REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA -- Dahulu, pada zaman sahabat Nabi Muhammad SAW wabah pernah melanda daulah Islam. Ketika itu, episentrum sebaran penyakit mematikan tersebut berada di Amawas, suatu kota sebelah barat Baitul Makdis, Palestina.
Muhammad Husain Haekal dalam buku biografi tentang Umar bin Khattab menjelaskan, wabah tersebut terus menjalar ke Syam (Suriah) dan bahkan Irak. Tiap orang yang tertular tak lama kemudian akan meninggal dunia.
Sebulan lamanya wabah tersebut menyeruak. Total korban jiwa mencapai 25 ribu orang. Basrah di Irak menjadi kota dengan jumlah korban terbanyak.
Sapuan epidemi juga tiba di kompleks barak tempat tinggal tentara Muslimin di Syam. Jenderal Khalid bin Walid ikut terdampak. Sebanyak 40 orang anaknya meninggal dunia setelah terjangkit penyakit itu.
Kala itu, Muslimin sedang konfrontasi dengan Kekaisaran Romawi Timur (Bizantium). Namun, para jenderal Romawi memilih pasif, alih-alih memanfaatkan "kesempatan" saat pasukan Islam diserang wabah. Sebab, mereka pun tak mau terimbas epidemi yang sama.
Khalifah Umar bin Khattab menyadari bahaya sebaran wabah yang kian menjadi. Saat itu, sahabat berjulukan al-Faruq ini beserta rombongannya dalam perjalanan dari Madinah menuju Suriah (Syam).
Turut bersama sang khalifah adalah Abu Ubaidah bin Jarrah, Yazid bin Abi Sufyan, dan Syurahbil bin Hasanah. Khalifah Umar baru saja tiba di Sar, dekat Tabuk, ketika tiga tokoh tersebut memberitahukan kepadanya ihwal kian merebaknya wabah Amawas.
Mendengar keterangan mereka, Umar merasa khawatir. Ia lantas memimpin musyawarah untuk menentukan sikap: apakah meneruskan perjalanan ke Syam atau balik ke Madinah.
Sebagian mendesak agar perjalanan dilanjutkan. Sebagian yang lain meminta Umar untuk kembali saja ke Kota Nabi.
Keesokan harinya, usai memimpin shalat subuh Umar berseru, “Saya akan kembali ke Madinah, maka ikutlah kalian pulang.”
Namun, keputusan Umar itu didebat Abu Ubaidah. Salah satu jenderal terbaik kaum Muslimin ini mengatakan, dirinya tak mau meninggalkan pasukannya yang masih ada di barak di Syam.
“Wahai Umar, kita akan lari dari takdir Allah?” tanya Abu Ubaidah, retoris.
“Ya, lari dari satu takdir Allah menuju takdir Allah juga,” jawab Umar.
Ia pun menulis lagi surat kepada Abu Ubaidah. Isinya menyarankannya agar memimpin rakyat Syam untuk pindah ke tanah yang lebih tinggi. Belum sempat instruksi itu sampai dan dilakukan, Abu Ubaidah lebih dahulu meninggal dunia.
Muadz bin Jabal tampil sebagai penggantinya. Namun, ia pun ikut terserang wabah yang sama hingga wafat beberapa hari kemudian.
Posisinya digantikan oleh Amr bin Ash. Gubernur Mesir itu lantas berpidato di hadapan rakyat Suriah, “Penyakit ini bila sudah menyerang, menyala bagaikan api. Maka hendaknya kita berlindung dari penyakit ini ke bukit-bukit!”
Seluruh warga mengikuti anjuran ini. Amr dan para pengungsi terus bertahan di dataran-dataran tinggi hingga sebaran wabah Amawas hilang sama sekali.
Amr kemudian bersurat ke Madinah. Khalifah Umar tak menyalahkan Amr yang berinisiatif melaksanakan instruksinya kepada Abu Ubaidah.
Sesudah mengetahui ihwal meredanya wabah Amawas, Umar pun berangkat menuju Syam. Sang khalifah berusaha memulihkan kembali kondisi seluruh warga, termasuk yang sampai mengungsi ke bukit-bukit.