fokus pada keunggulan operasional dan efisiensi sehingga memungkinkan ISAT mencatatkan pertumbuhan pendapatan yang kuat," jelasnya belum lama ini.
Selain itu, Indosat tengah mengakselerasi perjalanan menuju menjadi AI Native TechCo. Vikram bilang, transformasi ini dilakukan untuk mendorong inovasi dan pertumbuhan masa depan.
Sementara itu, EXCL juga berhasil mencetak pertumbuhan laba bersih hingga double digit. Ini sejalan dengan meningkatnya pundi-pundi pendapatan emiten dengan logo biru ini.
Dari sisi top line, EXCL mengantongi pendapatan sebesar Rp 17,05 triliun atau tumbuh 8,16% YoY di semester I-2024. Pada periode yang sama di 2023, pendapatan EXCL mencapai Rp 15,76 triliun.
Adapun laba yang diatribusikan kepada pemilik entitas induk EXCL mencapai Rp 1,02 triliun per Juni 2024. Ini tumbuh 57,52% secara tahunan dari Rp 650,68 miliar.
Dian Siswarini, Presiden Direktur XL Axiata menuturkan salah satu kunci pertumbuhan XL Axiata adalah personalisasi penawaran dan layanan. Strategi ini bakal diterapkan sepanjang 2024.
"Hasil dari penerapan strategi berbasis digital melalui data analytics juga memungkinkan XL Axiata berinvestasi di area yang bernilai tinggi dan membangun jaringan," katanya.
Selain itu, lanjut Dian, EXCL juga meningkatkan penerapan teknologi artificial intelligence (AI) untuk membuka peluang-peluang baru dalam ruang lingkup industri telekomunikasi yang sangat dinamis.
Namun PT Telkom Indonesia Tbk (TLKM) mencatatkan penurunan laba bersih karena meningkatnya sejumlah pos beban. Padahal, pendapatan TLKM masih mencetak pertumbuhan.
Emiten pelat merah ini berhasil berhasil meraup pendapatan sebesar Rp 75,29 triliun per 30 Juni 2024 atau tumbuh 2,47% YoY. Pada periode yang sama di 2023, laba bersih TLKM hanya Rp 73,47 triliun.
Penurunan ini salah satunya disebabkan oleh meningkatnya beberapa pos beban. Seperti beban operasi, pemeliharaan dan jasa telekomunikasi yang naik dari Rp 19,17 triliun menjadi Rp 19,46 triliun.
Kemudian pos beban penyusutan dan amortisasi juga naik 1,13% YoY menjadi Rp 16,12 triliun. Beban karyawan Telkom juga naik dari Rp 7,84 triliun menjadi Rp 9,48 triliun.
Dus, laba periode berjalan yang dapat diatribusikan kepada pemilik entitas induk Telkom mencapai Rp 11,76 triliun di semester I-2024. Ini turun 7,80% YoY dari Rp 12,75 triliun.
Direktur Utama Ririek Adriansyah menjelaskan di semester I-2024, Telkom melaksanakan program Pensiun Dini yang berdampak pada peningkatan biaya personal Perseroan dalam jangka pendek.
"Diharapkan Telkom akan menjadi perusahaan yang lebih ramping dan meningkatkan talenta digital, sehingga akan berdampak positif pada efisiensi dan produktivitas," ucapnya.
Head of Customer Literation and Education Kiwoom Sekuritas Oktavianus Audi mencermati adanya penurunan Average Revenue Per User (ARPU) yang disebabkan oleh melemahnya daya beli masyarakat.
"Bukan faktor kompetisi karena belum terkonfirmasi, tetapi untuk saat ini memang lebih disebabkan daya beli yang mengkhawatirkan," jelas Audi, Sabtu (10/8).
Saham pilihan Kiwoom Sekuritas jatuh pada TLKM dengan target harga di Rp 3.500 dan EXCL di Rp 2.700. Hingga akhir perdagangan Jumat (9/8), EXCL parkir di level Rp 2.160 saham dan TLKM di Rp 2.830.
Bakrie & Brothers (BNBR) Andalkan Bisnis Eksisting untuk Dongkrak Kinerja
PT Bakrie & Brothers Tbk (BNBR) fokus mengerek kinerja pada tahun ini dengan mengandalkan bisnis eksisting. [386] url asal
#berita-nasional #indonesia #pemerintah #kebijakan-ekonomi
(Kontan-Investasi) 12/08/24 05:53
v/14254909/
Reporter: Filemon Agung | Editor: Khomarul Hidayat
KONTAN.CO.ID-JAKARTA. Kinerja PT Bakrie & Brothers Tbk (BNBR) bangkit di tahun ini. BNBR akan fokus mengerek kinerja pada tahun ini dengan mengandalkan bisnis eksisting.
Direktur BNBR Roy Hendrajanto M. Sakti mengatakan, pada sisa tahun ini BNBR akan terus mengembangkan bisnis eksisting di bidang manufaktur dan infrastruktur.
"BNBR akan terus berupaya untuk mengoptimalkan unit usahanya, terutama sejumlah proyek strategis yang fokus pada penguatan fondasi menuju bisnis berkelanjutan dan senantiasa meningkatkan daya saing perusahaan," kata Roy kepada Kontan, Jumat (9/8).
BNBR membukukan laba bersih Rp 139,83 miliar pada semester I 2024. Laba ini naik 47,18% year on year (yoy) dari periode sama ditahun sebelumnya sebesar Rp 95 miliar.
Raihan laba bersih ini dicapai di tengah penurunan sisi top line atau pendapatan sepanjang semester I 2024.
Merujuk laporan keuangan BNBR, pendapatan BNBR mencapai Rp 1,79 triliun atau turun 8,89% yoy dari sebelumnya Rp 1,96 triliun.
Jika dirinci, pendapatan BNBR selama enam bulan pertama tahun ini ditopang dari pendapatan jasa infrastruktur dan manufaktur sebesar RP 1,72 triliun, jasa fabrikasi dan konstruksi sebesar Rp 55,56 miliar serta perdagangan, jasa dan investasi sebesar Rp 15,57 miliar.
"Pada semester I-2024 BNBR mempertahankan raihan laba bersih yang positif didukung efisiensi operasional serta keuntungan atas penjualan aset tetap dan keuntungan kurs," jelas Roy.
Adapun, BNBR berhasil memangkas beban pokok penjualan sebesar 12,71% yoy dari Rp 1,58 triliun pada semester I 2023 menjadi Rp 1,38 triliun pada semester I 2024.
BNBR mencatatkan peningkatan nilai aset menjadi Rp 7,27 triliun pada semester I 2024. Jumlah ini meningkat dari 31 Desember 2023 yang sebesar Rp 7,1 triliun.
BNBR turut memangkas liabilitas dari Rp 4,44 triliun pada 31 Desember 2023 menjadi Rp 3,73 triliun di Semester I 2024. Jumlah ekuitas BNBR meningkat dari Rp 2,66 triliun menjadi Rp 3,53 triliun.
