BOGOR, KOMPAS.com - Kepala Dinas Perhubungan Kota Bogor Marse Hendra mengatakan, pihaknya akan mengevaluasi rute angkot listrik. Hal tersebut dilakukan setelah dilakukan uji coba pengoperasian angkot listrik di Kota Bogor selama tiga bulan.
“Dari sisi rute memang harus diperbaiki atau dievaluasi terkait dengan titik awal dan titik tujuannya,” ujar Marse saat dihubungi Kompas.com, Jumat (12/7/2024).
Saat ini, Marse menilai rute angkot listrik di Bogor lebih banyak berfokus pada perputaran di tengah kota, tanpa memperhatikan kebutuhan perpindahan warga dari satu titik ke titik lain.
Hasil evaluasi tersebut mengungkapkan bahwa jumlah penumpang yang menggunakan angkot listrik masih tergolong rendah.
Salah satu poin utama yang menjadi sorotan Marse adalah angkot listrik belum memenuhi kebutuhan mobilitas warga kota Bogor secara optimal.
“Kemarin dicek, demand-nya agak kurang karena bukan mengantarkan perpindahan warga dari satu titik ke titik lain. Tapi hanya sekedar untuk perputaran di tengah kota saja," tutur Marse.
Untuk ke depannya, Dishub Kota Bogor perlu melakukan perencanaan ulang trayek angkot listrik agar dapat memenuhi kebutuhan perpindahan yang lebih spesifik dan strategis.
Misalnya, angkot listrik sebaiknya melayani rute dari stasiun kereta ke pasar atau dari satu pasar ke pasar lainnya.
Dengan demikian, angkot listrik benar-benar berfungsi sebagai solusi mobilitas bagi warga Kota Bogor.
“Untuk ke depannya harus dipikirkan trayek ini adalah trayek perpindahan. Misalnya dari stasiun ke pasar atau pasar ke pasar,” tutur Marse.
Selain rute, dari sisi unit angkot listrik juga diperlukan perbaikan, terutama pada bagian pintu, air conditioner (AC), hingga sistem pembayaran.
Untuk sistem pintu angkot listrik diperlukan perbaikan agar lebih mudah dioperasikan, sehingga keselamatan penumpang terjamin.
Untuk AC, banyak pengguna yang mengeluhkan kurang dingin, terutama saat cuaca panas.
Perbaikan pada sistem pendingin udara akan dilakukan untuk meningkatkan kenyamanan penumpang.
Kemudian, pembayaran angkot listrik yang menggunakan sistem Tap On Bus (TOB) untuk membiasakan masyarakat dalam menggunakan cashless payment atau pembayaran non tunai dengan menggunakan kartu e-money juga ikut dievaluasi.
Penumpang hanya bisa menggunakan kartu uang elektronik jika ingin naik angkot listrik. Keterbatasan ini, menurut Marse, menjadi penyebab jumlah penumpang Alibo yang sedikit.
Mau tak mau, Dishub Kota Bogor harus mengkaji ulang sistem pembayaran yang digunakan.
“Untuk itu harus diperbaiki, dari sisi pintu, sisi TOB, kemudian dari sisi AC yang mungkin kurang dingin itukan bagian dari evaluasi,” tutur Marse.
Untuk saat ini, operasional lima angkot listrik dihentikan untuk sementara waktu.
Penghentian ini disebabkan telah berakhirnya masa uji coba kerjasama antara Pemerintah Kota (Pemkot) Bogor dengan PT Kalista Nusa Armada sebagai pihak yang mengadakan unit angkot listrik itu.
Langkah selanjutnya, Pemkot Bogor akan melakukan analisis dan evaluasi terhadap hasil uji coba angkot listrik yang telah dilakukan selama tiga bulan, saat peluncuran awalnya pada Kamis 4 April 2024.
"Evaluasi dan kaji bersama berdasarkan hasil uji coba kemarin. Untuk dibuatkan skema yang tepat dalam penerapan angkot listrik di kota Bogor," ujar Marse.