Aktivis hak asasi manusia sekaligus penggagas aksi Kamisan, Maria Catarina Sumarsih memiliki pesan khusus kepada aktivis 1998 yang kini duduk di DPR. [372] url asal
JAKARTA, KOMPAS.com - Aktivis hak asasi manusia sekaligus penggagas aksi Kamisan, Maria Catarina Sumarsih memiliki pesan khusus kepada aktivis 1998 yang kini duduk di parlemen sebagai Anggota DPR RI.
Pesan itu diungkapkan Sumarsih saat peringatan aksi Kamisan ke-828 di depan Istana Negara, Monumen Nasional (Monas), Jakarta Pusat, Kamis (22/8/2024).
“Semoga benar-benar menjadi wakil rakyat yang di sana banyak anak-anak ‘98 yang mestinya anak-anak ‘98 yang ada di DPR itu mempertahankan reformasi dan demokrasi yang diperjuangkan pada tahun 1998,” kata Sumarsih.
Sumarsih yang merupakan ibunda dari Norma Irmawan alias Wawan, mahasiswa Atma Jaya korban Tragedi Semanggi I mewanti-wanti aktivis ‘98 agar jangan menjadi partai politik sebagai alat untuk melanggengkan kekuasaan.
“Jamgan jadikan partai politik itu menjadi sumber korupsi, kolusi, dan nepotisme,” ujar Sumarsih.
Ia menegaskan kembali bahwa aksi Kamisan merupakan aksi yang tumbuh dari hati.
“Kami datang ke sini untuk mengkritisi kebijakan-kebijakan pemerintah yang tidak pro rakyat. Yang kami suarakan di sini bukan hanya kasus pelanggaran HAM berat saja, tetapi minggu lalu ada orang Rempang ke sini. Sebelumnya ada orang Kanjuruhan ke sini,” kata dia.
Selain Kamisan, hari ini, sejumlah elemen elemen masyarakat yang terdiri dari buruh, mahasiswa, aktivis 1998, dan guru besar melakukan aksi unjuk rasa di beberapa titik di Indonesia.
Aksi unjuk rasa "Peringatan Darurat" dan #KawalPutusanMK ini merespons DPR RI yang menolak putusan Mahkamah Konstitusi terkait syarat calon kepala daerah Pilkada 2024.
Direktur Eksekutif Amnesty Internasional Indonesia Usman Hamid mengatakan, aksi Kamisan semakin menemukan konteksnya pada hari ini.
“Aksi Kamisan semakin menemukan relevansinya,” kata Usman saat berorasi di aksi Kamisan.
Sebelum aksi Kamisan, Usman juga melakukan aksi di depan Gedung MK pada hari ini.
Jakarta: Sejumlah keluarga orang hilang dan aktivis 1998 bertemu elite Partai Gerindra. Pertemuan ini untuk bersilaturahmi dan membuat kesepakatan informal terkait masa depan Indonesia.
"Memperkuat tali persaudaraan. Tidak ada bicara macam-macam, cuma tadi sepakat bahwa ke depan sama-sama memikirkan bagaimana kemajuan Indonesia," ungkap Ketua Harian DPP Partai Gerindra Sufmi Dasco Ahmad di Kompleks Parlemen, Senayan, Jakarta, Senin, 5 Agustus 2024.
Dasco bertemu keluarga orang hilang dan aktivis 98 bersama Wakil Ketua Umum Partai Gerindra Habiburohkman. Menurut Dasco, kedua belah pihak mengamini apa yang terjadi di masa lalu, sudah diselesaikan oleh pemerintah. Dasco menegaskan apa yang dilakukan sekarang, adalah menatap masa depan yang cerah. "Kami ingin melakukan sinkronisasi-sinkronisasi dalam rangka menyamakan visi ke depan," kata Dasco.
Dia menampik pembicaraan dengan keluarga orang hilang dan aktivis itu terkait politik. Menurut Dasco, tak ada komunikasi yang mengarah ke sana.
Petinggi Gerindra itu menegaskan pembicaran seputar kesejahteraan masyarakat. Mulai dari pendidikan, pangan, hingga kesehatan.
"Kalau penyelesaian pelanggaran HAM itu kan sudah diselesaikan secara non-judisial oleh pemerintah. Dan itu mereka tahu bahwa itu sudah ada penyelesaian," kata dia.
Berikut sejumlah keluarga orang hilang dan aktivis '98 yang hadir di pertemuan dengan elite Gerindra:
Fitriwani (anak Wiji Tukul)
Keluarga Aan Rusdianto
Ibu Heni (kakak Herman Hermawan)
Ibu Hera ( kakak Herman Hermawan) 5. Ibu Fatah (ibunda Gilang) 6. Aan Rusdianto (aktivis 98)