Meski tak merinci, Roy menegaskan untuk memuluskan target tahun ini BNBR akan memaksimalkan belanja modal untuk mencapai target yang telah ditetapkan.
"BNBR optimis tahun ini akan mampu meningkatkan pendapatan perusahaan yang lebih baik dari tahun sebelumnya," imbuh Roy.
Melongok Rekomendasi Saham Konstituen Indeks Kompas100, Mana yang Jadi Jagoan Analis?
Kinerja emiten konstituen indeks Kompas100 diperkirakan makin moncer di semester II 2024. [766] url asal
#kompas100 #rekomendasi-saham #rekomendasi-saham-hari-ini #indeks-kompas100 #berita-nasional #indonesia #pemerintah #kebijakan-ekonomi
(Kontan-Investasi) 12/08/24 05:50
v/14254910/
Reporter: Pulina Nityakanti | Editor: Khomarul Hidayat
KONTAN.CO.ID - JAKARTA. Maororitas kinerja emiten konstituen indeks Kompas100 di semester I 2024 mencatatkan kinerja positif. Di semester II 2024, kinerja keuangan emiten sektor perbankan, energi, dan kesehatan dinilai masih menjadi unggulan di antara yang lain.
Dari sektor perbankan misalnya, PT Bank Central Asia Tbk (BBCA) tercatat mengantongi laba bersih Rp 26,9 triliun pada semester I 2024, naik 11,1% secara tahunan alias year on year (yoy). PT Bank Rakyat Indonesia Tbk (BBRI) mencatat laba bersih konsolidasian sebesar Rp 29,7 triliun pada semester pertama tahun 2024, naik 0,95% YoY.
PT Bank Mandiri (Persero) Tbk. (BMRI) mencatatkan laba bersih Rp26,6 triliun pada semester I 2024. Sementara, PT Bank Negara Indonesia (BBNI) mencatatkan laba bersih bank only Rp8,6 triliun pada periode Januari-Mei 2024, naik 2% YoY.
Dari sektor energi, PT Amman Mineral Internasional Tbk (AMMN) mencatatkan kenaikan laba bersih sebesar 300% YoY dari US$ 118,80 juta ke level US$ 475,25 juta. PT Medco Energi Internasional Tbk (MEDC) meraih laba bersih senilai US$ 200,99 juta, melejit setinggi 68,24% YoY.
Dari sektor kesehatan, PT Medikaloka Hermina Tbk (HEAL) mengantongi laba bersih sebesar Rp 343,15 miliar di semester I-2024, melonjak 69,59% YoY. Laba bersih PT Mitra Keluarga Karyasehat Tbk (MIKA) melesat 32,54% YoY menjadi Rp 600,56 miliar dari sebelumnya Rp 453,10 miliar. PT Kalbe Farma Tbk (KLBF) mencatat laba bersih pada semester I 2024 sebesar Rp 1,80 triliun, meningkat 18,42% YoY.
Melihat segi kinerja saham, SSIA terbang paling tinggi secara year to date (ytd). Saham SSIA naik 150% ytd, SMIL 141,32%, DOID 111,65%, TPIA 99,52%, dan AMMN naik 69,47%.
Sementara, saham PTMP turun paling dalam sejak awal tahun, yaitu 67,33% ytd. Lalu, BBYB turun 44,95%, BUKA 44,91%, SMGR 41,09%, dan GOTO 33,9%.
Pengamat Pasar Modal, Mayang Anggita melihat, lebih dari setengah emiten konstituen indeks Kompas100 mencatatkan pertumbuhan laba secara tahunan.
“Artinya di tengah kondisi global yang fluktuatif, emiten konstituen indeks Kompas100 dinilai cukup mampu bertahan,” ujarnya kepada Kontan, Sabtu (10/8).
Sejumlah sentimen global dan domestik memberikan dampak ke kinerja emiten konstituen Kompas100. Dari global, ada sentimen terkait keputusan suku bunga The Fed, ketegangan geopolitik, dan fluktuasi harga komoditas.
“Sementara, dari dalam negeri, ada sentimen rilis data PDB Indonesia di angka 5,05%, serta rilis data consumer confidence dan data retail sales yang hasilnya positif. Bisa disimpulkan bahwa kondisi ekonomi kita cukup solid,” kata Mayang.
Di semester II nanti, ketika kondisi ekonomi global membaik dan ketegangan mulai mereda, ada kemungkinan untuk arus dana yang masuk masuk ke negara berkembang, termasuk Indonesia.
“Ini bisa menjadi sentimen positif bagi para emiten dalam negeri, termasuk juga emiten konstituen Kompas100,” ungkapnya.
Mayang pun melihat emiten-emiten dari sektor perbankan akan berkinerja paling solid di semester II nanti. Selain dari hasil kinerja di semester I, jika dilihat dari kacamata teknikal, saham BBCA, BBRI, BMRI, dan BBNI memiliki tren jangka panjang bullish.
“Di tengah kondisi market yang cukup volatile, kami menyarankan untuk stay conservative dan disiplin dalam penerapan money management,” ujarnya.
Head of Equity Research Kiwoom Sekuritas Indonesia Sukarno Alatas mengatakan, pertumbuhan earning per share (EPS) terbesar pada semester I dicatat PT Timah Tbk (TINS). Lalu, menyusul JPFA, ESSA, TKIM, MARK, JSMR, MAHA, MEDC, ELSA, dan HEAL.
Ada banyak faktor yang mempengaruhi kinerja Kompas100 dan para emiten konstituennya. Dari sisi makro, terjadi peningkatan permintaan domestik (ada jg permintaan dari luar) dan terjadinya kenaikan harga komoditas yang bersangkutan. Selanjutnya faktor spesifik perusahaan dikarenakan strategi bisnis yang efektif (efesiensi biaya) dan peningkatan efesiensi produksi.
Secara mayoritas, saham emiten konstituen indeks kompas1000 mengalami penguatan. Rinciannya, sebanyak 63 positif, 18 stagnan, dan 19 negatif. Kinerja para emiten di semester II kemungkinan bisa lebih positif.
“Ini jika dilihat dari sentimen peluang penurunan tingkat suku bunga The Fed yang kemungkinan akan diikuti juga oleh BI,” kata Sukarno.
Namun, prospek kinerja saham per emiten di semester II masih beragam. Sejumlah saham yang masih mencatatkan penurunan secara ytd pun memiliki peluang untuk kembali pulih dan mengurangi kerugian dibandingkan sebelumnya. Sektor basic material dan perbankan dinilai bisa memiliki peluang yang bagus di semester II.
Sukarno pun merekomendasikan buy untuk BSDE dengan target harga Rp 1.300 per saham, CTRA Rp 1.500 per saham, BBCA Rp 11.000 per saham, BBRI Rp 5.700 per saham, TLKM Rp 3.500 per saham, ASII 5.400 per saham, ICBP Rp 11.600 per saham, AMRT Rp 3.300 per saham, PGAS Rp 1.800 per saham, EXCL Rp 2.700 per saham, SMGR Rp 4.750 per saham, dan SIDO Rp 800 per saham.
Cek Rekomendasi Saham Emiten Konsumer Ini, INDF, ICBP dan MYOR, Mana yang Menarik?
Sejumlah emiten konsumer telah merilis laporan kinerja keuangan semester I-2024 dengan hasil yang bervariasi. [618] url asal
#berita-nasional #indonesia #pemerintah #kebijakan-ekonomi
(Kontan-Investasi) 12/08/24 05:46
v/14254912/
Reporter: Rashif Usman | Editor: Khomarul Hidayat
KONTAN.CO.ID - JAKARTA. Kinerja sejumlah emiten konsumer bervariasi di semester I-2024.
Laba bersih entitas Grup Salim, PT Indofood Sukses Makmur Tbk (INDF), semisal, tergerus 30,76% secara tahunan atau Year on Year (YoY) menjadi Rp 3,84 triliun di sepanjang semester I-2024.
INDF sejatinya masih mampu mencetak pertumbuhan penjualan bersih sebesar 2,61% YoY menjadi Rp 57,29 triliun dari Rp 56,08 triliun per Juni 2023.
Sementara itu, PT Indofood CBP Sukses Makmur Tbk (ICBP) mampu mencetak pertumbuhan pendapatan di semester I-2024. Namun laba bersih produsen Indomie ini harus tergerus karena membengkaknya beban keuangan.
ICBP membukukan penjualan bersih sebesar Rp 36,96 triliun per Juni 2024, tumbuh 7,20% secara tahunan atau year on year (YoY) dari Rp 34,47 triliun.
Namun, ICBP juga mencatat laba periode berjalan yang dapat diatribusikan kepada pemilik entitas induk sebesar Rp 3,53 triliun, merosot 38,21% secara tahunan dari Rp 5,72 triliun.
Sementara, PT Mayora Indah Tbk (MYOR) mencatat laba tahun berjalan Rp 1,75 triliun pada semester I-2024. Angka ini naik 41,12% yoy bila dibandingkan periode yang sama tahun lalu sebesar Rp 1,24 triliun.
Dari sisi pendapatan, MYOR membukukan sebesar Rp 16,23 triliun atau naik 9,47% yoy dibandingkan paruh pertama tahun lalu sebesar Rp 14,8 triliun.
Analis Kiwoom Sekuritas Indonesia, Abdul Azis Setyo Wibowo mengatakan secara keseluruhan kinerja emiten konsumer sejalan sesuai ekspektasi, di mana secara kinerja top line masih solid tetapi secara bottom line memang ada penurunan dikarenakan kenaikan beban bahan baku.
"Kami melihat hal ini sudah sesuai dengan pergerakannya. saat ini MYOR dan ICBP masih menarik diperhatikan," kata Azis kepada Kontan, Jumat (9/8).
Azis menilai, secara prospek saat ini bisa di manfaatkan adanya penguatan rupiah untuk trading, hal ini biasanya akan ada price in oleh pelaku pasar karena adanya estimasi dari sisi bottom line karena penurunan beban kinerja.
"Dan untuk kinerja keuangan kami memperkirakan pada semester II-2024 kinerja top line masih akan cenderung tumbuh terbatas dan akan ada perbaikan kinerja dari sisi bottom line," ujarnya.
Dalam riset tanggal 7 Agustus 2024, Analis Mirae Asset Sekuritas Indonesia Abyan Habib Yuntoharjo berpendapat bahwa pertumbuhan sektor konsumer akan stabil pada semester II-2024, serupa dengan kinerja di semester I-2024.
Abyan menilai pertumbuhan volume dibandingkan kenaikan harga akan menjadi pendorong pendapatan utama, kecuali MYOR yang berencana menaikkan Average Selling Price (ASP) secara bertahap.
"Sektor ini fokus pada penetrasi pasar karena melemahnya daya beli," kata Abyan dalam risetnya, Rabu (7/8).
Secara historis, sektor ini telah tumbuh sekitar 7,2% per tahun dalam tujuh tahun terakhir. Namun, pertumbuhan ini hanya satu digit.
"Kami menjaga pandangan hati-hati terhadap margin pada semester II-2024 karena volatilitas bahan baku. Meskipun beberapa harga material telah stabil, biaya input yang tinggi dapat menyebabkan opex untuk melindungi margin EBIT (laba sebelum bunga dan pajak)," jelasnya.
Abyan menerangkan ada sejumlah faktor utama yang membentuk prospek sektor konsumer pada semester II-2024, antara lain bantuan pemerintah, pemilihan kepala daerah, pelantikan Presiden baru, potensi cukai pada minuman manis dan gula, serta implementasi kenaikan Pajak Pertambahan Nilai (PPN) menjadi 12% pada awal tahun depan.
"Kami mempertahankan sikap netral terhadap sektor konsumen karena tidak adanya katalisator yang substansial, meskipun ada antisipasi peningkatan ekonomi pada paruh kedua tahun 2024. Kami memperkirakan dampak penuh dari kebijakan pemerintah akan terwujud pada tahun 2025," imbuhnya.
Abyan merekomendasikan untuk hold saham ICBP dengan target harga Rp 11.000 - Rp 11.200, trading buy pada INDF dengan target harga Rp 6.100 - Rp 7.000, buy MYOR dengan target harga Rp 2.570 - Rp 3.270 per saham.
Azis merekomendasikan untuk trading buy saham MYOR dengan target harga Rp 2.740 dan ICBP dengan target harga Rp 11.825.
Jadi Pengawas Aset Kripto, OJK Buka Peluang Atur Kategorisasi dan Batas Minimum
Mulai Januari 2025 pengawasan aset kripto akan beralih dari Bappebti ke OJK [352] url asal
#berita-nasional #indonesia #pemerintah #kebijakan-ekonomi
(Kontan-Investasi) 12/08/24 05:37
v/14252493/
Reporter: Nova Betriani Sinambela | Editor: Yudho Winarto
KONTAN.CO.ID - JAKARTA. Mulai Januari 2025 pengawasan aset kripto akan beralih dari BAPPEBTI (Badan Pengawas Perdagangan Berjangka Komoditi di bawah Kementerian Perdagangan) ke Otoritas Jasa Keuangan (OJK).
Merujuk pada Peta Jalan Pengembangan dan Penguatan Inovasi Teknologi Sektor Keuangan (ITSK), Aset Keuangan Digital dan Aset Kripto (IAKD) 2024-2028, sebelumnya BAPPEBTI mengatur aset kripto sebagai bagian dari komoditas dalam kontrak berjangka di Bursa Berjangka.
Namun dalam perjalanannya, aset kripto di Indonesia mengalami perubahan. UU P2SK memberikan kewenangan kepada OJK untuk mengatur dan mengawasi kegiatan di ITSK, yang meliputi aset keuangan digital dan aset kripto. Dengan demikian, di bawah naungan OJK aset kripto berpeluang berubah dari komoditas menjadi aset keuangan digital.
"Adapun tugas pengaturan dan pengawasan aset keuangan digital termasuk aset kripto akan beralih dari Badan Pengawas Perdagangan Berjangka Komoditi (BAPPEBTI) ke OJK pada bulan Januari 2025," tulis OJK dalam Peta Jalan Pengembangan dan Penguatan Inovasi Teknologi Sektor Keuangan (ITSK), Aset Keuangan Digital dan Aset Kripto (IAKD) 2024-2028 dikutip Minggu (11/8).
Kepala Inovasi Teknologi Sektor Keuangan (ITSK) dan Aset Keuangan Digital Dan ?Aset Kripto (IAKD) OJK Hasan Fawzi mengatakan dalam masa peralihan, pihaknya masih akan mengadopsi peraturan, mekanisme pengawasan dan pelaporan yang selama ini berlaku di BAPPEBTI.
"Hanya saja memang mau tidak mau akan ada perubahan di kategorisasi definisi kelompok asetnya," kata Hasan.
Terkait kategorisasi aset, OJK tidak menutup kemungkinan akan menaikkan batas minimum permodalan menyesuaikan dengan rencana pengembangan bisnis nantinya. Tetapi untuk saat ini, Hasan menegaskan masih akan mengadopsi ketentuan dari BAPPEBTI mengenai batas minimum aset kripto.
"Sekali lagi di fase 1 ini kami mengadopsi apa yang sudah berlaku untuk para pedagang pasar fisik aset kripto. Kalau dilihat dari apa yang dilakukan sekarang, rasanya dengan permodalan yang ditentukan oleh BAPPEBTI sudah sangat memadai di angka Rp 100 miliar di awal," pungkas Hasan.
Untuk diketahui, berdasarkan data BAPPEBTI hingga Juni 2024 total investor aset kripto dalam negeri mencapai 20,24 juta orang, bertambah 490 ribu investor dibandingkan bulan sebelumnya.
Sementara nilai transaksi aset kripto sejak Januari hingga Juni 2024 mencapai Rp301,75 triliun. Angka tersebut naik signifikan dibandingkan sepanjang 2023 yang sekitar Rp149,50 triliun.
Intip Rekomendasi Saham Emiten Sawit di Tengah Potensi Kenaikan Permintaan CPO Global
Kinerja emiten sawit diperkirakan bakal kena sentimen positif dari potensi kenaikan permintaan minyak CPO global. [607] url asal
#cpo #sgro #harga-cpo #aali #pt-triputra-agro-persada-tbk-tapg #saham-tapg #berita-nasional #indonesia #pemerintah #kebijakan-ekonomi
(Kontan-Investasi) 12/08/24 05:34
v/14252307/
Reporter: Pulina Nityakanti | Editor: Khomarul Hidayat
KONTAN.CO.ID - JAKARTA. Potensi kenaikan permintaan minyak sawit mentah atau crude palm oil (CPO) global diperkirakan bakal mengangkat kinerja emiten sawit.
Potensi kenaikan ini dipicu permintaan dari India dan China yang secara bertahap meningkatkan pembelian CPO.
Pengamat komoditas dan Founder Traderindo.com, Wahyu Tribowo Laksono mengungkapkan, impor minyak sawit India naik 12,4% pada bulan Mei dari bulan sebelumnya. Permintaan itu mencapai angka tertinggi dalam empat bulan terakhir, karena koreksi harga baru-baru ini menyebabkan pembelian lebih tinggi.
Head of Investment Nawasena Abhipraya Investama, Kiswoyo Adi Joe mengatakan, jika pembelian yang dilakukan dari India dalam jumlah yang besar, harga CPO bisa ikut naik cukup tinggi.
Alhasil, harga rerata alias average selling price (ASP) CPO para emiten juga bisa ikut terkerek. Ini akan menguntungkan semua emiten, baik yang bisnisnya berfokus di pasar global maupun domestik.
Melansir Trading Economics, harga CPO ada di level MYR 3.746 per ton. Ini sudah turun 4,39% dalam sebulan dan terkoreksi 4,37% dalam sepekan.
“Permintaan global itu setidaknya bisa menjaga harga di level sekarang atau bisa lebih tinggi lagi, di atas MYR 4.000 per ton,” ujarnya kepada Kontan, Minggu (11/8).
Di semester II, kinerja emiten sawit diperkirakan akan lebih baik dari semester I. Selain karena potensi kenaikan harga CPO, tibanya musim panen raya juga akan menguatkan raihan pendapatan para emiten.
“Emiten yang untungnya paling besar nanti adalah mereka dengan umur tanaman sawit yang ada di masa prima, yaitu sekitar 12 tahun,” paparnya.
Di sisi lain, harga sejumlah saham emiten CPO tercatat bervariasi. Misalnya, PT Astra Agro Lestari Tbk (AALI) kinerjanya terkoreksi 17,08% secara year to date (ytd). Saham PT Sampoerna Agro Tbk (SGRO) turun 1,49% ytd.
Sementara, saham PT Triputra Agro Persada Tbk (TAPG) naik 29,36% ytd. PT Dharma Satya Nusantara Tbk (DSNG) naik 38,74% ytd.
Kiswoyo bilang, hal itu karena kinerja AALI dan SGRO sedang landai mengingat kedua emiten itu tengah melakukan replanting.
“Penanaman kembali itu butuh waktu sekitar 7 tahun sampai kembali panen,” tuturnya.
Kiswoyo pun merekomendasikan beli untuk LSIP dengan target harga Rp 1.100 per saham, TAPG Rp 850 per saham, AALI Rp 6.500 per saham, dan DSNG Rp 850 per saham.
Senior Investment Information Mirae Asset Sekuritas, Muhammad Nafan Aji Gusta Utama mengatakan, peningkatan permintaan dari India otomatis memberikan katalis positif dan mengerek meningkatkan ASP dari emiten CPO.
“penjualan emiten CPO memang mayoritas lebih menitikberatkan kepada penjualan domestik. Namun, karena ini bisa menaikkan ASP, jadi dampak positif juga,” ujarnya kepada Kontan, Minggu (11/8).
Di semester II, akan terjadi musim panen raya yang bisa membuat harga CPO stagnan atau turun karena pasokan berlebih. Namun, kenaikan permintaan bisa mengimbangi sentimen negatif tersebut.
“Topline para emiten tetap bisa meningkat. Apalagi, permintaan domestik juga masih tinggi, khususnya untuk konsumsi masyarakat Indonesia,” paparnya.
Untuk kinerja ekspor CPO Indonesia, kemungkinan masih akan terganjal kebijakan Uni Eropa yang membatasi impor produk sawit
“Namun, perlu dicermati bahwa perekonomian di India sedang mengalami pemulihan. Jadi ini semestinya bisa menjadi katalis positif untuk menciptakan permintaan di industri CPO. Tak hanya dari China dan India, permintaan dari Bangladesh juga mungkin bisa naik,” tuturnya.
Meskipun begitu, Nafan belum memberikan rekomendasi untuk emiten CPO.
Equity Analyst Kanaka Hita Solvera William Wibowo melihat, pergerakan saham AALI ada di level support Rp 5.250 per saham dan resistance Rp 6.250 per saham. William pun merekomendasikan buy on weakness saham AALI dengan target harga akhir tahun Rp 6.000 - Rp 6.200 per saham.
Sementara, pergerakan saham TAPG dengan support Rp 650 per saham dan resistance Rp 770 per saham. William pun merekomendasikan beli untuk AALI dengan target harga akhir tahun Rp 750 - Rp 770 per saham.
Menakar Arah Pergerakan IHSG hingga Akhir Tahun 2024
proyeksi pergerakan IHSG hingga akhir tahun 2024 [637] url asal
#ihsg #indeks-harga-saham-gabungan-ihsg #saham-ihsg #proyeksi-ihsg #berita-nasional #indonesia #pemerintah #kebijakan-ekonomi
(Kontan-Investasi) 11/08/24 21:04
v/14210063/
Reporter: Rashif Usman | Editor: Anna Suci Perwitasari
KONTAN.CO.ID - JAKARTA. Laju Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) merosot 0,22% year to date hingga penutupan perdagangan Jumat (9/8) ke posisi 7.256,996. Lantas bagaimana prediksi IHSG hingga akhir tahun 2024?
Senior Investment Information Mirae Asset Sekuritas Indonesia, Nafan Aji Gusta menilai arah IHSG hingga akhir tahun dipengaruhi oleh faktor fundamental makro domestik yang solid, suku bunga acuan Bank Indonesia (BI), serta kepastian politik dan keamanan dalam negeri.
Sementara itu, dari sisi global, IHSG juga dipengaruhi oleh potensi Bank Sentral Amerika Serikat (AS) atau The Fed yang akan melakukan kelonggaran kebijakan moneter dimulai pada September 2024 mendatang.
Disisi lain juga dengan dinamika politik dan keamanan, misalnya terkait Pemilu (AS) di 5 November nanti dan perang yang terjadi di Timur Tengah dan Eropa yang akan mempengaruhi kondisi pasar.
"Jadi seperti itu gambaran singkat terkait faktor yang berkaitan dengan makro," kata Nafan kepada Kontan, Minggu (11/8).
Kemudian, pada data mikro berkaitan dengan laporan kinerja keuangan emiten pada kuartal III-2024 dan kuartal IV-2024. Dirinya memproyeksikan kinerja emiten akan relatif tumbuh positif baik dari sisi top line maupun bottom line.
"Itu saja faktor umum, namun krusial terhadap market," ujarnya.
Dalam risetnya, Nafan memproyeksikan IHSG akan mencapai di level 7.585 hingga akhir tahun.
Sementara itu, Nafan juga bilang, apabila the Fed benar mengumumkan penurunan suku bunga acuan pada September mendatang, maka otomatis rupiah akan menguat.
"Kalau benar-benar suku bunga acuan telah diturunkan pada FOMC meeting pada bulan-bulan berikutnya, tentu ini akan membuat posisi rupiah akan terapresiasi. Nanti jadinya BI juga akan mengikuti langkah yang sama terhadap The Fed," ujarnya.
"Kecenderungannya lebih kepada apresiasi, atau dalam hal ini kita lihat USD IDR-nya memang sejatinya sudah berpotensi akan lebih bearish," tambahnya.
Ditambah lagi, data makro ekonomi dalam negeri yang hasilnya di atas ekspektasi. Kondisi ini menggambarkan bahwa fundamental ekonomi Indonesia relatif kuat dan membuat rupiah terapresiasi dengan baik.
"Ya ini tentunya juga biasanya memiliki korelasi positif dengan penguatan antara rupiah, IHSG, dan volatility index misalnya. Kalau volatility index relatif melandai, tentunya ini membuat posisi rupiah dan IHSG terapresiasi," jelasnya.
Nafan menambahkan bahwa pasar optimistis akan terjadi soft landing apabila The Fed benar-benar mulai menerapkan pivot policy. "Jadi tren suku bunga acuan akan mulai pada September hingga seterusnya tahun depan," terangnya.
Associate Director of Research and Investment Pilarmas Investindo Sekuritas, Maximilianus Nico Demus memproyeksikan sampai dengan akhir tahun IHSG berpotensi mengalami kenaikan.
"IHSG diproyeksikan mencapai 7.350 - 7.460 hingga akhir tahun," kata Nico kepada Kontan, Minggu (11/8) malam.
Nico berpendapat ada sejumlah sentimen positif yang membuat IHSG berpotensi mengalami kenaikan, misalnya potensi penurunan tingkat suku bunga The Fed, potensi penurunan harga minyak, momentum pemilihan kepala daerah, pelantikan Presiden baru dan pemilihan jajaran kabinet serta potensi penurunan suku bunga acuan dari BI.
Sementara untuk sentimen negatif dipengaruhi oleh tensi geopolitik, volatilitas Pemilu AS dan narasi resesi AS.
Nico juga mengungkapkan sejumlah strategi yang dibutuhkan untuk para investor hingga akhir tahun, antara lain investor perlu menentukan persepsi berdasarkan data yang ada dan tidak boleh terbawa narasi, menentukan durasi investasi dan perlu mencocokkan dengan profil risiko.
Kemudian, para investor perlu menyesuaikan investasi dengan profil risiko dan memperhatikan fundamental saham.
"Setiap penurunan sebuah kesempatan, setiap kenaikan sebuah harapan," tuturnya.
Pengamat Pasar Modal dari Universitas Indonesia Budi Frensidy menyampaikan bahwa IHSG kemungkinan besar di atas level 7.000 apabila rupiah berada di bawah Rp 16.000 per dolar AS.
"Hampir pasti di atas 7.000. Sangat mungkin antara 7.500-7.600 jika rupiah di kisaran Rp 15.500 per dolar AS. Jika rupiah lebih lemah daripada itu, mungkin IHSG di bawah 7.500," kata Budi kepada Kontan, Minggu (11/8) malam.
Budi juga menerangkan strategi yang perlu dicermati para investor di tengah berbagai katalis ke depan, yakni tetap selektif dalam membeli saham sesuai dengan analisisnya dan tidak ikut-ikutan.
Pemerintah Tawarkan Sukuk Wakaf Ritel SWR005 dengan Tingkat Imbalan 6,50%
Pemerintah tawarkan sukuk wakaf ritel SWR005 hingga 9 Oktober 2024 [411] url asal
#sukuk-wakaf-ritel #berita-nasional #indonesia #pemerintah #kebijakan-ekonomi
(Kontan-Investasi) 11/08/24 19:50
v/14202984/
Reporter: Akmalal Hamdhi | Editor: Anna Suci Perwitasari
KONTAN.CO.ID – JAKARTA Pemerintah resmi membuka masa penawaran Sukuk Wakaf Ritel seri SWR005 kepada wakif individu dan institusi. Bagi masyarakat yang tertarik bisa memulai pemesanan dengan minimum Rp 1 juta dan tanpa maksimum pemesanan.
Pemerintah melalui Direktorat Jenderal Pengelolaan Pembiayaan dan Risiko (DJPPR) Kementerian Keuangan mengungkapkan, masa penawaran SWR005 akan berlangsung selama dua bulan, yakni hingga 9 Oktober 2024. Sementara tanggal setelmen atau penerbitannya 16 Oktober 2024.
SWR005 memiliki tenor 2 tahun yang akan jatuh tempo 10 Oktober 2026. Penerbitan SWR005 ini menggunakan akad wakalah. Tanpa warkat dan tidak dapat diperdagangkan (non tradable) di pasar sekunder.
“Penerbitan Sukuk Wakaf Ritel seri SWR005 merupakan salah satu bentuk komitmen Pemerintah untuk mendukung Gerakan Nasional Wakaf Uang, membantu pengembangan investasi sosial dan pengembangan wakaf produktif di Indonesia,” kata DJPPR dalam keterangannya pada Jumat (9/8).
DJPPR menyebutkan, penerbitan SWR005 dikelola berdasarkan prinsip syariah, serta telah mendapatkan pernyataan kesesuaian syariah dari Dewan Syariah Nasional Majelis Ulama Indonesia (DSN-MUI).
Melalui Sukuk Wakaf Ritel seri SWR005, Pemerintah bertujuan untuk memfasilitasi para pewakaf uang baik yang bersifat temporer maupun permanen untuk dapat menempatkan dana wakafnya pada instrument yang aman dan produktif.
Adapun besaran kupon atau tingkat imbalan SWR005 yakni 6,50% floating with floor yang akan disalurkan untuk program sosial bagi masyarakat. Pembayaran imbalan setiap tanggal 10 setiap bulannya dengan pembayaran pertama pada 10 Desember 2024 (long coupon).
Penyaluran imbalan akan dilakukan oleh Nazhir yang ditunjuk oleh Lembaga Keuangan Syariah-Penerima Wakaf Uang (LKSPWU) dan disetujui oleh Badan Wakaf Indonesia (BWI) sebagai regulator dan pengawas Nazhir.
Selanjutnya, Nazhir wajib membuat laporan kepada BWI, Kementerian Agama, Kementerian Keuangan, dan wakif (pembeli CWLS) sebagai bentuk transparansi dan akuntabilitas pengelolaan dan penyaluran dana imbalan CWLS.
Cara Membeli SWR005
Bagi investor yang berminat melakukan pemesanan pembelian SWR005 secara online dapat melalui 4 (empat) tahap, yaitu (i) registrasi melalui sistem elektronik Midis, (ii) pemesanan melalui sistem elektronik Midis, (iii) pembayaran melalui bank persepsi dengan berbagai saluran pembayaran, (iv) menerima bukti konfirmasi kepemilikan CWLS Ritel.
Sementara proses pemesanan pembelian Sukuk Wakaf Ritel seri SWR005 secara offline dapat dilakukan melalui 4 (empat) tahap, yaitu (i) datang langsung ke kantor Midis, (ii) mengisi formular akta ikrar wakaf dan pemesanan, (iii) menyetorkan dana, dan (iv) wakif mendapatkan sertifikat wakaf uang.
Adapun untuk pemesanan pembelian SWR005, calon wakif dapat menghubungi 6 (enam) Mitra Distribusi yang telah ditunjuk oleh Pemerintah, yaitu:
- PT Bank Syariah Indonesia
- PT Bank Muamalat Indonesia
- PT Bank Mega Syariah
- PT Bank KB Bukopin Syariah
- PT Bank CIMB Niaga Syariah
- PT Bank Permata Syariah
Permintaan CPO Global Naik, Simak Prospek Kinerja Emiten Sawit
Kinerja emiten sawit diperkirakan bakal kena sentimen positif dari potensi kenaikan permintaan minyak CPO global. [620] url asal
#cpo #sgro #harga-cpo #aali #pt-triputra-agro-persada-tbk-tapg #saham-tapg #berita-nasional #indonesia #pemerintah #kebijakan-ekonomi
(Kontan-Investasi) 11/08/24 18:57
v/14199052/
Reporter: Pulina Nityakanti | Editor: Khomarul Hidayat
KONTAN.CO.ID - JAKARTA. Kinerja emiten sawit diperkirakan bakal kena sentimen positif dari potensi kenaikan permintaan minyak sawit mentah atau crude palm oil (CPO) global.
Asal tahu saja, potensi kenaikan ini dipicu permintaan dari India dan China yang secara bertahap meningkatkan pembelian minyak kelapa sawit alias crude palm oil (CPO).
Pengamat komoditas dan Founder Traderindo.com, Wahyu Tribowo Laksono mengungkapkan, impor minyak sawit India naik 12,4% pada bulan Mei dari bulan sebelumnya. Permintaan itu mencapai angka tertinggi dalam empat bulan terakhir, karena koreksi harga baru-baru ini menyebabkan pembelian lebih tinggi.
Head of Investment Nawasena Abhipraya Investama, Kiswoyo Adi Joe mengatakan, jika pembelian yang dilakukan dari India dalam jumlah yang besar, harga CPO bisa ikut naik cukup tinggi.
Alhasil, harga rerata alias average selling price (ASP) CPO para emiten juga bisa ikut terkerek. Ini akan menguntungkan semua emiten, baik yang bisnisnya berfokus di pasar global maupun domestik.
Melansir Trading Economics, harga CPO ada di level MYR 3.746 per ton. Ini sudah turun 4,39% dalam sebulan dan terkoreksi 4,37% dalam sepekan.
“Permintaan global itu setidaknya bisa menjaga harga di level sekarang atau bisa lebih tinggi lagi, di atas MYR 4.000 per ton,” ujarnya kepada Kontan, Minggu (11/8).
Di semester II, kinerja emiten sawit diperkirakan akan lebih baik dari semester I. Selain karena potensi kenaikan harga CPO, tibanya musim panen raya juga akan menguatkan raihan pendapatan para emiten.
“Emiten yang untungnya paling besar nanti adalah mereka dengan umur tanaman sawit yang ada di masa prima, yaitu sekitar 12 tahun,” paparnya.
Di sisi lain, harga sejumlah saham emiten CPO tercatat bervariasi. Misalnya, PT Astra Agro Lestari Tbk (AALI) kinerjanya terkoreksi 17,08% secara year to date (ytd). Saham PT Sampoerna Agro Tbk (SGRO) turun 1,49% ytd.
Sementara, saham PT Triputra Agro Persada Tbk (TAPG) naik 29,36% ytd. PT Dharma Satya Nusantara Tbk (DSNG) naik 38,74% ytd.
Kiswoyo bilang, hal itu karena kinerja AALI dan SGRO sedang landai mengingat kedua emiten itu tengah melakukan replanting.
“Penanaman kembali itu butuh waktu sekitar 7 tahun sampai kembali panen,” tuturnya.
Kiswoyo pun merekomendasikan beli untuk LSIP dengan target harga Rp 1.100 per saham, TAPG Rp 850 per saham, AALI Rp 6.500 per saham, dan DSNG Rp 850 per saham.
Senior Investment Information Mirae Asset Sekuritas, Muhammad Nafan Aji Gusta Utama mengatakan, peningkatan permintaan dari India otomatis memberikan katalis positif dan mengerek meningkatkan ASP dari emiten CPO.
“penjualan emiten CPO memang mayoritas lebih menitikberatkan kepada penjualan domestik. Namun, karena ini bisa menaikkan ASP, jadi dampak positif juga,” ujarnya kepada Kontan, Minggu (11/8).
Di semester II, akan terjadi musim panen raya yang bisa membuat harga CPO stagnan atau turun karena pasokan berlebih. Namun, kenaikan permintaan bisa mengimbangi sentimen negatif tersebut.
“Topline para emiten tetap bisa meningkat. Apalagi, permintaan domestik juga masih tinggi, khususnya untuk konsumsi masyarakat Indonesia,” paparnya.
Untuk kinerja ekspor CPO Indonesia, kemungkinan masih akan terganjal kebijakan Uni Eropa yang membatasi impor produk sawit
“Namun, perlu dicermati bahwa perekonomian di India sedang mengalami pemulihan. Jadi ini semestinya bisa menjadi katalis positif untuk menciptakan permintaan di industri CPO. Tak hanya dari China dan India, permintaan dari Bangladesh juga mungkin bisa naik,” tuturnya.
Meskipun begitu, Nafan belum memberikan rekomendasi untuk emiten CPO.
Equity Analyst Kanaka Hita Solvera William Wibowo melihat, pergerakan saham AALI ada di level support Rp 5.250 per saham dan resistance Rp 6.250 per saham. William pun merekomendasikan buy on weakness saham AALI dengan target harga akhir tahun Rp 6.000 - Rp 6.200 per saham.
Sementara, pergerakan saham TAPG dengan support Rp 650 per saham dan resistance Rp 770 per saham. William pun merekomendasikan beli untuk AALI dengan target harga akhir tahun Rp 750 - Rp 770 per saham.
IHSG Rawan Terkoreksi pada Senin (12/8), Cek Rekomendasi Sahamnya
analis memberikan rekomendasi saham untuk perdagangan besok (12/8) [472] url asal
#ihsg #indeks-harga-saham-gabungan-ihsg #saham-ihsg #proyeksi-ihsg #ihsg-hari-ini #rekomendasi-saham #berita-nasional #indonesia #pemerintah #kebijakan-ekonomi
(Kontan-Investasi) 11/08/24 18:41
v/14197828/
Reporter: Rashif Usman | Editor: Anna Suci Perwitasari
KONTAN.CO.ID - JAKARTA. Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) ditutup menguat 0,86% dan berakhir di level 7.256,996 pada Jumat (9/8). Dengan posisi tersebut, IHSG masih melemah 0,70% dalam sepekan.
Equity Research Analyst Alrich Paskalis Tambolang melihat, secara teknikal, IHSG berhasil breakout MA20 (7253) seiring dengan golden cross pada Stochastic RSI dan penyempitan negative slope pada MACD. Dengan demikian, IHSG diperkirakan bergerak dalam rentang area 7.200 - 7.300 untuk beberapa waktu ke depan.
Dari global, pasar menantikan rilis data Indeks Harga Produsen (PPI) Amerika Serikat pada Selasa (13/8) sebagai acuan untuk mengukur inflasi yang terjadi pada tingkat produsen.
Data terebut diperkirakan akan meningkat 0.1% secara bulanan atau month on month (mom) pada Juli 2024, dari yang sebelumnya 0.2% pada Juni 2024.
"Penurunan PPI berpotensi meningkatkan peluang pemangkasan suku bunga the Fed di bulan September 2024. Berdasarkan jajak pendapat CME FedWatch Tools, peluang pemangkasan suku bunga the Fed tercatat sebesar 100% pada FOMC September 2024," kata Alrich kepada Kontan, Jumat (9/8).
Sementara, dari regional pasar menantikan rilis data New Yuan Loans bulan Juli 2024 pada Senin (12/8) yang diperkirakan sebesar CNY 450 miliar, dari yang sebelumnya sebesar CNY 2.13 triliun pada Juni 2024.
Sementara, jumlah uang beredar (M2) di Tiongkok diperkirakan tumbuh 6.1% pada bulan Juli 2024 atau lebih rendah dari bulan Juni 2024 sebesar 6.2%.
Alrich bilang, adapun ekspektasi penurunan tajam pada pinjaman di Tiongkok disebabkan oleh permintaan kredit yang lesu seiring dengan penyaluran pinjaman oleh bank-bank di Tiongkok yang mengalami penurunan mencapai 79% MoM.
"Data ini diharapkan akan memberikan petunjuk lebih lanjut tentang momentum ekonomi di paruh kedua tahun 2024 di Tiongkok," ujarnya.
Dari domestik, realisasi pertumbuhan penjualan ritel naik ke 2.7% yoy di Juni 2024 dari 2.1% yoy di Mei 2024. Kondisi mengindikasikan konsumsi domestik yang tetap solid sepanjang semester I-2024.
Pada pekan depan, pasar juga mengantisipasi data Neraca perdagangan Indonesia (NPI) Juli 2024.
Analis MNC Sekuritas Herditya Wicaksana memperkirakan IHSG rawan terkoreksi dengan support di 7219 dan resist di 7267.
"Pergerakan IHSG kami perkirakan akan dipengaruhi oleh pergerakan nilai tukar Rupiah dan investor masih mencermati akan beberapa rilis data di AS dan China," terang Herditya kepada Kontan, Jumat (9/8).
Herditya merekomendasikan untuk mencermati saham PT. Astra International Tbk (ASII) dengan target harga Rp 4.830-Rp 4.860, PT Indofood Sukses Makmur dengan target harga Rp 6.300-Rp 6.475 dan PT Delta Dunia Makmur (DOID) dengan target harga Rp 760-Rp 780 per saham.
Sementara itu, Alrich merekomendasikan untuk mencermati saham AKRA, INDY, ICBP, UNVR, BRIS, dan TLKM.
Potensi Keuntungan Ganda dari Reksadana Dolar AS Saat Suku Bunga Acuan Dipangkas
Reksadana berbasis dolar Amerika Serikat (AS) layak dicermati saat pemangkasan suku bunga The Fed kian dekat. [734] url asal
#reksadana #reksadana-offshore #reksadana-dollar-as #reksadana-dolar-as #kinerja-reksadana #berita-nasional #indonesia #pemerintah #kebijakan-ekonomi
(Kontan-Investasi) 11/08/24 18:15
v/14195110/
Reporter: Akmalal Hamdhi | Editor: Khomarul Hidayat
KONTAN.CO.ID – JAKARTA. Reksadana berbasis dolar Amerika Serikat (AS) layak dicermati saat pemangkasan suku bunga The Fed kian dekat. Reksadana dengan menggunakan mata uang dolar AS ataupun USD ini berpotensi diuntungkan adanya capital gain dan selisih nilai tukar.
Sebagai informasi, dari 100% portofolio yang dimiliki reksadana dolar AS, maksimum yang boleh diinvestasikan di luar negeri hanya sebesar 15%. Dengan kata lain, minimum 85% dana dari reksadana dolar AS harus ditempatkan pada instrumen investasi dalam negeri.
Teruntuk reksadana saham dolar karena tidak tersedianya saham dalam mata uang USD dan investasi ke luar negeri dibatasi maksimum 15%, maka umumnya Manajer Investasi (MI) akan menempatkan dana pada instrumen saham berbasis rupiah. Sedangkan, reksadana pendapatan tetap, pasar uang dan terproteksi berdenominasi USD, seluruh penempatannya pada instrumen berbasis dolar langsung.
Direktur Batavia Prosperindo Aset Manajemen (BPAM) Eri Kusnadi mengatakan, pelemahan dolar AS menjadi sinyal kuat adanya pemangkasan suku bunga the Fed. Seharusnya pelonggaran kebijakan moneter bank sentral AS itu akan menguatkan pasar obligasi ataupun saham.
Dengan suku bunga dipangkas, maka akan meringankan beban utang perusahaan dan bisa mengerek profitabilitas. Selain itu, kondisi melemahnya ekonomi Amerika saat ini dipandang belum mencapai tahap resesi dan kalaupun suku bunga dipangkas lebih banyak maka akan menguntungkan aset obligasi.
“Jadi kalau suku bunga turun karena resesi, maka reksadana saham tidak akan berkinerja bagus. Tapi kalau suku bunga turun saat ekonomi baik-baik saja, maka saham ataupun obligasi bisa reli,” jelas Eri kepada Kontan.co.id, Jumat (9/8).
Eri menilai, kinerja pasar saham AS baru-baru ini terseret pelemahan saham teknologi. Namun prospek saham teknologi sebagai salah satu penggerak utama bursa AS diperkirakan tetap positif.
Koreksi tajam saham teknologi di awal pekan ini dianggap hanya sebagai aksi ambil untung (profit taking), menyusul kabar pemangkasan suku bunga the Fed memicu kemungkinan terjadinya rotasi sektor.
“Kinerja saham teknologi sangat kinclong karena ada artificial intelegence (AI). Sehingga saat bunga mau dipotong terjadi profit taking dan pindah ke saham lebih murah,” tutur Eri.
Direktur Panin Asset Management Rudiyanto melihat, penurunan suku bunga ke depannya akan menjadi sentimen positif untuk obligasi dengan mata uang dolar AS. Apalagi pasar surat utang Indonesia dipandang menjadi salah satu tujuan investasi global.
Sementara itu, pasar saham mungkin juga terkerek adanya pelonggaran kebijakan moneter bank sentral global. Hanya saja, perlu memperhatikan aspek lain seperti fundamental dan valuasi saham-saham perusahaan terkait.
“Kinerja fundamental laporan keuangan dan valuasi saat ini relatif tidak sesuai harapan yang cukup mahal. Pelaku pasar juga cenderung wait and see menjelang pilpres Amerika,” ungkap Rudiyanto kepada Kontan.co.id, Minggu (11/7).
Menurut Rudiyanto, reksadana saham dolar AS baru akan tampak menarik lagi setelah pelaksanaan pilpres. Hal itu karena biasanya di awal pemerintahan baru, indeks acuan SP500 akan cenderung naik.
Terkait potensi lemahnya dolar AS, Rudiyanto menilai, dampak mungkin tidak begitu signifikan bagi kinerja reksadana dolar AS khususnya saham. Eri juga sepakat karena kinerja reksadana dolar lebih dipengaruhi oleh ekonomi AS dan prospek saham perusahaan terkait.
Seperti diketahui, kinerja reksadana saham berbasis dolar berpotensi mendapatkan keuntungan ganda dari kenaikan harga saham dan kurs. Namun, saat rupiah melemah, kinerja reksadana saham ini akan menurun karena asetnya yang berbasis rupiah juga menurun.
Misalnya saat harga saham naik dan kurs rupiah menguat, maka saat nilainya dikonversikan ke dolar AS akan lebih tinggi dibandingkan posisi harga saat membeli aset saham ataupun obligasi tersebut dalam mata uang dolar AS.
Research Analyst Infovesta Kapital Advisori Arjun Ajwani menyebutkan, secara umum prospek reksadana dolar AS khususnya berbasis obligasi akan tetap menarik. Optimisme itu sejalan dengan ekspektasi pemangkasan suku bunga Fed menjelang akhir tahun ini.
“Ada peluang mendapat capital gains melalui investasi di obligasi karena penurunan yield serta kenaikan harga,” ujarnya kepada Kontan.co.id, Jumat (9/8).
Dengan adanya asumsi pemangkasan suku bunga the Fed di sisa tahun ini, Arjun memproyeksi posisi imbal hasil alias yield Surat Berharga Negara (SBN) 10 tahun akan ditutup di kisaran 6,5%-6,8% pada akhir tahun 2024.
Adapun berikut data kinerja 10 produk reksadana dolar AS dengan kinerja terbaik di sepanjang tahun 2024, berdasarkan data Infovesta:
No | Nama Produk Reksadana USD | Kinerja bulan Juli (%) | Kinerja year to date, per 8 Agustus 2024 (%) |
1 | STAR Fixed Income Dollar | 0,90 | 3,66 |
2 | Star Orion Stable Dollar Bond | 0,80 | 2,77 |
3 | Danamas Dollar | 0,31 | 2,20 |
4 | Bahana Liquid USD | 0,26 | 1,86 |
5 | Mandiri Money Market USD | 0,29 | 1,83 |
6 | Bowsprit Township Development USD | 0,24 | 1,83 |
7 | Tram Pendapatan Tetap USD | 0,38 | 1,81 |
8 | Allianz USD Fixed Income Fund | 1,07 | 1,76 |
9 | BNP Paribas Prima USD Kelas RK1 | 1,94 | 1,39 |
10 | Eastspring Syariah Fixed Income USD Kelas A | 1,67 | 1,26 |